Selasa, 04 Agustus 2026

BESAR IMANMU

Renungan Harian

Rabu, 5 Agustus 2026

Pekan Biasa XVIII – Pemberkatan Gereja Basilik Santa Perawan Maria

Bacaan Injil: Matius 15:21-28

 

BESAR IMANMU

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi


 

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,

Pada hari ini, Gereja merayakan Pemberkatan Gereja Basilik Santa Perawan Maria. Di tengah perayaan ini, kita mendengar sebuah kisah yang mungkin menggetarkan hati kita: kisah tentang seorang perempuan Kanaan yang berhadapan dengan Yesus. Ini adalah kisah tentang seorang perempuan asing, dari bangsa yang dianggap musuh, yang berani mendekati Yesus dengan teriakan memohon belas kasihan karena anaknya kerasukan setan.

Yang menarik dan sekaligus membingungkan bagi kita adalah sikap Yesus yang tampaknya dingin. Ia sama sekali tidak menjawab seruan perempuan itu. Bahkan, Ia berkata, "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel". Ketika perempuan itu terus mendesak dan menyembah-Nya, Yesus bahkan berkata, "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing".

Kata-kata ini terdengar keras dan bahkan kasar di telinga kita. Namun, Gereja mengajak kita untuk melihat lebih dalam. Yesus bukanlah seorang guru yang sedang belajar untuk tidak bersikap rasis, sebagaimana mungkin kita pahami secara dangkal . Ada sebuah ujian iman yang jauh lebih besar yang sedang terjadi di sini.

 

Saat Tuhan Diam

Saudara-saudari, bukankah kita sering mengalami hal yang sama? Kita berdoa dengan keras, memohon pertolongan dalam kesulitan, namun Tuhan seolah diam. Tidak ada jawaban. Tidak ada tanda. Seperti perempuan Kanaan yang meneriakkan permohonannya, tetapi Yesus seolah tidak mendengar.

Yesus membiarkan perempuan itu dalam kesunyian Allah. Ini bukan penolakan, melainkan undangan untuk beriman lebih dalam. Allah mengizinkan kita mengalami ujian iman—yaitu percaya kepada-Nya dalam segala keadaan, bahkan ketika terlihat bahwa Ia tidak memperhatikan.

Perempuan Kanaan tidak menyerah. Ia terus membuntuti Yesus. Ketika murid-murid meminta Yesus mengusirnya, ia tetap bertahan. Ketika Yesus mengatakan bahwa roti hanya untuk anak-anak, bukan untuk anjing, ia tidak marah atau pergi. Sebaliknya, ia merendahkan diri dengan penuh kerendahan hati dan berkata: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya".

Saudara-saudari, inilah iman yang luar biasa. Ia mengakui bahwa dirinya bukan siapa-siapa di hadapan Tuhan. Ia sadar bahwa ia seperti "anjing" yang tidak layak menerima roti dari meja Tuhan. Namun, dengan kerendahan hati itu, ia justru menunjukkan iman yang besar—bahwa meskipun hanya "remah-remah" dari Tuhan pun sudah cukup untuk menyembuhkan anaknya.

 


Iman yang Melampaui Batas

Yesus kemudian berseru, "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki". Seketika itu juga anaknya sembuh.

Ada dua pelajaran penting bagi kita hari ini:

Pertama, iman yang besar tidak mengenal batas-batas manusia. Perempuan Kanaan adalah orang asing. Ia bukan dari umat pilihan. Namun, imannya membuka jalan bagi keselamatan universal—bahwa Kristus datang untuk semua orang, tanpa kecuali . Imannya mengalahkan semua tembok pemisah: tembok ras, tembok agama, tembok sosial. Ia mengajarkan kita bahwa iman yang tulus tidak mengenal diskriminasi, dan bahwa kasih Allah melampaui segala batasan yang kita buat.

Kedua, kita dipanggil untuk bertekun dalam doa dan rendah hati. Perempuan Kanaan tidak marah ketika Yesus "menolaknya"; ia justru merendahkan diri lebih dalam. Ia mengajarkan kita bahwa doa yang sungguh-sungguh adalah doa orang yang rendah hati, yang mengakui bahwa kita bukanlah segalanya, bahwa kita sangat membutuhkan Tuhan.

Saudara-saudari yang terkasih,

Hari ini, ketika kita merayakan pemberkatan Basilik Santa Perawan Maria, kita diingatkan bahwa Bunda Maria juga adalah perempuan yang beriman besar. Ia juga menerima kehendak Tuhan dengan kerendahan hati, tanpa syarat, dan dengan penuh kepercayaan.

Mari kita belajar dari perempuan Kanaan dan Bunda Maria. Ketika Tuhan seolah diam, jangan berhenti berdoa. Ketika kita menghadapi penolakan dan kesulitan, jangan berhenti percaya. Sebab iman yang sejati justru teruji dalam kegelapan dan kesunyian.

Dan ingatlah: Tuhan selalu mendengar. Jawaban-Nya mungkin tidak datang pada waktu atau cara yang kita harapkan, tetapi Ia setia. Pada saat yang tepat, Ia akan berkata kepada kita, seperti kepada perempuan Kanaan: "Besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki."

Tuhan, ajari kami untuk memiliki iman seperti perempuan Kanaan. Iman yang tidak kenal menyerah, yang rendah hati, dan yang percaya bahwa hanya dari remah-remah rahmat-Mu saja kami sudah cukup. Amin.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar