Kamis, 13 Agustus 2026

MENGEMBALIKAN MARTABAT PERKAWINAN DI TENGAH TANTANGAN ZAMAN

Renungan Harian Katolik

Jumat, 14 Agustus 2026
Peringatan Wajib Santo Maksimilianus Maria Kolbe, Martir

Bacaan Injil: Matius 19:3-12

 

MENGEMBALIKAN MARTABAT PERKAWINAN

DI TENGAH TANTANGAN ZAMAN

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi


 




Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,

Hari ini, Gereja memperingati seorang pahlawan iman yang luar biasa, Santo Maksimilianus Maria Kolbe, seorang imam Fransiskan yang dengan rela menyerahkan nyawanya di kamp konsentrasi Auschwitz untuk menyelamatkan seorang ayah keluarga. Kesaksian hidupnya mengingatkan kita pada pengorbanan total dan kesetiaan tanpa batas—nilai-nilai yang sangat relevan dengan pesan Injil yang kita dengarkan pada hari ini.

I. Perkawinan: Rencana Allah yang Agung

Dalam bacaan Injil Matius 19:3-12, kita menyaksikan orang-orang Farisi datang kepada Yesus untuk mencobai-Nya dengan pertanyaan tentang perceraian. Pada zaman itu, perceraian adalah praktik yang lumrah dan dianggap sah dengan berbagai alasan, bahkan yang sepele sekalipun . Namun, Yesus tidak terjebak dalam perdebatan hukum yang sempit. Ia mengangkat pandangan lawan bicara-Nya kepada rancangan Allah sejak awal penciptaan.

Yesus mengutip Kitab Kejadian: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging" (Matius 19:4-5). Dengan tegas Yesus menyatakan: "Jadi, mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia" (Matius 19:6).

Ajaran ini bukan sekadar aturan moral, melainkan sebuah pengungkapan martabat luhur perkawinan sebagai sakramen. Perkawinan Katolik bukanlah sekadar kontrak sosial yang dapat dibubarkan kapan saja; melainkan sebuah perjanjian sakral yang mencerminkan kasih setia Allah kepada umat-Nya dan kasih Kristus kepada Gereja . Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa ikatan sakramen ini bersifat tak terceraikan (indissolubile), sebuah anugerah yang sekaligus merupakan tuntutan cinta sejati.

II. Hati yang Keras dan Rahasia Ketidaksetiaan

Ketika orang-orang Farisi menunjuk pada hukum Musa yang mengizinkan perceraian, Yesus menjawab: "Karena ketegaran hatimu, Musa mengizinkan kamu menceraikan istrimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian" (Matius 19:8) . Di sini Yesus mengungkapkan akar masalah sejati: dosa dan kekerasan hati manusia.

Allah dalam kemurahan-Nya memang mengizinkan hal-hal tertentu akibat dosa manusia, namun izin ini bukanlah ideal yang dikehendaki-Nya . Yesus memanggil kita untuk kembali pada rancangan semula Allah—sebuah panggilan untuk mengubah hati yang keras menjadi hati yang penuh kasih dan setia. Ini bukan perkara mudah, karena kesetiaan sejati membutuhkan pengorbanan, pengampunan, dan kerendahan hati setiap hari.

Bagi kita yang bergumul dalam kehidupan perkawinan, atau bagi kita yang pernah mengalami luka perceraian, firman Tuhan ini bukanlah vonis yang menghakimi, melainkan terang yang menunjukkan jalan menuju kesembuhan. Gereja, dengan penuh belas kasih, menemani mereka yang terluka dan mengajak semua orang untuk memahami rencana Allah yang agung.

III. Panggilan Istimewa demi Kerajaan Allah

Menanggapi ajaran Yesus yang radikal ini, para murid berkata: "Jika demikian halnya hubungan antara suami dan istri, lebih baik jangan kawin" (Matius 19:10). Yesus lalu menjelaskan bahwa ada panggilan khusus untuk hidup selibat demi Kerajaan Surga.

Yesus berkata: "Ada orang yang tidak dapat kawin karena mereka lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti, hendaklah ia mengerti" (Matius 19:12) .

Baik panggilan perkawinan maupun panggilan selibat adalah dua jalan hidup yang sama-sama luhur. Keduanya adalah karunia dan panggilan untuk mengasihi dengan total . Hidup selibat yang dipilih demi Kerajaan Allah memungkinkan seseorang untuk mempersembahkan diri sepenuhnya bagi pelayanan dan pewartaan Injil, seperti yang dicontohkan oleh Santo Maksimilianus Maria Kolbe yang kita peringati hari ini . Sementara itu, perkawinan menguduskan cinta suami istri dan membuka diri pada kehidupan, menjadi gambaran nyata kasih Allah di tengah dunia.

IV. Aplikasi dalam Kehidupan Sehari-hari

Saudara-saudari, bagaimana kita meresapi sabda Tuhan ini?

Pertama, bagi kita yang sudah menikah, marilah kita memandang perkawinan kita bukan sebagai beban, melainkan sebagai sakramen yang mempersatukan kita dengan Kristus. Perbaharuilah janji setia setiap hari, bukan hanya dalam perkataan, tetapi dalam tindakan nyata: saling mengampuni, saling mendukung, dan membangun komunikasi yang jujur.

Kedua, bagi yang masih lajang dan sedang mempersiapkan diri untuk menikah, jadikanlah masa persiapan ini sebagai kesempatan untuk sungguh-sungguh memahami makna sakramen perkawinan. Persiapkan hati dan iman, bukan hanya urusan duniawi.

Ketiga, bagi kita semua, marilah kita mendukung pasutri yang tengah berjuang mempertahankan keutuhan rumah tangga mereka. Jangan menghakimi mereka yang gagal, tetapi dampingilah dengan kasih dan doa . Gereja hadir untuk semua, terutama mereka yang terluka.

Keempat, marilah kita menghargai panggilan hidup selibat, baik bagi para imam, bruder, suster, maupun awam yang memilih hidup membiara. Mereka adalah tanda kehadiran Kerajaan Allah di tengah dunia yang sering kali terlalu terikat pada hal-hal duniawi.

Penutup: Belajar dari Teladan Santo Maksimilianus Maria Kolbe

Hari ini kita memperingati Santo Maksimilianus Maria Kolbe, yang memberikan nyawanya demi kasih kepada sesama. Ia menunjukkan bahwa kesetiaan sejati hanya mungkin jika kita berakar dalam kasih Kristus. Seperti yang dinyatakan dalam Kitab Yehezkiel yang menjadi bacaan pertama hari ini, Allah selalu mengingat perjanjian-Nya dan mengampuni umat-Nya yang tidak setia (Yehezkiel 16:60,63). Yesus juga mengingatkan bahwa segala sesuatu mungkin bagi Allah, dan kesetiaan dalam perkawinan adalah buah dari rahmat-Nya. Marilah kita berdoa, memohon rahmat agar kita semua, baik yang menikah maupun yang melajang, dapat menghidupi panggilan kita dengan setia dan penuh sukacita, demi Kerajaan Allah.

Tuhan memberkati kita semua. Amin.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar