Renungan
Hari Raya Santa Perawan Maria
Diangkat ke Surga
Minggu, 16 Agustus 2026
Bacaan Injil Lukas 1:39-56
BAGAIMANA MENJALANI HIDUP DALAM IMAN
DAN SUKACITA
Sorang
Tumanggor, S.Ag
Penyuluh
Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi
Saudara-saudari yang terkasih
dalam Kristus,
Hari ini Gereja sejagat merayakan
salah satu puncak penghormatan kepada Bunda Maria, yaitu Hari Raya Santa
Perawan Maria Diangkat ke Surga. Ini adalah salah satu dari empat dogma Maria
dalam Gereja Katolik yang didefinisikan oleh Paus Pius XII pada tanggal 1
November 1950 dalam Konstitusi Apostolik Munificentissimus Deus.
Gereja mengajarkan bahwa Bunda Maria, setelah menyelesaikan perjalanan hidupnya
di dunia, diangkat jiwa dan raganya ke dalam kemuliaan surgawi. Perayaan ini
bukan sekadar dongeng indah atau harapan kosong, melainkan sebuah tanda
profetis tentang masa depan kita semua.
Injil Lukas 1:39-56 mengajak kita
untuk merenungkan peristiwa yang terjadi jauh sebelum Maria diangkat ke
surga—yaitu kunjungannya kepada Elisabet dan kidung pujiannya yang agung, yang
kita kenal sebagai Magnificat. Melalui peristiwa ini, kita diajak
belajar dari Maria tentang bagaimana menjalani hidup dalam iman dan sukacita.
1. Perjalanan Iman yang Penuh
Risiko
Mari kita bayangkan sejenak
situasi yang dihadapi Maria saat ia memutuskan untuk berangkat mengunjungi
Elisabet. Secara manusiawi, hidup Maria saat itu sedang dalam risiko besar. Ia
adalah seorang gadis muda yang mengandung sebelum menikah secara resmi. Ancaman
cemoohan masyarakat, risiko sosial, bahkan bahaya hukum adalah hal yang nyata
di hadapannya. Hubungannya dengan Yusuf pun belum sepenuhnya pasti.
Namun, apa yang dilakukan Maria?
Injil mengatakan: "Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung
berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda" (Lukas 1:39). Maria
tidak berdiam diri dalam ketakutan. Ia tidak membiarkan kecemasan
melumpuhkannya. Ia berangkat—dengan iman, dengan keberanian, dan
dengan keyakinan bahwa Allah sedang berkarya dalam hidupnya.
Seperti yang diingatkan Paus
Fransiskus, Maria tidak takut akan bahaya atau penghakiman orang lain; ia
justru pergi menuju sesama, bukannya memilih untuk melindungi diri dari dunia.
Inilah teladan pertama yang kita petik: iman sejati menggerakkan kita untuk
melangkah keluar dari zona nyaman, menjumpai sesama, dan percaya bahwa Tuhan
menyertai setiap langkah kita.
2. Sukacita Pertemuan:
Elisabet dan Maria
Ketika Maria sampai di rumah
Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet, terjadilah peristiwa yang
mengharukan: "Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang
di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus" (Lukas 1:41).
Elisabet, yang mengandung Yohanes
Pembaptis, merasakan gerakan sukacita dalam rahimnya. Dan dengan penuh Roh
Kudus, ia berseru: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan
diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi
aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di
dalam rahimku melonjak kegirangan" (Lukas 1:42-44).
Perhatikan kata-kata Elisabet:
"Diberkatilah engkau ... dan diberkatilah buah rahimmu." Dengan
demikian, Elisabet adalah orang pertama yang secara terbuka mengakui dan
memuliakan Yesus yang masih dalam kandungan Maria. Ini mengingatkan kita akan
penghormatan Gereja yang mendalam terhadap kehidupan sejak awal pembuahan.
Lebih lanjut, beberapa Bapa
Gereja melihat kunjungan Maria kepada Elisabet sebagai suatu gambaran yang
sangat kaya akan makna Perjanjian Lama. Dalam 2 Samuel 6, kita membaca tentang
Raja Daud yang menari-nari di hadapan Tabut Perjanjian ketika Tabut itu dibawa
ke Yerusalem, dan ia berseru dengan sukacita. Demikian pula, Yohanes Pembaptis
melonjak kegirangan di hadapan Maria yang membawa Yesus dalam kandungannya.
Maria dipandang sebagai Tabut Perjanjian yang baru—bukan lagi menyimpan loh
batu dan manna, tetapi menyimpan Kristus sendiri, Sabda yang menjadi daging.
3. Kidung Magnificat: Syukur
Sebelum Melihat Hasil
Saudara-saudari yang terkasih,
bacaan ini mencapai puncaknya pada kidung Maria yang kita kenal sebagai Magnificat.
Kata-kata Maria bergema penuh kuasa:
"Jiwaku memuliakan Tuhan,
dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan
kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan
menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan
besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya" (Lukas 1:46-49).
Yang luar biasa dari pujian ini
adalah waktu pengucapannya. Maria memuji Tuhan sebelum ia
melihat semua hasilnya. Ia bersyukur bukan setelah situasinya aman, bukan
setelah Yesus lahir dengan selamat, bukan setelah semua masalah selesai. Ia
bersyukur di tengah-tengah ketidakpastian, di tengah risiko
yang mengancam.
Inilah yang disebut sebagai
"gaya hidup Magnificat": bersyukur sebelum melihat hasil. Pujian
Maria tidak bertumpu pada situasi di sekitarnya, melainkan pada Allah yang
diimaninya. Maria bersyukur karena ia tahu bahwa Allah sedang bekerja, bahkan
ketika matanya belum melihat hasil akhirnya.
Paus Fransiskus mengingatkan
bahwa dalam Magnificat ini, Maria tidak berbicara tentang
dirinya sendiri, tetapi tentang Allah. Semua kata kerja dalam kidung ini memang
dalam bentuk lampau—"telah memperhatikan," "telah
melakukan"—namun kata-katanya dipenuhi dengan ingatan akan kasih yang
menerangi masa kini dengan iman dan menerangi masa depan dengan pengharapan.
Maria menyanyikan rahmat masa lalu, tetapi ia adalah wanita masa kini yang
mengandung masa depan dalam rahimnya.
4. Makna Mendalam: Kacamata
Iman
Mengapa Maria dapat memuji Allah
dengan begitu meluap-luap di tengah situasi yang secara manusiawi sangat berat?
Jawabannya sederhana: Maria melihat segala sesuatu dari kacamata iman,
dari perspektif Allah.
Maria percaya bahwa apa yang
dialaminya—termasuk kehamilan yang penuh risiko ini—bukanlah sebuah beban,
melainkan bagian dari rencana agung Allah. Ia melihat tanggung jawabnya sebagai
sebuah kehormatan, kecemasannya sebagai kesempatan untuk percaya, dan penderitaannya
sebagai partisipasi dalam karya penyelamatan Allah.
Bunda Maria mengajak kita untuk
melakukan hal yang sama: melihat karya Tuhan dari kacamata iman yang positif.
Orang yang mampu bersukacita dalam Tuhan di tengah penderitaan adalah orang
yang paling berbahagia. Karena ketika banyak orang berusaha menemukan
kebahagiaan lewat harta dan kenikmatan duniawi, Maria menemukan satu-satunya
alasan untuk berbahagia: Tuhan sendiri.
5. Aplikasi dalam Kehidupan
Sehari-hari
Saudara-saudari yang terkasih,
bagaimana kita dapat menghidupi gaya hidup Magnificat ini
dalam keseharian kita? Perayaan Maria Diangkat ke Surga hari ini mengajak kita
untuk merenungkan beberapa hal:
Pertama, di tengah pergumulan
ekonomi. Ketika beban finansial menekan, alih-alih tenggelam dalam
kecemasan yang melumpuhkan, belajarlah mengucap syukur atas pemeliharaan Tuhan
hari ini—napas hidup, makanan di meja, dan kekuatan untuk terus berusaha.
Percayalah bahwa Allah yang memelihara burung di udara tidak akan membiarkan
kita berjalan sendirian.
Kedua, di tengah ketegangan
keluarga. Saat komunikasi dalam keluarga terasa hambar atau penuh
konflik, mulailah bersyukur atas kehadiran mereka. Bersyukurlah atas
benih-benih kebaikan yang Tuhan tempatkan dalam diri pasangan atau anak-anak
kita, bahkan sebelum kita melihat perubahan sikap pada diri mereka.
Ketiga, dalam doa-doa kita. Ubahlah
cara kita berdoa. Jangan hanya memenuhi doa dengan daftar permintaan dan keluh
kesah. Belajarlah untuk memuji Tuhan terlebih dahulu, mengucap syukur atas apa
yang telah Dia lakukan, dan percaya bahwa Dia sedang bekerja bahkan di tengah
proses yang belum selesai.
Keempat, meneladan keteguhan
iman Maria. Dalam perjalanan hidupnya, Maria mengalami banyak
penderitaan—mulai dari kehamilan yang penuh risiko, pelarian ke Mesir,
kehilangan Yesus di Bait Allah, hingga akhirnya berdiri di bawah salib melihat
Putranya wafat. Namun Maria tetap setia. Ia tidak pernah kehilangan imannya.
Dan karena kesetiaannya, Allah mengangkatnya ke dalam kemuliaan surgawi.
Penutup: Pengharapan
Kebangkitan
Saudara-saudari yang terkasih,
perayaan Maria Diangkat ke Surga hari ini bukan hanya tentang Maria, tetapi
juga tentang kita. Dalam diri Maria, buah Paskah Kristus telah berbuah penuh.
Tubuh manusia—tubuh kita yang berkeringat di bawah terik matahari, tubuh kita
yang lelah setelah bekerja keras, tubuh kita yang menua—tidak ditakdirkan untuk
dibinasakan, tetapi untuk dimuliakan.
Paulus berkata dengan keyakinan
yang menggetarkan: "Kristus telah bangkit sebagai buah sulung dari
orang-orang yang telah meninggal" (1 Korintus 15:20). Kebangkitan Kristus
adalah jaminan bahwa kita semua yang percaya kepada-Nya akan dibangkitkan. Dan
dalam diri Maria, kita melihat janji itu sudah digenapi secara sempurna.
Maria telah mendahului kita dalam
kemuliaan. Ia adalah tanda harapan bahwa kita semua dipanggil untuk mencapai
kemuliaan yang sama. Maka, marilah kita meneladan iman, harapan, dan kasih
Maria. Marilah kita belajar bersyukur sebelum melihat hasil, percaya bahwa
Tuhan selalu bekerja dalam hidup kita, dan berani melangkah dengan iman seperti
Maria.
Semoga Bunda Maria, Ratu Surga,
menyertai kita dan membimbing setiap langkah kita menuju Yesus, Putranya, yang
hidup dan berkuasa selama-lamanya. Amin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar