Renungan Harian Katolik
Jumat, 7 Agustus 2026
Peringatan Santo Sistus II dan Santo Kayetanus
Bacaan Injil: Matius 16:24-28
MENYANGKAL DIRI, MEMIKUL SALIB, DAN
MENGIKUT KRISTUS
Sorang
Tumanggor, S.Ag
Penyuluh
Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi
Pendahuluan: Mengundang Kita untuk Berpikir Ulang
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,
Setiap hari, kita dihadapkan pada pilihan. Pilihan antara
yang mudah dan yang benar, antara kepuasan sesaat dan kebahagiaan sejati,
antara menuruti keinginan diri dan mengikuti kehendak Allah. Hari ini, Sabda
Tuhan dalam Injil Matius mengundang kita untuk merenungkan pilihan fundamental
dalam hidup kita sebagai pengikut Kristus.
Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya: "Setiap
orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan
mengikut Aku" (Mat 16:24). Ini bukan sekadar ajakan, melainkan
syarat mutlak yang Dia tetapkan bagi setiap orang yang ingin menjadi murid-Nya
yang sejati .
Renungan: Tiga Syarat Mengikuti Kristus
Dalam perikop ini, Yesus mengajukan tiga syarat yang
kelihatannya berat, namun justru mengandung jaminan keselamatan dan kehidupan
sejati .
1. Menyangkal Diri: Mengosongkan Ego
Syarat pertama adalah "menyangkal diri." Apa
artinya? Menyangkal diri berarti berani melepaskan segala anggapan, keinginan,
dan kepentingan pribadi untuk mendahulukan Allah dan kehendak-Nya . Ini
bukan berarti membenci diri sendiri, melainkan mengosongkan hati dari ego yang
terlalu mencintai diri sendiri dan mengutamakan keinginan sendiri di atas
segalanya .
St. Paulus menggambarkan teladan sempurna tentang
penyangkalan diri ini dalam diri Yesus sendiri: "Walaupun dalam
rupa Allah, Ia tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang
harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa
seorang hamba" (Fil 2:6-7) . Yesus, yang adalah Allah
sendiri, rela mengosongkan diri demi keselamatan kita. Dia menunjukkan bahwa
menyangkal diri berarti menjadikan Allah dan sesama sebagai pusat hidup, bukan
diri kita sendiri.
2. Memikul Salib: Menerima Penderitaan dengan Iman
Syarat kedua adalah "memikul salibnya." Salib
bukanlah hiasan atau simbol status, melainkan alat hukuman yang kejam dan
memalukan. Namun, Yesus mengubah salib menjadi sarana keselamatan. Memikul
salib berarti tidak menghindar dari penderitaan, kesulitan, dan tantangan
hidup, tetapi mampu bertahan dan menjadikan setiap penderitaan sebagai sarana
penyucian dan pertumbuhan iman .
Paus Fransiskus mengingatkan kita: "Jalan
terbaik di dunia adalah merangkul salib Kristus. Di dalam inti Kekristenan
terdapat pesan yang menggugah hati, pesan yang menakjubkan dan istimewa: ketika
Anda memberikan nyawa Anda, ketika Anda memberikan diri dengan murah hati,
ketika Anda memilih kasih dan mengambil risiko, ketika Anda memberikan kasih
tanpa syarat kepada orang lain, semua itu akan kembali kepada Anda dengan
berlimpah" .
Namun perlu ditekankan: memikul salib bukanlah berarti
memikulnya sendirian. Kita memikul salib BERSAMA Yesus. Dialah yang berjalan di
samping kita dan menopang kita dalam setiap kesulitan . Salib yang kita
pikul adalah salib yang telah Dia sendiri pikulkan bagi kita, dan Dia tidak
pernah membiarkan kita sendirian di bawah bebannya.
3. Mengikut Yesus: Menjadikan Hidup dan Misi-Nya sebagai
Milik Kita
Syarat ketiga adalah "mengikut Aku." Mengikuti
Yesus berarti menjadikan hidup dan misi-Nya sebagai hidup dan misi kita. Bila
Dia adalah jalan, kebenaran, dan hidup, maka kita pun dipanggil untuk menjadi
jalan pulang bagi sesama yang tersesat, sumber kebenaran bagi yang bimbang, dan
penguat bagi yang putus asa .
Ini bukanlah perjalanan yang mudah. Banyak orang mengaku
mengikuti Yesus, tetapi ketika penderitaan atau penolakan datang, mereka
mundur. Yesus dengan jujur mengatakan bahwa mengikut Dia berarti siap
menderita, siap ditolak, dan siap kehilangan nyawa demi Dia .
Pertanyaan Retoris yang Menggugah
Yesus kemudian mengajukan pertanyaan yang sangat
dalam: "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi
kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti
nyawanya?" (Mat 16:26).
Pertanyaan ini mengundang kita untuk berefleksi: Seberapa
besar kita mengejar hal-hal duniawi—kesuksesan, kekayaan, kekuasaan,
popularitas? Apakah kita rela mengorbankan nilai-nilai kekal demi kepuasan
sesaat? Jika kita memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan jiwa kita, apa
artinya semua itu? .
Seperti kata bijak: "Sungai tidak minum airnya
sendiri; pohon tidak memakan buahnya sendiri; matahari tidak bersinar untuk
dirinya sendiri; bunga tidak menyebarkan keharumannya untuk dirinya sendiri.
Hidup untuk orang lain adalah hukum alam" . Kita dipanggil untuk
tidak hanya hidup bagi diri sendiri, tetapi memberi diri bagi sesama dan bagi
Allah.
Aplikasi Praktis dalam Kehidupan Sehari-hari
Bagaimana kita bisa menghidupi ajaran Yesus ini dalam
keseharian?
- Latihan
Menyangkal Diri: Mulailah dari hal-hal kecil. Tahan diri dari gosip,
amarah, atau keinginan untuk selalu menang sendiri. Latih diri untuk
mendengarkan orang lain, mengalah demi kebaikan bersama, dan mengutamakan
kehendak Allah dalam setiap keputusan.
- Menerima
Penderitaan dengan Iman: Ketika menghadapi sakit, kehilangan, atau
kekecewaan, jangan mengeluh atau putus asa. Pandanglah itu sebagai
kesempatan untuk bertumbuh dalam iman dan bersatu dengan penderitaan
Kristus. Ingatlah bahwa sakit adalah tanda bahwa kita hidup, masalah adalah
tanda bahwa kita kuat, dan doa adalah tanda bahwa kita tidak
sendirian .
- Mengikuti
Yesus dalam Keseharian: Bertanyalah setiap hari: "Apa yang Yesus
lakukan dalam situasi ini? Bagaimana Dia bersikap? Apa yang Dia
kehendaki?" Dan kemudian, ikutilah jejak-Nya. Ini berarti berbuat
baik kepada orang yang menyakiti kita, memberi kepada yang membutuhkan,
mengampuni yang bersalah, dan membela yang lemah.
- Jangan
Terpaku pada Hal Duniawi: Evaluasi kembali prioritas hidup. Apakah
kita menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengejar uang, karier, atau
harta daripada untuk membangun relasi dengan Allah dan sesama? Ingatlah
bahwa semua yang duniawi bersifat sementara; hanya yang kekallah yang
bertahan.
Penutup: Jalan Salib adalah Jalan Kemuliaan
Saudara-saudari yang terkasih,
Jalan yang Yesus tawarkan memang berat, tetapi itulah jalan
menuju kehidupan sejati. Dia sendiri telah menempuh jalan itu lebih dulu. Dia
telah menyangkal diri-Nya, memikul salib-Nya, dan mengikuti kehendak Bapa
sampai akhir. Dan Dia bangkit dalam kemuliaan.
Janji Yesus kepada kita jelas: "Barangsiapa mau
menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa
kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya" (Mat
16:25). Dengan kata lain, ketika kita rela "kehilangan" nyawa
kita—yaitu, melepaskan kepentingan diri dan mengikut Dia—kita justru menemukan
kehidupan yang sejati dan kekal .
Marilah kita meneladani Santo Sistus II dan Santo Kayetanus,
yang hari ini kita peringati. Mereka adalah orang-orang kudus yang telah berani
mengambil jalan salib, yang dengan setia mengikuti Kristus sampai akhir. Semoga
doa dan teladan mereka menguatkan kita.
Bersama Paus Fransiskus, marilah kita mengingat: "Anda
tidak perlu menjadi terkenal, kaya, atau berkuasa untuk bahagia. Hanya cinta
yang memuaskan dahaga hati kita, hanya cinta yang menyembuhkan luka kita, hanya
cinta yang memberi kita sukacita sejati. Inilah jalan yang Yesus ajarkan kepada
kita, jalan yang Dia buka di hadapan kita" .
Doa Penutup
Tuhan Yesus Kristus,
Engkau telah menunjukkan kepada kami jalan menuju kehidupan sejati
melalui penyangkalan diri, pemikulan salib, dan pengikutan kepada-Mu.
Berilah kami keberanian untuk melepaskan ego kami
dan mendahulukan kehendak Bapa dalam segala hal.
Ajarlah kami untuk memikul salib kami setiap hari
dengan sabar dan penuh iman,
percaya bahwa Engkau selalu menyertai dan menopang kami.
Tuhan, jauhkanlah kami dari cinta akan hal-hal duniawi
yang hanya memberi kepuasan semu,
dan arahkanlah hati kami pada harta kekal di surga.
Kami memohon ini demi nama-Mu yang kudus.
Amin.
Selamat merenungkan Sabda Tuhan. Terpujilah Yesus
Kristus, kini dan selama-lamanya. Amin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar