Kamis, 04 Juni 2026

MENGASIHI TANPA BATAS

Renungan

Kamis, 4 Juni 2026

 

HUKUM YANG UTAMA: MENGASIHI TANPA BATAS

Markus 12:28b-34

 

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Seorang ahli Taurat mendekati Yesus dan mengajukan pertanyaan yang sederhana namun sangat mendasar: “Hukum manakah yang paling utama?” Pertanyaan itu bukanlah jebakan, melainkan ungkapan kerinduan hati yang tulus untuk memahami inti iman.

Yesus menjawab dengan tegas dan jelas: kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Kedua hukum ini tidak dapat dipisahkan, bagaikan dua sisi dari mata uang yang sama.

Bayangkan seorang ibu yang pulang kerja setelah seharian penuh lelah dan pusing. Ia hanya ingin beristirahat. Namun begitu membuka pintu rumah, anak-anaknya langsung menyambutnya dengan riuh gembira. Ada yang minta ditemani belajar, ada yang sedang sakit, dan suaminya pun ingin berbagi cerita hariannya.

Pada awalnya, ibu itu merasa ingin marah. Tenaganya sudah habis. Namun dalam diam, ia berdoa singkat: “Tuhan, aku lelah. Aku tidak punya kekuatan lagi. Tapi aku ingin mengasihi-Mu melalui mereka. Pinjamkanlah hati-Mu kepadaku.”

Ajaibnya, setelah berdoa, ibu itu mendapati dirinya tersenyum. Ia memeluk anak yang demam, membantu pekerjaan rumah, dan tetap mendengarkan suaminya dengan sabar. Ia mengasihi Tuhan dengan segenap kekuatannya—meski saat itu kekuatannya tinggal sedikit. Dan justru kasih yang dipersembahkan dalam kelemahan itulah yang sangat berkenan di hadapan Allah. Ia juga mengasihi sesamanya (keluarganya) seperti dirinya sendiri—merawat mereka seperti ia sendiri ingin dirawat ketika lelah.

Tiga Kebenaran Penting:

  1. Kasih kepada Allah adalah sumber segalanya. Bukan sekadar perasaan, melainkan penyerahan total: dengan segenap hati (perasaan), jiwa (identitas terdalam), akal budi (pikiran), dan kekuatan (tindakan). Mengasihi Allah berarti menjadikan-Nya pusat kehidupan, bukan hanya sosok yang ditemui di gereja setiap Minggu.
  2. Kasih kepada sesama adalah bukti nyata. Yesus dengan bijaksana menggabungkan kedua hukum ini. Mustahil mengaku mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan jika membenci saudara yang kelihatan (1 Yohanes 4:20). Sesama manusia adalah cermin di mana kasih kita kepada Allah diuji dan dinyatakan secara nyata.
  3. Kasih lebih utama daripada kurban. Ahli Taurat itu memahami dan menyetujui bahwa kasih jauh lebih penting daripada segala kurban bakaran. Ini adalah pengertian yang revolusioner. Bukan berarti ibadah dan kurban tidak penting, tetapi tanpa kasih, semua ritual menjadi kosong. Seperti seorang suami yang memberi hadiah mahal kepada istrinya, tetapi tidak pernah mendengarkan isi hatinya—hadiah itu kehilangan maknanya.

Aplikasi Praktis:

  1. Pagi hari, sebelum memulai aktivitas, tanyakan pada diri sendiri: “Apakah hari ini aku akan mengasihi Tuhan dengan segenap hatiku?” Tawarkan setiap pekerjaan, pertemuan, bahkan kemacetan sebagai bentuk kasih kepada-Nya.
  2. Sepanjang hari, ketika bertemu dengan orang yang mengganggu atau menyusahkan (rekan kerja, tetangga, atau anggota keluarga), ingatlah bahwa ia adalah “sesama” yang harus kita kasihi seperti diri sendiri. Lakukan satu tindakan kecil: tersenyum, mendengarkan dengan penuh perhatian, atau menolong tanpa mengharapkan balasan.
  3. Malam hari sebelum tidur, lakukan evaluasi singkat: “Apakah kasih kepada Allah dan sesama menjadi hukum utama dalam hidupku hari ini?” Jika gagal, jangan berkecil hati. Allah tidak menuntut kesempurnaan, tetapi kerelaan hati untuk terus belajar mengasihi.

Yesus berkata kepada ahli Taurat itu, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah.” Saudara-saudari, pintu Kerajaan Allah terbuka lebar bagi setiap orang yang menjadikan kasih sebagai hukum utama hidupnya. Bukan karena hebatnya kasih kita, tetapi karena kita mengizinkan Allah—yang adalah Kasih itu sendiri—bekerja di dalam diri kita.

Marilah kita jalani hari ini dengan satu tekad teguh: “Tuhan, aku ingin mengasihi-Mu lebih dalam, dan mengasihi sesamaku lebih nyata.”

Amin.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

 

Rabu, 03 Juni 2026

Allah Bukanlah Allah Orang Mati, Melainkan Allah Orang Hidup

Renungan

Rabu, 3 Juni 2026

 

Allah Bukanlah Allah Orang Mati,
Melainkan Allah Orang Hidup

 Markus 12:18-27

 

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,

Hari ini kita mendengar sebuah kisah yang unik. Kaum Saduki—yang pada zaman Yesus dikenal tidak percaya akan kebangkitan orang mati—datang kepada Yesus dengan sebuah cerita yang sengaja dibuat rumit. Mereka berkata, "Ada tujuh bersaudara. Yang pertama mati tanpa anak, lalu istrinya dinikahi oleh adiknya. Demikian seterusnya hingga ketujuh saudara itu mati tanpa meninggalkan keturunan. Akhirnya, perempuan itu pun mati. Nanti di surga, dia menjadi istri siapa?"

Pertanyaan ini bukan lahir dari iman, melainkan dari akal budi yang sombong. Mereka ingin menjebak Yesus dengan logika duniawi. Namun, Tuhan tidak jatuh ke dalam perangkap itu. Sebaliknya, Dia membuka tabir tentang hakikat kebangkitan.

Sebuah Ilustrasi Sederhana

Suatu hari, Andi melihat boneka kesayangannya rusak parah. Tangannya putus, bajunya sobek, dan matanya copot. Andi menangis tersedu-sedu, "Bonekaku sudah mati!" Ayahnya tersenyum lalu berkata, "Anakku, boneka itu bukan mati. Boneka itu hanya rusak, karena boneka tidak memiliki hidup. Tetapi kamu, Andi, kamu punya jiwa. Tubuhmu boleh sakit, boleh tua, bahkan hancur, tapi jiwamu tetap hidup. Sebab Allah menciptakanmu bukan hanya dari debu, tetapi juga dari nafas kehidupan-Nya."

Saudara-saudari, kaum Saduki seperti Andi yang mengira bahwa hidup hanya terbatas pada hal-hal yang fisik. Mereka mengukur segala sesuatu dengan logika manusia. Tetapi Yesus menegaskan, "Kamu sesat, justru karena kamu tidak memahami Kitab Suci maupun kuasa Allah" (Markus 12:24).

Yesus menunjukkan dua kesalahan fatal kaum Saduki:

  1. Tidak memahami Kitab Suci — Mereka lupa bahwa Allah menyatakan diri-Nya kepada Musa di semak yang menyala: "Akulah Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub." Ketika Allah mengucapkan kata "Akulah" (bukan "Aku dulu"), itu menunjukkan bahwa Abraham, Ishak, dan Yakub masih hidup di hadapan Allah. Kematian hanyalah perubahan status, bukan akhir segalanya.
  2. Tidak memahami kuasa Allah — Mereka mengira surga sama seperti dunia: penuh dengan pernikahan, kepemilikan, dan status sosial. Padahal setelah kebangkitan, "orang tidak lagi kawin dan dikawinkan, melainkan hidup seperti malaikat di surga." Artinya, kebahagiaan surgawi jauh melampaui logika perkawinan duniawi.

Ilustrasi Lain: Rio si Ikan Kecil

Bayangkan seekor ikan kecil bernama Rio yang hidup di dalam akuarium. Suatu hari Rio bertanya kepada ibunya, "Bu, di luar akuarium ini ada apa?" Sang ibu menjawab, "Ada dunia yang sangat luas, dengan matahari, pohon, burung, dan angin." Rio bingung, "Mana mungkin? Kalau ada matahari, pasti airku akan menguap! Kalau ada angin, pasti gelombangku akan hancur!"

Rio hanya mengukur realitas dari pengalamannya di dalam air. Ia tidak bisa membayangkan kehidupan di luar akuarium.

Saudara-saudari, kita sering kali seperti Rio. Kita mengukur surga dengan logika dunia: "Siapa yang akan menjadi suami siapa?" "Kalau tidak menikah, bagaimana mungkin bahagia?" "Kalau tubuh sudah mati, bagaimana mungkin hidup lagi?"

Namun Yesus berkata, "Bukankah kamu telah membaca dalam kitab Musa, tentang semak duri?" (Markus 12:26). Allah tidak terbatas pada 'akuarium' dunia kita. Kuasa-Nya mampu membangkitkan yang mati, dan kebahagiaan surga melampaui segala bayangan kita.

Aplikasi Hidup

Saudara-saudari, pada hari ini Yesus ingin meneguhkan iman kita:

  1. Jangan takut pada kematian. Kematian bukanlah akhir, melainkan pintu menuju kehidupan sejati bersama Allah. Doakanlah saudara-saudari kita yang telah meninggal, karena mereka hidup dalam Tuhan.
  2. Hidup di dunia ini dipersiapkan untuk kekekalan. Jangan terlalu terikat pada harta, status, atau hubungan duniawi yang bersifat sementara. Yang abadi adalah kasih, kebenaran, dan kesucian.
  3. Percayalah pada kuasa Allah, bukan pada logika sempit kita. Mungkin kita tidak bisa menjelaskan secara tuntas bagaimana kebangkitan terjadi, tetapi kita percaya kepada Yesus yang telah bangkit dari antara orang mati. Dialah jaminan kebangkitan kita.

Pertanyaan Reflektif

Mari kita akhiri renungan ini dengan sebuah pertanyaan untuk direnungkan: Apakah aku sungguh percaya bahwa Allahku adalah Allah orang hidup? Ataukah diam-diam aku hidup seperti orang Saduki, mengimani Tuhan tetapi meragukan kuasa-Nya atas kematian?

Marilah kita belajar dari semak duri yang menyala tetapi tidak habis: Allah hadir di tengah keterbatasan kita, dan Dia sanggup memberi hidup kekal. "Bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Kamu benar-benar sesat!" (Markus 12:27)

Tetaplah beriman, berharaplah dalam kebangkitan, dan hiduplah sebagai anak-anak terang.

Amin.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Selasa, 02 Juni 2026

Kewajiban Kepada Tuhan dan Negara: Antara Koin dan Hati

Renungan

Selasa, 2 Juni 2026


Kewajiban Kepada Tuhan dan Negara: Antara Koin dan Hati

Markus 12:13-17

 

Saudara-saudari yang dikasihi Kristus,

Kisah dalam Injil Markus hari ini sangat khas: Yesus dihadapkan pada pertanyaan jebakan. Musuh-musuh-Nya datang dengan wajah manis, memuji Dia sebagai guru yang jujur dan tidak pandang bulu. Namun, di balik pujian itu, tersembunyi jerat. Jika Yesus berkata, "Harus bayar pajak," Dia dianggap menjilat penjajah Romawi dan mengkhianati semangat nasionalisme Yahudi. Sebaliknya, jika Yesus berkata, "Jangan bayar pajak," Dia dapat ditangkap karena dianggap menghasut melawan Kaisar.

Namun, Yesus tidak terjebak. Dia meminta sekeping dinar—koin perak Romawi yang saat itu digunakan untuk membayar pajak. Pada koin itu terukir gambar Kaisar Tiberius dan tulisan yang menyatakan dirinya sebagai "putra dewa" dan "imam besar." Yesus kemudian mengucapkan kalimat yang menjadi klasik: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."

Pesan Yesus sangat dalam. Pertama, Dia mengakui bahwa ada otoritas duniawi (negara/pemerintah) yang sah. Umat Kristen tidak hidup di alam khayal. Kita tinggal dalam masyarakat, menikmati fasilitas dan perlindungan negara. Karena itu, kita memiliki kewajiban membayar pajak, menaati hukum yang adil, dan berpartisipasi membangun kebaikan bersama. Itulah "milik Kaisar."

Tetapi Yesus segera melompat pada satu poin yang jauh lebih besar: "Berikanlah kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah." Apa yang wajib kita berikan kepada Allah? Bukan uang atau koin, karena gambar Allah tidak tercetak pada logam. Gambar Allah justru tercetak pada diri kita sendiri. Kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:26). Maka yang wajib kita berikan kepada Tuhan adalah seluruh hidup kita, hati kita, dan ketaatan mutlak kita.

Dengan kata lain, koin memiliki gambar Kaisar, maka serahkan kepada Kaisar. Tetapi hati dan jiwa manusia memiliki gambar Allah, maka serahkan itu seluruhnya kepada Allah.

Ilustrasi:

Seorang manajer keuangan di sebuah perusahaan besar sedang diperiksa oleh tim audit dari kantor pusat. Mereka memeriksa setiap transaksi, setiap uang masuk dan keluar. Sang manajer tampak tenang karena semua laporannya rapi. Namun, di tengah pemeriksaan, seorang auditor senior bertanya, "Pak, laporan keuangan perusahaan memang sangat rapi. Tetapi kami ingin tahu: bagaimana dengan laporan keuangan pribadi Bapak? Apakah pajak pribadi Bapak sudah dibayar? Apakah Bapak tidak pernah menggunakan uang perusahaan untuk kepentingan pribadi?"

Sang manajer terkejut. Ia memang sangat rapi dalam mengelola uang kantor, tetapi selama bertahun-tahun ia lupa melaporkan sebagian penghasilan sampingannya kepada negara. Lebih parah lagi, ia diam-diam menggunakan mobil dinas untuk bisnis pribadi. Akhirnya, ia ketahuan dan harus menghadapi konsekuensi hukum.

Cerita ini mengajarkan bahwa ada dua "mata uang" yang perlu kita kelola dengan jujur: mata uang untuk negara (pajak dan kewajiban sipil) dan mata uang untuk hati nurani di hadapan Tuhan. Yesus tidak mengajarkan kita untuk memisahkan secara kaku antara urusan dunia dan surga. Sebaliknya, Dia mengingatkan bahwa ketika kita setia dalam hal-hal kecil (seperti membayar pajak), sesungguhnya kita juga sedang melatih kesetiaan kita kepada Allah.

Namun, ada satu pertanyaan yang lebih menggelitik: Apakah kita juga rela menyerahkan hidup kita seutuhnya kepada Tuhan, seperti kita rela membayar pajak kepada negara?

Kita sering kali sangat teliti membayar pajak agar tidak kena denda, tetapi sangat lalai memberikan persepuluhan waktu, doa, perhatian kepada keluarga, dan kerelaan melayani. Kita sangat takut salah lapor SPT kepada negara, tetapi tidak takut salah lapor dalam "Surat Pertanggungjawaban Hati" kepada Tuhan.

Karena itu, dalam kewajiban sebagai warga negara:
Marilah kita memeriksa diri, apakah kita sudah jujur dalam membayar pajak, menaati peraturan lalu lintas, membuang sampah pada tempatnya, dan menggunakan hak pilih dalam pemilu. Semua ini adalah "memberi kepada Kaisar."

Dalam kewajiban sebagai anak Allah:
Setiap hari, sadarilah bahwa gambar Allah ada dalam diri kita dan dalam setiap orang lain. Berikanlah kepada Tuhan apa yang menjadi milik-Nya: rasa syukur, ketaatan pada perintah-Nya, kasih tanpa syarat, dan hidup yang kudus. Jangan berikan hati Anda kepada Kaisar (harta, kuasa, prestasi) seolah-olah itu milik Kaisar.

Kita juga perlu bersikap kritis terhadap kekuasaan:
Yesus mengajarkan kita untuk tidak takut pada kekuasaan duniawi yang berlebihan, tetapi juga tidak memberontak secara kacau. Kebijaksanaan Yesus justru membebaskan: dengan membedakan mana hak Kaisar dan mana hak Allah, kita tidak akan pernah terjebak dalam penyembahan berhala kepada negara maupun kepada uang.

Selamat beraktivitas dalam kasih Kristus. Jangan lupa: Jujurlah kepada Kaisar, tetapi kuduskanlah hidup bagi Allah.


Sorang Tumanggor, S.Ag
Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

Selasa, 26 Mei 2026

MELEPASKAN YANG KECIL UNTUK MENERIMA YANG BESAR

Renungan

Selasa, 26 Mei 2026

 

MELEPASKAN YANG KECIL UNTUK MENERIMA YANG BESAR

Markus 10:28-31

 

Pernahkah Anda menggenggam sesuatu begitu erat karena takut kehilangan, padahal di depan mata ada berkat jauh lebih besar yang sedang menanti?

Petrus mungkin merasa seperti itu. Ia adalah murid yang lugu dan blak-blakan. Ketika Yesus mengatakan betapa sulitnya orang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah, Petrus segera berkata dengan jujur, "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Engkau!" (Mrk 10:28). Ucapan itu bukanlah kesombongan. Itu adalah jeritan hati seorang murid yang telah "all out" mengikuti Tuhannya.

Yesus tidak memarahi Petrus. Justru sebaliknya, Ia merespons dengan sebuah janji yang luar biasa.

Coba bayangkan seorang anak kecil yang menggenggam erat sekeping uang logam di tangannya. Ia sangat menyayangi koin itu. Lalu ayahnya datang dan berkata, "Anakku, buka tanganmu. Aku akan memberimu seratus kali lipat." Anak itu ragu. Tangannya justru semakin erat. Namun suatu saat, karena percaya, ia pun membuka tangannya. Koin kecil itu jatuh, dan ayahnya meletakkan seratus koin emas di telapak tangannya. Anak itu menangis haru. Barulah ia mengerti: melepaskan yang kecil untuk menerima yang jauh lebih besar.

Demikianlah Tuhan bekerja dalam hidup kita. Ia meminta kita melepaskan, bukan karena Ia kejam, melainkan karena Ia ingin memberi kita berkat yang jauh lebih besar—bukan sekadar harta duniawi, tetapi kelimpahan kasih, keluarga rohani, sukacita sejati, dan akhirnya hidup kekal.

Perikop ini adalah kelanjutan dari pertemuan Yesus dengan orang kaya yang gagal melepaskan hartanya (Mrk 10:17-27). Petrus mewakili para rasul yang sungguh-sungguh telah meninggalkan segala sesuatu demi Yesus. Maka Yesus menjawab dengan janji yang indah sekaligus realistis:

"Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, setiap orang yang telah meninggalkan rumah, saudara-saudara, saudari-saudari, ibu, bapa, anak-anak, atau ladang karena Aku dan karena Injil, akan menerima seratus kali lipat sekarang ini—rumah, saudara-saudara, ibu, anak-anak, dan ladang, sekalipun disertai penganiayaan—dan pada zaman yang akan datang: hidup kekal." (Mrk 10:29-30)

 

Tiga Makna Mendalam dari Janji Ini

  1. "Meninggalkan segala sesuatu" bukan berarti membenci keluarga atau harta. Ini soal meletakkan Allah di atas segalanya. Inilah kemiskinan rohani: melepaskan keterikatan berlebihan pada hal duniawi agar hati bebas mengikuti Tuhan.
  2. "Seratus kali lipat, sekalipun disertai penganiayaan" menunjukkan bahwa janji Tuhan bukanlah kemakmuran tanpa salib. Kita akan menerima kelimpahan rohani: komunitas iman sebagai keluarga baru, damai sejahtera, sukacita, dan penyertaan Allah—meski tantangan dan penganiayaan karena Injil tetap ada.
  3. "Hidup yang kekal" adalah tujuan utama. Kerajaan Allah sudah dimulai di bumi, tetapi akan digenapi sepenuhnya di surga.
  4. "Yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu" adalah peringatan sekaligus penghiburan. Di Kerajaan Allah, ukuran dunia dibalik. Yang penting bukanlah status, kekayaan, atau lamanya pengalaman rohani, melainkan kerendahan hati dan kesetiaan.

 

Teladan Nyata: Santo Antonius Abbot (251–356)

Ada seorang pemuda kaya dari Mesir. Ia mendengar panggilan Injil: "Juallah segala milikmu dan berikanlah kepada orang miskin" (Mat 19:21). Ia menjual seluruh hartanya, meninggalkan keluarga, dan hidup sebagai pertapa di padang gurun. Ia menghadapi godaan berat, kesepian, dan penganiayaan rohani. Namun, justru di tengah pengasingan itulah ia menerima "seratus kali lipat": ribuan orang datang berguru kepadanya. Ia menjadi Bapa Monastisisme Kristen. Ia memperoleh sukacita surgawi yang melimpah serta keluarga rohani yang luas. Kisah Antonius membuktikan: melepaskan dunia bukanlah kehilangan, melainkan investasi terbaik untuk Kerajaan Allah.

 

Pesan Praktis untuk Kita Hari Ini

Tuhan memanggil kita untuk melepaskan yang kecil agar dapat menerima yang besar. Mari kita terapkan dalam hidup sehari-hari:

  • Periksa prioritas hati. Apakah ada "harta" seperti pekerjaan, uang, pasangan, anak, reputasi, atau ambisi yang kita pegang terlalu erat sehingga menghalangi ketaatan kita kepada Tuhan? Melepaskan bukan berarti membuang, tetapi tidak menjadikannya berhala.
  • Bersiaplah menghadapi salib. Jangan kecewa bila mengikut Tuhan malah mendatangkan tantangan atau "penganiayaan kecil" (ejekan, kerugian, tekanan, atau kesulitan). Itu adalah bagian dari janji-Nya. Di tengah kesulitan itulah kasih karunia bekerja nyata.
  • Hidup dalam kerendahan hati. Jangan merasa lebih rohani hanya karena sudah lama beriman atau sudah banyak berkorban. Sambutlah orang baru, yang lemah, dan yang dianggap "terakhir" di mata dunia—karena di Kerajaan Allah, mereka bisa menjadi yang terdahulu.
  • Bangun keluarga rohani. Gereja, kelompok doa, dan komunitas iman adalah "seratus kali lipat" yang dijanjikan Yesus. Jangan mengasingkan diri. Bangunlah relasi yang saling menguatkan.
  • Latihlah kemiskinan rohani setiap hari: melalui sedekah, puasa dari gengsi, kesederhanaan, dan kerelaan berbagi.

 

Renungan Akhir

Apa yang paling Anda takut kehilangan selain Allah? Itulah yang perlu dilepaskan.

Melepaskan bukan akhir. Ini adalah awal dari berkat yang jauh lebih besar.

Biarlah kita berani membuka tangan kita hari ini, agar Tuhan dapat memenuhinya dengan kelimpahan rohani-Nya.

Amin.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

 

Senin, 25 Mei 2026

Pulang ke Kaki Salib

Renungan

Senin, 25 Mei 2026

PULANG KE KAKI SALIB

Yohanes 19:25-34

 

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Di tengah hiruk-pikuk dunia yang serba cepat, kita kerap melupa: cinta sejati tak pernah mudah. Cinta sejati selalu mengandung salib. Namun di balik salib itu, ada kehidupan, ada kelahiran, dan ada rahmat yang melimpah.

Injil Yohanes hari ini membawa kita berdiri tepat di kaki Golgota. Di sanalah—di saat paling gelap dalam sejarah keselamatan—Yesus justru memancarkan terang cinta-Nya yang paling terang. Mari kita renungkan tiga titik penting dari perikop ini: Perempuan di Kaki Salib, Pesan dari Salib, dan Hati yang Tertikam.

1. Perempuan di Kaki Salib: Kesetiaan dalam Kesunyian

Yohanes mencatat: "Dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya…" (Yoh 19:25).

Bayangkan: semua murid laki-laki melarikan diri, takut ditangkap. Namun Maria, bersama beberapa perempuan lain, tetap tegak berdiri. Mereka tak bisa berbuat banyak. Mereka tak bisa melepaskan Yesus dari paku-paku itu. Mereka hanya bisa hadir.

Seperti seorang ibu di rumah sakit, di sisi anaknya yang koma akibat penyakit parah. Para tetangga datang membawa makanan, ada yang sibuk menelepon mencari dokter terbaik. Tapi ibu itu hanya duduk di kursi plastik di samping ranjang, menggenggam tangan dingin anaknya. Ia tak bisa menyembuhkan, tetapi kehadirannya adalah doa yang paling kuat. Itulah cinta yang tak lari saat badai datang.

Maria tidak lari. Ia tidak menggurui Yesus. Ia hanya berdiri. Dan itulah panggilan kita: menjadi pribadi yang setia hadir bagi mereka yang menderita, meski tanpa solusi instan.

2. Pesan dari Salib: "Inilah Ibumu, Inilah Anakmu"

Dari atas salib, Yesus berkata kepada Maria: "Ibu, inilah anakmu!" Dan kepada Yohanes: "Inilah ibumu!"

Yesus tidak sedang mengatur urusan keluarga biasa. Ia sedang melahirkan Gereja. Sejak saat itu, Maria menjadi Bunda bagi semua orang percaya. Dan kita, seperti Yohanes, dipanggil untuk membawa Maria ke dalam "rumah" kita—ke dalam kehidupan iman sehari-hari.

Yesus mengajarkan: dalam penderitaan, jangan biarkan kesedihan memisahkan kita. Sebaliknya, biarkan penderitaan menciptakan ikatan baru. Di kaki salib, tak ada lagi "aku" dan "mereka"; yang ada hanyalah "kita".

Bayangkan sebuah keluarga yang hancur karena perceraian. Anak-anak merasa terpecah. Namun ketika sang ibu jatuh sakit parah, semua anak yang dulu bermusuhan itu kembali berkumpul di ruang tunggu rumah sakit. Mereka lupa dendam. Mereka hanya tahu: "Dia ibu kita. Kita harus bersatu." Penderitaan justru menyatukan mereka kembali.

Salib adalah tempat rekonsiliasi. Jika kita membiarkan hati terbuka, penderitaan bisa menjadi rahim yang melahirkan persaudaraan sejati.

3. Hati yang Tertikam: Darah dan Air, Sakramen Gereja

Setelah Yesus wafat, seorang prajurit menikam lambung-Nya. "Segera mengalir keluar darah dan air." (Yoh 19:34)

Para Bapa Gereja melihat di sini simbol kelahiran Sakramen: Air adalah lambang Baptisan yang menyucikan; Darah adalah lambang Ekaristi yang memberi hidup.

Hati Yesus yang terbuka adalah sumber rahmat yang tak pernah kering. Air dan darah mengalir bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menyembuhkan.

Di masa perang, ada seorang tentara yang tertembak di dadanya. Rekan-rekannya panik, tetapi seorang suster membalut lukanya dengan lembut. Darah terus mengalir, namun suster itu berkata: "Jangan takut. Darah ini tanda dia masih hidup. Selama jantungnya masih memompa darah, ada harapan." Dan tentara itu selamat.

Saudara-saudari, luka di hati Yesus tidak menunjukkan kekalahan, melainkan sumber hidup. Setiap kali kita mendekati Ekaristi atau menerima Sakramen, kita seperti membasuh tangan di aliran darah dan air yang keluar dari hati Kristus. Di situlah dosa diampuni, luka batin disembuhkan, dan hati yang mati dihidupkan kembali.

Pulang ke Kaki Salib

Mari pulang ke kaki salib setiap hari. Bukan untuk meratapi kematian, tetapi untuk belajar dari:

  • Maria — untuk setia hadir bagi yang menderita.
  • Yesus — untuk mengubah penderitaan menjadi ikatan kasih.
  • Hati yang tertikam — untuk selalu kembali ke sumber rahmat, yaitu Sakramen.

Ketika dunia mendorong kita lari dari sakit, salib justru mengajar kita berhenti dan bertahan. Karena di situlah—di saat segala sesuatu tampak "selesai"—Allah justru memulai sesuatu yang baru.

Pertanyaan renungan untuk kita:

  • Siapa orang yang sedang menderita di sekitarku saat ini, yang bisa aku "dekati" tanpa syarat?
  • Sudahkah aku membawa Maria—doa dan iman—ke dalam "rumahku" setiap hari?
  • Kapan terakhir kali aku benar-benar bersyukur atas Ekaristi dan Sakramen Tobat sebagai aliran darah dan air dari Hati Yesus?

Amin.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik

Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

Kamis, 21 Mei 2026

SATU DALAM KASIH, BERSAKSI UNTUK DUNIA

Renungan

Kamis, 21 Mei 2026

SATU DALAM KASIH, BERSAKSI UNTUK DUNIA

Yohanes 17:20-26





Salam sejahtera untuk kita semua, saudara-saudari seiman yang dikasihi Kristus.

Pada hari ini, kita mendengarkan sebuah bagian yang sangat istimewa dari Injil Yohanes, yaitu bagian akhir dari Doa Imam Agung Yesus. Doa ini diucapkan saat Yesus sudah berada di ambang sengsara-Nya. Ia tidak berdoa untuk diri-Nya sendiri, bukan pula hanya untuk murid-murid yang saat itu bersama-Nya, tetapi juga untuk kita semua, yaitu "semua orang yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka." Yesus telah merangkul kita dalam doa yang sama, 2.000 tahun lalu. Mari kita renungkan tiga hal penting dari bacaan ini.

1. Doa untuk Kesatuan

Yesus berdoa: "Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau" (ayat 21-22).

Saudara-saudari, kita hidup berdampingan dengan saudara-saudari Muslim, Kristen Protestan, Hindu, dan Buddha. Sering kali perbedaan ini menjadi sekat. Namun, dalam doa Yesus, kesatuan bukanlah keseragaman. Kesatuan yang diminta Yesus adalah kesatuan komuni—seperti hubungan antara Bapa dan Putra. Meskipun berbeda pribadi dan peran, dalam kasih mereka tetap satu. Sebagai umat Katolik, kita dipanggil untuk menjadi saksi kesatuan ini. Jangan biarkan perbedaan suku atau status sosial memecah belah kita di dalam gereja. Lebih jauh lagi, kesatuan ini menjadi dasar bagi kita untuk membangun dialog dan kerukunan antarumat beragama di Indonesia.

2. Alasan Kesatuan: Supaya Dunia Percaya

Yesus begitu serius mendoakan kesatuan kita bukan hanya supaya kita nyaman bersama, melainkan karena ada misi besar: "Supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku" (ayat 21b, 23b).

Kita sering mendengar desas-desus tentang konflik agama, isu SARA, dan persaingan politik yang memecah belah. Di tengah situasi seperti ini, jika umat Katolik tetap bersatu dalam kasih, saling mengampuni, dan bekerja sama dalam pelayanan sosial—mengunjungi yang sakit, memberi makan yang lapar, membantu korban banjir—maka dunia akan bertanya, "Apa yang membuat mereka bersatu?" Jawabannya adalah Kristus. Kesatuan kita adalah bukti paling kuat bahwa Yesus benar-benar datang dari Bapa. Jangan pernah meremehkan dampak dari tawuran antar kelompok paroki, perpecahan dalam lingkungan, atau gosip yang merusak persaudaraan. Semua itu adalah batu sandungan bagi iman orang lain.

3. Kerinduan untuk Tinggal dalam Kasih dan Kemuliaan

Yesus berdoa: "Aku menginginkan supaya mereka, di mana pun Aku berada, mereka juga bersama-sama dengan Aku" (ayat 24-26).

Kita semua merindukan surga. Namun, Yesus menghendaki agar kita merasakan "surga" itu sudah mulai sekarang, yaitu ketika kita tinggal di dalam kasih-Nya. Di akhir doa ini, Yesus menjanjikan sesuatu yang luar biasa: "Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka... supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka." Di tengah kerasnya hidup di kota—kemacetan, tekanan ekonomi, biaya hidup yang tinggi, tantangan dalam keluarga—kita tidak sendirian. Kristus tinggal di dalam kita, dan Bapa mengasihi kita sama seperti Ia mengasihi Putra-Nya. Inilah martabat yang luar biasa.

Ilustrasi "Tali Tiga Utas"

Saudara-saudari yang dikasihi Kristus, izinkan saya membawa sebuah ilustrasi sederhana tentang tali. Para nelayan tidak sembarangan membuat tambang untuk kapal mereka. Mereka mengambil tiga utas tali kecil. Satu utas rapuh, mudah putus terkena ombak kecil. Tali kedua pun demikian. Namun, ketika tiga utas itu dipilin menjadi satu, mereka membentuk tambang yang sangat kuat, mampu menahan badai dan ombak besar.

  • Utas pertama: Persatuan kita dengan Kristus melalui doa dan Ekaristi.
  • Utas kedua: Persatuan dengan sesama umat beriman di paroki.
  • Utas ketiga: Persatuan dengan seluruh Gereja, termasuk yang berbeda ritus, bahasa, atau status sosial.

Yesus berdoa agar utas-utas ini bukan hanya sejajar, tetapi dipilin oleh kasih Tritunggal. Dunia tidak akan percaya pada khotbah yang hebat, tetapi dunia akan percaya jika melihat kita—umat Katolik—tetap bersatu meski berbeda pendapat, tetap saling mengasihi meski berbeda latar belakang.

Kesatuan yang Yesus doakan bukan berarti semua orang harus sama persis. Bapa dan Putra berbeda pribadi, namun sempurna satu dalam kasih. Demikian pula di keluarga, paroki, dan lingkungan: kita boleh berbeda karisma, pandangan, dan cara, tetapi hati kita harus satu dalam Kristus. Jangan sampai perbedaan kecil seperti cara bernyanyi, devosi, atau bahasa memecah belah kita.

Yesus berkata: "Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan yang Engkau berikan kepada-Ku" (ayat 22). Kemuliaan itu adalah kasih itu sendiri. Ketika kita mengasihi musuh, memaafkan yang bersalah, dan merangkul yang terpinggir, kita sedang memancarkan kemuliaan Allah. Di situlah dunia bertanya: "Lihatlah, bagaimana mereka saling mengasihi! Pasti Allah ada di tengah mereka."

Yesus mengakhiri doa-Nya: "Aku memberitahukan nama-Mu kepada mereka" (ayat 26). Kesatuan sejati hanya mungkin jika kita bersama-sama mengenal Bapa melalui Yesus. Maka jangan tinggalkan Misa Kudus, jangan tinggalkan doa Rosario bersama keluarga, jangan abaikan rekonsiliasi. Sakramen-sakramen itulah yang "memilin" kita kembali ketika kita mulai terurai.

Sebuah Kesaksian

Beberapa tahun lalu, seorang pastor paroki di daerah konflik sosial menghadapi dua kelompok warga yang bertengkar karena masalah sepele. Paroki terancam terbelah. Sang pastor tidak langsung berkhotbah panjang lebar. Ia justru mengadakan Misa malam Jumat Pertama dan mengundang kedua kelompok untuk duduk berdampingan. Awalnya mereka enggan. Namun setelah homili singkat tentang Yohanes 17, pastor meminta mereka berdoa Bapa Kami sambil bergandengan tangan melintasi sekat tembok.

Air mata menetes. Mereka yang sempat bermusuhan kini berdoa bersama: "Bapa kami yang ada di surga..." Karena dalam doa itu, mereka sadar: jika Allah adalah Bapa kita bersama, maka kita semua saudara, bukan musuh. Keesokan harinya, mereka bersama-sama membangun kembali pagar gereja yang rusak. Dunia melihat, dan beberapa tetangga non-Kristen mulai bertanya tentang iman Katolik.

Tiga Tindakan Konkret

Saudara-saudari, Yesus tidak hanya berdoa untuk Petrus, Andreas, atau Yohanes. Ia berdoa untuk Anda, untuk saya, dan untuk setiap orang yang percaya kepada-Nya hingga akhir zaman.

Mari kita jawab doa Yesus dengan tiga tindakan konkret ini:

  1. Pulihkan satu hubungan yang retak — telepon atau temui saudara/sahabat yang sudah lama tidak diajak bicara karena sakit hati.
  2. Doakan kesatuan Gereja dan bangsa — setiap kali Anda berdoa Bapa Kami, sadarlah bahwa "Bapa kami" adalah milik bersama, bukan milik kelompok tertentu. Di setiap Misa, khususnya di akhir doa umat, marilah kita mendoakan seluruh negara menjadi tempat di mana kasih Kristus menyatukan semua orang.
  3. Hindari gosip dan perpecahan — mulut yang sama yang menerima Komuni Kudus, janganlah mengeluarkan kata-kata yang memecah belah.

Selain itu, jadilah saksi lewat perbuatan. Jika Yesus ingin dunia percaya, maka hidup kita harus menjadi "Injil yang berjalan." Berpartisipasilah dalam karya sosial gereja, seperti panti asuhan atau komsos. Tunjukkan bahwa sebagai orang Katolik, kita peduli kepada semua orang tanpa memandang latar belakang.

Penutup

Marilah kita mengangkat hati kepada Yesus. Di Perjamuan Terakhir, Ia tahu akan datangnya salib, namun yang paling Ia pikirkan adalah kita. Ia berdoa agar kita tidak terpecah, agar kita tinggal dalam kasih-Nya, dan agar melalui kita dunia melihat wajah Allah.

Ketika kita mendengarkan konsekrasi dalam Perayaan Ekaristi, ingatlah bahwa kita tidak hanya menerima Komuni Kudus, tetapi kita menjadi komuni. Kita menjadi satu tubuh, satu roh, di dalam Kristus.

Dengan kesatuan yang hidup, dunia akan percaya bahwa Bapa benar-benar mengutus Yesus. Dan kita akan mengalami sukacita yang Yesus janjikan: kasih Bapa tinggal di dalam kita, dan Kristus tinggal di dalam kita.

Semoga Allah Tritunggal Mahakudus, yang adalah kesatuan sempurna dalam kasih, memberkati kita semua.

Amin.


Sorang Tumanggor, S.Ag
Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Rabu, 20 Mei 2026

DIKUDUSKAN DALAM KEBENARAN, DIUTUS KE TENGAH DUNIA

Renungan

Rabu, 20 Mei 2026

DIKUDUSKAN DALAM KEBENARAN, DIUTUS KE TENGAH DUNIA

Yohanes 17:11b-19




 

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,

Di awal doa-Nya, Yesus meminta kepada Bapa: “Peliharalah mereka dalam nama-Mu.” Apa artinya? Di dunia ini, kita sering merasa lemah, mudah goyah, dan takut kehilangan pegangan. Namun Yesus mengingatkan bahwa kita memiliki "nama" Allah sebagai benteng pertahanan. Nama itu mewakili seluruh kekuatan, kasih, dan kesetiaan Allah sendiri.

Ketika kita dibaptis, kita “dipanggil dengan nama-Nya.” Kita bukan lagi milik dunia yang penuh kebencian dan kebohongan, tetapi milik Allah. Yesus tidak berdoa supaya kita dijauhkan dari masalah atau dari orang jahat, melainkan supaya kita dipelihara di tengah dunia yang bermusuhan. Dunia mungkin membenci kita karena kita tidak mengikuti cara hidupnya yang mementingkan diri, ketidakjujuran, dan kekerasan. Namun kita tetap aman dalam genggaman tangan Allah—asalkan kita mau tinggal dalam nama-Nya.

Ayat yang paling kuat dalam bacaan ini adalah: “Aku tidak meminta supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat.”

Ini penting sekali. Kadang kita berangan-angan ingin cepat-cepat masuk surga, lepas dari semua masalah dunia. Namun Yesus tidak mendoakan itu. Mengapa? Karena kita memiliki misi di dunia ini. Yesus sendiri datang ke dunia, bukan untuk menghindari dunia, melainkan untuk menyelamatkannya. Ia bergaul dengan orang berdosa, menderita, dan wafat di tengah dunia.

Oleh karena itu, menjadi Katolik sejati bukan berarti lari dari dunia dengan membangun tembok tinggi atau hanya sibuk dengan kegiatan rohani yang tertutup. Sebaliknya, kita harus masuk ke dalam dunia: dunia kerja, pendidikan, politik, seni, media sosial, keluarga yang rumit, tetapi dengan perlindungan Allah. Kita tidak boleh menjadi “kutu air” yang ikut hanyut arus dunia, tetapi menjadi “laksana garam dan terang” yang tetap asin dan bercahaya karena dilindungi dari yang jahat.

Yesus melanjutkan: “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.” Apa artinya “dikuduskan”? Kata Yunaninya hagiasmon: dipisahkan secara khusus untuk Allah, diubah menjadi serupa dengan Kristus.

Namun pengudusan bukanlah sihir. Yesus memberikan cara-Nya: Kebenaran adalah Firman Allah. Dunia saat ini dipenuhi dengan “kebenaran palsu”: kebahagiaan hanya dari harta, kesuksesan hanya dari popularitas, bebas adalah melakukan semua keinginan. Firman Allah adalah kebenaran yang membebaskan sekaligus memurnikan kita.

Seperti emas dimurnikan dalam api, demikian kita dikuduskan ketika kita mau dibentuk oleh Sabda Allah. Apakah kita membaca Kitab Suci setiap hari? Apakah kita membiarkan diri kita dikoreksi oleh Injil? Atau kita lebih nyaman dengan “kebenaran” versi kita sendiri?

Puncak doa Yesus: “Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia.” Ini adalah missio Dei, misi Allah. Kita bukan murid yang hanya duduk diam mendengar kotbah lalu pulang. Setiap dari kita, baik awam, biarawan, imam adalah misionaris di tempatnya masing-masing.

Yesus diutus untuk menyelamatkan, melayani, memberi diri, bahkan sampai mati. Maka kita pun diutus untuk melakukan hal yang sama dalam skala kita: menjadi suami/istri yang setia meski berat, menjadi pekerja jujur meski banyak godaan korupsi, menjadi pemuda yang berani mengatakan tidak pada narkoba dan seks bebas, menjadi tetangga yang peduli pada yang tersingkir.

Akhirnya Yesus berkata: “Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka.” Di sini Yesus berbicara tentang wafat-Nya di kayu salib. Ia menyerahkan diri-Nya sepenuhnya kepada Bapa (itulah arti “menguduskan diri”) demi keselamatan kita.

Kita bisa dikuduskan hanya karena Yesus lebih dulu menguduskan diri-Nya bagi kita. Anugerah inilah yang kita terima dalam Ekaristi. Maka ketika kita menerima Komuni Kudus, kita menerima sumber pengudusan. Jangan pernah menganggap remeh Misa Kudus, karena di sanalah Yesus terus mempersembahkan diri-Nya untuk menguduskan kita.

Karena itu, marilah kita evaluasi perlindungan spiritual kita: Apakah hidup doamu masih hidup? Apakah kamu rajin mengaku dosa? Tanpa perlindungan Allah, kita mudah dijatuhkan si jahat. Kita hidup di dunia, bukan dari dunia: Periksa kebiasaanmu. Apakah tontonan, bacaan, pergaulan, dan cara kerjamu mencerminkan bahwa kamu “bukan dari dunia” namun tetap peduli pada dunia? Jadilah kita pembawa kebenaran: Dunia butuh orang-orang yang jujur, setia pada janji, berani mengatakan yang benar di tengah tekanan. Mulailah dari hal kecil hari ini. Jadikanlah Ekaristi sebagai pusat pengudusan: Datanglah ke Misa dengan kesadaran bahwa kamu akan dikuduskan oleh Yesus yang menguduskan diri-Nya bagimu.

Saudara-saudari, Yesus tidak berdoa agar kita dimanjakan atau dijauhkan dari masalah. Ia justri mendoakan kita agar dipelihara, dilindungi, dikuduskan, dan diutus. Ini adalah panggilan yang besar sekaligus menantang. Namun jangan takut. Karena Yesus yang mendoakan kita di surga, Roh Kudus yang menyertai kita di dalam dunia, dan Bapa yang memelihara nama-Nya atas diri kita. Amin.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi