Renungan Harian Katolik
Kamis, 20 Agustus 2026
Peringatan Wajib Santo Bernardus, Abbas dan Pujangga Gereja
Bacaan Injil: Matius 22:1-14
MENGENAKAN PAKAIAN PESTA:
ANTARA ANUGERAH DAN TANGGAPAN
Sorang
Tumanggor, S.Ag
Penyuluh
Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi
Saudara-saudari yang terkasih
dalam Tuhan Yesus Kristus,
Hari ini Gereja mempersembahkan
kepada kita sebuah perumpamaan yang terkenal namun juga menggugah: perumpamaan
tentang perjamuan kawin anak raja. Yesus mengajar tentang Kerajaan Surga yang
diibaratkan seperti seorang raja yang mengadakan pesta agung untuk puteranya.
Namun, respons para undangan sungguh memprihatinkan. Ada yang acuh tak acuh,
sibuk dengan ladang dan usahanya, bahkan ada yang tega menangkap dan membunuh
hamba-hamba raja.
Perumpamaan ini bukan sekadar
kisah masa lalu. Ini adalah cermin bagi hidup kita saat ini. Allah adalah Raja
yang penuh kasih. Ia tidak pernah lelah mengundang kita ke dalam perjamuan
kebahagiaan abadi bersama Putra-Nya, Yesus Kristus. Namun, seberapa sering kita
menolak undangan-Nya? Bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kesibukan
duniawi yang kita anggap lebih penting. Ladang dan usaha kita sering menjadi
alasan untuk mengabaikan panggilan Tuhan untuk berdoa, membaca Kitab Suci, atau
sekadar menyediakan waktu bagi-Nya dalam keheningan.
Kemarahan raja atas penolakan ini
bukanlah luapan emosi manusiawi, melainkan gambaran konsekuensi logis dari
penolakan terhadap kasih karunia. Sejarah telah mencatat bagaimana
ketidaksetiaan bangsa Israel berujung pada kehancuran Yerusalem pada tahun 70 M,
sebuah peristiwa yang kerap dikaitkan dengan ayat ini . Ini adalah
peringatan bagi kita bahwa mengabaikan Tuhan membawa konsekuensi nyata bagi
kehidupan pribadi dan komunal.
Tapi kabar baiknya, raja tidak
menyerah. Ia membuka pintu istana bagi semua orang, tanpa memandang status,
dari persimpangan-persimpangan jalan. Orang jahat dan orang baik diundang. Di
sinilah kita melihat betapa besar kasih karunia Allah yang sungguh inklusif dan
melampaui batas-batas sosial, etnis, dan moral. Keselamatan adalah anugerah
gratis yang diberikan kepada semua yang mau menerimanya. Gereja dipanggil untuk
menjadi komunitas yang merangkul semua orang yang terpinggirkan dan berdosa.
Namun, ada satu detail penting
yang sering membuat kita gelisah: ada seorang tamu yang diusir karena tidak
mengenakan pakaian pesta. Siapakah dia? Bukankah raja mengundang semua orang
dari jalanan yang notabene tidak mungkin memiliki pakaian pesta mewah?
Saudara-saudari, pakaian pesta di
sini bukanlah soal etiket duniawi. Ini adalah simbol dari kesediaan kita untuk
bertransformasi, untuk "mengenakan Kristus" (Galatia 3:27). Pakaian
itu melambangkan kebenaran dan kekudusan yang dianugerahkan Allah, namun harus
kita terima dan kenakan dengan sungguh-sungguh. Kita diundang bukan untuk tetap
menjadi diri kita yang lama, tetapi untuk diubah menjadi ciptaan baru.
Orang yang tidak berpakaian pesta
adalah mereka yang menerima anugerah baptisan dan menjadi anggota Gereja, namun
hidupnya tidak mencerminkan imannya. Mereka datang ke pesta (Gereja), tetapi
menolak untuk mengubah cara hidup. Mereka puas dengan kesalehan lahiriah,
tetapi hati dan perbuatan mereka tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Kepatuhan
dan pertobatan adalah tanggapan yang nyata dan harus kita wujudkan dalam
kehidupan sehari-hari.
Pada hari ini kita memperingati
Santo Bernardus, seorang biarawan dan pujangga Gereja yang terkenal akan
kesalehan dan kebijaksanaannya. Ia adalah contoh sempurna dari seorang tamu
yang mengenakan pakaian pesta. Ia meninggalkan segala kemewahan dunia untuk
mencari Allah dan mengenakan kasih Kristus dalam hidupnya. Marilah kita
meneladaninya.
Mari kita refleksikan: Bagaimana
respons saya terhadap undangan Tuhan hari ini? Apakah saya datang ke
perjamuan-Nya setiap hari, terutama dalam Sakramen Ekaristi? Dan ketika saya
datang, apakah saya sungguh-sungguh mengenakan "pakaian pesta"—yaitu
kasih, kerendahan hati, dan ketaatan? Ataukah saya hanya datang dengan sikap
acuh, tanpa kesungguhan untuk bertobat dan berubah?
Marilah kita mohon rahmat Tuhan
agar kita tidak menjadi seperti orang yang diusir dari pesta, melainkan seperti
Santo Bernardus dan para kudus lainnya, yang dimampukan untuk hidup layak di
hadapan-Nya. Amin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar