Renungan Harian Katolik
Senin, 10 Agustus 2026
Pesta Santo Laurensius, Diakon dan Martir
Bacaan Injil
Yohanes 12:24-26
HUKUM GANDUM: MATI UNTUK HIDUP
Sorang
Tumanggor, S.Ag
Penyuluh
Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Setiap tanggal 10 Agustus, Gereja memperingati Pesta Santo
Laurensius, seorang diakon yang menjadi martir pada tahun 258 di bawah Kaisar
Valerianus. Warna liturgi merah yang dikenakan hari ini mengingatkan kita pada
darah kemartirannya sekaligus nyala cinta kasih yang membara dalam
hatinya . Santo Laurensius adalah teladan sempurna dari sabda Yesus dalam
Injil hari ini.
Yesus menyampaikan sebuah perumpamaan sederhana namun
mengguncang: "Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah
dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan
banyak buah" (Yoh 12:24). Inilah yang disebut para Bapa Gereja sebagai
"hukum gandum" — hukum Ilahi bahwa kematian adalah pintu menuju
kehidupan yang berkelimpahan.
Santo Laurensius memahami hukum ini dengan sangat mendalam.
Ketika Paus Sixtus II ditangkap dan dihukum mati, Laurensius yang adalah
diakonnya bertekad menemani gembalanya. Ia berkata, "Tak pantas seorang
imam agung Kristus pergi tanpa didampingi diakonnya." Namun
Tuhan masih memberi dia waktu. Sebagai bendahara Gereja yang bertanggung jawab
atas harta benda dan sedekah untuk orang miskin, Laurensius diberi waktu empat
hari oleh penguasa Romawi untuk menyerahkan seluruh kekayaan Gereja .
Apa yang dilakukan Laurensius? Ia justru membagikan semua
harta Gereja kepada orang-orang miskin, para janda, dan orang sakit. Ketika
batas waktu tiba, ia menghadap penguasa Romawi bukan dengan emas dan perak,
melainkan dengan membawa serta orang-orang miskin dan lemah. Dengan berani ia
berkata: "Inilah harta kekayaan Gereja yang saya jaga, terimalah dan
peliharalah dengan sebaik-baiknya."
Laurensius telah memilih untuk "jatuh ke tanah dan
mati" — melepaskan kekayaan duniawi, melepaskan keselamatan dirinya
sendiri — demi menghasilkan buah yang melimpah bagi Kerajaan Allah. Ia dibunuh
dengan cara dipanggang di atas terali besi. Bahkan dalam penderitaan itu,
semangatnya tetap menyala; konon ia berkata kepada algojonya, "Balikkanlah
aku, karena sisi ini sudah matang!" Inilah buah dari iman yang
kokoh: sukacita yang tidak dapat direnggut oleh siksaan apa pun.
Yesus melanjutkan sabda-Nya: "Barangsiapa mencintai
nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai
nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal" (Yoh
12:25). Membenci nyawa di sini bukanlah berarti membenci diri sendiri sebagai
ciptaan Allah. Sebaliknya, ini adalah sikap yang menilai hal-hal surgawi lebih
penting daripada segala sesuatu di dunia ini . Ini berarti kita tidak
begitu terikat pada kesenangan duniawi sehingga kita bersedia mengorbankan
semuanya demi Tuhan .
Kita mungkin tidak dipanggil untuk mati sebagai martir
seperti Santo Laurensius. Namun setiap hari kita dipanggil untuk mengalami
"kematian kecil" — mengorbankan egoisme kita, melepaskan keinginan
kita sendiri, dan melayani sesama dengan sukacita . St. Agustinus
mengingatkan bahwa Gereja adalah taman Tuhan yang berisi aneka bunga: bukan
hanya mawar para martir, tetapi juga bakung para perawan, ivy orang-orang yang
menikah, dan violet para janda . Kita semua dipanggil untuk memberikan
hidup kita sesuai dengan panggilan masing-masing.
Yesus menutup sabda-Nya dengan janji yang indah:
"Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada,
di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati
Bapa" (Yoh 12:26). Inilah kabar gembira: ketika kita melayani
Kristus dan mengikuti Dia di jalan pengorbanan, kita tidak pernah sendirian.
Kita akan berada bersama Dia, dan Bapa sendiri akan menghormati kita.
Santo Laurensius hidup dan mati dengan keyakinan ini.
Bagaimana dengan kita? Apakah kita berani menjadi "biji gandum" yang
jatuh ke tanah demi menghasilkan banyak buah? Mari kita mulai dari hal-hal
kecil: kesetiaan dalam tugas sehari-hari, kepedulian kepada yang miskin dan
sakit, pengorbanan waktu dan tenaga untuk keluarga dan sesama . Seperti
Santo Laurensius, mari kita belajar memberi dengan sukacita, karena "Allah
mengasihi orang yang memberi dengan sukacita" (2Kor 9:7).
Ya Tuhan, ajarlah kami untuk tidak takut kehilangan nyawa
kami demi Engkau. Semoga teladan Santo Laurensius mengobarkan semangat
pengorbanan kami, agar kami pun menghasilkan banyak buah bagi Kerajaan-Mu.
Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.
Santo Laurensius, Diakon dan Martir, doakanlah kami.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar