Kamis, 09 Juli 2026

DITERIMA DENGAN CUMA-CUMA, BERILAH DENGAN CUMA-CUMA

Renungan

Kamis, 9 Juli 2026
Bacaan Injil: Matius 10:7-15


DITERIMA DENGAN CUMA-CUMA, BERILAH DENGAN CUMA-CUMA

 

Pembukaan

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Hari ini kita mendengarkan sabda Tuhan yang indah dari Injil Matius. Yesus sedang mempersiapkan para murid-Nya untuk sebuah misi besar. Beliau tidak memanggil mereka untuk duduk diam dan menikmati kebersamaan, melainkan mengutus mereka untuk pergi, untuk melangkah keluar dari zona nyaman mereka. Perutusan ini bukan hanya untuk kedua belas rasul, tetapi juga untuk kita. Kita semua dipanggil untuk menjadi pewarta Kabar Baik.

 

1. Pewartaan: Kerajaan Surga Sudah Dekat

Perintah pertama yang Yesus berikan sangat jelas: "Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat" (Mat 10:7).

Kabar ini adalah inti dari seluruh misi Kristus. Kerajaan Surga bukanlah sebuah tempat yang jauh di awan, tetapi kehadiran Allah yang nyata di tengah dunia. Kerajaan itu dekat dalam diri Yesus sendiri. Dengan kedatangan-Nya, Allah mulai memerintah secara nyata, membawa keselamatan, kasih karunia, dan kesembuhan bagi umat-Nya.

Saudara-saudari, kita dipanggil untuk mewartakan hal yang sama. Bukan dengan kata-kata yang rumit dan sulit dipahami, tetapi melalui kesaksian hidup. Lewat kebaikan kecil di tengah keluarga, kejujuran dalam pekerjaan, dan kepedulian di lingkungan sekitar, kita memberitakan bahwa Kerajaan Allah sungguh dekat.

 

2. Tindakan Nyata dan Anugerah Cuma-Cuma

Yesus tidak berhenti pada kata-kata. Ia memerintahkan para murid untuk melakukan tindakan nyata: "Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan" (Mat 10:8).

Dengan ini Yesus mengajar kita bahwa Kabar Baik harus disertai dengan kuasa. Ini bukan tentang kuasa manusia, tetapi tentang kuasa Allah yang bekerja melalui kita untuk melawan dosa, penyakit, dan kejahatan. Dan yang terpenting, semua ini kita peroleh dengan cuma-cuma. Keselamatan, kasih, dan hidup itu sendiri adalah pemberian Allah yang kita terima.

Karena itu, Yesus menegaskan: "Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma" (Mat 10:8). Kita tidak bisa menjual anugerah. Kita tidak bisa menimbun kasih. Kita hanya bisa membagikannya dengan hati yang bebas. Ketika kita menyadari bahwa segala sesuatu adalah anugerah, maka memberi menjadi sebuah sukacita, bukan sebuah beban.

 

3. Mengandalkan Tuhan, Bukan Perlengkapan Dunia

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, perhatikanlah perintah Yesus selanjutnya. Ia berkata: "Janganlah kamu membawa emas atau perak... janganlah kamu membawa bekal... janganlah kamu membawa baju dua helai" (Mat 10:9-10).

Mengapa? Ini adalah pelajaran iman yang sangat dalam. Yesus ingin mengajar para murid untuk bergantung sepenuhnya pada Tuhan dan penyelenggaraan-Nya. Perutusan ini bukanlah perjalanan wisata yang direncanakan dengan matang. Ini adalah langkah iman di mana kita belajar bahwa Tuhan adalah penyedia kita.

Seorang pekerja memang pantas mendapat upahnya (Mat 10:10), tetapi upah itu bukan dari uang atau jaminan duniawi. Upah itu datang dari Tuhan sendiri yang akan mencukupi segala kebutuhan kita melalui orang-orang yang kita temui. Ini mengundang kita untuk melepaskan rasa aman palsu dan percaya bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita.

 

4. Menghadapi Penolakan dengan Damai

Yesus sangat realistis. Beliau tahu bahwa tidak semua orang akan menerima Kabar Baik itu. "Apabila seorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah..." (Mat 10:14).

Penolakan adalah bagian dari perutusan. Namun, sikap Yesus tidaklah pesimis. Ia mengajarkan kita untuk tidak larut dalam kekecewaan atau amarah. Jika kita diterima, kita memberi damai. Jika ditolak, kita tidak memaksakan diri. Tugas kita adalah mewartakan, bukan memaksa orang untuk menerima. Damai yang kita bawa tidak bergantung pada penerimaan orang lain, tetapi berasal dari Kristus yang mengutus kita.

Yesus bahkan memperingatkan bahwa hari penghakiman akan lebih ringan bagi Sodom dan Gomora daripada bagi kota yang menolak pewarta-Nya (Mat 10:15). Ini menunjukkan betapa seriusnya tanggung jawab mendengar Kabar Baik, namun juga menunjukkan betapa berharganya misi kita.




 Penutup dan Aplikasi

Saudara-saudari terkasih, bagaimana kita menghidupi Sabda ini?

  1. Sadari Anugerah: Mulailah hari ini dengan mengucap syukur atas segala hal yang kita terima secara cuma-cuma dari Tuhan: nafas kehidupan, kesehatan, keluarga, dan yang terutama, kasih-Nya. Dengan menyadari anugerah, hati kita akan tergerak untuk memberi.
  2. Pergi dan Memberi: Kita mungkin tidak diutus untuk menyembuhkan orang sakit secara fisik, tetapi kita diutus untuk menyembuhkan luka hati dengan pengampunan, membangkitkan semangat yang putus asa dengan penghiburan, dan menahirkan lingkungan dari kebencian dengan cinta.
  3. Percaya pada Pemeliharaan: Mari kita belajar untuk tidak terlalu mengandalkan harta dan rencana kita sendiri. Biarlah langkah kita hari ini adalah langkah iman, percaya bahwa Tuhan akan mencukupi.

Amin.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Rabu, 08 Juli 2026

DIPILIH, DIBERI KUASA, DAN DIUTUS

Renungan

Rabu, 8 Juli 2026

Bacaan Injil Matius 10:1-7


DIPILIH, DIBERI KUASA, DAN DIUTUS

 

I. Pendahuluan: Panggilan yang Menyentuh Keseharian

Sahabat Religi,

Pernahkah kita merasa "tidak cukup" untuk melakukan sesuatu? Mungkin kita merasa terlalu biasa, terlalu banyak kekurangan, atau tidak memiliki kemampuan istimewa untuk membuat perbedaan di dunia ini. Bacaan Injil hari ini memberikan kabar baik yang luar biasa: Yesus tidak memanggil orang-orang sempurna. Ia memanggil orang-orang biasa—seperti kita—dan memberi mereka kuasa untuk melakukan hal-hal luar biasa.

Hari ini kita mendengar Injil Matius 10:1-7, tentang Yesus yang memanggil kedua belas murid-Nya. Mari kita renungkan tiga hal penting: panggilan, kuasa, dan perutusan yang juga berlaku bagi kita saat ini.

 

II. Mereka Yang Dipilih: Dari Manusia Biasa Menjadi Rasul

Perhatikanlah daftar nama kedua belas rasul. Matius menuliskan dengan jujur latar belakang mereka: ada Simon yang disebut Petrus—nelayan yang seringkali impulsif dan tergesa-gesa; ada Yakobus dan Yohanes—anak-anak Zebedeus yang dikenal dengan julukan "anak-anak guruh" karena sifatnya yang meledak-ledak ; ada Matius—seorang pemungut cukai yang dianggap pengkhianat oleh bangsa Yahudi karena bekerja untuk Romawi ; dan ada Simon orang Zelot—seorang nasionalis radikal yang justru ingin menggulingkan pemerintahan Romawi.

Bayangkan: di dalam kelompok kecil ini ada musuh bebuyutan. Matius, si pemungut cukai, dan Simon orang Zelot, yang membenci orang-orang seperti Matius. Namun Yesus memanggil mereka semua. Bahkan Yudas Iskariot—yang kelak mengkhianati Yesus—juga dipilih dan dilibatkan dalam misi ini.

Apa pesan bagi kita? Tuhan tidak mencari orang yang sempurna; Ia mencari hati yang bersedia. Seperti yang diingatkan oleh renungan hari ini, "kelebihan merupakan anugerah untuk melayani, sedangkan kekurangan menjadi kesempatan untuk bertumbuh dalam kerendahan hati". Di mata Tuhan, bukan kesempurnaan yang menjadi syarat untuk melayani, melainkan kesediaan hati untuk menjawab panggilan-Nya.

Kita semua memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun Tuhan tetap memanggil kita untuk menjadi bagian dari rencana keselamatan-Nya.

 

III. Kuasa yang Diberikan: Bukan Untuk Diri Sendiri

Matius mencatat bahwa Yesus "memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan" (Mat 10:1).

Kuasa ini bukanlah kuasa duniawi—bukan kekuasaan, kekayaan, atau popularitas. Kuasa ini adalah kuasa untuk membebaskan: membebaskan dari kejahatan, dari penyakit, dari segala kelemahan yang mengikat manusia . Ini adalah kuasa kasih yang menyembuhkan, kuasa Kerajaan Allah yang hadir di tengah-tengah dunia.

Yesus menginginkan agar semua pengikut-Nya berperang melawan kuasa-kuasa kejahatan—bukan dengan senjata, tetapi dengan kasih, kebaikan, dan kebenaran . Pemberitaan Kerajaan Allah harus disertai dengan penyataan kuasa Allah terhadap dosa, penyakit, dan kejahatan.

Aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari? Kita mungkin tidak diutus untuk mengusir setan secara literal seperti para rasul. Namun kita diutus untuk menjadi "saksi-saksi Kristus" di tengah masyarakat dengan cara hidup kita: menjadi orang yang baik, benar, jujur, dan adil . Kesaksian hidup kita itulah yang menjadi "pewartaan" kita kepada dunia.

Ketika kita menolong orang yang sedang kesulitan, menghibur yang berduka, membela kebenaran, memaafkan yang bersalah—kita sedang menyatakan kuasa Kerajaan Allah yang sudah dekat. Kita sedang menjadi saluran kasih Allah yang membebaskan.

 

IV. Perutusan: Bukan tentang Kerajaan Kita

Yesus berpesan kepada para murid: "Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat" (Mat 10:5-7).

Pesan ini mengingatkan kita tentang fokus perutusan: kita diutus untuk mewartakan Kerajaan Allah, bukan kerajaan kita sendiri . Kita adalah utusan, bukan tuan yang mengutus. Kita menyampaikan pesan dari Yang Mengutus, bukan kemauan kita sendiri .

Kerajaan Allah adalah tentang kedamaian, kebenaran, keadilan, sukacita, dan harapan . Bukan tentang ambisi pribadi, keinginan berkuasa, atau kepentingan kelompok. Ketika kita melayani, kita melayani untuk kemuliaan Allah dan kebaikan sesama, bukan untuk pujian atau keuntungan pribadi.

 


V. Kesimpulan: Kita Semua Adalah Murid yang Diutus

Sahabat Religi,

Kisah pengutusan kedua belas rasul dalam Injil hari ini bukanlah kisah kuno yang jauh dari kehidupan kita. Ini adalah kisah tentang panggilan yang terus bergema hingga hari ini.

Kita semua—melalui sakramen Baptis dan Krisma—telah dipanggil dan diutus untuk menjadi saksi Kristus . Kita mungkin tidak diutus untuk pergi ke kota-kota seperti para rasul, tetapi kita diutus ke tempat kita berada: keluarga, tempat kerja, lingkungan sekitar.

Pertanyaan yang perlu kita renungkan:

  1. Apakah saya menyadari bahwa Tuhan memanggil saya apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangan?
  2. Apakah saya menggunakan "kuasa" yang Tuhan berikan—baik itu talenta, waktu, atau kesempatan—untuk membebaskan dan menolong sesama?
  3. Apakah yang saya wartakan melalui hidup saya adalah Kerajaan Allah, atau justru kerajaan saya sendiri?

Ingatlah pesan terakhir dalam bacaan ini: kita menerima dengan cuma-cuma, maka berikanlah dengan cuma-cuma . Kasih yang kita terima dari Tuhan bukan untuk kita simpan sendiri, melainkan untuk kita bagikan.

Marilah kita melangkah keluar dengan keberanian, menyadari bahwa kita dipanggil, diberi kuasa, dan diutus oleh Yesus sendiri. Kerajaan Sorga sudah dekat—dan kita adalah pembawa kabar sukacita itu.

Tuhan memberkati kita semua. Amin.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Selasa, 07 Juli 2026

MELIHAT DENGAN HATI KRISTUS: DARI KESAKSIAN HINGGA PANGGILAN

Renungan

Selasa, 9 Juli 2026

Bacaan Injil: Matius 9:32-38


MELIHAT DENGAN HATI KRISTUS:

DARI KESAKSIAN HINGGA PANGGILAN

 

1. Pendahuluan: Membaca Tanda-Tanda Zaman

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Hari ini kita berkumpul untuk mendengarkan Sabda Tuhan pada hari Selasa, 9 Juli 2026, di tengah hiruk-pikuk dunia yang semakin kompleks. Di mana pun kita berada—di kota besar maupun desa—kita menyaksikan begitu banyak orang yang lelah, gelisah, dan seperti "domba yang tidak bergembala." Ada begitu banyak orang yang diam, bukan karena bisu secara fisik, tetapi karena tidak memiliki keberanian untuk bersuara karena tekanan hidup, ketidakadilan, atau keputusasaan.

Sabda Injil hari ini dari Matius 9:32-38 berbicara tepat ke dalam realitas kita. Mari kita buka hati dan mendengarkan apa yang Tuhan ingin sampaikan kepada Gereja-Nya pada masa kini.

2. Dua Wajah yang Berbeda (Matius 9:32-34)

Perikop ini dimulai dengan sebuah mukjizat: Yesus menyembuhkan seorang bisu yang kerasukan setan. Orang banyak takjub dan berkata, "Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel" . Namun, ada reaksi yang sangat berbeda dari orang-orang Farisi. Mereka berkata, "Dengan kuasa penghulu setan Ia mengusir setan" .

Mengapa bisa demikian? Orang Farisi adalah orang-orang yang saleh, yang rajin beribadah dan mempelajari Kitab Suci. Namun, hati mereka buta. Mereka tidak bisa melihat tangan Tuhan bekerja karena prasangka dan kepentingan mereka sendiri merasa terancam . Mereka lebih memilih memfitnah daripada mengakui kebenaran.

Menjaga Hati dari Prasangka

Saudara-saudari, di zaman media sosial dan informasi yang deras ini, betapa mudahnya kita jatuh ke dalam dosa yang sama seperti orang Farisi. Kita seringkali lebih cepat menghakimi daripada memahami, lebih cepat mencurigai daripada mempercayai, lebih cepat menyebarkan fitnah daripada mencari kebenaran. Kita dipenuhi dengan "kebisuan rohani" yang membuat kita tidak mampu lagi melihat kebaikan di sekitar kita.

Pertanyaan bagi kita: Apakah kita termasuk orang banyak yang takjub akan karya Tuhan, ataukah kita termasuk orang Farisi yang hatinya keras dan buta terhadap kebaikan sesama? Marilah kita memohon rahmat agar mata hati kita dibersihkan, sehingga kita mampu melihat dan mengapresiasi setiap kebaikan yang dilakukan orang lain, sekecil apa pun, sebagai tanda kehadiran Kerajaan Allah di tengah dunia .

3. Hati Yesus yang Tergerak (Matius 9:35-36)

Namun, Yesus tidak berhenti pada satu mukjizat. Ayat 35 dan 36 menggambarkan sebuah rangkuman indah tentang pelayanan-Nya: "Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan" .

Dan lalu datanglah ayat yang menjadi inti dari segalanya: "Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala" .

Kata Yunani yang digunakan untuk "tergerak" adalah splagchnizomai, yang berarti perasaan iba yang mendalam, getaran di lubuk hati yang paling dalam. Ini adalah belas kasihan yang aktif, bukan sekadar simpati pasif. Yesus tidak hanya melihat kebutuhan; Dia bertindak .

Dunia Kita, Ladang yang Menunggu

Lihatlah dunia kita hari ini. Kita melihat pengungsi yang kehilangan rumah, keluarga yang retak karena ekonomi dan egoisme, anak-anak muda yang kehilangan arah karena kecanduan gawai dan konten negatif, orang-orang lanjut usia yang kesepian di panti jompo atau di rumahnya sendiri. Kita melihat "domba tanpa gembala" di mana-mana. Mereka letih dan terlantar karena tidak ada yang peduli, tidak ada yang menawarkan harapan.

Yesus melihat mereka semua dan hati-Nya tergerak. Dan melalui Sabda ini, Dia mengajak kita untuk memiliki mata dan hati yang sama seperti Dia—untuk melihat sesama kita bukan sebagai beban atau gangguan, tetapi sebagai jiwa-jiwa yang berharga yang sangat dirindukan oleh Allah .

4. Panggilan untuk Berdoa dan Melangkah (Matius 9:37-38)

Yesus lalu berkata kepada murid-murid-Nya, "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu" .

Ini adalah ajakan yang sangat menarik. Di satu sisi, Yesus mengajak kita untuk melihat besarnya ladang Tuhan—betapa banyak orang yang perlu dijangkau. Di sisi lain, Dia mengajar kita sebuah prinsip rohani yang dalam: Allah menunggu doa kita sebelum Dia bertindak .

Tuhan adalah pemilik tuaian. Dialah yang berinisiatif. Namun, Dia menghendaki kita untuk berdoa memohon pekerja-pekerja. Mengapa? Karena melalui doa, hati kita sendiri diubahkan. Doa membentuk kita menjadi pribadi yang peka dan rela menjadi jawaban atas doa kita sendiri.

Menjadi Pekerja di Ladang Tuhan

Tahun 2026 adalah tahun di mana Gereja dan dunia terus bergerak cepat. Kita mungkin bertanya, "Apa yang bisa saya lakukan? Saya bukan pastor, bukan biarawan/biarawati." Saudara-saudari, panggilan untuk menjadi pekerja di ladang Tuhan tidak terbatas pada mereka yang mengenakan jubah atau kebiaraan. Panggilan ini untuk setiap orang yang sudah dibaptis .

  • Di keluarga: Menjadi pekerja ladang Tuhan berarti meluangkan waktu untuk mendengarkan pasangan dan anak-anak, memberikan kasih yang tulus, dan menjadi saksi iman yang hidup.
  • Di tempat kerja: Menjadi pekerja berarti bekerja dengan jujur dan penuh integritas, serta menunjukkan keadilan dan kebaikan kepada rekan kerja.
  • Di masyarakat: Menjadi pekerja berarti berani menjadi "garam dan terang" ; menyapa yang terpinggirkan, menghibur yang berduka, dan memberikan harapan kepada yang putus asa.

Tuaian begitu banyak, dan setiap dari kita dipanggil untuk terlibat. Kita tidak boleh merasa kecil atau tidak layak. Yesuslah yang memberikan kuasa.

5. Penutup: Komitmen

Saudara-saudari terkasih,

Injil hari ini mengajak kita pada tiga hal:

  1. Pertama, bersihkan hatimu. Buanglah segala prasangka, kecemburuan, dan fitnah yang membuat kita seperti orang Farisi. Belajarlah untuk selalu melihat dan mengapresiasi kebaikan di sekitar kita.
  2. Kedua, lihatlah dengan mata Kristus. Jangan pernah bosan untuk melihat penderitaan sesama kita. Biarkan hati kita tergerak oleh belas kasihan, seperti hati Yesus.
  3. Ketiga, jadilah jawaban atas doamu. Bukan hanya berdoa meminta pekerja, tetapi bersedialah untuk dipakai Tuhan menjadi pekerja di ladang-Nya. Dunia ini, Indonesia tercinta, dan setiap orang di sekitar kita adalah ladang yang menunggu sentuhan kasih Tuhan melalui tangan dan kaki kita.

Semoga Tuhan memberkati kita semua. Selamat berkarya untuk Kerajaan Allah!

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantot Kementerian Agama Kabupaten Dairi

Senin, 06 Juli 2026

IMAN YANG BERANI MENYENTUH DAN TIDAK PUTUS ASA

Renungan

Senin, 6 Juli 2026
Bacaan Injil: Matius 9:18-26


IMAN YANG BERANI MENYENTUH DAN TIDAK PUTUS ASA

 

Saudara-saudari umat Katolik yang dikasihi Kristus,

Pada hari ini, kita bersama-sama merenungkan sebuah perikop Injil yang luar biasa kaya akan makna, yaitu kisah tentang seorang kepala rumah ibadat yang putrinya meninggal dan seorang perempuan yang menderita pendarahan selama dua belas tahun. Dua cerita, dua penderitaan, namun sama-sama berbicara tentang iman yang menggerakkan kuasa Allah .

Dua Wajah Iman yang Berbeda

Perhatikanlah kedua tokoh dalam bacaan kita hari ini. Yang pertama adalah seorang kepala rumah ibadat, seorang pemuka agama yang terhormat. Ia datang kepada Yesus dan memohon dengan jelas: "Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup" . Iman pria ini adalah iman yang berani meminta, iman yang tidak malu mengakui kebutuhannya di hadapan Tuhan dan sesama.

Yang kedua adalah seorang perempuan yang tidak disebutkan namanya. Ia telah menderita selama dua belas tahun. Bayangkan penderitaannya: fisik yang lemah, secara sosial ia dianggap najis dan diasingkan, secara ekonomi hartanya habis untuk berobat . Namun, ia memiliki keyakinan yang luar biasa dalam hatinya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh" . Ia tidak meminta dengan kata-kata, tetapi ia bertindak. Iman ini adalah iman yang aktif, berani mengambil risiko, dan bergerak mendekati Yesus .

Kuasa yang Menyembuhkan dan Membangkitkan

Kedua kisah ini mengingatkan kita akan kuasa Yesus yang sempurna. Ia berkuasa atas penyakit yang sudah kronis, dan Ia berkuasa bahkan atas kematian itu sendiri . Perempuan yang sakit pendarahan itu disembuhkan saat ia menjamah jumbai jubah Yesus. Dan anak kepala rumah ibadat itu dibangkitkan dengan pegangan tangan Yesus yang lembut .

Renungkanlah pesan Yesus kepada perempuan itu: "Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau" . Bukan jubah-Nya yang menyembuhkan, melainkan imannya yang membuat kuasa Allah mengalir dalam hidupnya . Kata-kata ini juga ditujukan kepada kita: "Teguhkanlah hatimu!" Jangan takut, jangan putus asa.




Pelajaran bagi Kita

  1. Iman yang Aktif dan Berani: Seringkali kita pasif dalam iman kita. Kita berdoa, tetapi kita ragu untuk bertindak. Kisah ini mengajak kita untuk memiliki iman yang hidup, iman yang tidak hanya menunggu tetapi juga aktif mendekati Tuhan . Seperti perempuan itu, kita dipanggil untuk mengambil langkah iman, sekecil apapun itu, untuk "menjamah" kehadiran Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari, baik melalui doa, sakramen, atau tindakan kasih kepada sesama.
  2. Tidak Putus Asa dalam Penderitaan: Perempuan itu menderita selama 12 tahun, tetapi ia tidak menyerah. Kepala rumah ibadat menghadapi kematian anaknya, tetapi ia tetap percaya . Dalam setiap penderitaan dan masalah kita, jangan pernah berpikir bahwa keadaan kita sudah terlalu parah untuk Tuhan. Tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Satu sentuhan iman saja sudah cukup untuk mengubah segalanya .
  3. Jangan Terpengaruh oleh Cemoohan Dunia: Ketika Yesus berkata bahwa anak itu tidak mati, tetapi tidur, orang-orang menertawakan-Nya . Dunia sering meragukan kuasa Tuhan dan menganggap iman kita sebagai kebodohan. Namun, kita dipanggil untuk tetap teguh pada janji Tuhan, meskipun orang lain meragukan-Nya.
  4. Keselamatan dan Kesembuhan: Yesus berkata kepada perempuan itu, "Imanmu telah menyelamatkan engkau." Kata "selamat" di sini bisa berarti kesembuhan fisik, tetapi juga memiliki makna rohani . Ini mengingatkan kita bahwa tujuan utama iman kita bukan hanya kesembuhan jasmani, tetapi keselamatan kekal yang ditawarkan oleh Kristus.

Kesimpulan

Saudara-saudari yang terkasih, marilah kita meneladani iman yang berani seperti kepala rumah ibadat dan perempuan yang sakit pendarahan itu. Jangan biarkan keputusasaan, penderitaan, atau cemoohan orang lain memadamkan iman kita. Datanglah kepada Yesus dengan iman yang hidup, sentuhlah Dia dalam doa dan sakramen, dan percayalah bahwa kuasa-Nya sanggup menyembuhkan, memulihkan, dan bahkan membangkitkan bagian-bagian dalam hidup kita yang telah mati.

Semoga Allah Tritunggal Mahakudus memberkati kita semua. Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Amin.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Minggu, 05 Juli 2026

SABDA YANG MENYEGARKAN

 Renungan

Minggu Biasa XIV – 5 Juli 2026

Bacaan Injil Matius 11:25-30


SABDA YANG MENYEGARKAN


"Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." (Matius 11:28)

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan,

Hari ini kita merayakan Minggu Biasa XIV. Bacaan-bacaan suci mengajak kita untuk merasakan kebaikan Tuhan yang selalu menolong kita.Dalam bacaan pertama, Nabi Zakharia mewartakan kedatangan seorang raja yang adil dan jaya, yang lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, serta memberitakan damai kepada bangsa-bangsa.Santo Paulus dalam bacaan kedua mengingatkan kita bahwa kita tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, sebab Roh Allah diam di dalam diri kita.

Namun, inti dari permenungan kita hari ini adalah sabda Yesus dalam Injil Matius. Inilah sabda yang menghibur, sabda yang membuka pintu hati bagi setiap orang yang merasa lelah, terbebani, dan kehilangan arah. Yesus bersabda: "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu."

I. Tersembunyi bagi Orang Bijak, Dinyatakan kepada Orang Kecil

Yesus memulai doa syukur-Nya dengan kata-kata yang menggugah: "Aku bersyukur kepada-Mu, ya Bapa, Tuhan langit dan bumi, sebab misteri Kerajaan Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil."

Apa maksudnya? Apakah Tuhan membenci pengetahuan dan kecerdasan? Tentu tidak. Yang Yesus kecam adalah kesombongan—sikap orang yang merasa cukup dengan pengetahuannya sendiri, yang menutup hati karena merasa sudah tahu segalanya.Orang Farisi dan ahli Taurat pada zaman Yesus mengandalkan pengetahuan serta kedudukan mereka sehingga sulit menerima karya Allah yang hadir melalui kesederhanaan.

Sebaliknya, "orang kecil" dalam pengertian Injil adalah mereka yang imannya tulus dan sederhana, yang tidak memanipulasi siapa pun demi keuntungan bagi diri sendiri.Mereka adalah orang-orang yang "merasa tak punya" apa-apa, rendah hati, dan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan.

Saudara-saudari, di tengah dunia yang sering mengagungkan kepintaran, kekayaan, dan kekuasaan, Yesus mengajak kita untuk menjadi "orang kecil"—bukan berarti bodoh atau lemah, melainkan rendah hati dan terbuka terhadap karya Allah. Kerendahan hati adalah kunci untuk menerima pewahyuan Allah.Seperti yang dikatakan Romo Albert Slamet, "datang kepada Yesus berarti memiliki kerendahan hati untuk dibimbing, dibina, dan diarahkan sesuai kehendak-Nya."

II. "Marilah kepada-Ku": Undangan bagi Semua yang Lelah

Bagian kedua dari Injil hari ini adalah undangan yang paling menghibur dalam seluruh Kitab Suci: "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat."

Saudara-saudari, siapakah di antara kita yang tidak pernah merasa letih lesu? Siapakah yang tidak pernah terbebani? Beban hidup bisa bermacam-macam: beban pekerjaan yang menumpuk, beban keluarga yang memerlukan perhatian, beban ekonomi yang semakin berat, beban penyakit yang melanda diri atau orang yang kita kasihi, beban dosa dan kesalahan masa lalu yang terus menghantui, beban kecemasan akan masa depan yang tak pasti. Ada pula beban karena kita mencoba memikul sendiri segala persoalan, enggan berserah kepada Tuhan.

Yesus tidak berkata, "Bersihkanlah hidupmu dahulu, baru datang kepada-Ku." Tidak. Yesus justru memanggil mereka yang sedang "letih lesu dan berbeban berat"—dengan segala kekurangan dan keterbatasan mereka. Undangan ini menunjukkan kasih Tuhan yang selalu menyertai manusia dalam setiap kesulitan hidup."Kita tidak berjalan sendiri, tetapi bersama Yesus yang memberikan kekuatan, rahmat, dan kasih dalam menghadapi berbagai beban kehidupan."

Paus Fransiskus mengingatkan bahwa iman yang sejati adalah iman yang rendah hati, yang mengandalkan Tuhan bukan pada kekuatan diri sendiri.Yesus bersukacita menyaksikan iman yang rendah hati seperti ini, karena Yesus tahu bahwa bentuk iman ini berasal dari Bapa.

III. "Kuk yang Kupasang itu Enak dan Beban-Ku Ringan"

Yesus melanjutkan: "Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, sebab Aku ini lemah lembut dan rendah hati. Maka hatimu akan mendapat ketenangan. Sebab enaklah kuk yang Kupasang, dan ringanlah beban-Ku."

Apa arti "kuk"? Dalam budaya agraris, kuk adalah alat yang dipasang pada sepasang lembu untuk membajak sawah. Kuk melambangkan beban pekerjaan, namun juga melambangkan keterikatan dan kepatuhan. Yesus menggunakan gambaran ini untuk mengajak kita memikul beban bersama dengan Dia. Kita tidak memikulnya sendiri; Yesus berjalan di sisi kita.

"Belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati." Inilah pelajaran utama yang harus kita serap dari hati Yesus.Hati Yesus adalah hati yang lemah lembut, hati yang rendah hati, hati yang penuh belas kasih, dan hati yang setia."Semakin kita mengasihi sesama, semakin Tuhan bersemayam di dalam hati dan hidup kita."

Mengapa kuk Yesus terasa enak dan beban-Nya ringan? Bukan karena beban itu tidak ada, melainkan karena Yesus sendiri yang menopang kita. St. Agustinus dalam komentarnya atas bacaan ini mengingatkan bahwa kita belajar dari Yesus bukan untuk menata ulang dunia atau melakukan mukjizat, melainkan untuk belajar kerendahan hati dan kelemahlembutan.Ketika kita belajar dari Yesus—ketika kita meneladani kerendahan hati dan kelemahlembutan-Nya—maka beban hidup pun terasa lebih ringan karena kita tidak lagi menggantungkan segalanya pada kekuatan sendiri.




Menjadi Orang Kecil yang Datang kepada Yesus

Saudara-saudari terkasih,

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, di tengah tuntutan dunia yang sering kali membuat kita letih lesu dan berbeban berat, Yesus tetap berseru kepada kita: "Marilah kepada-Ku." Dia tidak meminta kita menjadi sempurna terlebih dahulu. Dia hanya meminta kita datang dengan kerendahan hati, mengakui bahwa kita adalah "orang kecil" yang membutuhkan-Nya.

Marilah kita meneladani Hati Yesus yang Mahakudus—hati yang lemah lembut, rendah hati, penuh belas kasih, dan setia.Marilah kita belajar untuk tidak menyombongkan diri di hadapan Tuhan dan sesama.Marilah kita menimba dari Sumber Cinta itu agar cinta-Nya dapat terwujud dalam kehidupan sehari-hari.

Seperti yang dikatakan Romo John Tanggul, "Sikap kita yang benar adalah menjadi orang kecil dan rendah hati, bergantung total kepada Tuhan. Hanya Tuhanlah 'Orang Besar'."

Maka, pada hari Minggu ini, marilah kita hening sejenak. Lepaskan segala kepenatan dan beban yang kita pikul. Serahkan semuanya kepada Yesus. Dengarkan kembali sabda-Nya yang lembut: "Marilah kepada-Ku... Aku akan memberi kelegaan kepadamu."

Semoga Allah Tritunggal Mahakudus memberkati kita sekalian yang berusaha menjadi orang kecil dan bersemangat rendah hati dalam hidup ini. Amin.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Sabtu, 04 Juli 2026

SUKACITA INJIL DAN HATI YANG BARU

Renungan

Sabtu, 4 Juli 2026

Bacaan Injil: Matius 9:14-17

SUKACITA INJIL DAN HATI YANG BARU

Saudara-saudari seiman yang dikasihi Kristus,

Hari ini, Gereja menyapa kita dengan sebuah pertanyaan yang mungkin terasa dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Pertanyaan ini bukan berasal dari orang asing, melainkan dari murid-murid Yohanes Pembaptis, orang-orang yang saleh dan tekun beribadah. Mereka bertanya kepada Yesus, "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?" (Matius 9:14).

Pertanyaan ini menggugah kita untuk merenungkan kembali makna ibadah dan relasi kita dengan Tuhan. Apakah kita sering terjebak dalam rutinitas keagamaan yang kehilangan makna? Apakah kita menjalankan kewajiban rohani hanya karena "sudah biasa" atau karena takut dipandang kurang saleh oleh sesama?

Saatnya Bersukacita

Jawaban Yesus sungguh mengagetkan dan penuh kasih. Ia berkata, "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka?" (Matius 9:15). Yesus menyebut diri-Nya sebagai mempelai laki-laki, dan kita adalah sahabat-sahabat mempelai yang diundang ke pesta pernikahan .

Bayangkan suasana pesta pernikahan: ada tarian, nyanyian, sukacita, dan perayaan. Dalam tradisi Yahudi, pesta pernikahan berlangsung selama tujuh hari penuh, dan merupakan momen kegembiraan terbesar . Yesus mengatakan bahwa selama Ia bersama para murid-Nya, tidak ada tempat untuk berdukacita. Kedatangan-Nya adalah kabar sukacita, kehadiran Allah yang menyertai kita, "Imanuel".

Saudara-saudari, renungkanlah ini: kehadiran Yesus dalam hidup kita seharusnya melahirkan sukacita. Iman kita bukanlah beban berat, melainkan karunia yang membebaskan. Namun, kita juga mendengar Yesus melanjutkan, "Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa" (Matius 9:15). Yesus tahu bahwa saat kematian dan kenaikan-Nya ke surga akan tiba. Masa sekarang, masa di antara kenaikan-Nya dan kedatangan-Nya kembali, adalah masa di mana kita merindukan-Nya. Puasa menjadi tanda kerinduan umat Allah akan kedatangan-Nya, persiapan hati, dan juga tanda kesedihan atas dosa yang masih ada di dunia ini.

Jangan Tambal, Tetapi Perbaharui

Untuk menjelaskan lebih lanjut, Yesus memberikan dua perumpamaan sederhana namun dalam tentang kain dan kantong kulit. "Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua... Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua" (Matius 9:16-17).

Di sini, "baju tua" dan "kantong kulit tua" melambangkan cara berpikir dan praktik keagamaan lama yang sudah kaku, yang hanya mementingkan ritual lahiriah tanpa jiwa. "Kain baru" dan "anggur baru" adalah Injil, ajaran Yesus yang membawa kehidupan baru, dan kasih karunia yang melimpah. Yesus mengajarkan bahwa Injil yang segar dan dinamis tidak dapat dipaksakan ke dalam wadah pemahaman yang sudah usang dan kaku. Bukan berarti Yesus datang untuk menghapuskan hukum Taurat, melainkan untuk menggenapinya dan memberinya makna yang baru: kasih kepada Allah dan sesama.

Pesan ini sangat relevan bagi kita di Indonesia, bangsa yang kaya akan tradisi dan budaya. Gereja mengajarkan kita untuk menghargai kearifan lokal, tetapi kita juga diajak untuk terus-menerus memperbaharui cara kita beriman. Iman yang benar tidak boleh menjadi sekadar rutinitas, tetapi harus selalu diperbaharui, sebagaimana anggur baru membutuhkan kantong yang baru pula. Jika kita membiarkan hati dan pikiran kita diperbaharui oleh Roh Kudus, maka kita akan mampu menerima "anggur baru" dari Injil tanpa membuat hati kita menjadi hancur atau kehilangan makna sejati dari sabda-Nya.



Menjadi Kantong yang Baru

Lalu, apakah "kantong baru" itu dalam diri kita? "Kantong kulit yang baru" melambangkan hati yang diperbaharui oleh Roh Tuhan, hati yang taat dan hidup sesuai dengan sabda-Nya.

Saudara-saudari, mari kita bertanya pada diri kita sendiri:

  1. Apakah ibadah kita masih seperti pesta sukacita? Ataukah kita menjalaninya dengan rasa bosan dan terpaksa?
  2. Apakah kita sering "menambal" kehidupan kita? Artinya, kita mencoba memperbaiki dosa dan kebiasaan buruk hanya dengan usaha sendiri, tanpa mau sepenuhnya membuka hati untuk dibaharui oleh kasih Kristus.
  3. Apakah hati kita merupakan "kantong baru"? Sudahkah kita membuang "ragi" lama, yaitu pikiran negatif, iri hati, dan kesombongan rohani, agar anggur baru dari kasih Allah dapat tetap segar dalam diri kita?

Yesus menghendaki agar kita tidak sekadar menjadi orang yang rajin beribadah, tetapi menjadi orang yang menikmati kehadiran-Nya setiap hari. Kita dipanggil untuk menjadi pembawa sukacita dan pembaharu. Seperti yang pernah disuarakan dalam sebuah renungan, "Hari ini lebih baik daripada hari-hari kemarin!". Marilah kita terus berkembang, berubah, dan menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya.

Semoga Roh Kudus menuntun kita untuk menjadi "kantong baru" yang mampu menampung dan memelihara "anggur baru" Kabar Gembira, sehingga kita dapat menjadi saksi-Nya di tengah dunia. Amin.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Jumat, 03 Juli 2026

BERBAHAGIALAH YANG TIDAK MELIHAT, NAMUN PERCAYA

Renungan

Pesta Santo Tomas, Rasul
Jumat, 3 Juli 2026
Bacaan Injil: Yohanes 20:24-29

BERBAHAGIALAH YANG TIDAK MELIHAT,

NAMUN PERCAYA

 

Saudara-saudari terkasih dalam Tuhan,

Hari ini Gereja merayakan Pesta Santo Tomas, Rasul. Kita diajak merenungkan sosok yang dikenal sebagai "si ragu-ragu." Namun di balik keraguannya, tersimpan pelajaran iman yang mendalam, terutama di zaman yang serba canggih dan skeptis ini.

I. Keraguan yang Jujur

Tomas tidak hadir saat Yesus yang bangkit pertama kali menampakkan diri kepada para murid. Ia mungkin menyendiri, bergumul dengan kesedihan dan kekecewaan. Saat teman-temannya bersukacita, "Kami telah melihat Tuhan!", Tomas tidak mudah percaya. Ia mengajukan syarat tegas: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu serta tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya."

Sikap Tomas sering dinilai negatif. Namun, keraguannya adalah keraguan yang jujur. Ia tidak mau berpura-pura percaya sekadar ikut-ikutan. Ia pribadi kritis yang tidak menerima informasi tanpa bukti nyata. Di tengah banjir hoaks dan ajakan sesat, sikap kritis demikian penting. Tomas mengajar kita bahwa iman sejati bukan iman naif yang mudah percaya omongan kosong, melainkan iman yang didasarkan pada kebenaran.

II. Perjumpaan yang Mengubah Hidup

Tuhan tidak membiarkan Tomas bergulat sendirian. Delapan hari kemudian, Yesus kembali menampakkan diri saat Tomas bersama mereka. Dengan penuh kasih, Yesus berdiri di tengah-tengah mereka dan memberikan salam damai.

Yesus berbicara khusus kepada Tomas—tanpa kemarahan, tanpa penghakiman. Ia justru mengundang: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku. Jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah!"

Inilah momen perjumpaan yang mengubah segalanya. Yesus menunjukkan kerinduan-Nya menjawab setiap keraguan kita. Ia hadir, mau menyentuh luka-luka kita, dan membawa kita pada iman yang dewasa. Tomas yang menuntut bukti fisik kini tersungkur: "Ya Tuhanku dan Allahku!" Pengakuan ini salah satu yang teragung dalam Kitab Suci—bukan sekadar Guru, melainkan Tuhan dan Allah.

III. Berbahagialah yang Percaya

Pengakuan Tomas luar biasa. Namun Yesus berkata: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."

Sabda ini khusus bagi kita yang hidup dua ribu tahun setelah kebangkitan Yesus. Kita tidak pernah melihat secara fisik tangan-Nya yang berlubang paku atau lambung-Nya yang tertusuk. Kita tak memiliki keistimewaan seperti Tomas untuk "melihat dan menyentuh." Namun Yesus menyebut kita berbahagia.

Kebahagiaan ini bukan berarti iman kita lebih rendah. Justru sebaliknya. Iman yang tak bergantung pada bukti fisik adalah kepercayaan yang murni. Kita percaya bukan karena melihat, melainkan karena mendengar kesaksian para rasul, merasakan kehadiran-Nya dalam doa, dan melihat karya-Nya dalam hidup kita. Kita tidak melihat dengan mata jasmani, tetapi dengan mata iman.



Renungan untuk Kita

Pertama, jangan takut pada keraguan. Seperti Tomas, keraguan yang jujur dan rendah hati bisa menjadi awal perjumpaan iman yang lebih mendalam. Bawalah pertanyaan-pertanyaanmu kepada Yesus dalam doa. Ia tidak takut pada pertanyaan kita; Ia siap menjawab.

Kedua, belajarlah percaya tanpa syarat. Zaman kita serba empiris—segala sesuatu harus terlihat dan terbukti. Namun Yesus mengundang kita pada kebahagiaan yang lebih tinggi: percaya kepada-Nya meskipun tidak melihat. Iman adalah dasar dari segala yang kita harapkan dan bukti dari segala yang tidak kita lihat.

Ketiga, seperti Tomas, akui Yesus sebagai Tuhan dan Allah—bukan hanya dengan bibir, melainkan dengan seluruh hidup. Percaya kepada Yesus berarti mempercayakan seluruh masa depan dan kehidupan kita kepada-Nya.

Kiranya kita merasakan sabda Yesus yang menghibur dan menguatkan: "Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya." Dengan demikian, kita pun menerima hidup kekal dalam nama-Nya. Amin.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi