Renungan Minggu Biasa XVIII – 2 Agustus 2026
Bacaan I: Yes 55:1-3
Bacaan II: Rom 8:35,37-39
Bacaan Injil Matius 14:13-21
BELAS KASIH YANG MENGUBAH LOGIKA DUNIA
MENJADI LOGIKA KERAJAAN ALLAH
Sorang
Tumanggor, S.Ag
Penyuluh
Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi
Saudara-saudari terkasih dalam
Yesus Kristus,
Hari ini, pada Hari Minggu Biasa
ke-XVIII, Gereja menyapa kita dengan bacaan Injil yang sangat akrab dan
menggugah hati: kisah Yesus memberi makan lima ribu orang. Namun, lebih dari
sekadar cerita mukjizat masa lalu, Sabda Tuhan hari ini berbicara langsung ke
tengah pergumulan hidup kita sehari-hari, mengajak kita untuk melihat dunia
dengan mata hati yang baru—mata hati yang penuh belas kasih seperti hati Yesus
sendiri.
1. Logika Belas Kasih
Melampaui Logika Dunia
Kisah ini dimulai dengan Yesus
yang menarik diri ke tempat sunyi. Namun, orang banyak mengikuti-Nya. Reaksi
Yesus sungguh luar biasa: "Ia melihat orang banyak itu,
tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, dan Ia menyembuhkan
mereka yang sakit" (Mat 14:14). Belas kasihan ini bukanlah
perasaan sentimental belaka. Dalam bahasa asli Yunani, kata yang digunakan
adalah splagchnizomai, sebuah kata yang menggambarkan getaran
perut, sebuah gerakan terdalam dari seluruh pribadi. Yesus tidak tinggal diam
melihat penderitaan; Ia bertindak.
Di sini kita melihat dua logika
yang saling bertabrakan. Para murid, dengan logika dunia yang pragmatis,
berkata: "Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah
orang banyak itu pergi, supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa" (Mat
14:15). Logika ini adalah logika manusiawi: setiap orang harus mengurus dirinya
sendiri, keterbatasan adalah akhir dari segalanya. Tapi Yesus menjawab dengan
logika Kerajaan Allah: "Tidak perlu mereka pergi, kamu harus
memberi mereka makan" (Mat 14:16). Logika Yesus adalah logika
belas kasih yang tidak berhenti pada keterbatasan, melainkan justru bersandar
sepenuhnya pada kuasa Allah yang berlimpah.
2. Logika Ekaristi: Syukur dan
Pembagian
Perhatikanlah detail yang sangat
penting dalam bacaan ini. Yesus mengambil lima roti dan dua ikan. Lalu, "Ia
menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan
memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagikannya kepada
orang banyak" (Mat 14:19). Tindakan ini—mengambil, mengucap
berkat, memecah-mecah, dan memberikan—adalah tindakan yang sama yang akan Yesus
lakukan pada Perjamuan Terakhir dan yang kita peringati setiap kali merayakan
Ekaristi Kudus.
Maknanya sangat dalam. Mukjizat
ini adalah bayangan dari Ekaristi, pusat iman kita. Dalam setiap Misa, Yesus
sekali lagi mengambil roti dan anggur, mengucap syukur, memecahkannya, dan
memberikannya kepada kita sebagai Tubuh dan Darah-Nya. Kita yang lemah dan
terbatas ini, seperti roti dan ikan yang kecil dan tak berarti, dipersembahkan
kepada Bapa. Dalam Ekaristi, Yesus mengubah persembahan kecil kita menjadi
berkat yang melimpah bagi diri kita dan bagi dunia.
Para Bapa Gereja, seperti St.
Yohanes Krisostomus, melihat bahwa mukjizat ini juga mengajarkan tentang kuasa
Yesus sebagai Sang Putra dan peran para rasul sebagai pembagi. Yesus tidak
membagikan roti itu sendiri secara langsung, tetapi Ia memberikannya kepada
murid-murid-Nya untuk dibagikan. Inilah gambaran kita sebagai Gereja: kita
dipanggil untuk menerima berkat dari Yesus dan menjadi saluran berkat itu bagi
sesama. Kita tidak boleh menjadi penonton, tetapi peserta dalam karya kasih
Allah.
3. Tantangan bagi Kita: Berani
Memberi dan Berbagi
Saudara-saudari yang dikasihi
Yesus, apa makna semua ini bagi kita hari ini? Sebagai umat Katolik di
Indonesia, kita hidup dalam masyarakat yang sering kali digerakkan oleh logika
dunia: kuat yang menang, kaya yang berkuasa, dan setiap orang sibuk dengan
kepentingannya sendiri. Namun, sabda Tuhan hari ini memanggil kita untuk
menjadi saksi dari logika yang berbeda.
Pertama, kita dipanggil untuk
memiliki hati yang peka. Lihatlah di sekitar kita: di keluarga,
tempat kerja, atau lingkungan, ada banyak orang yang lapar—bukan hanya lapar
akan nasi, tetapi lapar akan kasih sayang, perhatian, penghargaan, dan
kebenaran. Yesus tidak menutup mata; hati-Nya tergerak. Sebagai murid-murid-Nya,
kita pun diajak untuk membuka mata dan tergerak oleh penderitaan sesama.
Kedua, kita diajak untuk memberi
apa yang kita miliki. Para murid hanya memiliki lima roti dan dua
ikan—sangat kecil dibandingkan kebutuhan ribuan orang. Namun, di tangan Yesus,
persembahan yang kecil itu menjadi sesuatu yang luar biasa. Jangan pernah
meremehkan kemampuan kita untuk memberi, sekecil apa pun itu. Waktu yang kita
luangkan, senyum yang kita berikan, doa yang kita panjatkan, atau bantuan
materi yang kita bagikan, semua itu bisa menjadi berkat besar jika kita
serahkan dan biarkan Yesus berkarya melaluinya. Seperti yang diingatkan oleh
Paus Fransiskus, kebutuhan kita mungkin sah, tetapi kebutuhan orang miskin dan
menderita lebih mendesak lagi. Ingatlah juga detail yang indah dalam Injil
Matius: ada lima ribu laki-laki, "tidak termasuk perempuan dan
anak-anak" (Mat 14:21). Ini menunjukkan bahwa Yesus tidak
menghitung berdasarkan statistik dunia; Ia melihat dan menyentuh setiap orang,
termasuk mereka yang sering diabaikan.
4. Kesimpulan: Menemukan
Kekuatan dalam Keterbatasan
Bacaan kedua dari surat St.
Paulus kepada Jemaat di Roma menggema dengan kuat di sini: "Siapakah
yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus?" (Rom 8:35). Rasa
takut, egoisme, keterbatasan, dan keputusasaan sering membuat kita merasa lemah
dan tidak berdaya. Namun, kasih Kristus, yang kita alami dalam Ekaristi, lebih
kuat dari segalanya. Dalam kelemahan kita, kita justru menemukan kekuatan untuk
mengandalkan Dia.
Maka, saudara-saudari, marilah
kita kembali ke meja Ekaristi dengan semangat baru. Saat kita menerima Tubuh
Kristus, kita dibaharui untuk menjadi Tubuh Kristus di dunia. Kita diajak untuk
menjadi "roti yang dipecah-pecahkan" bagi sesama, menjadi saksi bahwa
dengan Tuhan, tidak ada yang mustahil. Mari kita tinggalkan logika dunia yang
sempit dan menakutkan, dan dengan berani menghidupi logika Kerajaan Allah:
logika belas kasih, berbagi, dan cinta kasih yang melimpah ruah. Amin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar