Renungan
Minggu Biasa XVII, 26 Juli 2026
HARTA KARUN, MUTIARA BERHARGA, DAN JALA
(MENEMUKAN MAKNA HIDUP SEJATI)
Sorang
Tumanggor, S.Ag
Penyuluh
Agama Katolik
Kantor
Kementerian Agama Kabupaten Dairi
Saudara-saudari yang terkasih
dalam Kristus,
Hari ini, Gereja mengajak kita
merenungkan tiga perumpamaan indah dari Injil Matius (13:44-52). Yesus
berbicara tentang Kerajaan Surga yang diumpamakan sebagai harta
terpendam, mutiara yang sangat berharga, dan jala yang
dilabuhkan di laut. Bacaan ini sungguh istimewa karena jatuh pada Hari
Orangtua, Kakek, dan Nenek Sedunia, serta Peringatan fakultatif Santo
Yoakim dan Santa Anna, orangtua Bunda Maria. Kita diajak untuk belajar dari
iman dan ketekunan mereka dalam menemukan dan memelihara harta iman.
Mari kita gali tiga pesan utama
dari sabda Tuhan hari ini.
1. Kerajaan Surga: Harta yang
Tak Ternilai
Yesus berkata, “Hal
Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan
orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya, pergilah ia menjual
seluruh miliknya lalu membeli ladang itu” (Mat 13:44).
Perumpamaan ini mengajarkan
bahwa Kerajaan Allah adalah realitas yang sangat berharga, melebihi
segala sesuatu yang kita miliki di dunia ini. Namun, harta ini tidak tergeletak
begitu saja; ia tersembunyi. Kita perlu mencarinya, dan ketika menemukannya,
responnya adalah sukacita yang luar biasa. Sukacita inilah yang
menggerakkan orang tersebut untuk mengambil keputusan radikal: menjual seluruh
miliknya.
Apa yang dimaksud dengan “menjual
seluruh miliknya”? Ini bukan berarti kita harus menjadi miskin secara materi,
melainkan melepaskan segala keterikatan hati yang menghalangi kita
untuk mengasihi Tuhan sepenuhnya. Bapa Suci Paus Fransiskus mengingatkan
kita bahwa membangun Kerajaan Allah membutuhkan “keberanian untuk
mempertaruhkan segalanya” dan melepaskan “beban berat dari
jaminan-jaminan duniawi kita”, seperti ketamakan akan harta, haus akan
kekuasaan, dan sikap egois. Kita dipanggil untuk memiliki “kegelisahan yang
sehat” untuk mencari Kerajaan Surga, bukan menetap pada gemerlap duniawi yang
semu.
2. Mutiara yang Sangat
Berharga: Keputusan Definitif
“Demikian pula hal Kerajaan
Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah
ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya
lalu membeli mutiara itu” (Mat 13:45-46).
Perumpamaan kedua ini menekankan
aspek pencarian. Pedagang itu aktif mencari mutiara
yang indah. Ini menggambarkan orang yang sungguh-sungguh mencari makna hidup
dan kebenaran. Ketika ia menemukan mutiara yang tak ternilai, ia tidak
menunda-nunda; ia bertindak cepat dan tegas, menjual segala yang dimilikinya.
Ini mengajarkan kita bahwa mengikuti
Kristus adalah sebuah keputusan definitif. Dengan kata lain, Yesus sendiri
adalah harta dan mutiara itu. Hidup kita sebagai orang Kristen bukanlah sekadar
status atau kebiasaan, melainkan hubungan pribadi dengan Yesus.
Karena Dialah “garansi/ asuransi hidup kita” yang sejati, yang
membebaskan kita dari belenggu kematian dan memberikan kita hidup kekal. Sejauh
mana kita memelihara hubungan dengan Yesus sebagai milik paling berharga?
Ataukah kita membiarkan Dia “terjual” oleh prioritas-prioritas duniawi yang
sementara? .
3. Jala dan Pemisahan:
Tanggung Jawab dan Kesetiaan
“Demikian pula hal Kerajaan
Sorga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut, lalu mengumpulkan
berbagai-bagai jenis ikan” (Mat 13:47).
Perumpamaan terakhir mengingatkan
kita bahwa Gereja di dunia ini bagaikan sebuah jala besar yang menangkap semua
jenis ikan, baik dan buruk. Ini adalah gambaran realistis: di dalam Gereja pun,
ada orang benar dan orang jahat, gandum dan lalang. Pemisahan akan terjadi
pada akhir zaman oleh malaikat-malaikat Tuhan.
Namun, pesan ini bukan untuk
membuat kita menghakimi orang lain. Sebaliknya, ini adalah seruan untuk
introspeksi diri. Apakah kita termasuk “ikan baik” atau “ikan busuk”? Pada
Hari Orangtua Sedunia, perumpamaan ini mengingatkan kita akan peran penting
para orangtua dan kakek-nenek dalam “memperbaiki jala” iman dalam keluarga.
Seperti Santo Yoakim dan Santa Anna yang mendidik Maria dalam iman, merekalah
yang pertama-tama mewariskan dan memilah nilai-nilai Kerajaan Allah bagi
generasi penerus.
Penutup dan Aplikasi
Saudara-saudari terkasih, Yesus
mengakhiri perumpamaan ini dengan berkata, “Setiap ahli Taurat yang
menjadi murid Kerajaan Sorga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan dari
perbendaharaannya hal-hal yang baru dan yang lama” (Mat 13:52).
Ini adalah panggilan untuk kita
semua. Sebagai murid Kristus, kita dipanggil untuk menjadi pengelola
yang bijaksana. Kita harus mampu mengeluarkan “hal-hal baru” (semangat,
kreativitas, dan keterbukaan terhadap karya Roh Kudus) dan “hal-hal lama”
(tradisi iman, ajaran Gereja, dan kearifan para kudus) dari perbendaharaan hati
kita. Kreativitas cinta kasih inilah yang membawa kehidupan bagi sesama.
Marilah kita meneladani Santo
Yoakim dan Santa Anna, serta para kakek-nenek kita yang telah setia. Mari kita
bertanya pada diri sendiri: Apa “harta terpendam” dan “mutiara
berharga” yang paling saya kejar dalam hidup ini? Jika itu adalah
Yesus dan Kerajaan-Nya, maka sukacita sejati akan memenuhi
hati kita, dan kita pun akan rela melakukan apa pun demi mempertahankan dan
menghidupi iman itu.
Semoga Bunda Maria, Ratu Para
Kudus, yang diajar oleh orangtuanya untuk mencintai Tuhan, membimbing kita
setiap hari untuk mencari harta Kerajaan Surga.
Tuhan memberkati kita semua.
Amin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar