Renungan
Sabtu, 1 Agustus 2026
Perayaan Wajib Santo Alfonsus
Maria de Liguori
Bacaan Injil Matius 14:1-12
KEBENARAN YANG MENYUARAKAN NURANI
Sorang
Tumanggor, S.Ag
Penyuluh
Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi
Saudara-saudari terkasih dalam
Kristus,
Hari ini, tanggal 1 Agustus 2026,
Gereja mengajak kita untuk memperingati Santo Alfonsus Maria de Liguori,
seorang uskup, Pujangga Gereja, dan pelindung para pengaku dosa dan teolog
moral. Beliau adalah sosok yang sepanjang hidupnya mengajarkan tentang pentingnya
membentuk dan mengikuti suara hati nurani yang benar. Hidup dan karya beliau
menjadi jembatan yang indah untuk kita memasuki sabda Tuhan hari ini, yaitu
kisah tragis tentang kesaksian Yohanes Pembaptis dan kematiannya di tangan
Herodes.
Kisah yang terangkum dalam Matius
14:1-12 ini bukan sekadar cerita sejarah tentang kekejaman politik di istana.
Ini adalah cermin bagi kita semua tentang bagaimana suara kebenaran sering kali
berhadapan dengan kekuasaan, kehormatan palsu, dan kelemahan manusia.
1. Suara Kebenaran di Tengah
Kenyamanan (Matius 14:3-5)
Injil hari ini dimulai dengan
latar belakang yang kelam: Herodes telah menangkap dan memenjarakan Yohanes.
Mengapa? Karena Yohanes berani menegur Herodes dengan lantang: "Tidak
halal engkau mengambil Herodias!"
Yohanes Pembaptis adalah suara
yang mengganggu kenyamanan. Ia tidak takut pada siapa pun, bahkan seorang raja
yang berkuasa. Sebagai umat Katolik, kita dipanggil untuk memiliki keberanian
yang sama. Namun, sering kali kita mengalami bahwa suara kebenaran—baik itu
dari Kitab Suci, ajaran Gereja, atau desakan hati nurani kita—terasa
"mengganggu." Seperti Herodes, kita kadang ingin membungkam suara
yang mengingatkan kita bahwa ada hal-hal dalam hidup kita yang tidak sesuai
dengan kehendak Allah.
Herodes ingin membunuh Yohanes,
tetapi ia takut pada orang banyak. Ia terperangkap dalam ambivalensi: setengah
ingin mendengar kebenaran, tetapi setengah lagi terikat pada hawa nafsu dan
kedudukannya. Hati nuraninya, yang seharusnya menjadi "ruang
pertemuan" dengan Allah, menjadi tumpul. Santo Alfonsus Maria de Liguori
mengajarkan kita untuk tidak membiarkan hati nurani kita menjadi tumpul,
melainkan harus selalu kita didik dan pertajam dengan sabda Allah.
2. Jerat Kesenangan dan Harga
Diri (Matius 14:6-9)
Puncak drama terjadi pada pesta
ulang tahun Herodes. Dalam suasana pesta dan tarian yang memabukkan, Herodes
dibuat terpukau oleh tarian putri Herodias. Dalam euforia dan mungkin pengaruh
anggur, ia membuat sumpah yang gegabah: akan memberikan apa pun yang diminta
gadis itu, sampai setengah kerajaannya sekalipun (Markus 6:23).
Di sinilah letak peringatan keras
bagi kita. Kita memiliki banyak "pesta" dalam hidup kita: kesenangan,
gengsi, kekuasaan, dan ambisi. Tidak ada yang salah dengan kegembiraan dan
perayaan. Namun, bahaya muncul ketika kenikmatan duniawi ini menguasai kita
sehingga kita kehilangan kendali atas prinsip-prinsip moral kita. Herodes tidak
bisa menahan hawa nafsunya dan cenderung pada "human respect"—takut
kehilangan muka di depan para tamunya.
Mendengar permintaan kepala
Yohanes, Kitab Suci mengatakan Herodes "sangat sedih" (ay. 9).
Hatinya bergejolak, tetapi ia tidak cukup kuat untuk bertindak sesuai dengan
kebenaran. Ia lebih memilih mempertahankan martabat palsunya di hadapan para
tamu daripada mempertahankan nyawa seorang nabi. Bukankah kita juga sering
mengalami hal serupa? Kita lebih peduli pada "apa kata orang"
daripada "kata Tuhan."
3. Ketika Hati Nurani
Dikalahkan (Matius 14:10-12)
Keputusan akhir Herodes adalah
tragedi kemanusiaan yang mendalam. Ia menjatuhkan hukuman mati pada Yohanes
Pembaptis—bukan karena kebencian, tetapi karena kelemahan dan kesombongan. Ia
telah "masuk jebakan" dosa yang dibuat oleh Herodias dan
ketidakmampuannya mengendalikan dirinya.
Kematian Yohanes adalah gambaran
tentang apa yang terjadi ketika kita mengabaikan suara kebenaran secara
terus-menerus. Dosa mengeraskan hati. Setelah Yohanes mati, Herodes tidak
merasa tenang. Ketika mendengar kabar tentang Yesus, hatinya ketakutan: "Inilah
Yohanes Pembaptis; ia sudah bangkit dari antara orang mati" (ay.
2). Rasa bersalah terus membayangi hidupnya.
Para murid Yohanes mengambil
mayatnya, menguburkannya, dan pergi memberitahu Yesus (ay. 12). Ini adalah poin
yang sangat penting. Meskipun kebenaran tampaknya dikalahkan dan
dibungkam—Yohanes mati di penjara—pekerjaan keselamatan Allah tidak pernah
berhenti. Yesus adalah pusat dari seluruh sejarah keselamatan. Bahkan dalam
kegelapan dosa dan kematian, terang Kristus tetap bersinar.
Penerapan: Menjadi Pewarta
Kebenaran yang Lembut namun Tegas
Saudara-saudari terkasih, apa
pesan Sabda Tuhan ini bagi kita pada hari peringatan Santo Alfonsus Maria de
Liguori ini?
Pertama, belajarlah
untuk tidak membungkam hati nurani. Hati nurani adalah suara Allah
yang terdalam dalam diri kita. Seperti Yohanes, kita mungkin dipanggil untuk
menyuarakan kebenaran, meskipun itu tidak populer. Itu bisa berarti mengatakan
"tidak" pada korupsi di tempat kerja, "tidak" pada gosip,
atau "tidak" pada godaan untuk berkompromi dengan iman kita.
Kedua, waspadalah
terhadap "istana Herodes" dalam hidup kita: godaan
kesenangan dan kedudukan. Jangan biarkan keinginan untuk menyenangkan orang
lain atau menjaga "gengsi" membuat kita mengorbankan kebenaran dan
kasih. Santo Alfonsus, sang guru moral, mengingatkan bahwa hidup bermoral
adalah hidup yang teratur di bawah pimpinan Roh Kudus, bukan di bawah desakan
nafsu belaka.
Ketiga, jangan berkecil
hati ketika kebenaran tampaknya kalah. Yohanes mati, tetapi benih kebenaran
yang ia tanam terus bertumbuh. Di tengah tragedi, murid-murid Yohanes tetap
setia; mereka menguburkan gurunya dan pergi kepada Yesus. Itulah
satu-satunya jalan keluar dari kegagalan dan dosa kita: datang kepada Yesus.
Dalam Sakramen Tobat—yang sangat dijunjung tinggi oleh Santo Alfonsus sebagai
pelindung para pengaku dosa—kita menemukan belas kasih yang memulihkan. Di
sana, hati nurani kita yang luka dibersihkan dan diberikan kekuatan baru.
Penutup: Doa Santo Alfonsus
Maria de Liguori
Marilah kita akhiri renungan ini
dengan memanjatkan doa, memohon perantaraan Santo Alfonsus:
"Bapa yang mahakasih,
kami bersyukur atas teladan Santo Alfonsus Maria de Liguori yang setia
mengajarkan kebenaran dan membimbing hati nurani umat-Mu. Berilah kami
keberanian seperti Yohanes Pembaptis untuk menyuarakan kebenaran dengan cinta,
dan kerendahan hati untuk mengakui dosa-dosa kami. Jangan biarkan kami terjebak
dalam kesombongan dan gengsi, tetapi teguhkanlah kami di jalan kasih-Mu. Semoga
kami, seperti para murid, selalu datang kepada Yesus, sumber belas kasih dan
kehidupan. Amin."
Semoga Sabda Tuhan hari ini
menjadi sumber kekuatan bagi kita semua untuk menjadi saksi-saksi kebenaran di
tengah dunia. Tuhan memberkati.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar