Renungan Harian Katolik
Rabu, 12 Agustus 2026
Peringatan Fakultatif Santa Yohana Fransiska de Chantal, Biarawati
Bacaan Injil: Matius 18:15-20
KASIH YANG MENEGUR DAN KUASA DOA YANG MENGIKAT
Sorang
Tumanggor, S.Ag
Penyuluh
Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi
Saudara-saudari terkasih dalam
Kristus,
Hari ini, Gereja menyapa kita
dengan bacaan Injil dari Matius 18:15-20. Pada mulanya, sepintas bagian ini
terasa berat dan seperti sebuah manual prosedur tentang cara menangani orang
yang berbuat dosa. Namun, jika kita renungkan lebih dalam, di balik kata-kata
ini mengalir kasih seorang Bapa yang tidak rela kehilangan satu pun anak-Nya.
Inilah logika ilahi yang berbeda dari logika dunia.
Menegur dengan Kasih, Bukan
Menghakimi
Yesus mengajarkan kita sebuah
langkah yang kelihatannya sederhana namun sangat sulit: "Apabila saudaramu
berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata" (Mat 18:15). Dunia
mengajarkan kita untuk menyebarkan kesalahan orang lain—gunjingan adalah
"makanan sehari-hari" yang tampaknya tak terhindarkan. Paus
Fransiskus bahkan menyebut gosip sebagai "wabah yang lebih mengerikan
daripada Covid". Namun Yesus berkata: temui dia, bicara berdua saja.
Ini bukan tentang menghakimi,
tetapi tentang rehabilitasi. Tujuan kita bukanlah untuk
menjatuhkan, melainkan untuk "mendapatkannya kembali"—mengembalikan
saudara kita ke pangkuan kasih Allah. Menegur secara pribadi adalah tindakan
kasih yang penuh hormat. Ini mengakui bahwa kesalahan adalah masalah pribadi,
dan martabat orang yang bersalah harus dilindungi. Jika kita mendengar kabar
buruk tentang seorang saudara, bisakah kita berhenti sebelum menyebarkannya?
Mampukah kita mendoakannya terlebih dahulu dan, jika perlu, berbicara kepadanya
dengan lembut? Inilah yang disebut koreksi persaudaraan.
Gereja: Rumah Penyembuhan,
Bukan Pengadilan
Jika teguran pribadi tidak
diindahkan, Yesus memberikan langkah berikutnya: ajak satu atau dua orang lain.
Tujuannya tetap sama: untuk menegur dan memulihkan, bukan untuk mengadili.
Bahkan langkah terakhir, yaitu "sampaikanlah soalnya kepada jemaat"
(ay. 17), bukanlah tentang penghukuman publik. Ini adalah pengakuan bahwa dosa
merusak komunitas, dan seluruh komunitas memiliki tanggung jawab untuk
memulihkan anggotanya.
Jika seorang saudara tetap keras
kepala, Yesus berkata: "pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal
Allah atau seorang pemungut cukai" (ay. 17). Namun, ingatlah bagaimana
Yesus memperlakukan orang-orang yang tidak mengenal Allah dan para pemungut
cukai? Ia makan bersama mereka, Ia mencari mereka, Ia mengasihi mereka. Ini
bukanlah kalimat pengucilan abadi, melainkan seruan untuk menyerahkan saudara
itu sepenuhnya ke dalam tangan belas kasih Allah yang maha besar. Kita
dipanggil untuk mengasihi mereka seperti Yesus mengasihi mereka yang tersesat.
Saat kita sulit mengampuni, ingatlah bahwa pengampunan bukanlah melupakan,
melainkan keputusan sadar untuk melepaskan hati kita dari kepahitan dan
menyerahkannya kepada Allah.
Kuasa Doa yang Memulihkan
Bagian akhir dari Injil ini (ay.
18-20) mengingatkan kita pada kuasa doa dan otoritas Gereja. Yesus memberikan
kuasa untuk "mengikat dan melepaskan" kepada para murid-Nya. Ini
bukanlah kuasa untuk bertindak sewenang-wenang, tetapi kuasa untuk mengampuni
dosa dalam Sakramen Tobat dan kuasa untuk memutuskan belenggu dosa melalui doa
dan keputusan Gereja yang dipimpin oleh Roh Kudus.
Kita diajak untuk tidak pernah meremehkan kuasa doa bersama. "Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga" (ay. 19). Dalam setiap liturgi, dalam setiap kelompok doa, dalam setiap keluarga yang berdoa bersama, Kristus sendiri hadir di tengah-tengah kita. Di sanalah kesatuan dibangun, luka-luka dipulihkan, dan komunitas yang penuh kasih diperkuat.
Renungan Pribadi:
Kita semua adalah orang berdosa
yang setiap hari membutuhkan belas kasih Allah. Hari ini, mari kita bertanya
pada diri sendiri:
- Dari sisi "yang menegur": Ketika
melihat kesalahan saudara, apakah langkah pertamaku adalah menyebarkannya
atau mendoakannya? Apakah aku memiliki keberanian untuk menegur dengan
kasih, atau aku memilih diam karena takut dan tidak peduli? Saya mungkin
takut akan reaksi mereka atau kurang percaya diri. Namun, setiap kali kita
melakukannya dengan niat baik, kita merasakan itu adalah jalan Tuhan.
- Dari sisi "yang ditegur": Mampukah
aku menerima teguran dengan rendah hati, sebagai bentuk kasih yang ingin
membantuku bertumbuh? Ataukah aku mudah tersinggung dan membela diri?
- Dari sisi "komunitas": Apakah kita sebagai umat membangun Gereja yang menjadi rumah penyembuhan bagi para pendosa, ataukah kita menjadi komunitas yang eksklusif dan menghakimi?
Santa Yohana Fransiska de
Chantal, doakanlah kami agar kami memiliki kebijaksanaan dan cinta kasih dalam
setiap teguran yang kami sampaikan dan dalam setiap langkah kami menuju
pertobatan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar