Rabu, 01 April 2026

MELAYANI SAMPAI KE AKAR

Renungan

Kamis, 2 April 2026

CINTA YANG TOTAL: MELAYANI SAMPAI KE AKAR

Yohanes 13:1–15

 


“Ia mengasihi mereka sampai pada kesudahannya.” (Yoh 13:1)

Ayat ini menjadi kunci pembuka seluruh narasi sengsara Tuhan Yesus. Dalam bahasa Yunani, frasa eis telos tidak hanya berarti “sampai akhir hayat”, tetapi juga mengandung makna yang lebih dalam: “sampai pada tujuan akhir”, “sampai pada tingkat yang paling ekstrem”, bahkan “sampai ke akar-akarnya”.

Inilah cinta yang tidak setengah-setengah. Di malam terakhir-Nya, ketika Yesus tahu bahwa “Bapa telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya” (ay. 3), Ia sadar sepenuhnya akan kuasa dan keilahian-Nya, justru pada saat itulah Ia melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan logika kekuasaan duniawi: Ia membasuh kaki para murid.

Cinta yang Melampaui Logika

Pada zaman itu, membasuh kaki adalah pekerjaan budak yang paling rendah. Para murid sendiri sedang bersaing soal siapa yang terbesar di antara mereka (Luk 22:24), sehingga tak seorang pun rela melakukan tugas yang dianggap menjijikkan ini. Namun Yesus, Guru dan Tuhan, bangkit dari meja perjamuan. Dengan sabuk terikat dan kain lenan di pinggang, Ia mengambil posisi sebagai seorang budak.

Di sinilah kedalaman makna pertama: Cinta sejati tidak pernah merasa direndahkan oleh pelayanan. Sebaliknya, cinta justru merasa terhormat ketika bisa merendahkan diri demi kebahagiaan orang yang dikasihi. Yesus mengajarkan bahwa ukuran kebesaran dalam Kerajaan Allah bukanlah seberapa banyak orang yang melayani kita, melainkan seberapa besar kerelaan kita untuk menjadi “budak” bagi saudara kita.

Melayani sampai ke Akar Kekotoran

Petrus menolak. Ia merasa tidak pantas. “Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?” Namun Yesus menjawab, “Jika Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku.”

Mengapa membasuh kaki begitu krusial? Kaki adalah anggota tubuh yang paling dekat dengan tanah, paling kotor, dan paling sering terabaikan. Dalam makna spiritual, ini melambangkan dosa-dosa kecil, kelemahan yang kita sembunyikan, serta sisi-sisi hidup kita yang paling “kotor” dan memalukan.

Tuhan tidak hanya datang untuk menyelamatkan kita dalam kemuliaan. Ia datang untuk masuk ke dalam “kotoran” hidup kita. Cinta-Nya adalah cinta yang tidak jijik. Ia membasuh Yudas yang akan mengkhianati-Nya. Ia membasuh Petrus yang akan menyangkal-Nya. Ia membasuh kita yang kerap tidak setia.

Renungan ini mengajak kita bertanya: Apakah kita membiarkan Tuhan menjangkau bagian-bagian terdalam dan paling kotor dalam hidup kita? Ataukah kita hanya menghadirkan sisi “baik” kita di hadapan-Nya?

Panggilan untuk Membasuh Kaki di Zaman Now

Usai membasuh kaki, Yesus memberi perintah yang radikal: “Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” (ay. 15). Ini bukan sekadar ritual liturgi yang kita kenang setiap Kamis Putih. Ini adalah gaya hidup seorang Katolik sejati.

Kita diajak untuk melayani dengan cara yang tidak glamor. Di tengah dunia yang menjunjung tinggi status, jabatan, dan popularitas, Yesus membalikkan segala ukuran dunia. Cinta yang total berarti berani “turun” dari kursi kehormatan kita, baik dalam keluarga, pekerjaan, maupun komunitas, untuk melakukan hal-hal kecil yang menyelamatkan martabat orang lain.

  • Dalam keluarga: Membasuh kaki berarti bersedia melakukan pekerjaan rumah yang tak terlihat, mendengarkan keluhan pasangan tanpa bersikap defensif, atau membersihkan kekacauan yang dibuat anak tanpa bersungut-sungut.
  • Dalam masyarakat: Membasuh kaki berarti berani mendampingi mereka yang “kakinya” paling kotor, yang terpinggirkan, yang dianggap gagal, yang tidak layak menurut ukuran dunia.

“Kamu Harus Juga Membasuh Kakimu Seorang Akan Yang Lain”

Satu hal yang sering luput: Yesus membasuh kaki mereka sebelum mereka saling membasuh kaki. Kita tidak bisa memberi apa yang tidak pernah kita terima. Sumber dari pelayanan kita bukanlah kekuatan kita sendiri, melainkan pengalaman mendalam bahwa kita telah dibasuh oleh Kristus.

Jika kita merasa lelah dalam melayani, jika pelayanan kita terasa tak dihargai, ingatlah: Kristus telah lebih dulu merendahkan diri-Nya untuk kita. Pelayanan kita hanyalah partisipasi dalam aliran cinta yang sudah lebih dulu mengalir dari salib.

“Jika Aku, Tuhan dan Gurumu, membasuh kakimu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu.” (Yoh 13:14)


Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

MENJUAL ATAU MEMBIARKAN DIRI DIBELI?

Renungan

Rabu, 1 April 2026

MENJUAL ATAU MEMBIARKAN DIRI DIBELI?

Matius 26:14–25



Dalam keseharian kita sebagai umat Katolik di Indonesia, transaksi sudah menjadi sesuatu yang akrab. Mulai dari tawar-menawar di pasar tradisional, belanja daring, hingga negosiasi dalam pekerjaan maupun bisnis. Kita hidup di tengah budaya yang sangat menghargai nilai tukar, untung, dan rugi.

Namun, Injil hari ini membawa kita menyaksikan sebuah adegan yang sangat kontras: dua jenis “transaksi” terjadi di ruang dan waktu yang sama, tetapi dengan nilai yang bertolak belakang.

Transaksi Yudas: Harga Sebuah Pengkhianatan

Kisah Yudas Iskariot bukan sekadar cerita masa lalu. Ia bagaikan cermin yang memantulkan wajah kita sendiri. Yudas mendatangi imam-imam kepala dan bertanya, “Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Yesus kepadamu?” (Mat 26:15).

Yudas melakukan perhitungan. Ia menukar Guru, Sahabat, dan Tuhannya dengan tiga puluh uang perak. Pada masa itu, jumlah tersebut adalah harga seorang budak (Kel 21:32). Ia menjual hubungan yang begitu intim hanya demi sejumlah uang.

Bukankah kita sering tergoda melakukan “transaksi ala Yudas” dalam kehidupan sehari-hari? Mungkin kita tidak pernah membayangkan secara terang-terangan menyerahkan Yesus. Namun, setiap kali kita mengorbankan kebenaran demi keuntungan—menyuap atau disuap dalam pekerjaan; meninggalkan misa hari Minggu karena kelelahan mengejar kesenangan duniawi; menjual integritas dengan berbohong agar dipuji atasan; atau menukar waktu doa dan keluarga dengan kecanduan gawai serta ambisi pribadi—pada saat itu, kita sedang melakukan hal yang sama seperti Yudas: membanderol iman dan kesetiaan dengan harga yang sangat murah.

Transaksi Yesus: Harga Cinta yang Tak Terhingga

Di sisi lain, dalam perjamuan yang sama, Yesus justru memulai transaksi yang berbeda. Ia mengambil roti dan anggur, lalu berkata, “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku … Minumlah, inilah darah-Ku …” (Mat 26:26–28).

Yesus tidak menawarkan sesuatu untuk dibeli; Ia memberikan diri-Nya secara cuma-cuma. Inilah Perjanjian Baru yang ditegaskan dengan darah-Nya. Jika Yudas menjual Yesus dengan harga seorang budak, Yesus justru membayar harga nyawa-Nya untuk membebaskan kita dari perbudakan dosa.

Setiap kali merayakan Ekaristi Kudus—sumber dan puncak iman Katolik—kita diajak masuk ke dalam “transaksi” ilahi ini. Keselamatan tidak kita beli dengan uang, melainkan kita terima sebagai anugerah. Namun, anugerah ini menuntut respons: apakah kita membiarkan diri “dibeli” oleh kasih Kristus, sehingga kita menjadi milik-Nya sepenuhnya?

Sebagai orang Indonesia, kita dikenal ramah dan suka bergotong royong. Namun, dalam hal iman, kita kerap bersikap kompromistis. Ungkapan “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” memang baik untuk toleransi, tetapi bisa menjadi bahaya jika menggeser prinsip iman kita.

Sering kali kita dihadapkan pada dilema. Dalam keluarga: apakah saya lebih memilih menjaga “kesepakatan” yang tidak jujur demi menjaga perasaan, atau berani mengatakan kebenaran yang membangun? Dalam pekerjaan atau bertetangga: apakah saya ikut “menyuap” agar urusan administrasi cepat selesai, atau bertahan pada kejujuran meskipun harus lebih lambat? Dalam lingkup sosial: apakah saya “menjual” suara untuk kepentingan sesaat dalam pemilihan, atau menggunakan hak pilih dengan hati nurani yang bersih?

Yudas memang menyesal, tetapi penyesalannya membawa kematian—ia pergi menggantung diri—bukan pertobatan yang membawa hidup. Tuhan memanggil kita bukan sekadar menyesal, melainkan bertobat.

Di meja Perjamuan Terakhir, Yesus tahu ada yang akan menjual-Nya. Namun, Ia tidak mundur. Ia tetap maju ke kayu salib untuk “membeli” kita kembali dengan darah-Nya. Maka, pertanyaan untuk kita hari ini: di manakah posisi saya?

Apakah saya masih terus “menjual” Yesus dalam tindakan-tindakan kecil sehari-hari karena harga yang murah—popularitas, keuntungan materi, atau kenyamanan? Ataukah saya membiarkan diri saya sepenuhnya “dibeli” oleh kasih-Nya, sehingga hidup ini sungguh menjadi milik-Nya, seperti yang sering kita nyanyikan: “Kusembah sujud di hadapan-Mu, Tuhan, ‘ku milik-Mu …”?

Mari kita memohon rahmat agar kita tidak menjadi seperti Yudas yang menjual, melainmenjadi murid yang membiarkan dirinya digerakkan oleh cinta. Amin.


Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Selasa, 31 Maret 2026

KETIKA HATI GUNDAH, TETAPLAH BERPEGANG PADA KASIH

Renungan

Selasa, 31 Maret 2026

 

KETIKA HATI GUNDAH, TETAPLAH BERPEGANG PADA KASIH

Yohanes 13:21–33.36–38




 

Saudara-saudari yang terkasih dalam kasih Kristus,

Pernahkah kita merasakan kesedihan yang mendalam, kekecewaan, atau bahkan pengkhianatan dari orang yang paling kita percayai? Mungkin itu datang dari sahabat sendiri, rekan kerja, atau bahkan anggota keluarga. Perasaan seperti itu pasti sangat berat dan membuat hati kita gundah.

Dalam bacaan Injil hari ini, kita diajak untuk melihat langsung ke dalam hati Yesus pada malam sebelum wafat-Nya. Ia duduk bersama murid-murid-Nya, orang-orang yang paling dekat dengan-Nya selama tiga tahun terakhir. Namun, suasana hati-Nya begitu sedih, bahkan dikatakan bahwa Ia “tersentak hatinya” (ay. 21). Mengapa? Karena Yesus tahu bahwa di antara orang-orang yang duduk bersama-Nya, ada satu yang akan mengkhianati-Nya, yaitu Yudas.

Meskipun demikian, Yesus tidak membalas dengan kemarahan atau kekerasan. Bahkan ketika Yudas keluar dari ruang makan menuju malam yang gelap, Yesus tidak menghentikannya dengan paksa. Ia membiarkan cinta berjalan pada jalannya, meskipun itu berarti luka yang dalam bagi hati-Nya. Yesus tetap setia pada misi kasih-Nya.

Di sisi lain, ada Petrus. Dengan penuh keyakinan, ia berkata lantang, “Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang? Aku akan menyerahkan nyawaku bagi-Mu!” (ay. 37). Kedengarannya heroik, bukan? Namun, Yesus yang mengenal hati Petrus lebih dalam, dengan lembut tetapi tegas mengatakan bahwa Petrus justru akan menyangkal-Nya tiga kali sebelum ayam berkokok.

Menghadapi Pengkhianatan dengan Hati yang Lapang

Dalam kehidupan kita sebagai orang Indonesia, hubungan kekeluargaan dan kebersamaan sangatlah penting. Namun, sering kali justru di dalam lingkaran terdekat kita mengalami kekecewaan. Mungkin kita dikhianati teman dalam urusan pekerjaan, diomongkan di belakang oleh saudara, atau ditinggalkan saat kita sedang dalam kesulitan.

Yesus mengajarkan bahwa menghadapi pengkhianatan tidak harus dengan balas dendam. Ia tetap tenang dan bahkan tetap menunjukkan kasih. Hal ini sangat relevan bagi kita yang mungkin sering merasa “tersakiti” dalam komunitas. Tuhan memanggil kita untuk memiliki hati yang lapang: tetap berbuat baik, tetap mengasihi, tanpa membalas kejahatan dengan kejahatan.

Jangan Terlalu Percaya Diri pada Kekuatan Sendiri

Kisah Petrus menjadi cermin bagi kita. Ia sangat yakin pada dirinya sendiri. Ia merasa cintanya kepada Yesus adalah yang terbesar. Namun, Yesus tahu bahwa tanpa rahmat dan kekuatan dari Tuhan, cinta kita rapuh. Betapa sering kita juga bersikap seperti Petrus. Kita berkata, “Aku tidak akan pernah berbuat dosa itu,” atau “Aku pasti setia kepada Tuhan, sekalipun semua orang meninggalkan-Nya.”

Namun dalam realitas hidup sehari-hari, ketika kita lelah, ketika iman diuji, atau ketika kita sibuk dengan urusan dunia, kita kerap jatuh dalam dosa-dosa kecil yang perlahan menjauhkan kita dari Tuhan. Renungan ini mengingatkan kita untuk tidak sombong secara rohani. Kita membutuhkan Tuhan setiap saat.

Gelapnya Dunia dan Panggilan untuk Tetap dalam Terang

Ketika Yudas keluar, dikatakan bahwa “hari sudah malam” (ay. 30). Gelap melambangkan dosa, pengkhianatan, dan keterpisahan dari kasih. Di zaman sekarang, kita pun hidup di tengah “kegelapan” yang halus: korupsi, hoaks, ketidakadilan, saling curiga, dan hilangnya rasa persaudaraan. Yesus mengajak kita untuk tidak ikut keluar ke dalam gelap itu. Sebaliknya, kita dipanggil untuk tetap berada dalam terang kasih-Nya.

Mari sejenak kita merenung:

Apakah saat ini hati saya sedang terluka karena dikhianati oleh orang terdekat? Apakah saya bersedia membawa luka itu kepada Yesus dan belajar mengampuni?

Apakah saya terlalu percaya diri dengan kekuatan iman saya, sehingga lupa berlutut memohon rahmat Tuhan setiap hari?

Dalam keluarga, lingkungan kerja, dan komunitas gereja, apakah saya menjadi pembawa terang dan damai, atau justru ikut menyebarkan kegelapan melalui gosip dan kebencian?


Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Senin, 30 Maret 2026

MINYAK NARWASTU DI TENGAH KESEHARIAN HIDUP

Renungan

Senin, 30 Maret 2026


MINYAK NARWASTU DI TENGAH KESEHARIAN HIDUP

Yohanes 12:1-11




 

Keuskupan Agung Medan (KAM) dikenal sebagai wilayah yang dinamis. Di sini, hiruk-pikuk perdagangan, kepadatan urban, serta tantangan sosial-ekonomi menjadi “roti harian” kita. Di tengah gemuruh kendaraan di jalan, kesibukan pasar tradisional, atau hiruk-pikuk pusat perbelanjaan modern, kita hidup sebagai murid Kristus.

Perikop Yohanes 12:1-11 membawa kita ke Betania. Rumah Lazarus, Marta, dan Maria menjadi gambaran kecil tentang “keluarga besar” di Keuskupan kita. Betania adalah tempat di mana kemacetan dunia, yakni Yerusalem, bertemu dengan keheningan persahabatan. Di sanalah terjadi sebuah peristiwa agung: seorang perempuan memecahkan buli-buli minyak narwastu seharga tiga ratus dinar, kira-kira setara dengan upah setahun, lalu menuangkannya ke kaki Yesus.

Minyak narwastu merupakan simbol kemewahan tertinggi. Di Medan, angka tiga ratus dinar mungkin dapat kita analogikan dengan uang muka rumah, modal dagang, atau tabungan pension, sesuatu yang sangat bernilai dan biasanya “dihitung secara logis.”

Di sinilah kita berjumpa dengan tokoh Yudas Iskariot. Kitab Suci dengan jujur mencatat bahwa Yudas tidak peduli pada orang miskin, melainkan seorang pencuri yang mengatur kas. Dalam kehidupan kita sehari-hari, suara Yudas kerap bergema di kepala kita: “Boros! Tidak praktis! Lebih baik uangnya dipakai untuk yang lain!”

Kita, umat Katolik yang mayoritas terlibat dalam dunia usaha, niaga, dan pekerjaan keras, tentu akrab dengan logika untung-rugi. Kita terbiasa menghitung return on investment dan berpikir bahwa hal yang paling efisien adalah memberi dalam porsi yang terukur. Namun, renungan ini mengajak kita berani menggugat logika pasar dengan logika kasih.

Maria tidak menghitung. Ia memberikan yang terbaik, bahkan yang “terlalu mahal” sekalipun. Tindakannya mengingatkan kita: apakah kita masih memiliki keberanian untuk menjadi “boros” dalam hal cinta kepada Tuhan dan sesama?

Yesus membela Maria dengan berkata, “Biarkanlah dia melakukan ini… minyak ini tidak dijual untuk memberi orang miskin” (Yoh 12:7-8).
Ini bukan berarti Yesus tidak peduli pada orang miskin. Justru Yesus hidup bersama mereka. Namun, Yesus menegaskan satu prioritas yang kerap kita lupakan dalam kesibukan “pelayanan” dan “kegiatan”: ada saatnya kita harus berhenti sejenak dari segala aktivisme, lalu duduk di kaki Tuhan dan mencurahkan segenap hati tanpa perhitungan.

Di Keuskupan Agung Medan, kita adalah umat yang “sibuk.” Sibuk mengurus devosi, sibuk mengurus panitia, sibuk bekerja mencari nafkah di tengah persaingan ekonomi yang ketat, sibuk mengumpulkan dana untuk pembangunan gereja atau kegiatan sosial. Terkadang, kesibukan ini membuat kita seperti Yudas: kita kehilangan momen untuk sekadar “duduk bersama Yesus” secara pribadi.

Ciri khas devosi umat Katolik di KAM sangat kuat. Novena, jalan salib, dan doa rosario dirayakan dengan meriah. Namun, renungan ini mengajak kita memeriksa motivasi di balik semua itu. Apakah kita melakukannya karena “kewajiban sosial” agar dilihat orang, atau karena kita benar-benar mencurahkan isi hati yang paling berharga kepada Kristus?

Ayat 9–11 menceritakan bahwa banyak orang Yahudi datang bukan hanya karena Yesus, tetapi juga ingin melihat Lazarus yang dibangkitkan. Imam-imam kepala malah merencanakan untuk membunuh Lazarus. Bacaan ini menjadi cermin bagi kita yang hidup di tengah kesenjangan sosial.

Di satu sisi, kita dipanggil menjadi “Maria” yang memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Di sisi lain, kita dipanggil peka terhadap “Lazarus-Lazarus” di sekitar kita, saudara-saudari yang miskin, termarjinalkan, yang mungkin tinggal di bantaran sungai atau di daerah pinggiran.

Ada godaan besar untuk “menghakimi” orang lain seperti Yudas menghakimi Maria. Dalam kehidupan menggereja, sering muncul sikap sinis: “Ah, ini sih terlalu mewah untuk sebuah perayaan ibadah,” atau “Lebih baik bangunan gerejanya sederhana saja, uangnya buat makan orang miskin.”

Renungan ini menegaskan bahwa keduanya tidak boleh dipertentangkan. Mencintai Tuhan secara “boros”, dengan liturgi yang indah, gedung gereja yang layak, perayaan iman yang khidmat, bukanlah penghalang untuk mengasihi orang miskin. Yang menjadi masalah adalah jika kita menggunakan kedok “orang miskin” untuk menyembunyikan kekikiran hati atau ketidakmauan kita berkorban secara total bagi Kristus.

Sebagai umat Katolik di Keuskupan Agung Medan, bacaan ini mengajak kita pada tiga refleksi mendalam:

Kembali ke “Betania” (Rumah Persahabatan):
Di tengah rutinitas yang padat—macet, pekerjaan, dan urusan duniawi—luangkanlah waktu untuk membangun “Betania” di rumah masing-masing. Keluarga adalah tempat pertama di mana kita harus menjadi “Maria” yang mencurahkan kasih. Jangan biarkan kesibukan ekonomi membuat kita kehilangan momen kebersamaan dan doa bersama keluarga.

Memurnikan Motivasi Pelayanan:
Tanyakan pada diri sendiri: apakah saya dalam pelayanan menggereja, sebagai lektor, misdinar, kategorial, atau pengurus lingkungan, bekerja dengan motivasi seperti Yudas, mencari status, keuntungan pribadi, atau sekadar kebiasaan—ataukah saya melakukannya sebagai “minyak narwastu,” yakni persembahan terbaik yang walaupun tidak dilihat orang, sungguh memenuhi lingkungan atau paroki dengan keharuman kasih?

Menjadi “Aroma” bagi Sesama:
Medan adalah kota yang multikultural dan sering kali “kasar” dalam interaksi sosial karena kemacetan, panas, dan persaingan. Panggilan kita adalah membawa aroma Kristus. Seperti minyak narwastu yang memenuhi seluruh rumah, kesaksian hidup seorang Katolik seharusnya mampu “memenuhi” ruang-ruang publik di Medan dengan keharuman kedamaian, kejujuran dalam berdagang, kesabaran dalam berkendara, dan keterbukaan dalam hidup bertetangga.

Yesus berkata, “Biarkanlah dia melakukan ini” (Yoh 12:7). Terkadang, dalam kehidupan rohani, kita terlalu sering melarang diri sendiri untuk mencintai Tuhan secara total. Kita merasa malu berdoa di tempat umum, sungkan bersikap saleh di tempat kerja, atau merasa bahwa memberi waktu untuk misa harian adalah “pemborosan” yang seharusnya digunakan untuk bekerja.

Hari ini, Yesus mengingatkan kita: jangan biarkan logika dunia yang selalu hitung-hitungan membunuh kerinduan kita untuk berserah secara total.

Semoga kita, umat Katolik di Keuskupan Agung Medan, berani memecahkan “buli-buli” kesombongan, keegoisan, dan perhitungan duniawi kita, untuk menuangkan seluruh hidup kita, dengan segala kekurangan dan kelebihan, ke kaki Kristus. Sehingga, seperti di Betania, rumah kita, paroki kita, dan kota Medan ini dipenuhi oleh aroma kasih yang menyegarkan. Amin.


Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

Jumat, 27 Maret 2026

KETIKA "BATU" ITU BERNAMA "KEPERCAYAAN"

Renungan

Jumat, 27 Maret 2026


KETIKA "BATU" ITU BERNAMA "KEPERCAYAAN"

(Yohanes 10:31–42)

 


Saudara-saudari terkasih dalam kasih Kristus,

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari, kita kerap dihadapkan pada dua kenyataan yang bertolak belakang. Di satu sisi, kita hidup dalam budaya yang menjunjung tinggi gotong royong, kerukunan, dan rasa hormat. Namun di sisi lain, kita tak asing dengan apa yang bisa disebut sebagai "bahasa batu", bukan batu sungguhan, melainkan batu yang lahir dari amarah, prasangka, dan penolakan.

Hari ini, Injil membawa kita menyaksikan sebuah adegan yang menegangkan: “Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus” (Yoh. 10:31). Sungguh mencengangkan. Bukankah Yesus baru saja melakukan karya-karya kasih? Bukankah Ia berbicara tentang Gembala Baik yang mengenal domba-domba-Nya? Namun justru sebaliknya yang terjadi. Yesus ditolak bukan karena perbuatan jahat, melainkan karena kebenaran yang Ia nyatakan tentang diri-Nya. Mereka berkata, “Kami melempari Engkau bukan karena suatu perbuatan baik, melainkan karena Engkau menghujat Allah; Engkau, sekalipun manusia, menyamakan diri-Mu dengan Allah” (Yoh. 10:33).

Di sinilah letak titik kritis iman kita: kebenaran justru kerap menjadi batu sandungan. Sebagai umat Katolik Indonesia, kita hidup dalam keindahan kemajemukan. Kita dipanggil menjadi garam dan terang, membawa nilai kebenaran, kejujuran, dan kasih. Namun pernahkah kita merasakan, ketika kita berusaha hidup jujur, bersikap adil, atau membela kebenaran, justru kita yang mendapat “lemparan batu”? Batu itu bisa berupa gunjingan, pengucilan, stigma sosial, bahkan fitnah. Di tempat kerja, di komunitas, bahkan tak jarang di tengah keluarga sendiri, membela kebenaran terasa seperti membawa pedang bermata dua.

Namun Yesus tidak lari. Ia tidak membalas lemparan dengan lemparan. Justru dengan teguh Ia berdiri dan berdialog. Dengan tenang Ia mengembalikan persoalan pada Sabda Allah: “Apakah kamu tidak membaca dalam Kitab Taurat?” (Yoh. 10:34). Ia tidak membiarkan amarah menguasai situasi, melainkan membawa semua pihak kembali pada terang Firman.

Saudara-saudari, ada sebuah rahmat besar yang hendak Yesus ajarkan kepada kita, bangsa Indonesia yang dikenal kaya akan budaya dan emosi. Ketenangan di tengah penolakan adalah kesaksian iman yang paling dahsyat. Yesus tidak perlu membuktikan keilahian-Nya dengan kekerasan; Ia membuktikannya melalui karya dan ketaatan-Nya kepada Bapa. “Sekalipun kamu tidak percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa” (Yoh. 10:38).

Di sinilah kita diingatkan kembali akan panggilan kita sebagai orang beriman. Di negeri ini, kita dipanggil untuk tidak mudah “mengambil batu” ketika dihadapkan pada perbedaan. Betapa sering kita—umat Katolik—tergoda membalas kebencian dengan kebencian, atau merasa paling benar sendiri sehingga mudah menghakimi orang lain. Yesus menunjukkan jalan lain: membalas kebencian dengan kebenaran, kekerasan dengan keteguhan hati, dan penolakan dengan pergi ke tempat di mana masih ada hati yang terbuka.

Perhatikanlah akhir dari perikop ini: “Yesus pergi lagi ke seberang Yordan, ke tempat Yohanes membaptis dahulu, lalu Ia tinggal di situ. Dan banyak orang datang kepada-Nya” (Yoh. 10:40–41). Yesus tidak terpaku pada tempat yang menolak-Nya. Ia meninggalkan mereka yang keras hati, bukan karena putus asa, melainkan karena Ia tahu waktu dan tempat untuk menuai. Ia pergi ke seberang Yordan—tempat yang dulu dipersiapkan oleh Yohanes Pembaptis. Di sana, banyak orang datang dan percaya. Pesan ini begitu relevan bagi kita, terutama ketika kita merasa lelah menjadi minoritas, lelah diperlakukan tidak adil, atau lelah berjuang sendirian dalam kebenaran. Jangan pernah lelah untuk terus pergi ke “seberang Yordan”, mencari ruang-ruang baru di mana kasih Tuhan masih diterima, membangun jembatan, dan terus bersaksi tanpa kehilangan jati diri.

Tema mendalam yang ditawarkan Injil hari ini adalah keberanian untuk teguh dalam kebenaran di tengah budaya penolakan. Kita hidup di era digital, di mana “batu” kerap menjelma dalam komentar-komentar jahat di media sosial. Kita hidup di era politik, di mana “batu” bisa berbentuk ujaran kebencian. Namun sebagai pengikut Kristus, kita diajak memiliki keteguhan yang lembut namun tak tergoyahkan; keteguhan yang tidak buta, melainkan berakar pada relasi intim dengan Bapa, sebagaimana Yesus teladankan. Ia tahu siapa diri-Nya, Ia tahu misi-Nya, dan Ia tahu bahwa perlindungan terbesar bukanlah dengan menghindari batu, melainkan dengan tinggal dalam genggaman Bapa: “Aku dan Bapa adalah satu.”

Marilah kita merenungkan sikap kita selama ini. Apakah kita terlalu mudah mengambil batu? Atau sebaliknya, terlalu mudah lari ketakutan ketika dihadapkan pada batu? Atau mampukah kita, seperti Yesus, berjalan dalam kebenaran dengan tenang, membiarkan karya dan kasih kita berbicara lebih lantang daripada segala bentuk penolakan? Amin.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag
Penyuluh Ahli Madya Agama Katolik
Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi


Kamis, 26 Maret 2026

KETIKA BATU ITU ADA DI TANGAN KITA

Renungan

Kamis, 26 Maret 2026


KETIKA BATU ITU ADA DI TANGAN KITA

Yohanes 8:51–59



Ada momen dalam hidup ketika kebenaran tidak lagi terasa membebaskan, tetapi justru mengancam. Saat itulah kita, sadar atau tidak, mulai menggenggam batu. Batu itu bisa bernama prasangka, kebanggaan status, kenyamanan rohani, atau ketakutan kehilangan wajah di hadapan orang lain.

Dalam bacaan Injil hari ini, kita dipertemukan dengan sebuah adegan yang menegangkan. Yesus berbicara tentang hidup kekal, tentang ketaatan yang membawa pada persekutuan abadi dengan Allah. Namun alih-alih menyambut, pendengar-Nya justru mengambil batu untuk melempari-Nya. Mengapa? Karena mereka merasa identitas, tradisi, dan harga diri mereka terancam oleh-Nya.

Yesus berkata: “Barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut selama-lamanya” (Yoh 8:51). Ini bukan sekadar janji tentang umur panjang, melainkan janji tentang hidup yang tak pernah padam, bahkan ketika tubuh dikubur tanah. Namun untuk menerima janji ini, kita harus membiarkan firman itu sungguh mengakar dalam hidup—bukan sekadar didengar, tetapi dipatuhi, diterima, dan dihidupi.

Sebagai orang Katolik, kita sering merasa aman karena telah dibaptis, karena hadir di gereja setiap Minggu, atau karena lahir dari keluarga Katolik yang taat. Tetapi Yesus mengingatkan bahwa keselamatan bukanlah warisan otomatis. Yang membedakan adalah apakah kita sungguh hidup dalam terang Sabda-Nya.

Menuruti firman berarti dalam keluarga, kita menjadi pribadi yang mengampuni meski hati terluka. Di tempat kerja, kita memilih jujur ketika ada peluang curang. Di tengah masyarakat yang majemuk, kita menjadi saksi kebenaran tanpa kehilangan hormat kepada sesama. Iman yang sejati adalah iman yang terlihat dalam tindakan keseharian.

Orang-orang Yahudi dalam Injil merasa aman karena mereka keturunan Abraham. Mereka menyandarkan keselamatan pada darah dan tradisi. Namun Yesus meluruskan dengan lembut tapi tegas: “Jika kamu adalah anak-anak Abraham, perbuatlah perbuatan Abraham” (Yoh 8:39).

Kita pun rentan pada jebakan serupa. Kita berkata dalam hati: “Saya sudah lama di lingkungan,” atau “Saya sudah aktif melayani,” atau “Saya tahu ajaran Gereja.” Itu semua baik, tetapi belum cukup. Yang menentukan adalah hubungan pribadi kita dengan Yesus, yang diwujudkan dalam kesediaan untuk terus berubah, terus bertumbuh, dan terus taat.

Puncak dari perikop ini sungguh dahsyat. Yesus berkata: “Sebelum Abraham jadi, Aku sudah ada” (Yoh 8:58). Dengan kata “Aku sudah ada” , Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Allah yang kekal, yang pernah menyatakan nama-Nya kepada Musa di semak duri. Inilah inti iman kita: Yesus bukan sekadar guru bijak atau nabi agung. Ia adalah Allah sendiri yang datang menjumpai kita, merendahkan diri dalam rupa manusia, dan memberi kita hidup kekal melalui ketaatan kepada firman-Nya.

Di sinilah orang-orang Yahudi merasa tersinggung. Mereka menganggap pernyataan itu sebagai hujat. Namun sebenarnya, yang terjadi adalah pertemuan antara kebenaran yang membebaskan dan hati yang belum siap melepaskan kendali.

Abraham disebut sebagai tokoh yang bersukacita melihat hari Yesus. Ia percaya kepada janji Allah meski belum melihat penggenapannya. Ia meninggalkan kenyamanan, mempertaruhkan masa depan, dan menyerahkan apa yang paling dicintainya. Iman Abraham bukan iman yang diam, melainkan iman yang terus melangkah, bertanya, taat, dan berserah.

Kita pun dipanggil untuk memiliki iman yang dinamis. Di tengah budaya gotong royong dan kekeluargaan yang kental, kita diajak untuk tidak menjadikan tradisi sebagai tembok yang membuat kita keras hati terhadap pembaharuan. Tradisi adalah baik, tetapi harus selalu diterangi oleh Sabda yang hidup.

Ketika orang-orang Yahudi mengambil batu, mereka sedang menunjukkan apa yang ada dalam hati mereka: kekecewaan yang berubah menjadi amarah, kebanggaan yang terluka, dan ketidakmauan untuk bertobat.

Mari kita bertanya pada diri sendiri: batu apa yang sedang kita genggam saat ini?
Mungkin itu adalah dendam yang belum kita maafkan. Mungkin itu adalah rasa puas diri yang membuat kita merasa lebih benar dari orang lain. Mungkin itu adalah keengganan untuk mengubah cara hidup yang sudah nyaman, meskipun hati nurani terus menggugat.

Renungan ini mengajak kita untuk meletakkan batu-batu itu di kaki Tuhan. Sebab kebenaran yang datang dari Yesus tidak pernah dimaksudkan untuk menghancurkan kita, tetapi untuk membebaskan kita—membebaskan kita dari ilusi kekuasaan, dari jaminan palsu, dari rasa aman yang semu.

Marilah kita membuka hati untuk dibebaskan. Kebenaran sejati tidak selalu nyaman, tetapi selalu membawa kita pada hidup yang sejati. Semoga kita tidak termasuk orang yang mengambil batu, melainkan termasuk mereka yang merendahkan hati, mendengarkan Sabda, dan membiarkan-Nya menjadi jalan, kebenaran, dan hidup kita. Amin.


Sorang Tumanggor, S.Ag 

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Kamis, 12 Maret 2026

KITA DIPANGGIL MENJADI TERANG DI TENGAH KEBERAGAMAN SUMATERA UTARA

RENUNGAN

Hari, Tanggal:    Minggu (Prapaskah IV /Tahun A), 15 Maret 2026

Bacaan I        :    1Sam 16:1b.6-7.10-13a

Bacaan II       :    Ef 5:8-14

Bacaan Injil   :    Yoh 9:1-14

 

KITA DIPANGGIL MENJADI TERANG DI TENGAH KEBERAGAMAN SUMATERA UTARA




Saudara-saudari terkasih,

Kita hidup di tanah Sumatera Utara yang kaya. Kita dikelilingi oleh keindahan alam Danau Toba, hamparan sawah yang hijau, hingga gemerlap perkotaan. Namun, kekayaan terbesar kita bukanlah panorama alam, melainkan keberagaman masyarakatnya. Di sini kita bertemu dengan suku Batak, Melayu, Nias, Jawa, Tionghoa, dan berbagai suku lainnya. Kita hidup berdampingan dalam satu rumah besar bernama Sumatera Utara.

Akan tetapi, kekayaan ini sering kali menjadi tantangan. Kita bisa saja hanya “melihat” seseorang dari luarnya: dari marganya, logat bicaranya, warna kulitnya, atau status sosialnya. Kita cepat menghakimi berdasarkan apa yang tampak oleh mata kepala. Padahal, Sabda Tuhan pada hari ini mengajak kita untuk memiliki “mata yang berbeda”, mata yang mampu melihat hati, sebagaimana Tuhan melihat.

(Bacaan Pertama: 1 Samuel 16:1b, 6–7, 10–13a – Tuhan Melihat Hati)

Bacaan pertama membawa kita ke kisah pemilihan Raja Daud. Nabi Samuel diutus Tuhan untuk mengurapi raja baru dari keluarga Isai. Ketika Samuel melihat Eliab, anak sulung Isai, yang tampak gagah dan rupawan, ia langsung berpikir, “Pasti inilah yang akan Tuhan urapi.” Namun, Tuhan menegur Samuel dengan tegas: ”Janganlah pandang parasnya atau perawakannya yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.”

Firman ini sangat relevan bagi kita. Di tengah masyarakat Sumatera Utara yang menjunjung tinggi identitas kesukuan dan status—seperti marga dan gelar—kita mudah tergoda untuk menilai seseorang dari “bungkusnya”. Mungkin kita berkata, “Ah, dia orang sana, pasti sifatnya begini…” atau “Dia dari keluarga itu, pasti hidupnya begitu…” Kita lupa bahwa di balik semua identitas lahiriah, ada hati yang berharga di mata Tuhan.

Samuel harus belajar untuk tidak terburu-buru menghakimi. Demikian pula kita. Panggilan kita sebagai orang Kristen adalah berusaha melihat sesama dengan “kacamata Tuhan”, melihat kedalaman hati, melihat potensi kebaikan yang mungkin tersembunyi di balik perbedaan lahiriah. Proses pengurapan Daud—anak bungsu yang paling tidak diperhitungkan—mengajarkan bahwa Tuhan sering memilih dan berkarya melalui mereka yang dianggap kecil dan tak berarti oleh dunia. Di sekitar kita, di lingkungan kita, ada banyak “Daud” yang menanti untuk dilihat dan dihargai hatinya.

(Bacaan Kedua: Efesus 5:8–14 – Hidup sebagai Anak-Anak Terang)

Lalu, apa konsekuensi dari memiliki mata yang mampu melihat ini? Bacaan kedua dari Surat Efesus memberi jawabannya: ”Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang.”

Perhatikan kata-kata Paulus. Ia tidak berkata, “kamu berada dalam kegelapan”, melainkan “kamu adalah kegelapan.” Itulah masa lalu kita. Namun sekarang, karena Kristus, hakikat kita telah berubah. Kita adalah terang. Panggilan kita bukan hanya untuk “berada di dalam terang”, tetapi untuk menjadi terang itu sendiri di tengah dunia.

Sebagai anak-anak terang, hidup kita harus menghasilkan buah yang baik, adil, dan benar. Hidup sebagai terang berarti berani menampakkan identitas kita sebagai pengikut Kristus dalam tindakan nyata, bukan hanya di dalam gereja. Di tengah masyarakat Sumatera Utara yang majemuk, menjadi terang berarti:

·         Menjadi pembawa damai. Ketika isu SARA mudah dipolitisasi, kita dipanggil menjadi agen perekat, bukan pemecah belah. Tunjukkan bahwa iman Katolik mengajarkan kasih yang universal, melampaui batas suku dan golongan. Sapa tetangga yang berbeda keyakinan dengan ramah, bantu mereka yang kesusahan tanpa memandang latar belakang.

·         Hidup jujur dan transparan. Di dunia yang penuh “kegelapan” berupa korupsi, kolusi, dan kebohongan—baik dalam pekerjaan, politik, maupun kehidupan sehari-hari—orang Katolik harus menjadi pribadi yang berintegritas. Kejujuran adalah cahaya yang sangat terang di tengah kegelapan.

·         Berani menegur dalam kasih. Seperti yang dikatakan Paulus, “Segala sesuatu yang nyata menjadi terang.” Kita tidak boleh diam ketika melihat ketidakadilan atau perilaku yang merusak komunitas. Teguran yang dilakukan dengan kasih adalah partisipasi kita dalam karya Kristus yang membawa terang ke dalam kegelapan.

(Bacaan Injil: Yohanes 9:1–41 – Mata yang Terbuka melalui Iman)

Pembukaan mata rohani ini digenapi secara ajaib dalam kisah Injil Yohanes tentang orang buta sejak lahir. Ini adalah kisah yang sangat panjang dan kaya. Yesus menyembuhkan orang buta itu; bukan hanya matanya yang terbuka, melainkan juga hatinya. Ia mulai melihat Yesus bukan hanya sebagai seorang yang bernama Yesus (Yoh 9:11), lalu sebagai seorang nabi (Yoh 9:17), dan akhirnya bersembah sujud kepada-Nya sebagai Anak Manusia, Tuhan (Yoh 9:35–38).

Yang menarik, ironisnya, orang-orang Farisi dan bahkan para tetangga yang “melihat” secara fisik justru buta secara rohani. Mereka terperangkap pada aturan-aturan lahiriah—Yesus menyembuhkan pada hari Sabat—sehingga gagal melihat karya Allah yang agung di depan mata mereka. Mereka mengusir orang yang disembuhkan itu.

Saudara-saudari, konteks ini banyak berbicara kepada kita. Di Sumatera Utara, kita adalah bagian dari Gereja yang memiliki tradisi dan aturan. Itu baik. Namun, jangan sampai kita seperti orang Farisi. Jangan sampai kita lebih mementingkan “kulit luar” agama—formalitas, struktur, identitas kelompok—sehingga buta terhadap kebutuhan sesama yang nyata. Ada begitu banyak “kebutaan” di sekitar kita: kemiskinan di perkotaan, ketidakadilan di pedesaan, anak-anak putus sekolah, orang tua terlantar. Apakah mata kita terbuka untuk melihat mereka sebagai saudara yang membutuhkan uluran tangan kasih Kristus, ataukah kita hanya sibuk dengan urusan internal kita sendiri?

Penyembuhan orang buta ini adalah undangan bagi kita untuk membuka mata iman, untuk melihat Yesus yang hadir dan berkarya secara tak terduga, sering kali melalui orang-orang kecil dan sederhana.

Saudara-saudari terkasih,

Bayangkan jika setiap dari kita, umat Katolik di Sumatera Utara, benar-benar menjadi “anak-anak terang”. Bayangkan jika di tempat kerja, di pasar, di angkutan umum, di lingkungan adat, kita dikenal sebagai pribadi yang jujur, adil, dan penuh kasih. Bayangkan jika identitas Katolik kita tidak hanya terlihat saat misa hari Minggu atau saat pesta perkawinan di gereja, tetapi terpancar dari cara kita menghargai setiap orang, dari cara kita “melihat hati” mereka seperti Tuhan melihat.

Panggilan kita di masa Prapaskah ini adalah bertobat dari “kebutaan” kita. Mintalah ampun kepada Tuhan kalau selama ini kita lebih sering menilai orang dari luar. Mintalah ampun kalau kita lebih suka tinggal dalam “kegelapan” yang nyaman: kebiasaan buruk, gosip, prasangka, kemalasan berbuat baik. Dan mintalah rahmat untuk menjadi terang.

Seperti Daud yang diurapi menjadi raja, kita pun telah diurapi menjadi imam, nabi, dan raja dalam diri kita masing-masing melalui Sakramen Baptis. Urapan itu bukan untuk kebanggaan pribadi, melainkan untuk misi: menjadi terang.

Seperti orang buta yang disembuhkan, kita pun telah mengalami sentuhan Yesus—mungkin tidak secara fisik, tetapi secara rohani dalam setiap Ekaristi yang kita rayakan. Sentuhan itu seharusnya membuka mata kita lebar-lebar untuk melihat karya Allah dan melihat sesama dengan cara yang baru.

Marilah kita bertekad baru untuk tidak lagi melihat manusia menurut ukuran dunia, melainkan dengan mata iman yang melihat hati. Marilah kita menjadi terang di tengah keluarga kita, di tengah komunitas adat kita, dan di tengah masyarakat Sumatera Utara yang kita cintai ini. Dengan demikian, kita akan bersinar di tengah kegelapan, dan nama Tuhan akan dipermuliakan.

Semoga Tuhan memberkati kita semua. Amin.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

(Penyuluh Agama Katolik Ahli Madya Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi)