Selasa, 07 Juli 2026

MELIHAT DENGAN HATI KRISTUS: DARI KESAKSIAN HINGGA PANGGILAN

Renungan

Selasa, 9 Juli 2026

Bacaan Injil: Matius 9:32-38


MELIHAT DENGAN HATI KRISTUS:

DARI KESAKSIAN HINGGA PANGGILAN

 

1. Pendahuluan: Membaca Tanda-Tanda Zaman

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Hari ini kita berkumpul untuk mendengarkan Sabda Tuhan pada hari Selasa, 9 Juli 2026, di tengah hiruk-pikuk dunia yang semakin kompleks. Di mana pun kita berada—di kota besar maupun desa—kita menyaksikan begitu banyak orang yang lelah, gelisah, dan seperti "domba yang tidak bergembala." Ada begitu banyak orang yang diam, bukan karena bisu secara fisik, tetapi karena tidak memiliki keberanian untuk bersuara karena tekanan hidup, ketidakadilan, atau keputusasaan.

Sabda Injil hari ini dari Matius 9:32-38 berbicara tepat ke dalam realitas kita. Mari kita buka hati dan mendengarkan apa yang Tuhan ingin sampaikan kepada Gereja-Nya pada masa kini.

2. Dua Wajah yang Berbeda (Matius 9:32-34)

Perikop ini dimulai dengan sebuah mukjizat: Yesus menyembuhkan seorang bisu yang kerasukan setan. Orang banyak takjub dan berkata, "Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel" . Namun, ada reaksi yang sangat berbeda dari orang-orang Farisi. Mereka berkata, "Dengan kuasa penghulu setan Ia mengusir setan" .

Mengapa bisa demikian? Orang Farisi adalah orang-orang yang saleh, yang rajin beribadah dan mempelajari Kitab Suci. Namun, hati mereka buta. Mereka tidak bisa melihat tangan Tuhan bekerja karena prasangka dan kepentingan mereka sendiri merasa terancam . Mereka lebih memilih memfitnah daripada mengakui kebenaran.

Menjaga Hati dari Prasangka

Saudara-saudari, di zaman media sosial dan informasi yang deras ini, betapa mudahnya kita jatuh ke dalam dosa yang sama seperti orang Farisi. Kita seringkali lebih cepat menghakimi daripada memahami, lebih cepat mencurigai daripada mempercayai, lebih cepat menyebarkan fitnah daripada mencari kebenaran. Kita dipenuhi dengan "kebisuan rohani" yang membuat kita tidak mampu lagi melihat kebaikan di sekitar kita.

Pertanyaan bagi kita: Apakah kita termasuk orang banyak yang takjub akan karya Tuhan, ataukah kita termasuk orang Farisi yang hatinya keras dan buta terhadap kebaikan sesama? Marilah kita memohon rahmat agar mata hati kita dibersihkan, sehingga kita mampu melihat dan mengapresiasi setiap kebaikan yang dilakukan orang lain, sekecil apa pun, sebagai tanda kehadiran Kerajaan Allah di tengah dunia .

3. Hati Yesus yang Tergerak (Matius 9:35-36)

Namun, Yesus tidak berhenti pada satu mukjizat. Ayat 35 dan 36 menggambarkan sebuah rangkuman indah tentang pelayanan-Nya: "Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan" .

Dan lalu datanglah ayat yang menjadi inti dari segalanya: "Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala" .

Kata Yunani yang digunakan untuk "tergerak" adalah splagchnizomai, yang berarti perasaan iba yang mendalam, getaran di lubuk hati yang paling dalam. Ini adalah belas kasihan yang aktif, bukan sekadar simpati pasif. Yesus tidak hanya melihat kebutuhan; Dia bertindak .

Dunia Kita, Ladang yang Menunggu

Lihatlah dunia kita hari ini. Kita melihat pengungsi yang kehilangan rumah, keluarga yang retak karena ekonomi dan egoisme, anak-anak muda yang kehilangan arah karena kecanduan gawai dan konten negatif, orang-orang lanjut usia yang kesepian di panti jompo atau di rumahnya sendiri. Kita melihat "domba tanpa gembala" di mana-mana. Mereka letih dan terlantar karena tidak ada yang peduli, tidak ada yang menawarkan harapan.

Yesus melihat mereka semua dan hati-Nya tergerak. Dan melalui Sabda ini, Dia mengajak kita untuk memiliki mata dan hati yang sama seperti Dia—untuk melihat sesama kita bukan sebagai beban atau gangguan, tetapi sebagai jiwa-jiwa yang berharga yang sangat dirindukan oleh Allah .

4. Panggilan untuk Berdoa dan Melangkah (Matius 9:37-38)

Yesus lalu berkata kepada murid-murid-Nya, "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu" .

Ini adalah ajakan yang sangat menarik. Di satu sisi, Yesus mengajak kita untuk melihat besarnya ladang Tuhan—betapa banyak orang yang perlu dijangkau. Di sisi lain, Dia mengajar kita sebuah prinsip rohani yang dalam: Allah menunggu doa kita sebelum Dia bertindak .

Tuhan adalah pemilik tuaian. Dialah yang berinisiatif. Namun, Dia menghendaki kita untuk berdoa memohon pekerja-pekerja. Mengapa? Karena melalui doa, hati kita sendiri diubahkan. Doa membentuk kita menjadi pribadi yang peka dan rela menjadi jawaban atas doa kita sendiri.

Menjadi Pekerja di Ladang Tuhan

Tahun 2026 adalah tahun di mana Gereja dan dunia terus bergerak cepat. Kita mungkin bertanya, "Apa yang bisa saya lakukan? Saya bukan pastor, bukan biarawan/biarawati." Saudara-saudari, panggilan untuk menjadi pekerja di ladang Tuhan tidak terbatas pada mereka yang mengenakan jubah atau kebiaraan. Panggilan ini untuk setiap orang yang sudah dibaptis .

  • Di keluarga: Menjadi pekerja ladang Tuhan berarti meluangkan waktu untuk mendengarkan pasangan dan anak-anak, memberikan kasih yang tulus, dan menjadi saksi iman yang hidup.
  • Di tempat kerja: Menjadi pekerja berarti bekerja dengan jujur dan penuh integritas, serta menunjukkan keadilan dan kebaikan kepada rekan kerja.
  • Di masyarakat: Menjadi pekerja berarti berani menjadi "garam dan terang" ; menyapa yang terpinggirkan, menghibur yang berduka, dan memberikan harapan kepada yang putus asa.

Tuaian begitu banyak, dan setiap dari kita dipanggil untuk terlibat. Kita tidak boleh merasa kecil atau tidak layak. Yesuslah yang memberikan kuasa.

5. Penutup: Komitmen

Saudara-saudari terkasih,

Injil hari ini mengajak kita pada tiga hal:

  1. Pertama, bersihkan hatimu. Buanglah segala prasangka, kecemburuan, dan fitnah yang membuat kita seperti orang Farisi. Belajarlah untuk selalu melihat dan mengapresiasi kebaikan di sekitar kita.
  2. Kedua, lihatlah dengan mata Kristus. Jangan pernah bosan untuk melihat penderitaan sesama kita. Biarkan hati kita tergerak oleh belas kasihan, seperti hati Yesus.
  3. Ketiga, jadilah jawaban atas doamu. Bukan hanya berdoa meminta pekerja, tetapi bersedialah untuk dipakai Tuhan menjadi pekerja di ladang-Nya. Dunia ini, Indonesia tercinta, dan setiap orang di sekitar kita adalah ladang yang menunggu sentuhan kasih Tuhan melalui tangan dan kaki kita.

Semoga Tuhan memberkati kita semua. Selamat berkarya untuk Kerajaan Allah!

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantot Kementerian Agama Kabupaten Dairi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar