Rabu, 19 Agustus 2026

MENGENAKAN PAKAIAN PESTA: ANTARA ANUGERAH DAN TANGGAPAN

Renungan Harian Katolik

Kamis, 20 Agustus 2026
Peringatan Wajib Santo Bernardus, Abbas dan Pujangga Gereja

Bacaan Injil: Matius 22:1-14

 

MENGENAKAN PAKAIAN PESTA:

ANTARA ANUGERAH DAN TANGGAPAN

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi


 


Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus,

Hari ini Gereja mempersembahkan kepada kita sebuah perumpamaan yang terkenal namun juga menggugah: perumpamaan tentang perjamuan kawin anak raja. Yesus mengajar tentang Kerajaan Surga yang diibaratkan seperti seorang raja yang mengadakan pesta agung untuk puteranya. Namun, respons para undangan sungguh memprihatinkan. Ada yang acuh tak acuh, sibuk dengan ladang dan usahanya, bahkan ada yang tega menangkap dan membunuh hamba-hamba raja.

Perumpamaan ini bukan sekadar kisah masa lalu. Ini adalah cermin bagi hidup kita saat ini. Allah adalah Raja yang penuh kasih. Ia tidak pernah lelah mengundang kita ke dalam perjamuan kebahagiaan abadi bersama Putra-Nya, Yesus Kristus. Namun, seberapa sering kita menolak undangan-Nya? Bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kesibukan duniawi yang kita anggap lebih penting. Ladang dan usaha kita sering menjadi alasan untuk mengabaikan panggilan Tuhan untuk berdoa, membaca Kitab Suci, atau sekadar menyediakan waktu bagi-Nya dalam keheningan.

Kemarahan raja atas penolakan ini bukanlah luapan emosi manusiawi, melainkan gambaran konsekuensi logis dari penolakan terhadap kasih karunia. Sejarah telah mencatat bagaimana ketidaksetiaan bangsa Israel berujung pada kehancuran Yerusalem pada tahun 70 M, sebuah peristiwa yang kerap dikaitkan dengan ayat ini . Ini adalah peringatan bagi kita bahwa mengabaikan Tuhan membawa konsekuensi nyata bagi kehidupan pribadi dan komunal.

Tapi kabar baiknya, raja tidak menyerah. Ia membuka pintu istana bagi semua orang, tanpa memandang status, dari persimpangan-persimpangan jalan. Orang jahat dan orang baik diundang. Di sinilah kita melihat betapa besar kasih karunia Allah yang sungguh inklusif dan melampaui batas-batas sosial, etnis, dan moral. Keselamatan adalah anugerah gratis yang diberikan kepada semua yang mau menerimanya. Gereja dipanggil untuk menjadi komunitas yang merangkul semua orang yang terpinggirkan dan berdosa.

Namun, ada satu detail penting yang sering membuat kita gelisah: ada seorang tamu yang diusir karena tidak mengenakan pakaian pesta. Siapakah dia? Bukankah raja mengundang semua orang dari jalanan yang notabene tidak mungkin memiliki pakaian pesta mewah?

Saudara-saudari, pakaian pesta di sini bukanlah soal etiket duniawi. Ini adalah simbol dari kesediaan kita untuk bertransformasi, untuk "mengenakan Kristus" (Galatia 3:27). Pakaian itu melambangkan kebenaran dan kekudusan yang dianugerahkan Allah, namun harus kita terima dan kenakan dengan sungguh-sungguh. Kita diundang bukan untuk tetap menjadi diri kita yang lama, tetapi untuk diubah menjadi ciptaan baru.

Orang yang tidak berpakaian pesta adalah mereka yang menerima anugerah baptisan dan menjadi anggota Gereja, namun hidupnya tidak mencerminkan imannya. Mereka datang ke pesta (Gereja), tetapi menolak untuk mengubah cara hidup. Mereka puas dengan kesalehan lahiriah, tetapi hati dan perbuatan mereka tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Kepatuhan dan pertobatan adalah tanggapan yang nyata dan harus kita wujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada hari ini kita memperingati Santo Bernardus, seorang biarawan dan pujangga Gereja yang terkenal akan kesalehan dan kebijaksanaannya. Ia adalah contoh sempurna dari seorang tamu yang mengenakan pakaian pesta. Ia meninggalkan segala kemewahan dunia untuk mencari Allah dan mengenakan kasih Kristus dalam hidupnya. Marilah kita meneladaninya.

Mari kita refleksikan: Bagaimana respons saya terhadap undangan Tuhan hari ini? Apakah saya datang ke perjamuan-Nya setiap hari, terutama dalam Sakramen Ekaristi? Dan ketika saya datang, apakah saya sungguh-sungguh mengenakan "pakaian pesta"—yaitu kasih, kerendahan hati, dan ketaatan? Ataukah saya hanya datang dengan sikap acuh, tanpa kesungguhan untuk bertobat dan berubah?

Marilah kita mohon rahmat Tuhan agar kita tidak menjadi seperti orang yang diusir dari pesta, melainkan seperti Santo Bernardus dan para kudus lainnya, yang dimampukan untuk hidup layak di hadapan-Nya. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar