Renungan Harian Katolik
Selasa, 25 Agustus 2026
Hari Biasa Pekan XXI – Tahun A
Bacaan Injil: Matius 23:23-26
MEMBERSIHKAN BAGIAN DALAM
Sorang
Tumanggor, S.Ag
Penyuluh
Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi
Saudara-saudari terkasih dalam
Kristus,
Hari ini kita diajak untuk
merenungkan sebuah teguran keras dari Yesus kepada para ahli Taurat dan orang
Farisi. Yesus menyebut mereka "orang-orang munafik" karena mereka
sangat teliti dalam hal-hal kecil, tetapi mengabaikan hal-hal yang jauh lebih
penting dalam hukum Taurat: keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan.
Yesus menggambarkan mereka
seperti orang yang menyaring nyamuk tetapi menelan unta—sebuah perumpamaan yang
lucu namun menyakitkan. Mereka membersihkan bagian luar cawan dan pinggan,
tetapi bagian dalamnya penuh dengan ketamakan dan kerakusan. Teguran ini bukan
hanya untuk para ahli Taurat dan Farisi di zaman Yesus, tetapi juga untuk kita,
umat Katolik Indonesia di zaman sekarang.
Renungan
Saudara-saudari, betapa sering
kita juga terjebak dalam perilaku serupa. Kita mungkin rajin ke gereja, rajin
mengikuti misa harian, rajin membayar dana mandiri, dan aktif dalam berbagai
pelayanan. Namun, di balik semua itu, adakah hati kita benar-benar berpusat
pada Tuhan?
Seperti dikisahkan dalam sebuah
renungan, banyak orang rajin beribadah ke gereja bahkan bukan hanya di hari
Minggu, seminggu bisa 2-3 kali datang ke gereja. Namun, mereka sibuk dengan
jadwal pelayanan, ketat mengikuti aturan, tetapi lupa bagaimana membangun
relasi pribadi dengan Tuhan Yesus. Mereka seperti orang Farisi yang
membersihkan bagian luar tetapi mengabaikan bagian dalam.
Paus Benediktus XVI pernah
mengingatkan bahwa para ahli Taurat dan Farisi "mengatakan dan tidak
melakukan". Mereka membebankan beban berat kepada orang lain, tetapi
mereka sendiri tidak mau menggerakkan jari mereka untuk membantu. Ini adalah
bahaya besar yang mengintai kita: menjadi orang Kristen yang pandai berbicara
tentang iman, tetapi gagal mewujudkannya dalam tindakan nyata.
Hal-Hal yang Terpenting
Yesus dengan tegas mengatakan
bahwa ada hal-hal yang terpenting dalam hukum Taurat: keadilan, belas
kasihan, dan kesetiaan.
- Keadilan berarti kita memperlakukan
sesama dengan adil, tidak memanfaatkan orang lemah, dan berani membela
kebenaran.
- Belas kasihan berarti kita memiliki
hati yang tergerak untuk menolong sesama yang menderita, bukan hanya
sekadar memberi sedekah untuk dilihat orang.
- Kesetiaan berarti kita hidup dalam
kesetiaan kepada Allah dan sesama, bukan hanya dalam ritual keagamaan
tetapi dalam seluruh aspek kehidupan.
Ketiga hal ini tidak boleh kita
abaikan, meskipun kita tetap melaksanakan kewajiban-kewajiban keagamaan kita.
Yesus tidak mengatakan bahwa persepuluhan atau ritual keagamaan itu salah. Yang
Dia tegur adalah pengabaian terhadap hal-hal yang lebih penting demi hal-hal
yang kecil.
Aplikasi dalam Kehidupan
Sehari-hari
Saudara-saudari, bagaimana kita
dapat menerapkan sabda Tuhan ini dalam kehidupan kita sehari-hari di Indonesia?
Pertama, mari kita periksa
hati kita. Apakah ketaatan kita kepada aturan-aturan gereja membuat kita lupa
untuk mengasihi sesama? Apakah kita lebih peduli pada penampilan luar—seperti
jabatan pelayanan, status di komunitas, atau pengakuan manusia—daripada kemurnian
hati di hadapan Tuhan?
Kedua, mari kita belajar
untuk mengutamakan keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan dalam setiap langkah
hidup kita. Di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk, kita dipanggil untuk
menjadi saksi kasih Kristus melalui tindakan nyata: membantu mereka yang membutuhkan,
memperjuangkan keadilan bagi yang tertindas, dan tetap setia kepada Tuhan dan
sesama dalam situasi apa pun.
Ketiga, marilah kita
membersihkan bagian dalam dahulu, sebagaimana Yesus katakan: "Hai orang
Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah
luarnya juga akan bersih". Ini berarti kita harus memulai dengan
pertobatan batin, membiarkan Roh Kudus mengubah hati kita, baru kemudian
tindakan-tindakan lahiriah kita akan menjadi buah yang baik.
Amin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar