Renungan
Sabtu, 4 Juli 2026
Bacaan Injil: Matius 9:14-17
SUKACITA INJIL DAN HATI YANG BARU
Saudara-saudari seiman yang
dikasihi Kristus,
Hari ini, Gereja menyapa kita
dengan sebuah pertanyaan yang mungkin terasa dekat dengan kehidupan kita
sehari-hari. Pertanyaan ini bukan berasal dari orang asing, melainkan dari
murid-murid Yohanes Pembaptis, orang-orang yang saleh dan tekun beribadah.
Mereka bertanya kepada Yesus, "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa,
tetapi murid-murid-Mu tidak?" (Matius 9:14).
Pertanyaan ini menggugah kita
untuk merenungkan kembali makna ibadah dan relasi kita dengan Tuhan. Apakah
kita sering terjebak dalam rutinitas keagamaan yang kehilangan makna? Apakah
kita menjalankan kewajiban rohani hanya karena "sudah biasa" atau
karena takut dipandang kurang saleh oleh sesama?
Saatnya Bersukacita
Jawaban Yesus sungguh mengagetkan
dan penuh kasih. Ia berkata, "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki
berdukacita selama mempelai itu bersama mereka?" (Matius 9:15). Yesus
menyebut diri-Nya sebagai mempelai laki-laki, dan kita adalah
sahabat-sahabat mempelai yang diundang ke pesta pernikahan .
Bayangkan suasana pesta
pernikahan: ada tarian, nyanyian, sukacita, dan perayaan. Dalam tradisi Yahudi,
pesta pernikahan berlangsung selama tujuh hari penuh, dan merupakan momen
kegembiraan terbesar . Yesus mengatakan bahwa selama Ia bersama para
murid-Nya, tidak ada tempat untuk berdukacita. Kedatangan-Nya adalah kabar
sukacita, kehadiran Allah yang menyertai kita, "Imanuel".
Saudara-saudari, renungkanlah
ini: kehadiran Yesus dalam hidup kita seharusnya melahirkan sukacita. Iman kita
bukanlah beban berat, melainkan karunia yang membebaskan. Namun, kita juga
mendengar Yesus melanjutkan, "Tetapi waktunya akan datang mempelai itu
diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa" (Matius
9:15). Yesus tahu bahwa saat kematian dan kenaikan-Nya ke surga akan tiba. Masa
sekarang, masa di antara kenaikan-Nya dan kedatangan-Nya kembali, adalah masa
di mana kita merindukan-Nya. Puasa menjadi tanda kerinduan umat Allah akan
kedatangan-Nya, persiapan hati, dan juga tanda kesedihan atas dosa yang masih
ada di dunia ini.
Jangan Tambal, Tetapi
Perbaharui
Untuk menjelaskan lebih lanjut,
Yesus memberikan dua perumpamaan sederhana namun dalam tentang kain dan kantong
kulit. "Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada
baju yang tua... Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong
kulit yang tua" (Matius 9:16-17).
Di sini, "baju tua" dan
"kantong kulit tua" melambangkan cara berpikir dan praktik keagamaan
lama yang sudah kaku, yang hanya mementingkan ritual lahiriah tanpa jiwa.
"Kain baru" dan "anggur baru" adalah Injil, ajaran Yesus
yang membawa kehidupan baru, dan kasih karunia yang melimpah. Yesus mengajarkan
bahwa Injil yang segar dan dinamis tidak dapat dipaksakan ke dalam wadah
pemahaman yang sudah usang dan kaku. Bukan berarti Yesus datang untuk
menghapuskan hukum Taurat, melainkan untuk menggenapinya dan memberinya makna
yang baru: kasih kepada Allah dan sesama.
Pesan ini sangat relevan bagi
kita di Indonesia, bangsa yang kaya akan tradisi dan budaya. Gereja mengajarkan
kita untuk menghargai kearifan lokal, tetapi kita juga diajak untuk
terus-menerus memperbaharui cara kita beriman. Iman yang benar tidak boleh menjadi
sekadar rutinitas, tetapi harus selalu diperbaharui, sebagaimana anggur baru
membutuhkan kantong yang baru pula. Jika kita membiarkan hati dan pikiran kita
diperbaharui oleh Roh Kudus, maka kita akan mampu menerima "anggur
baru" dari Injil tanpa membuat hati kita menjadi hancur atau kehilangan
makna sejati dari sabda-Nya.
Menjadi Kantong yang Baru
Lalu, apakah "kantong
baru" itu dalam diri kita? "Kantong kulit yang baru"
melambangkan hati yang diperbaharui oleh Roh Tuhan, hati yang taat dan hidup
sesuai dengan sabda-Nya.
Saudara-saudari, mari kita
bertanya pada diri kita sendiri:
- Apakah ibadah kita masih seperti pesta sukacita? Ataukah
kita menjalaninya dengan rasa bosan dan terpaksa?
- Apakah kita sering "menambal"
kehidupan kita? Artinya, kita mencoba memperbaiki dosa dan
kebiasaan buruk hanya dengan usaha sendiri, tanpa mau sepenuhnya membuka
hati untuk dibaharui oleh kasih Kristus.
- Apakah hati kita merupakan "kantong
baru"? Sudahkah kita membuang "ragi" lama, yaitu
pikiran negatif, iri hati, dan kesombongan rohani, agar anggur baru dari
kasih Allah dapat tetap segar dalam diri kita?
Yesus menghendaki agar kita tidak
sekadar menjadi orang yang rajin beribadah, tetapi menjadi orang yang menikmati
kehadiran-Nya setiap hari. Kita dipanggil untuk menjadi pembawa sukacita dan
pembaharu. Seperti yang pernah disuarakan dalam sebuah renungan, "Hari ini
lebih baik daripada hari-hari kemarin!". Marilah kita terus berkembang,
berubah, dan menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya.
Semoga Roh Kudus menuntun kita
untuk menjadi "kantong baru" yang mampu menampung dan memelihara
"anggur baru" Kabar Gembira, sehingga kita dapat menjadi saksi-Nya di
tengah dunia. Amin.
Sorang
Tumanggor, S.Ag
Penyuluh
Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar