Renungan
Selasa, 11 Agustus 2026
Peringatan Wajib Santa Klara
dari Assisi
Bacaan Injil: Matius 18:1-5,
12-14
KECIL, HILANG, DAN DITEMUKAN
Sorang
Tumanggor, S.Ag
Penyuluh
Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi
Pendahuluan
Saudara-saudari terkasih dalam
Kristus,
Hari ini, Gereja tidak hanya
mengajak kita merenungkan sabda Tuhan melalui Injil Matius, tetapi juga
memandang teladan hidup Santa Klara dari Assisi, yang kita peringati pada hari
ini. Seorang perempuan bangsawan yang memilih jalan kerendahan hati dan
kemiskinan total demi Kristus. Perjumpaan antara bacaan Injil dan teladan Santa
Klara mengantarkan kita pada sebuah refleksi iman yang mendalam tentang hakikat
Kerajaan Surga.
Dua Pertanyaan, Satu Jawaban
Dalam Injil hari ini, para murid
datang kepada Yesus dengan sebuah pertanyaan yang tampaknya sederhana namun
sarat ambisi: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?".
Ini adalah pertanyaan tentang status, pengakuan, dan kehormatan.
Namun Yesus tidak memberikan
jawaban teoretis. Ia melakukan sesuatu yang radikal. Ia memanggil seorang anak
kecil, menempatkannya di tengah-tengah mereka, dan berkata: "Jika
kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk
ke dalam Kerajaan Surga" (Mat 18:3).
Saudara-saudari, ini adalah
sebuah pembalikan total atas logika dunia. Anak kecil pada zaman Yesus tidak
memiliki status sosial, tidak memiliki hak hukum, dan sepenuhnya bergantung
pada orang lain. Yesus mengajarkan bahwa jalan menuju kebesaran dalam
Kerajaan-Nya bukanlah dengan meninggikan diri, melainkan merendahkan
diri—menjadi seperti anak kecil yang polos, rendah hati, dan sungguh-sungguh
bergantung pada kasih Bapa.
Di sinilah Santa Klara berbicara
kepada kita. Ia lahir dari keluarga bangsawan yang kaya raya. Namun hatinya
tertarik pada cita-cita Santo Fransiskus untuk hidup miskin dan rendah hati
demi Injil. Pada usia delapan belas tahun, ia meninggalkan istana keluarganya,
menukar pakaian mewahnya dengan jubah kasar, dan menyerahkan seluruh hidupnya
kepada Kristus. Klara menjadi "kecil" di mata dunia, namun besar di
mata Allah. Ia merindukan bukan kekuasaan atau pengakuan, melainkan
ketergantungan total pada Sang Gembala.
Kasih yang Tak Terbatas:
Perumpamaan Domba yang Hilang
Yesus kemudian melanjutkan
pengajaran-Nya dengan sebuah perumpamaan yang mengharukan tentang seorang
gembala yang memiliki seratus ekor domba. Ketika seekor domba tersesat, gembala
itu meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi
mencari domba yang hilang itu. Dan jika ia menemukannya, kegembiraannya atas
domba yang seekor itu lebih besar daripada atas yang sembilan puluh sembilan
yang tidak tersesat.
Inilah gambaran hati Allah. Allah
adalah Gembala yang Baik yang tidak rela kehilangan satu pun dari
anak-anak-Nya. "Bapa-Ku yang di surga tidak menghendaki supaya
seorang pun dari anak-anak ini hilang" (Mat 18:14) .
Kita sering kali tersesat—oleh dosa, kesombongan, kesedihan, atau kesibukan
duniawi. Namun kasih Tuhan tidak pernah berhenti. Ia mencari kita. Ia tidak
menunggu kita dengan pasif, melainkan datang menjumpai kita di jalan-jalan
kehidupan yang berliku.
Bukti terbesar dari kasih
pencarian ini adalah inkarnasi: Allah mengutus Putra-Nya sendiri menjadi
manusia untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.
Di sinilah kita kembali melihat
teladan Santa Klara. Dalam biaranya di San Damiano, ketika serdadu-serdadu
Kaisar Frederik II datang menyerang, Klara yang sedang sakit parah meminta
dibopong ke altar. Ia mengangkat monstrans berisi Sakramen Mahakudus dan
menghadang para penyerang di pintu gerbang. Suatu suara terdengar di
hatinya: "Aku akan selalu menempatkan mereka dalam
perlindungan-Ku". Para serdadu pun lari ketakutan. Santa Klara tidak
melindungi dirinya dengan kekuatan senjata, tetapi dengan iman yang teguh pada
Gembala yang setia melindungi domba-domba-Nya.
Panggilan Kita: Menjadi Kecil
dan Mencari yang Tersesat
Apa arti semua ini bagi kita,
umat Katolik pada hari ini?
Pertama, kita dipanggil
untuk merendahkan hati seperti anak kecil. Bukan berarti kita menjadi naif,
tetapi kita diundang untuk menyadari bahwa segala sesuatu dalam hidup kita
adalah anugerah. Kita tidak bisa menyelamatkan diri sendiri. Kita bergantung
sepenuhnya pada kasih karunia Allah . Mari kita tanyakan pada diri kita
sendiri: apakah saya masih mencari status, pengakuan, atau kuasa? Ataukah saya
belajar untuk menjadi kecil di hadapan Tuhan dan sesama?
Kedua, kita dipanggil
untuk merangkul mereka yang "kecil" dan tersesat. Yesus dengan tegas
berkata: "Jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil
ini" (Mat 18:10). Kita diajak untuk melihat setiap orang,
terutama yang lemah, miskin, dan terpinggirkan, sebagai pribadi yang berharga
di mata Allah. Santa Klara mendirikan ordonya untuk melayani dan melindungi
kaum miskin. Kita pun dipanggil untuk melindungi mereka yang rentan.
Ketiga, kita diajak untuk
memiliki hati seperti Gembala. Jika kita sungguh-sungguh mencintai Tuhan dan
sesama, kita tidak akan tinggal diam melihat saudara-saudari kita menjauh dari
kasih Allah. Kita harus berani mencari, mengingatkan, dan membawa mereka kembali
ke pangkuan Gereja. Bukan dengan menghakimi, melainkan dengan kasih yang sabar
dan penuh harapan.
Penutup
Saudara-saudari yang dikasihi
Kristus,
Hari ini, dalam Peringatan Wajib
Santa Klara, kita merayakan seorang wanita yang menjawab panggilan Yesus untuk
menjadi kecil dan mencintai tanpa syarat. Ia memahami bahwa Allah adalah
Gembala yang setia, yang selalu mencari dan melindungi umat-Nya.
Marilah kita belajar dari teladan
Santa Klara untuk merendahkan hati, percaya pada
pemeliharaan Allah, dan berani mencari saudara-saudari kita yang
tersesat. Ingatlah, Bapa di surga tidak menghendaki seorang pun dari kita
hilang. Ia selalu mencari, selalu menunggu, dan selalu merayakan pertobatan
kita.
Pada akhir hidupnya, Santa Klara
berkata kepada para suster: "Pergilah dalam damai; engkau telah
mengikuti jalan yang benar; pergilah dengan penuh keyakinan, sebab Pencipta-mu
telah menguduskanmu, telah memeliharamu terus-menerus, dan telah mengasihimu
dengan segala kelembutan bagaikan seorang ibu terhadap anaknya".
Semoga kata-kata ini juga menjadi
penghiburan dan kekuatan bagi kita semua, pada hari ini dan selama-lamanya.
Amin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar