Minggu, 23 Agustus 2026

MENJADI MURID SEJATI

Renungan Harian Katolik

Senin, 24 Agustus 2026
Pesta Santo Bartolomeus, Rasul

Bacaan Injil: Yohanes 1:45-51

 

MENJADI MURID SEJATI

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi


 


Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Hari ini Gereja memperingati pesta salah satu Rasul agung, yaitu Santo Bartolomeus. Dalam tradisi Gereja, Santo Bartolomeus diidentikkan dengan Natanael, sosok yang diceritakan dalam Injil Yohanes pada hari ini. Warna liturgi merah yang digunakan hari ini mengingatkan kita akan kesaksian iman beliau yang berakhir dengan kemartiran. Marilah kita menyimak sabda Tuhan dan membiarkan teladan Santo Bartolomeus mencerahkan iman kita.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, pertemuan antara Natanael dan Yesus sungguh istimewa. Mari kita renungkan beberapa hal penting dari perikop ini.

1. Keraguan yang Jujur

Ketika Filipus dengan penuh semangat mewartakan penemuan Mesias, "Yesus anak Yusuf dari Nazaret," reaksi Natanael adalah skeptis: "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?". Kota Nazaret bukanlah tempat yang terhormat, bahkan tidak disebutkan dalam Perjanjian Lama. Keraguan Natanael adalah keraguan yang jujur. Ia tidak berpura-pura mengerti, tidak munafik. Yesus sendiri kelak memuji kejujuran ini dengan menyebutnya sebagai "Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya".

Kita pun sering bergumul dengan keraguan. Mungkin kita bertanya, "Mungkinkah Tuhan mendengar doaku?" atau "Mungkinkah ada sukacita sejati dalam mengikuti Kristus di tengah kesulitan?" Keraguan bukanlah dosa, saudara-saudari. Yang menjadi masalah adalah jika keraguan itu membuat kita menutup diri dan tidak mau mencari kebenaran. Sebaliknya, Natanael tetap terbuka.

2. "Mari dan Lihatlah!"

Menghadapi keraguan Natanael, Filipus tidak berdebat. Ia tidak memaksakan argumen teologis. Ia hanya berkata, "Mari dan lihatlah!". Inilah metode pewartaan iman yang paling efektif: mengantar orang lain untuk secara pribadi bertemu dengan Yesus. Filipus menjadi "jembatan" yang membawa Natanael kepada Sang Guru. Kesaksian hidup dan ajakan sederhana dari Filipus cukup untuk membuat Natanael melangkah.

Kita pun dipanggil untuk menjadi "Filipus" bagi orang-orang di sekitar kita. Kita diundang untuk tidak hanya berbicara tentang Tuhan, tetapi mengantar orang lain kepada pengalaman pribadi akan kasih-Nya. Seperti yang diingatkan oleh seorang pembimbing rohani, kita diajak untuk memandang sesama dengan "mata yang sederhana," yaitu tidak mencari-cari kesalahan, melainkan melihat kebaikan dan karya Allah dalam diri mereka.

3. Dikenal dan Dicintai

Saat Natanael datang, Yesus menyapanya dengan kata-kata yang mengejutkan: "Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!". Yesus mengenal Natanael secara mendalam; Dia melihat hatinya yang tulus. Yesus juga mengungkapkan bahwa Dia telah melihat Natanael di bawah pohon ara, tempat yang mungkin menjadi tempat Natanael berdoa dan merenungkan Kitab Suci. Di sanalah Natanael melakukan "pencarian" akan kebenaran. Di sanalah ia mempersiapkan hatinya.

Inilah kabar sukacita bagi kita: Yesus mengenal kita. Dia melihat kita, bukan hanya di tempat ibadah, tetapi di setiap sudut kehidupan kita—di tempat kerja, di rumah, dalam kesunyian hati kita. Dia mengenal kerinduan kita, perjuangan kita, dan ketulusan kita. Seperti Natanael yang kemudian berseru, "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!", perjumpaan pribadi dengan Yesus mengubah keraguan menjadi pengakuan iman yang teguh.

4. Janji yang Lebih Besar

Yesus menutup perjumpaan ini dengan janji: "Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu... sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia". Yesus menyinggung mimpi Yakub tentang tangga yang menghubungkan bumi dan surga (Kejadian 28:12). Yesus menyatakan diri-Nya sebagai tangga itu, satu-satunya jalan yang menghubungkan kita dengan Bapa. Setiap kali kita menerima sakramen dan bersatu dengan Kristus, kita merasakan "langit terbuka" dan menerima rahmat-Nya. Janji ini menegaskan bahwa iman kita bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari perjalanan yang jauh lebih besar menuju persekutuan abadi dengan Allah.

 

Saudara-saudari yang terkasih, hari ini, Santo Bartolomeus mengajak kita untuk:

  1. Jujur di hadapan Tuhan. Biarkanlah Tuhan melihat hati kita yang sebenarnya, baik keraguan maupun kerinduan kita.
  2. Berani menjadi "Filipus" bagi sesama, mengantar mereka kepada Kristus bukan dengan omong kosong, tetapi dengan kesaksian hidup dan ajakan yang tulus.
  3. Percaya bahwa Tuhan mengenal kita. Saat kita merasakan kesepian, ingatlah bahwa Yesus "melihat kita di bawah pohon ara" dan mengundang kita ke dalam persekutuan yang intim dengan-Nya.
  4. Menantikan janji-janji Allah yang lebih besar. Jangan pernah puas dengan iman yang biasa-biasa saja. Carilah Dia dengan segenap hati.

Semoga perantaraan Santo Bartolomeus, rasul yang tanpa kepalsuan, menguatkan kita untuk menjadi murid-murid yang sejati. Amin.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar