Rabu, 26 Agustus 2026

MAKNA "BERJAGA-JAGA"

Renungan Harian Katolik

Kamis, 27 Agustus 2026
Peringatan Wajib Santa Monika, Janda
Pekan Biasa XXI

Bacaan Injil: Matius 24:42-51

 

MAKNA "BERJAGA-JAGA"

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi




Saudara-saudari yang dikasihi Kristus,

Hari ini Gereja memperingati Santa Monika, seorang janda yang saleh dan ibu dari Santo Agustinus. Dalam bacaan Injil pada peringatan wajibnya ini, Yesus mengajak kita untuk selalu berjaga-jaga dan siap sedia menyambut kedatangan-Nya. Undangan untuk berjaga-jaga ini bukanlah ajakan untuk hidup dalam ketakutan akan akhir zaman, melainkan panggilan untuk menjalani hidup dengan kewaspadaan iman dan kesetiaan dalam tugas sehari-hari.

Makna "Berjaga-jaga"

Perkataan Yesus, "Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang", mengandung makna mendalam. Dalam Bahasa Yunani, kata "berjaga-jagalah" (gregoreo) ditulis dalam bentuk perintah yang menunjukkan keadaan siap siaga terus-menerus. Yesus tidak bermaksud agar kita menghitung-hitung hari kedatangan-Nya, melainkan agar kita menjalani setiap hari sebagai kesempatan untuk beriman dan bertindak sesuai kehendak Allah. Seperti peringatan kitab suci, kita dipanggil untuk menghadapi kemungkinan bahwa Tuhan bisa datang setiap saat, sehingga kita tidak boleh menganggap bahwa hari ini adalah waktu yang aman untuk menunda pertobatan dan perbuatan baik.

Dua Model Hamba: Setia dan Bijaksana vs Jahat

Melalui perumpamaan tentang hamba yang setia dan bijaksana serta hamba yang jahat, Yesus mengajarkan tentang kualitas hidup seorang pengikut-Nya. Hamba yang setia dan bijaksana adalah mereka yang menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab, memberikan "makanan pada waktunya" kepada orang-orang yang dilayaninya. Ini mengingatkan kita akan panggilan Gereja dan setiap orang beriman untuk saling memberi makan secara rohani dan jasmani. Bukan sekadar ketaatan buta, kesetiaan harus disertai kebijaksanaan, dan kebijaksanaan harus diarahkan pada kesetiaan kepada Allah.

Sebaliknya, hamba yang jahat hidup dalam sikap "Tuanku tidak datang-datang". Ia merasa aman karena mengira tuannya lambat datang, lalu menyalahgunakan wewenangnya dengan memukul hamba-hamba lain dan hidup dalam pesta pora. Sikap ini adalah gambaran orang yang lalai akan kehadiran Tuhan dalam hidupnya, yang hidup seolah-olah Allah tidak ada atau tidak akan datang menghakimi. Kita diajak untuk tidak menjadi seperti hamba yang jahat ini, yang pada akhirnya akan menemui ratapan dan kertakan gigi.

Teladan Santa Monika: Hidup dalam Kewaspadaan Iman

Peringatan Santa Monika hari ini memberi kita teladan nyata tentang bagaimana hidup dalam kewaspadaan iman. Santa Monika dikenal sebagai seorang istri dan ibu yang menderita karena suami dan anaknya yang hidup dalam dosa. Namun, ia tidak pernah berhenti berdoa dan berharap. Ia adalah sosok yang tetap teguh dalam menghadapi penderitaan, dan imannya yang teguh serta doanya yang tekun membuahkan pertobatan putranya, Agustinus, yang kemudian menjadi seorang kudus besar Gereja.

Kewaspadaan Santa Monika bukanlah kewaspadaan yang pasif menunggu, melainkan kewaspadaan aktif yang diwujudkan dalam doa, kesabaran, dan ketekunan. Ia adalah hamba yang setia dan bijaksana yang tetap menjalankan tugasnya sebagai ibu, sekalipun situasi tampak gelap. Ia menjaga imannya dan iman keluarganya dengan tidak pernah menyerah pada keadaan.

Aplikasi dalam Kehidupan Sehari-hari

Saudara-saudari yang terkasih, bagaimana kita dapat menerapkan ajaran Yesus ini dalam hidup kita? Pertama, kita dipanggil untuk menyadari bahwa kedatangan Tuhan tidak hanya terjadi di akhir zaman, tetapi juga setiap hari melalui peristiwa-peristiwa hidup dan sapaan-Nya dalam Sabda dan Sakramen. Kedua, kita diajak untuk setia dalam tugas-tugas kecil kita sehari-hari. Apakah kita telah setia sebagai suami, istri, orang tua, anak, atau dalam pekerjaan kita? Kita tidak boleh menyalahgunakan wewenang atau hidup semaunya sendiri, seolah-olah kita tidak akan dimintai pertanggungjawaban. Kita mungkin tergoda untuk hidup dalam kepuasan diri, mengabaikan sesama, atau bahkan memukul mereka—baik secara fisik maupun melalui perkataan yang menyakiti, sikap acuh tak acuh, atau ketidakadilan.

Ketiga, kita dipanggil untuk menjadi "hamba yang setia dan bijaksana" yang memberikan "makanan pada waktunya" kepada orang lain. Ini bisa berarti memberikan perhatian, kasih sayang, bantuan, atau pewartaan Sabda kepada mereka yang membutuhkan. Dalam keluarga, di tempat kerja, dan dalam masyarakat, kita dipanggil untuk menjadi saluran berkat bagi sesama, karena pada akhirnya, Allah, yang setia, akan meneguhkan kita sampai kesudahannya, seperti yang ditegaskan dalam bacaan pertama dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus.

Penutup

Marilah kita meneladani Santa Monika dan para kudus yang telah mendahului kita. Semoga kita tidak termasuk dalam golongan hamba yang jahat dan lalai, melainkan termasuk dalam golongan hamba yang setia dan bijaksana, yang selalu siap sedia dengan iman yang hidup dan perbuatan yang nyata. Karena pada saat yang tidak kita duga, Tuhan akan datang. Maka, berjaga-jagalah, dan siap sedialah selalu.

Amin.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar