Kamis, 27 Agustus 2026

MINYAK, KESIAPAN, DAN PERTOBATAN

Renungan Harian Katolik

Jumat, 28 Agustus 2026
Peringatan Wajib Santo Agustinus, Uskup dan Pujangga Gereja

Bacaan Injil: Matius 25:1-13

 

MINYAK, KESIAPAN, DAN PERTOBATAN

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi


 


Hari Raya Santo Agustinus

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,

Hari ini Gereja merayakan Peringatan Wajib Santo Agustinus, seorang Uskup dan Pujangga Gereja yang agung. Lahir di Tagaste, Afrika Utara pada tahun 354, Agustinus adalah putra dari Monika, seorang ibu yang saleh, dan Patrisius, seorang yang masih kafir pada masa itu . Masa mudanya diwarnai oleh pencarian kebenaran yang gigih namun juga oleh keterikatan pada dosa. Ia pernah berkata dalam doanya yang terkenal, "Tuhan, berikanlah aku kesucian dan penguasaan diri, tetapi jangan sekarang!".

Kisah hidup Agustinus adalah kisah tentang kasih karunia yang mengubah. Doa dan air mata ibunya, Santa Monika, yang tak pernah putus mengantar Agustinus pada pertobatan yang sempurna . Hari ini, kita diajak untuk merenungkan perjalanan iman kita sendiri melalui perumpamaan tentang sepuluh gadis yang disampaikan oleh Tuhan Yesus dalam Injil Matius.

 

Renungan

Perumpamaan tentang sepuluh gadis ini mengingatkan kita bahwa menjadi bagian dari Kerajaan Allah tidak cukup hanya dengan status atau pengakuan lahiriah. Kelima gadis bodoh membawa pelita, tetapi tidak membawa minyak cadangan. Mereka mempunyai lampu, simbol iman, tetapi tidak memiliki minyak, yang sering dimaknai sebagai kasih dan perbuatan baik yang menghidupi iman tersebut.

Bapa Suci Paus Fransiskus mengingatkan kita bahwa "tidak cukup hanya dengan lentera iman, tetapi kita juga memerlukan minyak amal dan perbuatan baik". Iman yang sejati adalah iman yang bekerja melalui kasih (Galatia 5:6). Kesiapan untuk menyongsong Tuhan bukanlah soal ketakutan akan hari akhir, melainkan tentang bagaimana kita menjalani hari ini: apakah kita membiarkan diri kita dipimpin oleh apa yang tampak menyenangkan, atau kita membangun cadangan minyak melalui tindakan nyata cinta kasih kepada sesama?.

Kisah Santo Agustinus adalah teladan nyata tentang seorang yang akhirnya menyadari bahwa kebijaksanaan sejati bukanlah pengetahuan semata, melainkan penyerahan diri total kepada Tuhan. Agustinus pernah terikat oleh "penyakit daging dan belenggu dosa", tetapi ia bertobat. Ia berhenti hanya membawa pelita kosong dan mulai mengisinya dengan minyak cinta kasih. Sebagai seorang uskup, perhatian besarnya kepada umat yang miskin dan melarat serta pendirian asrama dan rumah sakit pertama di Afrika Utara adalah perwujudan dari imannya yang bergerak dalam karya nyata.

 

Aplikasi Hidup

Saudara-saudari, hari ini kita diajak untuk meneliti hati kita. Apakah pelita iman kita masih menyala terang, ataukah mulai redup karena kehabisan minyak? "Berjaga-jagalah," kata Tuhan, "sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya" (Mat 25:13). Saat ini adalah waktu yang tepat untuk memulai pertobatan. Jangan tunda sampai esok hari, karena esok belum tentu kita miliki.

Mari kita belajar dari Santo Agustinus yang tidak pernah berhenti mencari kebenaran, dan dari Santa Monika yang tidak pernah berhenti berdoa untuk anaknya. Jika kita memiliki kerinduan yang sama, kita pun akan memiliki persiapan yang sama: minyak iman yang terpelihara dan berbuah dalam kasih.

Amin.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar