Renungan
Sabtu, 8 Agustus 2026
Perayaan Wajib Santo Dominikus
Bacaan Injil Matius 17:14-20
IMAN SEKECIL BIJI SESAWI
Sorang
Tumanggor, S.Ag
Penyuluh
Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,
Hari ini kita merayakan Pesta Santo Dominikus, pendiri Ordo
Pengkhotbah, yang mewariskan teladan iman dan semangat pewartaan bagi Gereja.
Pada saat yang sama, Injil yang kita dengarkan mengajak kita merenungkan sebuah
pergumulan yang sangat manusiawi: kegagalan para murid dalam mengusir roh jahat
dari seorang anak muda yang menderita sakit ayan .
Perhatikanlah adegan ini: Seorang ayah yang putus asa
berlutut di hadapan Yesus. Anak satu-satunya menderita, dan para murid—yang
telah menerima kuasa dari Yesus sendiri untuk mengusir roh jahat—justru tidak
mampu menolong . Betapa peristiwa ini menggambarkan pengalaman kita sering
kali. Kita telah menerima iman, kita telah dibaptis, kita rajin ke gereja,
namun ketika menghadapi pergumulan nyata—penyakit, masalah keluarga,
pencobaan—kita merasa tidak berdaya. Kuasa iman kita seakan mandek.
Yesus menjawab dengan tegas: "Karena kamu kurang
percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sungguh, sekiranya kamu mempunyai iman
sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindahlah dari
sini ke sana, maka gunung itu akan pindah, dan tidak ada yang mustahil
bagimu" .
Pernyataan Yesus ini mengagetkan. Biji sesawi adalah benih
terkecil di antara benih-benih lainnya, namun memiliki potensi pertumbuhan yang
luar biasa . Yesus tidak menuntut iman yang besar atau sempurna; Ia hanya
meminta iman yang sungguh, sekecil apa pun, asalkan tulen dan tertuju
kepada-Nya. Iman bukanlah soal kuantitas, melainkan kualitas hubungan percaya
kepada Allah.
Para murid gagal bukan karena kuasa yang mereka miliki
kurang, tetapi karena mereka tidak menggantungkan diri pada sumber kuasa itu
sendiri—yaitu Yesus. Mereka mungkin mulai mengandalkan kemampuan mereka
sendiri, pengalaman sebelumnya, atau sekadar rutinitas pelayanan . Santo
Dominikus memahami hal ini. Ia dan para pengikutnya dikenal bukan hanya karena
semangat berkhotbah, tetapi juga karena doa yang tekun. Mereka sadar bahwa
tanpa persatuan dengan Kristus, pewartaan dan karya apapun tidak akan membuahkan
hasil.
Iman sebesar biji sesawi adalah iman yang tetap berdoa.
Dalam tradisi Gereja, ayat ini dihubungkan dengan pentingnya doa dan puasa
(bdk. Markus 9:29). Bukan berarti doa dan puasa adalah "syarat magis"
untuk memperoleh kuasa, tetapi keduanya adalah ekspresi nyata dari sikap rendah
hati yang mengakui bahwa segala sesuatu bergantung pada Allah . Santo
Dominikus menghabiskan malam-malamnya dalam doa; baginya, pewartaan yang lahir
dari doa adalah pewartaan yang menghidupkan.
Renungan ini mengajak kita bertanya: Ketika menghadapi
"gunung" dalam hidup kita—masalah yang tampaknya mustahil diatasi,
dosa yang terus berulang, atau luka batin yang tak kunjung sembuh—kepada
siapakah kita berlari? Apakah kita, seperti ayah dalam Injil, datang langsung
kepada Yesus? Ataukah kita malah mengandalkan kekuatan sendiri, lalu kecewa
ketika gagal?
Santo Paulus mengingatkan kita bahwa iman timbul dari
pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus (Roma 10:17). Iman yang hidup
dipelihara oleh sabda Allah dan doa. Kita dipanggil untuk membawa setiap
pergumulan—setiap "anak" yang sakit dalam keluarga, komunitas, dan
masyarakat kita—kepada Yesus. Bawalah mereka dalam doa, bawalah mereka dalam
Ekaristi, bawalah mereka dalam kesaksian hidup yang nyata.
Saudara-saudari, Sabtu ini kita diajak untuk tidak takut
dengan ukuran iman kita. Mungkin kita merasa iman kita hanya sebesar biji
sesawi. Itu cukup! Karena yang menentukan bukanlah besar kecilnya iman, tetapi
kebesaran Allah yang kita imani. Marilah kita bersama Santo Dominikus dan para
kudus, belajar untuk menggantungkan segala sesuatu pada Tuhan. Bawalah setiap
beban dan pergumulan ke hadapan-Nya. Sebab bagi Allah, tidak ada yang mustahil.
Tuhan Yesus, tingkatkanlah iman kami. Ajarlah kami untuk
selalu membawa setiap pergumulan kepada-Mu, dan percaya bahwa bersama-Mu,
gunung-gunung masalah akan dapat kami atasi. Sebab Engkaulah sumber segala
kuasa dan pengharapan. Amin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar