Kamis, 20 Agustus 2026

KASIH YANG MENYATUKAN SEGALANYA

Renungan Harian Katolik

Jumat, 21 Agustus 2026

Peringatan Wajib Santo Pius X, Paus

Bacaan Injil: Matius 22:34-40


KASIH YANG MENYATUKAN SEGALANYA

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi




Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Hari ini Gereja memperingati Santo Pius X, seorang Paus yang dikenal dengan semangatnya untuk "memperbaharui segala sesuatu dalam Kristus" dan kecintaannya yang mendalam pada Ekaristi serta doa Rosario. Pada hari peringatannya, kita diajak untuk merenungkan sabda Tuhan dalam Injil Matius tentang hukum kasih—sebuah pengajaran yang menjadi inti dari seluruh kehidupan iman kita.

 

1. Mencobai atau Mencari Kebenaran?

Dalam bacaan Injil hari ini, kita mendengar bagaimana seorang ahli Taurat mendekati Yesus dengan sebuah pertanyaan yang tampaknya sederhana: "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" (Mat 22:36). Namun, Injil menegaskan bahwa pertanyaan ini diajukan untuk mencobai Yesus.

Para ahli Taurat dan orang Farisi datang bukan dengan hati yang terbuka untuk belajar, melainkan dengan maksud mencari celah untuk menjatuhkan Yesus. Mereka adalah orang-orang yang hafal hukum Taurat, yang setiap hari mempelajari dan mengajarkannya. Namun pengetahuan mereka tentang hukum tidak membawa mereka pada kasih.

Renungkanlah, Saudara-saudari: Seberapa sering kita datang kepada Tuhan dan kepada Gereja dengan hati yang penuh prasangka, atau sekadar mencari pembenaran atas sikap kita sendiri? Seberapa sering kita menggunakan ajaran Gereja untuk menghakimi orang lain, padahal kita sendiri tidak menghidupinya dengan kasih?

 

2. Hukum Utama: Mengasihi Allah Sepenuhnya

Yesus menjawab dengan mengutip kitab Ulangan: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu" (Mat 22:37).

Hukum ini bukan sekadar perintah, melainkan panggilan untuk totalitas hidup. Kasih kepada Allah harus mencakup:

  • Segenap hati—pusat dari seluruh kehendak dan perasaan kita. Mengasihi Allah dengan segenap hati berarti menjadikan Dia sebagai tujuan utama segala keinginan kita.
  • Segenap jiwa—sumber kehidupan dan nafas kita. Mengasihi Allah dengan segenap jiwa berarti seluruh keberadaan kita dipersembahkan kepada-Nya.
  • Segenap akal budi—kemampuan kita untuk berpikir dan memahami. Mengasihi Allah dengan segenap akal budi berarti kita menggunakan kecerdasan kita untuk mengenal Dia lebih dalam dan mencintai-Nya dengan pengertian.

Inilah hukum yang terutama dan yang pertama. Santo Pius X, yang kita peringati hari ini, menghayati kasih ini dengan tekun berdoa dan setia pada tugas kepausannya. Ia memahami bahwa segala sesuatu harus dikembalikan kepada Kristus.

 

3. Hukum Kedua yang Sama: Mengasihi Sesama

Yesus tidak berhenti pada perintah pertama. Ia melanjutkan: "Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (Mat 22:39).

Para ahli Taurat yang mendengar Yesus mungkin terkejut. Yesus tidak mengatakan bahwa hukum kedua ini adalah nomor dua yang lebih rendah, melainkan "sama dengan itu". Ini berarti kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama adalah dua sisi dari mata uang yang sama—tidak terpisahkan.

Santo Yohanes akan menegaskan hal ini dengan sangat tegas: "Barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya" (1Yoh 4:20). Kasih kepada Allah menjadi nyata dan terlihat dalam kasih kepada sesama.

Apa arti "sesamamu seperti dirimu sendiri"?

Ini berarti kita melihat setiap orang—baik yang dekat maupun yang jauh, yang menyenangkan maupun yang menyebalkan, yang seiman maupun yang berbeda keyakinan—sebagai pribadi yang berharga di mata Allah. Ini berarti kita berusaha memahami, menolong, dan memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.


4. Kasih: Inti dan Landasan Segala Hukum

Yesus mengakhiri jawaban-Nya dengan pernyataan yang mengagumkan: "Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi" (Mat 22:40).

Ini berarti:

  • Kasih adalah inti dari seluruh Hukum Taurat. Semua perintah, larangan, dan aturan dalam Perjanjian Lama—termasuk Sepuluh Perintah Allah—pada hakikatnya adalah penjabaran dari perintah kasih ini.
  • Kasih adalah tujuan dari seluruh Kitab Para Nabi. Semua nubuat dan ajaran para nabi mengarah pada penghayatan kasih ini.

Dengan kata lain, tanpa kasih, segala aturan dan ritual keagamaan menjadi kosong dan hampa. Seperti yang dikatakan Santo Paulus: "Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing" (1Kor 13:1).

 

5. Refleksi untuk Kita: Menghidupi Kasih di Zaman Ini

Saudara-saudari terkasih, pesan Yesus ini sangat relevan bagi kita yang hidup di Indonesia saat ini. Sebagai bangsa yang majemuk—berbeda suku, agama, ras, dan budaya—panggilan untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri menjadi tantangan sekaligus panggilan yang indah.

Pertanyaan-pertanyaan untuk direnungkan:

  • Bagaimana dengan sikap kita terhadap orang yang berbeda pilihan politik, berbeda agama, atau berbeda pandangan? Apakah kita masih mampu melihat mereka sebagai "sesama" yang harus dikasihi?
  • Bagaimana dengan orang-orang di sekitar kita yang sedang menderita, yang kesepian, yang membutuhkan perhatian? Apakah kita peduli, atau kita terlalu sibuk dengan urusan kita sendiri?
  • Bagaimana dengan mereka yang telah menyakiti kita? Apakah kita mampu mengampuni dan tetap mengasihi mereka?

Santo Pius X, yang kita peringati hari ini, menunjukkan bahwa semangat untuk "memperbaharui segala sesuatu dalam Kristus" tidak hanya berarti kesalehan pribadi, tetapi juga keberanian untuk menghadirkan kasih Kristus dalam dunia. Kasih inilah yang mampu menyembuhkan luka, menyatukan yang terpecah, dan memberi pengharapan kepada yang putus asa.

"Karena seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: 'Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!'" (Galatia 5:14)

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar