Renungan Harian Katolik
Jumat, 28 Agustus 2026
Peringatan Wajib Santo Agustinus, Uskup dan Pujangga Gereja
Bacaan Injil:
Matius 25:1-13
MINYAK, KESIAPAN, DAN PERTOBATAN
Sorang
Tumanggor, S.Ag
Penyuluh
Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi
Hari Raya Santo Agustinus
Saudara-saudari yang terkasih
dalam Kristus,
Hari ini Gereja merayakan
Peringatan Wajib Santo Agustinus, seorang Uskup dan Pujangga Gereja yang agung.
Lahir di Tagaste, Afrika Utara pada tahun 354, Agustinus adalah putra dari
Monika, seorang ibu yang saleh, dan Patrisius, seorang yang masih kafir pada
masa itu . Masa mudanya diwarnai oleh pencarian kebenaran yang gigih namun
juga oleh keterikatan pada dosa. Ia pernah berkata dalam doanya yang terkenal,
"Tuhan, berikanlah aku kesucian dan penguasaan diri, tetapi jangan
sekarang!".
Kisah hidup Agustinus adalah
kisah tentang kasih karunia yang mengubah. Doa dan air mata ibunya, Santa
Monika, yang tak pernah putus mengantar Agustinus pada pertobatan yang
sempurna . Hari ini, kita diajak untuk merenungkan perjalanan iman kita
sendiri melalui perumpamaan tentang sepuluh gadis yang disampaikan oleh Tuhan
Yesus dalam Injil Matius.
Renungan
Perumpamaan tentang sepuluh gadis
ini mengingatkan kita bahwa menjadi bagian dari Kerajaan Allah tidak cukup
hanya dengan status atau pengakuan lahiriah. Kelima gadis bodoh membawa pelita,
tetapi tidak membawa minyak cadangan. Mereka mempunyai lampu, simbol iman,
tetapi tidak memiliki minyak, yang sering dimaknai sebagai kasih dan perbuatan
baik yang menghidupi iman tersebut.
Bapa Suci Paus Fransiskus
mengingatkan kita bahwa "tidak cukup hanya dengan lentera iman, tetapi
kita juga memerlukan minyak amal dan perbuatan baik". Iman yang sejati
adalah iman yang bekerja melalui kasih (Galatia 5:6). Kesiapan untuk
menyongsong Tuhan bukanlah soal ketakutan akan hari akhir, melainkan tentang
bagaimana kita menjalani hari ini: apakah kita membiarkan diri kita dipimpin
oleh apa yang tampak menyenangkan, atau kita membangun cadangan minyak melalui
tindakan nyata cinta kasih kepada sesama?.
Kisah Santo Agustinus adalah
teladan nyata tentang seorang yang akhirnya menyadari bahwa kebijaksanaan
sejati bukanlah pengetahuan semata, melainkan penyerahan diri total kepada
Tuhan. Agustinus pernah terikat oleh "penyakit daging dan belenggu dosa",
tetapi ia bertobat. Ia berhenti hanya membawa pelita kosong dan mulai
mengisinya dengan minyak cinta kasih. Sebagai seorang uskup, perhatian besarnya
kepada umat yang miskin dan melarat serta pendirian asrama dan rumah sakit
pertama di Afrika Utara adalah perwujudan dari imannya yang bergerak dalam
karya nyata.
Aplikasi Hidup
Saudara-saudari, hari ini kita
diajak untuk meneliti hati kita. Apakah pelita iman kita masih menyala terang,
ataukah mulai redup karena kehabisan minyak? "Berjaga-jagalah," kata
Tuhan, "sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya" (Mat
25:13). Saat ini adalah waktu yang tepat untuk memulai pertobatan. Jangan tunda
sampai esok hari, karena esok belum tentu kita miliki.
Mari kita belajar dari Santo
Agustinus yang tidak pernah berhenti mencari kebenaran, dan dari Santa Monika
yang tidak pernah berhenti berdoa untuk anaknya. Jika kita memiliki kerinduan
yang sama, kita pun akan memiliki persiapan yang sama: minyak iman yang
terpelihara dan berbuah dalam kasih.
Amin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar