Renungan
Kamis, 9 Juli 2026
Bacaan Injil: Matius 10:7-15
DITERIMA DENGAN CUMA-CUMA, BERILAH
DENGAN CUMA-CUMA
Pembukaan
Saudara-saudari terkasih dalam
Kristus,
Hari ini kita mendengarkan sabda
Tuhan yang indah dari Injil Matius. Yesus sedang mempersiapkan para murid-Nya
untuk sebuah misi besar. Beliau tidak memanggil mereka untuk duduk diam dan
menikmati kebersamaan, melainkan mengutus mereka untuk pergi, untuk melangkah
keluar dari zona nyaman mereka. Perutusan ini bukan hanya untuk kedua belas
rasul, tetapi juga untuk kita. Kita semua dipanggil untuk menjadi pewarta Kabar
Baik.
1. Pewartaan: Kerajaan Surga
Sudah Dekat
Perintah pertama yang Yesus
berikan sangat jelas: "Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga
sudah dekat" (Mat 10:7).
Kabar ini adalah inti dari
seluruh misi Kristus. Kerajaan Surga bukanlah sebuah tempat yang jauh di awan,
tetapi kehadiran Allah yang nyata di tengah dunia. Kerajaan itu dekat dalam
diri Yesus sendiri. Dengan kedatangan-Nya, Allah mulai memerintah secara nyata,
membawa keselamatan, kasih karunia, dan kesembuhan bagi umat-Nya.
Saudara-saudari, kita dipanggil
untuk mewartakan hal yang sama. Bukan dengan kata-kata yang rumit dan sulit
dipahami, tetapi melalui kesaksian hidup. Lewat kebaikan kecil di tengah
keluarga, kejujuran dalam pekerjaan, dan kepedulian di lingkungan sekitar, kita
memberitakan bahwa Kerajaan Allah sungguh dekat.
2. Tindakan Nyata dan Anugerah
Cuma-Cuma
Yesus tidak berhenti pada
kata-kata. Ia memerintahkan para murid untuk melakukan tindakan nyata: "Sembuhkanlah
orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah
setan-setan" (Mat 10:8).
Dengan ini Yesus mengajar kita
bahwa Kabar Baik harus disertai dengan kuasa. Ini bukan tentang kuasa manusia,
tetapi tentang kuasa Allah yang bekerja melalui kita untuk melawan dosa,
penyakit, dan kejahatan. Dan yang terpenting, semua ini kita peroleh dengan
cuma-cuma. Keselamatan, kasih, dan hidup itu sendiri adalah pemberian Allah
yang kita terima.
Karena itu, Yesus
menegaskan: "Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu
berikanlah pula dengan cuma-cuma" (Mat 10:8). Kita tidak bisa
menjual anugerah. Kita tidak bisa menimbun kasih. Kita hanya bisa membagikannya
dengan hati yang bebas. Ketika kita menyadari bahwa segala sesuatu adalah
anugerah, maka memberi menjadi sebuah sukacita, bukan sebuah beban.
3. Mengandalkan Tuhan, Bukan
Perlengkapan Dunia
Saudara-saudari yang dikasihi
Tuhan, perhatikanlah perintah Yesus selanjutnya. Ia berkata: "Janganlah
kamu membawa emas atau perak... janganlah kamu membawa bekal... janganlah kamu
membawa baju dua helai" (Mat 10:9-10).
Mengapa? Ini adalah pelajaran
iman yang sangat dalam. Yesus ingin mengajar para murid untuk bergantung
sepenuhnya pada Tuhan dan penyelenggaraan-Nya. Perutusan ini bukanlah
perjalanan wisata yang direncanakan dengan matang. Ini adalah langkah iman di
mana kita belajar bahwa Tuhan adalah penyedia kita.
Seorang pekerja memang pantas
mendapat upahnya (Mat 10:10), tetapi upah itu bukan dari uang atau jaminan
duniawi. Upah itu datang dari Tuhan sendiri yang akan mencukupi segala
kebutuhan kita melalui orang-orang yang kita temui. Ini mengundang kita untuk
melepaskan rasa aman palsu dan percaya bahwa Tuhan tidak akan pernah
meninggalkan kita.
4. Menghadapi Penolakan dengan
Damai
Yesus sangat realistis. Beliau
tahu bahwa tidak semua orang akan menerima Kabar Baik itu. "Apabila
seorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah..." (Mat
10:14).
Penolakan adalah bagian dari
perutusan. Namun, sikap Yesus tidaklah pesimis. Ia mengajarkan kita untuk tidak
larut dalam kekecewaan atau amarah. Jika kita diterima, kita memberi damai.
Jika ditolak, kita tidak memaksakan diri. Tugas kita adalah mewartakan, bukan
memaksa orang untuk menerima. Damai yang kita bawa tidak bergantung pada
penerimaan orang lain, tetapi berasal dari Kristus yang mengutus kita.
Yesus bahkan memperingatkan bahwa
hari penghakiman akan lebih ringan bagi Sodom dan Gomora daripada bagi kota
yang menolak pewarta-Nya (Mat 10:15). Ini menunjukkan betapa seriusnya tanggung
jawab mendengar Kabar Baik, namun juga menunjukkan betapa berharganya misi
kita.
Saudara-saudari terkasih,
bagaimana kita menghidupi Sabda ini?
- Sadari Anugerah: Mulailah hari ini dengan
mengucap syukur atas segala hal yang kita terima secara cuma-cuma dari
Tuhan: nafas kehidupan, kesehatan, keluarga, dan yang terutama, kasih-Nya.
Dengan menyadari anugerah, hati kita akan tergerak untuk memberi.
- Pergi dan Memberi: Kita mungkin tidak diutus
untuk menyembuhkan orang sakit secara fisik, tetapi kita diutus untuk
menyembuhkan luka hati dengan pengampunan, membangkitkan semangat yang
putus asa dengan penghiburan, dan menahirkan lingkungan dari kebencian
dengan cinta.
- Percaya pada Pemeliharaan: Mari kita belajar
untuk tidak terlalu mengandalkan harta dan rencana kita sendiri. Biarlah
langkah kita hari ini adalah langkah iman, percaya bahwa Tuhan akan
mencukupi.
Amin.
Sorang Tumanggor,
S.Ag
Penyuluh Agama
Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi





.png)