Renungan
Senin, 31 Agustus 2026
Pekan Biasa XXII – Tahun A
Bacaan Injil: Lukas 4:16-30
TAHUN RAHMAT TUHAN TELAH DATANG
Sorang
Tumanggor, S.Ag
Penyuluh
Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi
Pengantar
Saudara-saudari terkasih dalam
Kristus,
Hari ini kita memasuki Pekan
Biasa XXII Tahun A. Bacaan Injil yang kita renungkan bersama adalah kisah
tentang Yesus yang kembali ke kampung halaman-Nya, Nazaret. Sebuah kisah yang
penuh makna tentang perjumpaan antara Sabda yang menjadi manusia dengan manusia
yang telah terbiasa dengan rutinitas dan prasangka.
Uraian Bacaan
Injil Lukas menceritakan bahwa
Yesus datang ke Nazaret, tempat Ia dibesarkan. Pada hari Sabat, Ia masuk ke
rumah ibadat, berdiri untuk membaca Kitab Suci, sebagaimana kebiasaan-Nya .
Kitab Nabi Yesaya diberikan kepada-Nya, dan Ia menemukan nas yang berbunyi:
"Roh Tuhan ada pada-Ku,
oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada
orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan
kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan
orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah
datang." (Lukas 4:18-19)
Setelah membaca, Yesus duduk dan
semua mata tertuju kepada-Nya. Kemudian Ia berkata: "Pada hari ini
genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya" (Lukas 4:21).
Pada awalnya, semua orang memuji
Dia dan takjub akan perkataan-Nya yang penuh anugerah. Namun keraguan mulai
muncul: "Bukankah Ia ini anak Yusuf?" Pertanyaan ini
mengungkapkan bahwa mereka tidak dapat menerima bahwa Yesus, yang mereka kenal
sejak kecil, adalah Mesias yang dinubuatkan.
Yesus kemudian menambahkan dua
contoh dari Perjanjian Lama: pertama, nabi Elia yang diutus kepada seorang
janda di Sarfat, bukan kepada banyak janda di Israel; kedua, nabi Elisa yang
menyembuhkan Naaman dari Siria, bukan kepada banyak orang kusta di Israel .
Perkataan ini membuat pendengar-Nya marah. Mereka bangkit, mengusir Yesus ke
luar kota, dan hendak melemparkan Dia dari tebing. Namun Yesus dengan tenang
melewati tengah-tengah mereka dan pergi.
Renungan
Saudara-saudari terkasih,
Kisah ini mengajak kita untuk
merenungkan beberapa hal penting dalam kehidupan iman kita.
Pertama, Yesus menegaskan
identitas dan misi-Nya. Di awal pelayanan publik-Nya, Yesus menyatakan
dengan jelas siapa diri-Nya dan apa yang datang untuk lakukan. Ia adalah Yang
Diurapi, yang diutus untuk membawa kabar baik, pembebasan, dan pemulihan. Ini
bukanlah sekadar kata-kata indah, melainkan deklarasi bahwa "pada
hari ini" karya keselamatan Allah dimulai.
Kedua, Allah seringkali
bekerja dengan cara yang tidak kita duga. Orang-orang Nazaret menolak
Yesus karena mereka terlalu mengenal latar belakang keluarga-Nya. Mereka
mengira tahu segalanya tentang Dia, namun justru kebutaan mereka kepada karya
Allah yang sedang terjadi di hadapan mereka. Demikian pula kita, seringkali
kita merindukan mukjizat yang spektakuler namun melewatkan kehadiran Allah
dalam hal-hal sederhana dan sehari-hari.
Ketiga, kemarahan orang
Nazaret mengingatkan kita bahwa kebenaran seringkali tidak nyaman. Yesus
dengan berani mengingatkan mereka bahwa keselamatan Allah tidak terbatas pada
bangsa Israel saja. Elia dan Elisa membawa kesembuhan dan pertolongan kepada
orang asing, justru ketika banyak orang di Israel mengalami penderitaan. Yesus
menyingkapkan kesempitan hati mereka, dan mereka tidak tahan mendengarnya.
Bagaimana dengan kita? Apakah
kita juga memiliki "prasangka Nazaret" dalam hati kita? Prasangka
yang membuat kita menolak kebenaran karena datang dari orang yang kita anggap
biasa? Prasangka yang membuat kita mengklaim hak istimewa secara eksklusif atas
kasih Allah?
Paus Fransiskus dalam sebuah
homilinya mengingatkan bahwa menghadapi orang-orang yang tidak mau mendengarkan
kebenaran dan hanya mencari perpecahan, Yesus memilih diam. Diam bukanlah
kelemahan, melainkan keteguhan dalam kebenaran. Yesus tidak terpancing untuk
berdebat atau membela diri secara emosional. Dalam diam-Nya, Yesus menunjukkan
martabat Ilahi yang tidak perlu dipaksakan.
Penerapan Hidup
Saudara-saudari, apa yang dapat
kita bawa pulang dari renungan ini?
- Sadarilah bahwa setiap hari adalah "tahun
rahmat Tuhan." Karya keselamatan tidak terbatas pada masa
lalu. Tuhan ingin menyentuh hidup kita sekarang, di sini, dalam realitas
kita sehari-hari. Bukalah mata hatimu untuk melihat karya-Nya.
- Belajarlah untuk tidak membatasi Allah dengan
prasangka kita. Jangan pernah menganggap bahwa kita sudah
mengenal Tuhan sepenuhnya sehingga tidak perlu lagi mendengarkan-Nya.
Tuhan selalu melampaui pemahaman dan dugaan kita.
- Beranilah menerima kebenaran, sekalipun tidak
nyaman. Seringkali kita menolak pesan Tuhan karena tidak sesuai
dengan keinginan kita. Belajarlah untuk rendah hati dan terbuka terhadap
teguran dan bimbingan Roh Kudus.
- Dalam menghadapi penolakan, teladanilah Yesus
yang tenang dan penuh martabat. Tidak semua orang akan menerima
kita atau kebenaran yang kita sampaikan. Tetaplah teguh, jangan biarkan
kemarahan atau kepahitan menguasai hatimu.
Amin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar