Kamis, 06 Agustus 2026

BERANI MELANGKAH, TEGUH MEMEGANG TANGAN TUHAN

Renungan Minggu Biasa XIX – 9 Agustus 2026

Bacaan Injil: Matius 14:22-33

 

BERANI MELANGKAH, TEGUH MEMEGANG TANGAN TUHAN

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi




Saudara-saudari umat Katolik yang terkasih,

Pada hari Minggu Biasa XIX ini, Gereja menyuguhkan kepada kita sebuah perikop Injil yang begitu kaya akan makna kehidupan rohani: kisah Yesus berjalan di atas air dan panggilan kepada Petrus untuk datang kepada-Nya (Matius 14:22-33). Bacaan ini mengajak kita untuk merenungkan iman, ketakutan, dan kuasa Tuhan di tengah badai kehidupan.

 

1. Yesus Mengajak Kita Memasuki Badai

Kisah ini dimulai dengan Yesus yang “segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara Ia menyuruh orang banyak pulang” . Sungguh menarik bahwa Yesus sendirilah yang mengirim mereka ke tengah danau, mengetahui bahwa badai akan datang. Ia tidak menjanjikan perjalanan yang mulus tanpa gelombang.

Paus Fransiskus dalam Angelus-nya mengingatkan: “Tuhan mengetahui bahwa perahu kehidupan kita, maupun perahu Gereja, terancam oleh angin sakal, dan lautan yang kita layari seringkali bergelora. Ia tidak membebaskan kita dari jerih payah berlayar; sebaliknya, Ia mengajak kita menghadapi kesulitan” . Ini adalah kabar baik sekaligus tantangan: iman tidak menjanjikan bebas masalah, tetapi menjanjikan kehadiran-Nya di tengah masalah.

 

2. Tuhan Datang di Tengah Kegelapan

Para murid berjuang melawan ombak sepanjang malam. Pada kira-kira pukul 3-6 pagi—waktu paling gelap sebelum fajar—Yesus datang, berjalan di atas air . St. Yohanes Krisostomus menafsirkan bahwa Yesus membiarkan mereka diombang-ambingkan sepanjang malam untuk membangkitkan hati mereka, menggugah kerinduan yang lebih besar akan Dia .

Betapa sering kita merasakan hal yang sama. Badai persoalan keluarga, kesehatan, pekerjaan, atau panggilan hidup seakan tak kunjung reda. Gelombang ketakutan dan kecemasan menghantam perahu hidup kita. Namun pada saat itulah—di tengah kegelapan terdalam—Yesus datang. Ia berjalan mengatasi kuasa-kuasa kejahatan yang dilambangkan oleh air yang bergelora .

Namun kedatangan-Nya justru membuat para murid ketakutan. Mereka menyangka Dia hantu . Betapa ironis: mereka takut kepada Yesus yang datang untuk menyelamatkan! Bukankah kita pun sering demikian? Kita lebih takut pada kehadiran Tuhan yang misterius daripada pada badai itu sendiri.

 

3. “Semangatlah! Aku Ini, Jangan Takut!”

Yesus segera menenangkan mereka dengan sabda yang menghangatkan hati: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” . Kata “Aku ini” dalam bahasa Yunani adalah ego eimi, yang menggemakan nama kudus Allah dalam Perjanjian Lama: “AKU ADALAH AKU” . Dengan kata-kata ini, Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Allah yang berkuasa atas segala kuasa kegelapan.

Paus Fransiskus mengajak kita mengulangi seruan ini dalam doa: “Tuhan, selamatkanlah aku!”—doa singkat yang indah, yang mengungkapkan kepastian bahwa Tuhan dapat menyelamatkan kita, bahwa Ia mengalahkan kejahatan dan ketakutan kita .

 

4. Melangkah Keluar dari Perahu: Iman yang Berani

Lalu Petrus—selalu yang paling spontan—berkata: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air” . Di sini kita melihat keberanian iman yang luar biasa. Petrus tidak meminta doa atau jaminan; ia meminta perintah, karena ia percaya bahwa sabda Yesus cukup untuk menopangnya .

Saudara-saudari, perahu sering melambangkan zona nyaman kita. Kita aman di dalamnya, bersama komunitas, bersama rutinitas. Namun Yesus memanggil kita untuk keluar dari perahu rasa aman itu, untuk berjalan di atas air kehidupan yang penuh ketidakpastian, menuju Dia . Apakah kita berani seperti Petrus? Apakah kita berani melangkah dalam panggilan, melayani, memberikan diri, meskipun ombak di sekitar kita begitu mengancam?

 

5. “Mengapa Engkau Bimbang?”: Pelajaran dari Keraguan

Namun Petrus kemudian melihat angin kencang, tergerak oleh ketakutan, dan mulai tenggelam . Ini adalah momen yang sangat manusiawi. Betapa sering iman kita teguh di saat tenang, namun goyah ketika badai sungguh datang. St. Yohanes Krisostomus mengamati: “Petrus mengatasi hal yang lebih besar—gelombang laut—tetapi terganggu oleh hal yang lebih kecil—tiupan angin” .

Yesus segera mengulurkan tangan dan menangkap Petrus, dengan teguran yang lembut namun menggugat: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” . Pertanyaan ini bukan untuk menghakimi, tetapi untuk menyadarkan: iman yang sejati tidak melihat pada besarnya masalah, tetapi pada besarnya Tuhan.

Komkat KWI dalam renungannya mengingatkan: “Kita perlu membuka mata dan kesadaran hati bahwa Tuhan selalu hadir, dan ada bersama kita. Penyerahan diri total dan kepercayaan kepada Kristus adalah hal yang mutlak dalam peziarahan hidup penuh risiko ini” .

 

6. Di Atas Perahu: Pengakuan Iman

Begitu Yesus naik ke perahu, angin pun reda . Dan mereka yang ada di perahu menyembah Dia: “Sungguh, Engkau adalah Anak Allah” . Pengakuan iman ini lahir dari pengalaman: mengalami kuasa Tuhan di tengah badai, mengalami tangan-Nya yang menolong, mengalami kedamaian yang hanya datang dari-Nya.

 

Penutup: Memegang Erat Tangan Tuhan

Saudara-saudari terkasih, perahu kehidupan kita, perahu keluarga, perahu Gereja, sering diombang-ambingkan badai . Mungkin saat ini Anda sedang berada di tengah kegelapan, merasakan ombak menerpa, dan mulai tenggelam. Dengarkanlah sabda Yesus: “Semangatlah! Aku ini, jangan takut!”

Yesus mengulurkan tangan-Nya kepada kita setiap hari—dalam Sabda-Nya, dalam Ekaristi, dalam pelayanan Gereja, dalam sapaan saudara-saudari kita. Peganglah erat tangan itu. Dan jika Anda sedang tenggelam, berteriaklah dengan iman: “Tuhan, selamatkanlah aku!” Ia pasti akan menolong.

Marilah kita akhiri dengan doa Petrus dan Gereja:

“Tuhan, kami percaya bahwa Engkau hadir di tengah badai kehidupan kami. Pulihkanlah iman kami yang kecil dan bimbang. Ulurkanlah tangan-Mu dan angkatlah kami. Semoga bersama Petrus kami pun berseru: Sungguh, Engkau adalah Anak Allah. Amin.”

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar