Renungan Harian Katolik
Jumat, 21 Agustus 2026
Peringatan Wajib Santo Pius X,
Paus
Bacaan Injil: Matius 22:34-40
KASIH YANG MENYATUKAN SEGALANYA
Sorang
Tumanggor, S.Ag
Penyuluh
Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi
Saudara-saudari terkasih dalam
Kristus,
Hari ini Gereja memperingati
Santo Pius X, seorang Paus yang dikenal dengan semangatnya untuk
"memperbaharui segala sesuatu dalam Kristus" dan kecintaannya yang
mendalam pada Ekaristi serta doa Rosario. Pada hari peringatannya, kita diajak
untuk merenungkan sabda Tuhan dalam Injil Matius tentang hukum kasih—sebuah
pengajaran yang menjadi inti dari seluruh kehidupan iman kita.
1. Mencobai atau Mencari
Kebenaran?
Dalam bacaan Injil hari ini, kita
mendengar bagaimana seorang ahli Taurat mendekati Yesus dengan sebuah
pertanyaan yang tampaknya sederhana: "Guru, hukum manakah yang terutama
dalam hukum Taurat?" (Mat 22:36). Namun, Injil menegaskan bahwa pertanyaan
ini diajukan untuk mencobai Yesus.
Para ahli Taurat dan orang Farisi
datang bukan dengan hati yang terbuka untuk belajar, melainkan dengan maksud
mencari celah untuk menjatuhkan Yesus. Mereka adalah orang-orang yang hafal
hukum Taurat, yang setiap hari mempelajari dan mengajarkannya. Namun
pengetahuan mereka tentang hukum tidak membawa mereka pada kasih.
Renungkanlah, Saudara-saudari: Seberapa
sering kita datang kepada Tuhan dan kepada Gereja dengan hati yang penuh
prasangka, atau sekadar mencari pembenaran atas sikap kita sendiri? Seberapa
sering kita menggunakan ajaran Gereja untuk menghakimi orang lain, padahal kita
sendiri tidak menghidupinya dengan kasih?
2. Hukum Utama: Mengasihi
Allah Sepenuhnya
Yesus menjawab dengan mengutip
kitab Ulangan: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan
segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu" (Mat 22:37).
Hukum ini bukan sekadar perintah,
melainkan panggilan untuk totalitas hidup. Kasih kepada Allah harus
mencakup:
- Segenap hati—pusat dari seluruh kehendak dan
perasaan kita. Mengasihi Allah dengan segenap hati berarti menjadikan Dia
sebagai tujuan utama segala keinginan kita.
- Segenap jiwa—sumber kehidupan dan nafas
kita. Mengasihi Allah dengan segenap jiwa berarti seluruh keberadaan kita
dipersembahkan kepada-Nya.
- Segenap akal budi—kemampuan kita untuk
berpikir dan memahami. Mengasihi Allah dengan segenap akal budi berarti
kita menggunakan kecerdasan kita untuk mengenal Dia lebih dalam dan
mencintai-Nya dengan pengertian.
Inilah hukum yang terutama dan
yang pertama. Santo Pius X, yang kita peringati hari ini, menghayati kasih ini
dengan tekun berdoa dan setia pada tugas kepausannya. Ia memahami bahwa segala
sesuatu harus dikembalikan kepada Kristus.
3. Hukum Kedua yang Sama:
Mengasihi Sesama
Yesus tidak berhenti pada
perintah pertama. Ia melanjutkan: "Dan hukum yang kedua, yang sama dengan
itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (Mat 22:39).
Para ahli Taurat yang mendengar
Yesus mungkin terkejut. Yesus tidak mengatakan bahwa hukum kedua ini adalah
nomor dua yang lebih rendah, melainkan "sama dengan itu".
Ini berarti kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama adalah dua sisi dari
mata uang yang sama—tidak terpisahkan.
Santo Yohanes akan menegaskan hal
ini dengan sangat tegas: "Barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang
dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya" (1Yoh
4:20). Kasih kepada Allah menjadi nyata dan terlihat dalam kasih kepada sesama.
Apa arti "sesamamu
seperti dirimu sendiri"?
Ini berarti kita melihat setiap
orang—baik yang dekat maupun yang jauh, yang menyenangkan maupun yang
menyebalkan, yang seiman maupun yang berbeda keyakinan—sebagai pribadi yang
berharga di mata Allah. Ini berarti kita berusaha memahami, menolong, dan
memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.
4. Kasih: Inti dan Landasan
Segala Hukum
Yesus mengakhiri jawaban-Nya
dengan pernyataan yang mengagumkan: "Pada kedua hukum inilah tergantung
seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi" (Mat 22:40).
Ini berarti:
- Kasih adalah inti dari seluruh Hukum Taurat. Semua
perintah, larangan, dan aturan dalam Perjanjian Lama—termasuk Sepuluh
Perintah Allah—pada hakikatnya adalah penjabaran dari perintah kasih ini.
- Kasih adalah tujuan dari seluruh Kitab Para
Nabi. Semua nubuat dan ajaran para nabi mengarah pada penghayatan
kasih ini.
Dengan kata lain, tanpa
kasih, segala aturan dan ritual keagamaan menjadi kosong dan hampa. Seperti
yang dikatakan Santo Paulus: "Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan
semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai
kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing"
(1Kor 13:1).
5. Refleksi untuk Kita:
Menghidupi Kasih di Zaman Ini
Saudara-saudari terkasih, pesan
Yesus ini sangat relevan bagi kita yang hidup di Indonesia saat ini. Sebagai
bangsa yang majemuk—berbeda suku, agama, ras, dan budaya—panggilan untuk
mengasihi sesama seperti diri sendiri menjadi tantangan sekaligus panggilan
yang indah.
Pertanyaan-pertanyaan untuk
direnungkan:
- Bagaimana dengan sikap kita terhadap orang yang
berbeda pilihan politik, berbeda agama, atau berbeda pandangan? Apakah
kita masih mampu melihat mereka sebagai "sesama" yang harus
dikasihi?
- Bagaimana dengan orang-orang di sekitar kita
yang sedang menderita, yang kesepian, yang membutuhkan perhatian? Apakah
kita peduli, atau kita terlalu sibuk dengan urusan kita sendiri?
- Bagaimana dengan mereka yang telah menyakiti
kita? Apakah kita mampu mengampuni dan tetap mengasihi mereka?
Santo Pius X, yang kita peringati
hari ini, menunjukkan bahwa semangat untuk "memperbaharui segala sesuatu
dalam Kristus" tidak hanya berarti kesalehan pribadi, tetapi juga keberanian
untuk menghadirkan kasih Kristus dalam dunia. Kasih inilah yang mampu
menyembuhkan luka, menyatukan yang terpecah, dan memberi pengharapan kepada
yang putus asa.
"Karena
seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: 'Kasihilah sesamamu
manusia seperti dirimu sendiri!'" (Galatia 5:14)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar