Senin, 10 Agustus 2026

KECIL, HILANG, DAN DITEMUKAN

Renungan

Selasa, 11 Agustus 2026

Peringatan Wajib Santa Klara dari Assisi

Bacaan Injil: Matius 18:1-5, 12-14

 

KECIL, HILANG, DAN DITEMUKAN

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi


Pendahuluan

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Hari ini, Gereja tidak hanya mengajak kita merenungkan sabda Tuhan melalui Injil Matius, tetapi juga memandang teladan hidup Santa Klara dari Assisi, yang kita peringati pada hari ini. Seorang perempuan bangsawan yang memilih jalan kerendahan hati dan kemiskinan total demi Kristus. Perjumpaan antara bacaan Injil dan teladan Santa Klara mengantarkan kita pada sebuah refleksi iman yang mendalam tentang hakikat Kerajaan Surga.

 

Dua Pertanyaan, Satu Jawaban

Dalam Injil hari ini, para murid datang kepada Yesus dengan sebuah pertanyaan yang tampaknya sederhana namun sarat ambisi: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?". Ini adalah pertanyaan tentang status, pengakuan, dan kehormatan.

Namun Yesus tidak memberikan jawaban teoretis. Ia melakukan sesuatu yang radikal. Ia memanggil seorang anak kecil, menempatkannya di tengah-tengah mereka, dan berkata: "Jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga" (Mat 18:3).

Saudara-saudari, ini adalah sebuah pembalikan total atas logika dunia. Anak kecil pada zaman Yesus tidak memiliki status sosial, tidak memiliki hak hukum, dan sepenuhnya bergantung pada orang lain. Yesus mengajarkan bahwa jalan menuju kebesaran dalam Kerajaan-Nya bukanlah dengan meninggikan diri, melainkan merendahkan diri—menjadi seperti anak kecil yang polos, rendah hati, dan sungguh-sungguh bergantung pada kasih Bapa.

Di sinilah Santa Klara berbicara kepada kita. Ia lahir dari keluarga bangsawan yang kaya raya. Namun hatinya tertarik pada cita-cita Santo Fransiskus untuk hidup miskin dan rendah hati demi Injil. Pada usia delapan belas tahun, ia meninggalkan istana keluarganya, menukar pakaian mewahnya dengan jubah kasar, dan menyerahkan seluruh hidupnya kepada Kristus. Klara menjadi "kecil" di mata dunia, namun besar di mata Allah. Ia merindukan bukan kekuasaan atau pengakuan, melainkan ketergantungan total pada Sang Gembala.

 

Kasih yang Tak Terbatas: Perumpamaan Domba yang Hilang

Yesus kemudian melanjutkan pengajaran-Nya dengan sebuah perumpamaan yang mengharukan tentang seorang gembala yang memiliki seratus ekor domba. Ketika seekor domba tersesat, gembala itu meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari domba yang hilang itu. Dan jika ia menemukannya, kegembiraannya atas domba yang seekor itu lebih besar daripada atas yang sembilan puluh sembilan yang tidak tersesat.

Inilah gambaran hati Allah. Allah adalah Gembala yang Baik yang tidak rela kehilangan satu pun dari anak-anak-Nya. "Bapa-Ku yang di surga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang" (Mat 18:14) . Kita sering kali tersesat—oleh dosa, kesombongan, kesedihan, atau kesibukan duniawi. Namun kasih Tuhan tidak pernah berhenti. Ia mencari kita. Ia tidak menunggu kita dengan pasif, melainkan datang menjumpai kita di jalan-jalan kehidupan yang berliku.

Bukti terbesar dari kasih pencarian ini adalah inkarnasi: Allah mengutus Putra-Nya sendiri menjadi manusia untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.

Di sinilah kita kembali melihat teladan Santa Klara. Dalam biaranya di San Damiano, ketika serdadu-serdadu Kaisar Frederik II datang menyerang, Klara yang sedang sakit parah meminta dibopong ke altar. Ia mengangkat monstrans berisi Sakramen Mahakudus dan menghadang para penyerang di pintu gerbang. Suatu suara terdengar di hatinya: "Aku akan selalu menempatkan mereka dalam perlindungan-Ku". Para serdadu pun lari ketakutan. Santa Klara tidak melindungi dirinya dengan kekuatan senjata, tetapi dengan iman yang teguh pada Gembala yang setia melindungi domba-domba-Nya.

 

Panggilan Kita: Menjadi Kecil dan Mencari yang Tersesat

Apa arti semua ini bagi kita, umat Katolik pada hari ini?

Pertama, kita dipanggil untuk merendahkan hati seperti anak kecil. Bukan berarti kita menjadi naif, tetapi kita diundang untuk menyadari bahwa segala sesuatu dalam hidup kita adalah anugerah. Kita tidak bisa menyelamatkan diri sendiri. Kita bergantung sepenuhnya pada kasih karunia Allah . Mari kita tanyakan pada diri kita sendiri: apakah saya masih mencari status, pengakuan, atau kuasa? Ataukah saya belajar untuk menjadi kecil di hadapan Tuhan dan sesama?

Kedua, kita dipanggil untuk merangkul mereka yang "kecil" dan tersesat. Yesus dengan tegas berkata: "Jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini" (Mat 18:10). Kita diajak untuk melihat setiap orang, terutama yang lemah, miskin, dan terpinggirkan, sebagai pribadi yang berharga di mata Allah. Santa Klara mendirikan ordonya untuk melayani dan melindungi kaum miskin. Kita pun dipanggil untuk melindungi mereka yang rentan.

Ketiga, kita diajak untuk memiliki hati seperti Gembala. Jika kita sungguh-sungguh mencintai Tuhan dan sesama, kita tidak akan tinggal diam melihat saudara-saudari kita menjauh dari kasih Allah. Kita harus berani mencari, mengingatkan, dan membawa mereka kembali ke pangkuan Gereja. Bukan dengan menghakimi, melainkan dengan kasih yang sabar dan penuh harapan.

 


Penutup

Saudara-saudari yang dikasihi Kristus,

Hari ini, dalam Peringatan Wajib Santa Klara, kita merayakan seorang wanita yang menjawab panggilan Yesus untuk menjadi kecil dan mencintai tanpa syarat. Ia memahami bahwa Allah adalah Gembala yang setia, yang selalu mencari dan melindungi umat-Nya.

Marilah kita belajar dari teladan Santa Klara untuk merendahkan hati, percaya pada pemeliharaan Allah, dan berani mencari saudara-saudari kita yang tersesat. Ingatlah, Bapa di surga tidak menghendaki seorang pun dari kita hilang. Ia selalu mencari, selalu menunggu, dan selalu merayakan pertobatan kita.

Pada akhir hidupnya, Santa Klara berkata kepada para suster: "Pergilah dalam damai; engkau telah mengikuti jalan yang benar; pergilah dengan penuh keyakinan, sebab Pencipta-mu telah menguduskanmu, telah memeliharamu terus-menerus, dan telah mengasihimu dengan segala kelembutan bagaikan seorang ibu terhadap anaknya".

Semoga kata-kata ini juga menjadi penghiburan dan kekuatan bagi kita semua, pada hari ini dan selama-lamanya.

Amin.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar