Kamis, 06 Agustus 2026

IMAN SEKECIL BIJI SESAWI

Renungan

Sabtu, 8 Agustus 2026

Perayaan Wajib Santo Dominikus

Bacaan Injil Matius 17:14-20

 

IMAN SEKECIL BIJI SESAWI

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi


 


Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,

Hari ini kita merayakan Pesta Santo Dominikus, pendiri Ordo Pengkhotbah, yang mewariskan teladan iman dan semangat pewartaan bagi Gereja. Pada saat yang sama, Injil yang kita dengarkan mengajak kita merenungkan sebuah pergumulan yang sangat manusiawi: kegagalan para murid dalam mengusir roh jahat dari seorang anak muda yang menderita sakit ayan .

Perhatikanlah adegan ini: Seorang ayah yang putus asa berlutut di hadapan Yesus. Anak satu-satunya menderita, dan para murid—yang telah menerima kuasa dari Yesus sendiri untuk mengusir roh jahat—justru tidak mampu menolong . Betapa peristiwa ini menggambarkan pengalaman kita sering kali. Kita telah menerima iman, kita telah dibaptis, kita rajin ke gereja, namun ketika menghadapi pergumulan nyata—penyakit, masalah keluarga, pencobaan—kita merasa tidak berdaya. Kuasa iman kita seakan mandek.

Yesus menjawab dengan tegas: "Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sungguh, sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindahlah dari sini ke sana, maka gunung itu akan pindah, dan tidak ada yang mustahil bagimu" .

Pernyataan Yesus ini mengagetkan. Biji sesawi adalah benih terkecil di antara benih-benih lainnya, namun memiliki potensi pertumbuhan yang luar biasa . Yesus tidak menuntut iman yang besar atau sempurna; Ia hanya meminta iman yang sungguh, sekecil apa pun, asalkan tulen dan tertuju kepada-Nya. Iman bukanlah soal kuantitas, melainkan kualitas hubungan percaya kepada Allah.

Para murid gagal bukan karena kuasa yang mereka miliki kurang, tetapi karena mereka tidak menggantungkan diri pada sumber kuasa itu sendiri—yaitu Yesus. Mereka mungkin mulai mengandalkan kemampuan mereka sendiri, pengalaman sebelumnya, atau sekadar rutinitas pelayanan . Santo Dominikus memahami hal ini. Ia dan para pengikutnya dikenal bukan hanya karena semangat berkhotbah, tetapi juga karena doa yang tekun. Mereka sadar bahwa tanpa persatuan dengan Kristus, pewartaan dan karya apapun tidak akan membuahkan hasil.

Iman sebesar biji sesawi adalah iman yang tetap berdoa. Dalam tradisi Gereja, ayat ini dihubungkan dengan pentingnya doa dan puasa (bdk. Markus 9:29). Bukan berarti doa dan puasa adalah "syarat magis" untuk memperoleh kuasa, tetapi keduanya adalah ekspresi nyata dari sikap rendah hati yang mengakui bahwa segala sesuatu bergantung pada Allah . Santo Dominikus menghabiskan malam-malamnya dalam doa; baginya, pewartaan yang lahir dari doa adalah pewartaan yang menghidupkan.

Renungan ini mengajak kita bertanya: Ketika menghadapi "gunung" dalam hidup kita—masalah yang tampaknya mustahil diatasi, dosa yang terus berulang, atau luka batin yang tak kunjung sembuh—kepada siapakah kita berlari? Apakah kita, seperti ayah dalam Injil, datang langsung kepada Yesus? Ataukah kita malah mengandalkan kekuatan sendiri, lalu kecewa ketika gagal?

Santo Paulus mengingatkan kita bahwa iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus (Roma 10:17). Iman yang hidup dipelihara oleh sabda Allah dan doa. Kita dipanggil untuk membawa setiap pergumulan—setiap "anak" yang sakit dalam keluarga, komunitas, dan masyarakat kita—kepada Yesus. Bawalah mereka dalam doa, bawalah mereka dalam Ekaristi, bawalah mereka dalam kesaksian hidup yang nyata.

Saudara-saudari, Sabtu ini kita diajak untuk tidak takut dengan ukuran iman kita. Mungkin kita merasa iman kita hanya sebesar biji sesawi. Itu cukup! Karena yang menentukan bukanlah besar kecilnya iman, tetapi kebesaran Allah yang kita imani. Marilah kita bersama Santo Dominikus dan para kudus, belajar untuk menggantungkan segala sesuatu pada Tuhan. Bawalah setiap beban dan pergumulan ke hadapan-Nya. Sebab bagi Allah, tidak ada yang mustahil.

Tuhan Yesus, tingkatkanlah iman kami. Ajarlah kami untuk selalu membawa setiap pergumulan kepada-Mu, dan percaya bahwa bersama-Mu, gunung-gunung masalah akan dapat kami atasi. Sebab Engkaulah sumber segala kuasa dan pengharapan. Amin.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar