Jumat, 28 Agustus 2026

MENJADI TERANG DI TENGAH KEGELAPAN DUNIA

Renungan Harian Katolik

Sabtu, 29 Agustus 2026

Peringatan Wafatnya Santo Yohanes Pembaptis, Martir

Bacaan Injil: Markus 6:17-29

 

MENJADI TERANG DI TENGAH KEGELAPAN DUNIA

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi


 


Pembukaan

Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus,

Hari ini Gereja mengajak kita untuk memperingati secara istimewa wafatnya Santo Yohanes Pembaptis. Dalam Kalender Liturgi, tanggal 29 Agustus merupakan Peringatan Wajib Wafatnya Yohanes Pembaptis, yang gencar dibunuh karena keberaniannya menyuarakan kebenaran. Bacaan Injil yang kita renungkan pada hari ini diambil dari Markus 6:17-29, sebuah kisah yang sangat tragis namun sarat akan makna spiritual yang mendalam bagi kehidupan iman kita.

Kisah Tragis di Balik Tarian dan Sumpah

Injil Markus hari ini mengisahkan bagaimana Yohanes Pembaptis, nabi terakhir yang diutus Allah, harus meregang nyawa di penjara. Kisah ini dimulai ketika Herodes menangkap dan membelenggu Yohanes karena teguran keras sang nabi: "Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!". Herodes telah mengambil Herodias, istri Filipus saudaranya, dan Yohanes dengan berani menegur perbuatan dosa itu di muka umum.

Herodias, yang merasa tersinggung, menyimpan dendam dan berniat membunuh Yohanes, namun Herodes sendiri melindunginya. Mengapa? Karena Herodes tahu bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci. Injil mencatat bahwa setiap kali Herodes mendengarkan Yohanes, hatinya terombang-ambing, namun ia tetap senang mendengarkannya. Ada pergulatan batin dalam diri Herodes—ia tertarik pada kebenaran namun tidak mau melepaskan dosanya.

Kesempatan jahat itu tiba pada hari ulang tahun Herodes. Dalam sebuah pesta besar, putri Herodias menari dan menyukakan hati Herodes serta para tamunya. Dalam keadaan mabuk kekuasaan dan kegembiraan, Herodes bersumpah akan memberikan apa pun yang diminta sang putri, bahkan sampai setengah kerajaannya. Atas hasutan ibunya, gadis itu meminta kepala Yohanes Pembaptis di atas talam.

Herodes sangat bersedih, tetapi karena sumpahnya dan karena para tamunya, ia tidak mau menolak. Demi menjaga muka dan gengsinya di hadapan para pembesar, Herodes mengorbankan nyawa orang benar. Yohanes pun dipenggal kepalanya di penjara.

Tiga Tokoh, Tiga Sikap Hidup

Saudara-saudari terkasih, dari perikop ini kita dapat belajar tiga sikap manusia yang sangat berbeda: Yohanes Pembaptis, Herodes, dan Herodias.

Yohanes Pembaptis adalah teladan keberanian iman. Ia tidak gentar menghadapi penguasa yang otoriter. Baginya, takut akan Allah jauh lebih penting daripada takut akan manusia. Yohanes sadar bahwa panggilan kenabiannya adalah menyatakan kebenaran, sekalipun kebenaran itu pahit dan harus dibayar dengan nyawanya sendiri. Seperti yang dikatakan, Yohanes adalah nabi terakhir yang mempersiapkan jalan bagi Tuhan, dan ia tetap setia pada panggilan ini sampai akhir hayatnya. Ia adalah "suara yang berseru-seru di padang gurun" yang tidak pernah berhenti berseru, meskipun nyawanya terancam.

Herodes menggambarkan orang yang terjebak dalam dosa dan pencarian hormat duniawi. Ia sebenarnya mengakui kebenaran, bahkan merasa senang mendengarkan Yohanes, namun ia tidak berani bertobat dan mengubah hidupnya. Ia lebih peduli pada penampilan dan kehormatan di hadapan manusia daripada kebenaran di hadapan Allah. Sumpah yang diucapkannya dalam pesta menunjukkan betapa ia lebih mengutamakan gengsi daripada keadilan. Sikap Herodes ini adalah peringatan bagi kita: sering kali kita mendengarkan Firman Tuhan dan bahkan setuju dengannya, namun kita tidak berani mengubah hidup karena takut kehilangan muka atau kenyamanan duniawi.

Herodias adalah simbol kebencian dan dendam. Karena hatinya terluka oleh teguran kebenaran, ia memilih untuk membalas dendam daripada bertobat. Dendam ini membawanya pada dosa yang semakin besar, yaitu membunuh nabi Allah. Alkitab mengingatkan kita bahwa akar dari segala kejahatan sering kali adalah hati yang menolak kebenaran dan memilih untuk hidup dalam kegelapan.

Pembelajaran bagi Kita

Apa yang dapat kita bawa pulang dari renungan ini?

Pertama, keberanian untuk menyatakan kebenaran. Dalam hidup sehari-hari, kita dipanggil untuk menjadi nabi-nabi kecil di tengah dunia. Kita mungkin tidak dipanggil untuk mati martir seperti Yohanes, tetapi kita dipanggil untuk berani mengatakan kebenaran dengan kasih, menegur yang salah, dan membela yang benar di mana pun kita berada. Teguran adalah bagian dari kasih yang sejati, karena kasih tidak pernah diam ketika melihat orang terjerumus dalam dosa.

Kedua, menjaga hati dari dosa dan kemunafikan. Herodes menunjukkan bahaya dari hati yang terbagi. Ia suka mendengarkan kebenaran tetapi tidak mau hidup dalam kebenaran. Tuhan menginginkan komitmen total, bukan iman yang setengah-setengah dan penuh kompromi. Jangan biarkan dosa yang kita pegang teguh menghalangi kita untuk sungguh-sungguh bertobat dan mengikuti Kristus.

Ketiga, kesaksian tidak pernah sia-sia. Yohanes mati dengan kejam, namun kesaksiannya tetap hidup. Ketika murid-muridnya datang dan mengambil mayatnya serta membaringkannya dalam kuburan, itu bukan akhir dari segalanya. Kematian Yohanes adalah benih yang menghasilkan buah bagi Kerajaan Allah. Yesus sendiri kemudian memberikan kesaksian tentang Yohanes sebagai nabi terbesar. Demikian pula, setiap pengorbanan yang kita lakukan demi kebenaran tidak pernah sia-sia di mata Tuhan.

Penutup

Saudara-saudari terkasih, pada hari peringatan wafatnya Santo Yohanes Pembaptis ini, marilah kita memohon rahmat agar diberikan keberanian dan kesetiaan seperti Yohanes. Semoga kita tidak gentar untuk menyatakan kebenaran, teguh dalam iman, dan lebih takut akan Allah daripada takut akan manusia. Semoga kita juga memiliki hati yang peka untuk bertobat, tidak seperti Herodes yang mengeraskan hati, dan tidak seperti Herodias yang memilih dendam.

Yohanes Pembaptis telah menyerahkan nyawanya demi kebenaran. Kini ia telah bersama Kristus di surga. Marilah kita meneladani dia, menjadi terang di tengah kegelapan dunia dan suara yang berseru mempersiapkan jalan bagi Tuhan, sampai pada akhirnya kita pun layak menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan.

Tuhan, berikanlah kami keberanian Santo Yohanes Pembaptis untuk selalu menyatakan kebenaran dengan kasih. Jauhkanlah kami dari dosa kemunafikan dan dendam, dan bimbinglah kami untuk selalu setia pada-Mu. Demi Yesus Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar