Kamis, 13 Agustus 2026

MENATAP SURGA DENGAN PENUH HARAPAN

Renungan

Sabtu, 15 Agustus 2026

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga

Bacaan Injil: Matius 19:13-15

 

MENATAP SURGA DENGAN PENUH HARAPAN

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi


 


Saudara-saudari terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus,

Hari ini, Gereja di seluruh dunia merayakan salah satu misteri agung iman kita: Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Pada hari yang istimewa ini, kita memuliakan Bunda Maria yang telah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia dan diangkat tubuh serta jiwanya ke dalam kemuliaan surgawi . Dogma yang secara resmi dinyatakan oleh Paus Pius XII pada tahun 1950 ini bukan sekadar penghormatan istimewa kepada Bunda Allah, melainkan juga menjadi tanda pengharapan bagi kita semua bahwa keselamatan yang dijanjikan Kristus adalah nyata dan terbuka bagi setiap orang yang beriman.

Pada Sabtu, 15 Agustus 2026 ini, kita mendengarkan Sabda Tuhan dari Injil Matius 19:13-15 . Di tengah kemuliaan Maria yang kita rayakan, Injil justru mengajak kita untuk merenungkan sebuah peristiwa yang sederhana namun sarat makna: Yesus memberkati anak-anak kecil. Ada pesan mendalam yang hendak disampaikan Tuhan kepada kita pada hari raya ini.

 

Ulasan Injil

Kisah dalam Injil hari ini sungguh mengharukan. Diceritakan bahwa orang-orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, dengan maksud agar Ia meletakkan tangan-Nya ke atas mereka dan mendoakan mereka. Namun, para murid menegur orang-orang itu. Mungkin mereka berpikir bahwa Yesus yang sedang sibuk mengajar dan melayani orang banyak tidak perlu diganggu oleh hal-hal yang dianggap sepele.

Reaksi Yesus sangat jelas dan tegas: "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Surga" (Mat 19:14). Setelah itu, Yesus meletakkan tangan-Nya atas mereka dan memberkati mereka.

Yesus membalikkan logika dunia. Para murid menganggap anak-anak kecil tidak penting, tetapi Yesus justru menjadikan mereka sebagai teladan bagi siapa pun yang ingin masuk ke dalam Kerajaan Surga. Anak-anak kecil memiliki kerendahan hati, ketulusan, dan sikap ketergantungan penuh kepada orang tua mereka. Mereka tidak sombong dengan pencapaiannya, tidak munafik dalam perkataan, dan tidak merasa cukup dengan kemampuan sendiri. Merekalah yang empunya Kerajaan Surga.

 

Relevansi dengan Perayaan Maria Diangkat ke Surga

Apa kaitan antara perikop Injil ini dengan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga yang kita rayakan?

Saudara-saudari, Bunda Maria adalah contoh sempurna dari seorang pribadi yang memiliki hati seperti anak kecil. Sepanjang hidupnya, Maria tidak pernah mengandalkan kekuatan atau kebijaksanaannya sendiri. Ia adalah pribadi yang rendah hati. Ketika malaikat Gabriel menyampaikan kabar gembira bahwa ia akan menjadi Bunda Allah, ia tidak menyombongkan diri. Ia justru mengaku sebagai "hamba Tuhan" (Luk 1:38). Kerendahan hati inilah yang membuat Allah berkenan melakukan perbuatan besar padanya.

Maria juga memiliki ketulusan dan kepasrahan total kepada kehendak Allah. Ia tidak banyak bertanya atau menuntut penjelasan terperinci. Ia percaya bahwa apa yang dikatakan Tuhan akan terlaksana. Inilah iman yang polos dan sederhana seperti seorang anak yang percaya begitu saja kepada perkataan orang tuanya.

Dengan kerendahan hati dan kepasrahan seperti itulah, Maria berjalan sepanjang hidupnya: dari perkabungan di bawah salib hingga sukacita kebangkitan, dari keraguan awal hingga kepastian iman di ruang atas bersama para rasul. Karena ia memiliki hati seperti anak kecil, Allah mengangkatnya ke kemuliaan surgawi. Pengangkatan Maria bukanlah hadiah yang tidak layak, melainkan puncak dari perjalanan iman yang dijalaninya dengan rendah hati dan penuh kepercayaan kepada Allah.

Sebaliknya, para murid yang saat itu melarang anak-anak datang kepada Yesus justru mewakili sikap orang yang menganggap dirinya lebih penting dan lebih tahu. Mereka tidak memiliki hati seperti anak kecil, melainkan hati orang dewasa yang terkadang sombong dan angkuh. Dalam perikop sebelumnya, para murid sedang bertengkar tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Mereka perlu belajar kembali untuk menjadi kecil dan rendah hati.

 

Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari

Saudara-saudari terkasih, pesan Sabda Tuhan pada hari raya ini mengajak kita untuk melakukan refleksi mendalam.

Pertama, bagaimana dengan hati kita? Apakah kita masih memiliki hati seperti anak kecil? Apakah kita masih rendah hati dan bergantung sepenuhnya pada Tuhan? Atau sebaliknya, kita justru menjadi seperti para murid yang sok tahu dan menganggap orang lain lebih rendah, sehingga kita menghalangi orang lain untuk datang kepada Yesus? Mari kita periksa batin kita. Orang yang masuk surga adalah mereka yang mengosongkan diri dan dengan penuh kepercayaan menyerahkan hidupnya kepada Tuhan.

Kedua, marilah kita meneladani Maria. Maria adalah Bunda kita yang telah mencapai kemuliaan surgawi. Ia adalah bukti nyata bahwa rahmat keselamatan itu nyata bagi manusia. Ia bukanlah dewa atau makhluk yang tidak terjangkau. Ia adalah manusia biasa yang dengan rahmat Allah mampu menjalani hidupnya sebagai murid sejati. Setiap hari kita dipanggil untuk meneladani kerendahan hati dan kepasrahannya. Setiap kali kita menerima Tubuh Kristus dalam Ekaristi, kita juga dipersatukan dengan Maria yang pernah mengandung dan melahirkan Sabda Allah.

Ketiga, bagi kita yang adalah orang tua dan pendidik, bacaan hari ini adalah panggilan untuk membawa anak-anak kita kepada Yesus. Jangan pernah menghalangi anak-anak kita untuk mengenal Tuhan. Berkatilah mereka, doakanlah mereka, dan ajaklah mereka untuk terlibat dalam kehidupan menggereja . Masa depan Gereja ada di tangan anak-anak kita. Mereka adalah generasi penerus yang harus kita bimbing dengan kasih dan teladan iman yang nyata.

 

Penutup

Saudara-saudari, di hari raya yang agung ini, kita diajak untuk menatap surga dengan penuh harapan. Bunda Maria telah mendahului kita di sana. Ia, yang memiliki hati seperti anak kecil, kini duduk sebagai Ratu di sisi Putranya. Mari kita mohon doa syafaatnya agar kita pun diberi rahmat untuk merendahkan hati seperti anak kecil. Semoga kita semakin bergantung pada Tuhan, semakin tulus dalam mengasihi, dan semakin siap menerima Kerajaan Allah dengan tangan terbuka.

Pada akhirnya, kita pun dipanggil untuk mengikuti jejak Maria. Dengan berani menjawab "ya" terhadap kehendak Tuhan, kita dipersiapkan untuk suatu hari nanti, bersama dengan dia dan semua orang kudus, mencapai kemuliaan abadi di surga.

Santa Perawan Maria, Ratu Surga, doakanlah kami. Amin.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar