Selasa, 14 Juli 2026

MENJADI KECIL DI MATA TUHAN

Renungan Harian

Rabu, 15 Juli 2026
Bacaan Injil: Matius 11:25-27


MENJADI KECIL DI MATA TUHAN



 

Saudara-saudari terkasih dalam Yesus Kristus,

Hari ini kita memperingati Santo Bonaventura, seorang Pujangga Gereja yang luar biasa bijaksana, yang dijuluki Doktor Serafic karena semangatnya yang berkobar-kobar akan cinta ilahi. Namun, menarik bahwa pada hari peringatannya, Gereja justru menghadirkan bacaan Injil yang berbicara tentang bagaimana Allah menyembunyikan rahasia-Nya dari orang bijak dan pandai, dan menyatakannya kepada orang kecil. Ada pesan mendalam di sini bagi kita semua.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada ukuran-ukuran dunia: kita dinilai dari kepandaian, jabatan, dan kekayaan. Kita berlomba untuk menjadi "orang yang bijak dan pandai" di mata masyarakat. Namun, Yesus membalik semua logika itu. Dia bersyukur kepada Bapa karena realitas rohani tidak dapat dijangkau oleh kecerdasan manusia semata, melainkan oleh kerendahan hati seorang anak kecil .

Mari kita renungkan tiga pesan utama dari bacaan suci ini.

 

1. Allah Menyatakan Diri kepada Orang Kecil

Yesus berseru, "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil" (Mat 11:25).

Siapakah orang kecil itu? Bukan berarti orang bodoh atau tidak berpendidikan. "Orang kecil" adalah mereka yang memiliki hati yang rendah hati, polos seperti anak-anak, dan sangat bergantung pada Bapa. Mereka tidak merasa cukup dengan kekuatan sendiri; mereka menyadari bahwa segala sesuatu adalah anugerah.

Santo Bonaventura adalah contohnya. Ia adalah seorang teolog brilian, namun ia tidak pernah mengandalkan kepandaiannya. Ia dikenal karena kesederhanaan dan kerendahan hatinya. Ia adalah seorang "orang kecil" di hadapan Allah, dan karena itu, Allah mempercayakan kepadanya kekayaan hikmat rohani.

Dalam hidup kita sehari-hari, sering kali kita merasa cukup dengan logika kita. Kita ingin memahami segala sesuatu dengan akal sehat. Namun, iman adalah misteri yang hanya dapat dipahami oleh hati yang rendah hati. Saat kita berdoa, kita diajak untuk datang seperti anak kecil: jujur, polos, dan penuh percaya. Jangan biarkan kesombongan intelektual atau rasa cukup diri menghalangi kita untuk mendengar sapaan Tuhan.

 

2. Kerendahan Hati: Kunci Mengenal Bapa

"Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya" (Mat 11:27).

Ayat ini mengungkapkan relasi yang unik dan intim antara Yesus dan Bapa. Pengenalan akan Allah bukanlah hasil dari pencarian filosofis atau prestasi akademis, melainkan sebuah anugerah yang diberikan oleh Yesus sendiri kepada siapa pun yang Dia kehendaki. Dan syaratnya adalah kerendahan hati.

Mengapa orang Farisi dan ahli Taurat, yang sangat paham Kitab Suci, tidak mengenal Yesus? Karena hati mereka tertutup oleh kesombongan. Mereka merasa sudah tahu segalanya dan tidak membutuhkan guru lain. Sebaliknya, para nelayan, pemungut cukai, dan perempuan berdosa—mereka yang sadar akan kekurangan dan dosa-dosa mereka—datang kepada Yesus dengan hati terbuka.

Kita sering terjebak dalam "kesalehan yang sombong." Kita merasa dekat dengan Tuhan karena kita rajin ke gereja, aktif dalam pelayanan, atau tahu banyak tentang ajaran Gereja. Namun, jika hati kita dipenuhi dengan rasa puas diri dan penghakiman terhadap sesama, kita sama seperti orang-orang Farisi. Tuhan tidak tinggal dalam hati yang penuh dengan "aku" dan kesombongan. Dia tinggal dalam hati yang kecil dan rendah hati. Santo Bonaventura mengingatkan kita bahwa menjadi serafik (seperti malaikat) berarti membakar semua kesombongan dengan api cinta.

 

3. Bersyukur dalam Segala Keadaan

"Aku bersyukur kepada-Mu..." Ini adalah kalimat pertama Yesus dalam bacaan ini. Di tengah penolakan dan ketidakpercayaan yang Dia alami dari kota-kota seperti Khorazim dan Betsaida, Yesus tidak mengeluh. Dia justru bersyukur.

Mengucap syukur adalah inti dari kerendahan hati. Orang yang rendah hati melihat bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah bagian dari rencana Bapa yang sempurna. Orang bijak duniawi mengeluh ketika tidak sesuai dengan rencananya. Tetapi orang kecil berkata, "Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu" (Mat 11:26).

Saudara-saudari, betapa sering kita mengeluh! Kita mengeluh tentang pekerjaan, tentang keluarga, tentang kesehatan, tentang kehidupan yang tidak adil. Renungan hari ini mengajak kita untuk mengubah keluhan menjadi ucapan syukur. Belajarlah untuk melihat tangan Bapa dalam setiap peristiwa, baik suka maupun duka. Ketika kita gagal, berterimakasihlah karena Tuhan sedang merendahkan hati kita. Ketika kita sukses, berterimakasihlah dan jangan sombong, karena itu semua adalah pemberian-Nya .

 


Mengikuti Teladan Santo Bonaventura dan Maria

Saudara-saudari, Gereja memberikan kita teladan Santo Bonaventura hari ini. Ia adalah seorang yang besar di mata Gereja karena ia berhasil menjadi kecil di mata Tuhan. Ia tidak membiarkan kepandaiannya merusak kerendahan hatinya.

Semoga kita semua, seperti Santo Bonaventura, dapat mengalami kebijaksanaan sejati yang hanya berasal dari kerendahan hati. Tuhan memberkati.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar