Senin, 31 Agustus 2026

OTORITAS SABDA YANG MEMBEBASKAN

 Renungan Harian Katolik

Selasa, 1 September 2026

Pekan Biasa XXII

Bacaan Injil: Lukas 4:31-37


OTORITAS SABDA YANG MEMBEBASKAN

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

________________________________________



Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,

Hari ini Gereja menyuguhkan kepada kita sebuah perikop yang sangat kaya dari Injil Lukas. Kita diajak untuk menyaksikan sebuah peristiwa yang terjadi di Kapernaum, sebuah kota kecil di Galilea. Di sana, Yesus sedang mengajar di rumah ibadat pada hari Sabat. Reaksi orang-orang yang mendengarkan-Nya sangat luar biasa: mereka takjub, sebab perkataan-Nya penuh kuasa. Ini bukan sekadar kekaguman terhadap seorang guru yang pandai berpidato. Ada sesuatu yang berbeda dan menggetarkan dari cara Yesus bersabda.

Perhatikan bahwa otoritas Yesus tidak hanya tampak dalam pengajaran-Nya, tetapi juga dalam tindakan-Nya. Di tengah-tengah jemaah yang khusyuk, tiba-tiba seorang yang kerasukan roh jahat berteriak. Roh jahat itu mengenali Yesus dan berseru, "Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah" (Lukas 4:34). Yang menarik adalah bahwa roh jahat itu memiliki pengetahuan yang benar tentang identitas Yesus, tetapi pengetahuan itu tidak disertai dengan iman dan ketaatan . Iblis percaya dan gemetar, tetapi ia tidak pernah tunduk dalam kasih.

Yesus tidak berdebat dengan roh jahat itu. Ia hanya menghardiknya dengan satu perintah: "Diam, keluarlah dari padanya!" (Lukas 4:35). Dan dengan serta-merta, roh jahat itu keluar tanpa menyakiti orang tersebut. Di sinilah letak inti dari renungan kita hari ini: Sabda Yesus sungguh berkuasa, kuasa yang membebaskan dan menyelamatkan.


Tiga Ciri Kuasa Sabda Yesus

Pertama, kuasa yang mengubah. Otoritas Yesus dalam mengajar bukanlah seperti ahli-ahli Taurat yang sering terjebak dalam penafsiran yang rumit dan berbelit. Yesus berbicara sebagai Anak Allah yang datang langsung dari Bapa. Perkataan-Nya tidak hanya benar, tetapi juga hidup dan mengubah hati. Kuasa firman-Nya sanggup menggerakkan orang untuk bertobat dan meninggalkan cara hidup lamanya.

Kedua, kuasa yang mengusir kegelapan. Peristiwa pengusiran roh jahat ini memperlihatkan bahwa kuasa Yesus melampaui kuasa-kuasa gelap mana pun. Yesus tidak perlu melakukan ritual panjang atau mantra-mantra tertentu. Satu perintah-Nya sudah cukup untuk membuat roh-roh jahat takluk. Hal ini mengingatkan kita bahwa peperangan rohani adalah nyata. St. Petrus mengingatkan bahwa "Iblis berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya" (1 Petrus 5:8). Namun, kita tidak perlu takut, karena Yesus yang tinggal dalam diri kita lebih besar dari pada roh yang ada di dunia (1 Yohanes 4:4).

Ketiga, kuasa yang menyelamatkan. Kuasa Yesus bukanlah kuasa yang menghancurkan atau menakut-nakuti. Tujuan utama kedatangan Yesus adalah untuk menyelamatkan dan membebaskan. Roh jahat itu takut akan kebinasaan, tetapi Yesus datang untuk memulihkan citra manusia yang telah rusak karena dosa. Kuasa-Nya adalah kuasa kasih yang menyembuhkan dan memulihkan martabat kita sebagai anak-anak Allah.

Aplikasi bagi Kehidupan Kita

Saudara-saudari terkasih, sekarang kita hidup di zaman yang disebut "roh jahat modern". St. Paus Fransiskus mengingatkan kita bahwa Iblis itu nyata dan terus bekerja . Iblis tidak lagi hanya merasuki orang dengan cara-cara dramatis seperti dalam Injil, tetapi ia bekerja melalui kebohongan, fitnah, hoaks, ketamakan, perpecahan, dan berbagai bentuk dosa yang merusak komunitas dan diri kita sendiri . Kita mungkin tidak kerasukan, tetapi kita sering kali terbelenggu oleh roh yang sama: roh kebencian, dendam, iri hati, keserakahan, dan kecanduan akan hal-hal duniawi.

Pertanyaan yang harus kita renungkan adalah: Apakah kita mengizinkan Sabda Yesus memiliki kuasa atas hidup kita? Atau kita hanya mendengarkannya, mengaguminya, tetapi tidak pernah membiarkannya mengubah kita? Pengetahuan tentang Yesus saja tidak cukup. Roh jahat pun mengenal Yesus sebagai Yang Kudus dari Allah. Yang membedakan adalah iman, ketaatan, dan cinta.

Mari kita belajar dari orang-orang Kapernaum yang takjub dan menyebarkan berita tentang Yesus. Namun, kekaguman yang sejati bukan berhenti pada decak kagum, melainkan menghasilkan perubahan. Hari ini, Yesus masih bersabda kepada kita melalui Kitab Suci dan Sakramen. Sabda-Nya tetap berkuasa untuk membebaskan kita dari segala bentuk perbudakan dosa. Sabda-Nya tetap berkuasa untuk mengusir segala kegelapan yang menyelimuti hati kita.

Marilah kita memohon Roh Kudus agar memberikan kita iman yang hidup dan ketaatan pada Sabda Allah. Bukan sekadar tahu, tetapi sungguh-sungguh percaya dan hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Sebagaimana Yesus mengusir roh jahat dengan firman-Nya, marilah kita juga berani mengusir segala kejahatan dalam diri kita dan menjadi saksi terang kasih Allah di tengah dunia yang semakin gelap ini. Amin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar