Selasa, 11 Agustus 2026

KASIH YANG MENEGUR DAN KUASA DOA YANG MENGIKAT

Renungan Harian Katolik

Rabu, 12 Agustus 2026
Peringatan Fakultatif Santa Yohana Fransiska de Chantal, Biarawati

Bacaan Injil: Matius 18:15-20

 

KASIH YANG MENEGUR DAN KUASA DOA YANG MENGIKAT

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 


 


Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Hari ini, Gereja menyapa kita dengan bacaan Injil dari Matius 18:15-20. Pada mulanya, sepintas bagian ini terasa berat dan seperti sebuah manual prosedur tentang cara menangani orang yang berbuat dosa. Namun, jika kita renungkan lebih dalam, di balik kata-kata ini mengalir kasih seorang Bapa yang tidak rela kehilangan satu pun anak-Nya. Inilah logika ilahi yang berbeda dari logika dunia.

Menegur dengan Kasih, Bukan Menghakimi

Yesus mengajarkan kita sebuah langkah yang kelihatannya sederhana namun sangat sulit: "Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata" (Mat 18:15). Dunia mengajarkan kita untuk menyebarkan kesalahan orang lain—gunjingan adalah "makanan sehari-hari" yang tampaknya tak terhindarkan. Paus Fransiskus bahkan menyebut gosip sebagai "wabah yang lebih mengerikan daripada Covid". Namun Yesus berkata: temui dia, bicara berdua saja.

Ini bukan tentang menghakimi, tetapi tentang rehabilitasi. Tujuan kita bukanlah untuk menjatuhkan, melainkan untuk "mendapatkannya kembali"—mengembalikan saudara kita ke pangkuan kasih Allah. Menegur secara pribadi adalah tindakan kasih yang penuh hormat. Ini mengakui bahwa kesalahan adalah masalah pribadi, dan martabat orang yang bersalah harus dilindungi. Jika kita mendengar kabar buruk tentang seorang saudara, bisakah kita berhenti sebelum menyebarkannya? Mampukah kita mendoakannya terlebih dahulu dan, jika perlu, berbicara kepadanya dengan lembut? Inilah yang disebut koreksi persaudaraan.

Gereja: Rumah Penyembuhan, Bukan Pengadilan

Jika teguran pribadi tidak diindahkan, Yesus memberikan langkah berikutnya: ajak satu atau dua orang lain. Tujuannya tetap sama: untuk menegur dan memulihkan, bukan untuk mengadili. Bahkan langkah terakhir, yaitu "sampaikanlah soalnya kepada jemaat" (ay. 17), bukanlah tentang penghukuman publik. Ini adalah pengakuan bahwa dosa merusak komunitas, dan seluruh komunitas memiliki tanggung jawab untuk memulihkan anggotanya.

Jika seorang saudara tetap keras kepala, Yesus berkata: "pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai" (ay. 17). Namun, ingatlah bagaimana Yesus memperlakukan orang-orang yang tidak mengenal Allah dan para pemungut cukai? Ia makan bersama mereka, Ia mencari mereka, Ia mengasihi mereka. Ini bukanlah kalimat pengucilan abadi, melainkan seruan untuk menyerahkan saudara itu sepenuhnya ke dalam tangan belas kasih Allah yang maha besar. Kita dipanggil untuk mengasihi mereka seperti Yesus mengasihi mereka yang tersesat. Saat kita sulit mengampuni, ingatlah bahwa pengampunan bukanlah melupakan, melainkan keputusan sadar untuk melepaskan hati kita dari kepahitan dan menyerahkannya kepada Allah.

Kuasa Doa yang Memulihkan

Bagian akhir dari Injil ini (ay. 18-20) mengingatkan kita pada kuasa doa dan otoritas Gereja. Yesus memberikan kuasa untuk "mengikat dan melepaskan" kepada para murid-Nya. Ini bukanlah kuasa untuk bertindak sewenang-wenang, tetapi kuasa untuk mengampuni dosa dalam Sakramen Tobat dan kuasa untuk memutuskan belenggu dosa melalui doa dan keputusan Gereja yang dipimpin oleh Roh Kudus.

Kita diajak untuk tidak pernah meremehkan kuasa doa bersama. "Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga" (ay. 19). Dalam setiap liturgi, dalam setiap kelompok doa, dalam setiap keluarga yang berdoa bersama, Kristus sendiri hadir di tengah-tengah kita. Di sanalah kesatuan dibangun, luka-luka dipulihkan, dan komunitas yang penuh kasih diperkuat.

Renungan Pribadi:

Kita semua adalah orang berdosa yang setiap hari membutuhkan belas kasih Allah. Hari ini, mari kita bertanya pada diri sendiri:

  1. Dari sisi "yang menegur": Ketika melihat kesalahan saudara, apakah langkah pertamaku adalah menyebarkannya atau mendoakannya? Apakah aku memiliki keberanian untuk menegur dengan kasih, atau aku memilih diam karena takut dan tidak peduli? Saya mungkin takut akan reaksi mereka atau kurang percaya diri. Namun, setiap kali kita melakukannya dengan niat baik, kita merasakan itu adalah jalan Tuhan.
  2. Dari sisi "yang ditegur": Mampukah aku menerima teguran dengan rendah hati, sebagai bentuk kasih yang ingin membantuku bertumbuh? Ataukah aku mudah tersinggung dan membela diri?
  3. Dari sisi "komunitas": Apakah kita sebagai umat membangun Gereja yang menjadi rumah penyembuhan bagi para pendosa, ataukah kita menjadi komunitas yang eksklusif dan menghakimi?

Santa Yohana Fransiska de Chantal, doakanlah kami agar kami memiliki kebijaksanaan dan cinta kasih dalam setiap teguran yang kami sampaikan dan dalam setiap langkah kami menuju pertobatan.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar