Selasa, 05 Mei 2026

DAMAI SEJATI BUKAN TANPA GELORA

Renungan

Selasa, 5 Mei 2026

 

DAMAI SEJATI BUKAN TANPA GELORA

Yohanes 14:27-31a



Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,

Pernahkah kita membeli produk elektronik, misalnya kipas angin atau AC, yang di kemasannya tertulis "Cooling technology, peace of mind"? Atau pernahkah kita melihat iklan minuman vitamin yang menjanjikan "tenang dalam tekanan"?

Dunia memang pandai menjual kata "damai". Namun sering kali, damai yang ditawarkan dunia hanya bertahan selama tagihan listrik dibayar, selama AC masih dingin, atau selama stres belum datang lagi.

Tetapi hari ini, Tuhan Yesus berbicara tentang sesuatu yang sangat berbeda. Ia tidak menawarkan ketenangan tanpa badai. Ia menawarkan damai di tengah badai.

Yesus berkata, "Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu." Lalu, apa bedanya damai dunia dengan damai Kristus?

Damai dunia itu bersyarat. Ia tergantung pada situasi: semua beres, semua sesuai rencana, semua orang setuju dengan kita. Damai dunia seperti air kolam — tenang saat tidak ada angin, tetapi begitu ada batu yang dilempar, airnya menjadi keruh dan bergelombang.

Sebaliknya, damai Kristus adalah damai yang Ia miliki saat Ia tahu bahwa dalam beberapa jam lagi Ia akan ditangkap, disiksa, dan disalibkan. Damai itu tetap tinggal di hati-Nya. Damai itu lahir bukan dari kenyamanan, melainkan dari kepercayaan total kepada Bapa.

Coba bayangkan seorang ibu yang anaknya sedang sakit parah di rumah sakit. Dunia mungkin berkata, "Bagaimana mungkin dia tenang?" Tetapi ibu itu duduk di samping tempat tidur, menggenggam tangan anaknya, sambil berdoa. Tidak ada kepastian medis, tetapi ada kedamaian aneh yang tidak bisa dijelaskan. Dari mana datangnya? Dari keyakinan bahwa ia tidak sendirian. Tuhan menyertainya. Damai itu tidak diambil dari situasi, melainkan dari relasi.

Yesus melanjutkan, "Janganlah gelisah dan gentar hatimu." Ini menarik. Yesus mengucapkan kalimat ini tepat sebelum Ia sendiri menghadapi penderitaan. Ia tidak berkata, "Tidak akan ada masalah." Ia berkata, "Jangan biarkan hatimu gelisah." Artinya, kegelisahan bukan sekadar reaksi, tetapi keputusan batin untuk membiarkan diri dikuasai ketakutan.

Mungkin kita pernah naik mobil di tengah macetnya Jakarta menjelang magrib. Sopir taksi online yang sudah berpengalaman tetap tenang. Ia tahu jalur alternatif sambil memutar musik klasik yang lembut. Tetapi penumpang di belakang justru gelisah, bolak-balik melihat jam, mengomel, padahal nasibnya sama. Apa bedanya? Sopir itu sudah berpengalaman dan percaya pada prosesnya. Demikian juga Yesus — Ia sudah mengendalikan segalanya. Ia berkata, "Aku pergi, tetapi Aku datang kembali." Ketakutan kita muncul karena kita merasa sendirian, padahal Tuhan tidak pernah pergi untuk selamanya.

Selanjutnya Yesus berkata, "Tidak banyak lagi Aku berkata-kata dengan kamu, sebab penguasa dunia ini datang. Ia tidak berkuasa apa-apa atas Aku." Penguasa dunia ini: dosa, kejahatan, kematian, setan. Mereka datang seperti badai. Tetapi Yesus menunjukkan bahwa Ia taat kepada Bapa. Ketaatan-Nya adalah bukti kasih. Dan dalam ketaatan itulah kuasa kegelapan dikalahkan.

Kita pun sering takut pada "penguasa dunia" versi kita sendiri: ketidakpastian ekonomi, PHK, kegagalan, penyakit, perpecahan keluarga. Yesus tidak menghapus semua itu. Tetapi Ia berkata, "Mereka tidak berkuasa penuh atas dirimu, karena engkau milik-Ku."

Bayangkan ketika seorang bapak kepala keluarga tiba-tiba di-PHK. Dunianya runtuh. Istrinya panik. Tetapi bapak itu duduk di ruang tamu, membuka Alkitab kecilnya, dan berkata, "Bu, kita punya Tuhan yang lebih besar dari resesi." Bukan berarti ia tidak sedih. Ia sedih. Namun di dasar hatinya, ada damai yang tidak bisa dirampas oleh surat PHK. Itulah damai Yesus. Damai yang lahir dari iman bahwa "penguasa dunia ini tidak berkuasa atas jiwaku."

Di akhir bacaan, Yesus berkata, "Bangunlah, marilah kita pergi dari sini." Ini penting. Damai Yesus bukanlah damai yang membuat kita diam dan pasrah. Damai-Nya justru memberi kita kekuatan untuk bangkit dan melangkah. Setelah menerima damai, kita tidak tinggal diam di ruang atas yang aman. Kita pergi ke dunia yang kacau, tetapi dengan damai yang membawa terang.

Saudara-saudari, hari ini Tuhan bertanya kepada kita: Damai macam apa yang sedang kamu cari? Damai instan dari dunia yang lenyap saat sinyal ponsel hilang? Atau damai dari Yesus yang tetap tinggal di hati, walau badai mengguncang? Amin.


Sorang Tumanggor, S.Ag
Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Senin, 04 Mei 2026

MENGASIHI DENGAN TINDAKAN, BUKAN HANYA PERASAAN

Renungan

Senin, 4 Mei 2026

MENGASIHI DENGAN TINDAKAN, BUKAN HANYA PERASAAN

Yohanes 14:21-26

 



Salam sejahtera bagi kita semua, saudara-saudari yang dikasihi Tuhan.

Sebagai masyarakat yang hidup berdampingan dari berbagai suku di tanah Sumatera Utara, kita tentu memahami betul makna kata “holong” atau cinta kasih. Dalam budaya kita, kasih tidak cukup diucapkan di bibir, melainkan harus dibuktikan dalam tindakan. Hari ini, Yesus mengajarkan hal yang sama kepada kita.

1. Mengasihi berarti menuruti perintah (Yohanes 14:21)

Tuhan Yesus berkata, “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku.”

Coba bayangkan seorang ayah yang meminta anaknya menjaga adik ketika ia pergi ke kebun. Jika si anak hanya menjawab, “Aku sayang Bapak,” tetapi ketika ayahnya pergi ia malah menonton TV dan membiarkan adiknya menangis, benarkah ia mengasihi? Kasih tanpa ketaatan hanyalah kata-kata kosong.

Demikian jugalah dengan kita. Banyak dari kita yang rajin datang ke gereja pada Minggu pagi, berdoa rosario di rumah, atau ikut lari pagi sambil mendengarkan lagu rohani. Namun, apakah kita taat pada perintah-Nya untuk saling mengampuni, tidak bergosip, tidak korupsi di kantor, dan tidak menimbun beras saat harga naik? Di Sumatera Utara, isu harga pangan sering kali membuat kita resah. Yesus mengajarkan bahwa ketaatan adalah bukti kasih. Jika kita sungguh mengasihi Yesus, kita tidak akan menipu tetangga saat berdagang di pasar tradisional.

2. Bapa dan Putra yang bersatu (Yohanes 14:23)

Yesus melanjutkan, “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku, dan Bapa-Ku akan mengasihi dia, dan Kami akan datang kepadanya serta diam bersama-sama dengan dia.”

Ini seperti keluarga Batak yang rukun. Apabila seorang anak sungguh menghormati orang tuanya, maka seluruh keluarga besar akan datang merayakan pesta bersama di rumah. Itulah gambaran iman kita: ketika kita hidup dalam kasih dan ketaatan, Allah Tritunggal sendiri berkenan tinggal di dalam hati kita. Bukan hanya menyambut Tuhan saat kebaktian, tetapi Tuhan tinggal setiap hari—di rumah kita, di dalam angkot yang kita tumpangi, di perkebunan karet yang kita garap.

Di Sumatera Utara, kita sering mendengar istilah “martandang” (berkunjung). Yesus ingin “martandang” secara permanen dalam hidup kita. Bukan hanya sebagai tamu, tetapi menjadi bagian dari keluarga kita.

3. Penghibur Roh Kudus yang mengingatkan (Yohanes 14:25-26)

Yesus berjanji, “Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.”

Kita sering kali pelupa. Lupa janji, lupa membayar utang, lupa membawa plastik saat belanja ke pasar, bahkan lupa berdoa sebelum tidur. Namun, Roh Kudus adalah “memori ilahi” bagi kita.

Ibarat seorang guru yang mengajarkan rumus matematika. Murid-muridnya lupa saat ujian. Tetapi jika mereka sungguh memahami dan mempraktikkannya, mereka pasti ingat. Roh Kudus bekerja persis seperti itu. Ketika kita sedang marah kepada sopir angkot yang ugal-ugalan, Roh Kudus berbisik, “Tenang, maafkan dia.” Ketika kita ingin menyebarkan berita hoaks tentang politik di grup WhatsApp keluarga, Roh Kudus mengingatkan, “Apakah ini membangun kasih?” Namun, bisikan Roh Kudus hanya dapat kita dengar jika kita sering berdiam diri dalam doa dan Sabda Allah. Jika kita terus sibuk bermain TikTok atau menonton sinetron, kita tidak akan peka.

Aplikasi praktis dalam kehidupan sehari-hari:

  • Di dalam rumah: Setelah membaca renungan ini, ajaklah keluarga duduk bersama. Tanyakan, “Apa satu perintah Yesus yang paling sulit kita taati sebagai keluarga?” Kemudian berdoalah bersama, memohon Roh Kudus untuk menolong.
  • Di tempat kerja: Hari ini, cobalah menaati perintah Tuhan di tempat kerja. Jika Anda seorang kepala desa, tolaklah suap. Jika Anda seorang buruh pabrik, jangan bermalas-malasan ketika mandor tidak melihat. Itulah bentuk kasih kepada Yesus.
  • Dalam budaya: Orang Sumatera Utara terkenal dengan semangat “marhorja” (mengerjakan pesta bersama). Gunakan semangat gotong royong itu untuk melakukan kebaikan: menjenguk yang sakit, membantu biaya sekolah anak janda, atau membersihkan lingkungan gereja pada hari Sabtu.

Selamat beraktivitas. Ingatlah, Tuhan tidak tinggal jauh di langit. Ia tinggal bersama kita, asalkan kita mengasihi dan menuruti firman-Nya.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.


Sorang Tumanggor, S.Ag
Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Kamis, 30 April 2026

MENERIMA UTUSAN BERARTI MENERIMA YANG MENGUTUS

Renungan

Kamis, 30 April 2026

 

MENERIMA UTUSAN BERARTI MENERIMA YANG MENGUTUS

Yohanes 13:16-20



 

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat orang-orang berusaha menjadi lebih tinggi, lebih dihormati, dan lebih berkuasa. Namun, pada malam sebelum wafat-Nya, Yesus justru membalik logika dunia. Ia mengambil air dan handuk, lalu membasuh kaki para murid-Nya. Tindakan itu adalah tindakan seorang hamba. Dari situlah Yesus memberikan pengajaran yang sangat dalam tentang kerendahan hati, pelayanan, serta hubungan antara seorang utusan dan yang mengutusnya.

Mari kita renungkan sabda Tuhan dalam Yohanes 13:16-20 ini.

Seorang hamba tidak lebih tinggi dari tuannya.

Yesus berkata: "Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya, ataupun seorang utusan lebih tinggi daripada dia yang mengutusnya" (ayat 16). Ini adalah teguran halus terhadap sikap sombong dan merasa lebih penting dari orang lain. Dalam Kerajaan Allah, ukuran kebesaran bukanlah kuasa atau jabatan, melainkan kesediaan untuk melayani. Yesus, Sang Guru dan Tuhan, justru membasuh kaki murid-murid-Nya. Ia menunjukkan bahwa menjadi pemimpin berarti menjadi pelayan.

Bayangkan seorang duta besar yang dikirim oleh presiden ke suatu negara. Duta besar itu tidak bertindak seolah-olah ia lebih besar dari presiden yang mengutusnya. Ia menjalankan misi, menyampaikan pesan, dan bertindak atas nama presiden. Kehormatannya berasal dari yang mengutusnya. Demikian pula kita. Kita adalah utusan Kristus di dunia. Kita tidak lebih tinggi dari Dia. Karena itu, hidup kita harus mencerminkan Dia: rendah hati, taat, dan melayani.

Berbahagialah jika kamu melakukannya.

Yesus melanjutkan: "Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya" (ayat 17). Pengetahuan saja tidak cukup. Banyak orang tahu tentang kerendahan hati, tentang kasih, tentang melayani. Namun, kebahagiaan sejati datang bukan dari sekadar mengetahui, melainkan dari melakukan. Ini adalah panggilan untuk bertindak. Iman tanpa perbuatan adalah mati.

Kisah seorang biarawan bernama Br. Lawrence mengajarkan hal ini. Ia bekerja di dapur biara, mencuci piring dan membersihkan lantai. Banyak orang bertanya kepadanya, "Bagaimana Anda bisa bahagia melakukan pekerjaan yang sederhana dan kotor seperti itu?" Ia menjawab, "Saya tidak mencuci piring untuk piring itu sendiri. Saya mencuci piring untuk Tuhan. Dan di setiap cipratan air, saya mempersembahkan kasih saya kepada-Nya." Kebahagiaannya bukan berasal dari pekerjaan yang mulia, tetapi dari cinta yang ia lakukan di dalamnya. Saudara-saudari, kita dipanggil untuk melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar.

Menerima utusan berarti menerima yang mengutus.

Ayat kuncinya: "Barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku; dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku" (ayat 20). Yesus mengajarkan rantai kehadiran ilahi: ketika kita menerima seorang utusan Allah, kita menerima Yesus sendiri. Dan ketika kita menerima Yesus, kita menerima Allah Bapa. Ini berarti setiap orang percaya adalah utusan Kristus. Ketika dunia menerima kita, mereka menerima Kristus. Ketika dunia menolak kita, mereka menolak Kristus. Sungguh suatu tanggung jawab yang besar sekaligus kehormatan yang luar biasa.

Ada kisah tentang seorang pastor muda yang ditugaskan di sebuah paroki terpencil. Suatu hari, seorang pengemis tua yang bau dan kumal masuk ke gereja. Umat lain menjauh dan memandangnya dengan jijik. Namun, pastor itu menyambutnya, membawanya duduk di bangku depan, dan mendengarkan ceritanya. Pengemis itu kemudian berkata, "Romo, tidak ada yang pernah menerima saya seperti ini. Saya merasa seperti diterima oleh Yesus sendiri." Romo itu menangis dan menjawab, "Saudaraku, sesungguhnya ketika saya menerima Anda, saya telah menerima Yesus yang datang menyamar sebagai orang miskin." Saudara-saudari, setiap orang yang kita jumpai bisa jadi adalah utusan Tuhan yang mengirimkan kasih-Nya kepada kita. Jangan menolak mereka.

Lalu, bagaimana kita mengaplikasikan pesan bacaan ini dalam kehidupan praktis kita?

Pertama, hiduplah sebagai hamba. Di keluarga, tempat kerja, atau komunitas, jangan mencari posisi tertinggi. Carilah kesempatan untuk melayani tanpa pamrih. Cuci piring, bantu orang tua, dengarkan keluhan teman dengan sabar.

Kedua, praktikkan iman dalam tindakan kecil. Mulailah hari dengan bertanya, "Hari ini, tindakan kecil apa yang bisa saya lakukan untuk membuat seseorang merasa dikasihi?" Kebahagiaan sejati muncul ketika kita melayani karena cinta.

Ketiga, sambutlah utusan Allah dengan hormat. Setiap orang yang kita temui—terutama yang lemah, miskin, dan terpinggirkan—adalah utusan yang membawa Yesus. Jangan menutup hati. Sambutlah mereka dengan kerendahan hati dan belas kasih.

Saudara-saudari terkasih,

Yesus tidak hanya mengajarkan tentang kerendahan hati dan pelayanan, tetapi Ia sendiri memberi teladan. Ia membasuh kaki kita. Ia membuka tangan-Nya di kayu salib. Dan Ia bangkit untuk mengutus kita menjadi saksi-saksi-Nya.

Marilah kita bertekad menjadi hamba yang rendah hati, utusan yang setia, dan penerima yang penuh kasih. Sebab barangsiapa menerima kita, ia menerima Yesus. Dan barangsiapa menerima Yesus, ia menerima Bapa. Semoga Allah Tritunggal Mahakudus memberkati kita semua. Amin.


Sorang Tumanggor, S.Ag
Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Rabu, 29 April 2026

LENTERA DI TENGAH KABUT

Renungan

Rabu, 29 April 2026

LENTERA DI TENGAH KABUT

Yohanes 12:44-50


 

“Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan.” (Yohanes 12:46)

Dalam perikop ini, Yesus berbicara di akhir pelayanan-Nya di depan umum. Ia menegaskan bahwa diri-Nya adalah pernyataan sempurna dari Allah Bapa. St. Thomas Aquinas menafsirkan bahwa Yesus adalah Sabda Bapa, sehingga percaya kepada Yesus sama dengan percaya kepada Bapa. Ayat 47 sangat penting: “Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya.” Allah tidak menghendaki kebinasaan orang berdosa. Penghakiman terjadi secara otomatis ketika seseorang menolak terang. Bukan karena Allah mengutuk, tetapi karena orang itu memilih tinggal di dalam kegelapan.

Seorang nelayan tua biasa melaut pada malam hari di danau yang dikelilingi tebing curam. Suatu malam, kabut tebal menyelimuti seluruh permukaan air. Ia kehilangan arah, dan kapalnya hampir menabrak karang. Dalam keputusasaan, ia melihat secercah cahaya dari mercusuar kecil di atas bukit. Cahaya itu tidak menuduhnya, juga tidak menghakiminya karena tersesat. Sebaliknya, cahaya itu dengan setia menunjukkan jalan yang aman menuju dermaga.

Nelayan itu pun mendayung ke arah cahaya tersebut. Kabut masih tebal, tetapi selama ia terus memandang cahaya itu, ia selamat. Namun, ia melihat nelayan lain yang justru menutup matanya sambil berteriak, “Aku tak mau diatur cahaya itu! Aku akan mencari jalanku sendiri.” Kapal itu pun tenggelam di tengah kegelapan.

Mercusuar itu adalah Yesus, Terang dunia. Kabut adalah dosa, kebingungan, dan kegelapan hidup. Terang Yesus tidak datang untuk menenggelamkan kapal kita, melainkan untuk memandu kita pulang ke rumah Bapa. Jika kita selamat, itu karena kita memilih mengikuti terang. Jika kita binasa, itu bukan karena terang itu jahat, tetapi karena kita menutup mata dan menolak satu-satunya jalan keselamatan.

Sebagai umat Katolik, apa yang secara praktis dapat kita lakukan?

Pertama, mengakui bahwa iman adalah “melihat” Yesus dalam setiap Sakramen. Terang-Nya paling nyata dalam Ekaristi dan Rekonsiliasi. Kita jangan tinggal dalam kegelapan dosa; mendekatlah ke pengakuan dosa.

Kedua, hidup sebagai cerminan terang. Katekismus mengajarkan bahwa orang beriman dipanggil menjadi lumen Christi (terang Kristus) bagi sesama. Periksalah hari ini: apakah kata-kata dan Tindakan kita membawa orang pada keselamatan, atau justru membuat mereka semakin gelisah?

Ketiga, menolak ketakutan akan penghakiman. Yesus berkata, “Aku tidak datang untuk menghakimi.” Jangan kita bayangkan Allah sebagai hakim yang kejam. Bayangkan Dia sebagai Bapa yang mengirimkan Terang-Nya tepat saat kita sedang tersesat di tengah badai.

Karena itu, mari kita luangkan waktu lima menit setiap hari dalam keheningan. Nyalakan lilin kecil, pandangi nyala apinya, dan ulangi perlahan: “Tuhan, aku percaya kepada-Mu. Tolong aku keluar dari kegelapan kecil dalam hidupku.” Lalu, matikan lilin itu sebagai tanda bahwa kita melepaskan hak untuk menentukan jalan sendiri, dan membiarkan Yesus menjadi satu-satunya pemandu kita. Amin.


Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Selasa, 28 April 2026

SUARA GEMBALA YANG KITA KENAL

Renungan

Selasa, 28 April 2026

SUARA GEMBALA YANG KITA KENAL

Yohanes 10:22-30




 

Saudara-saudari terkasih dalam kasih Kristus,

Hari ini kita mendengar kabar tentang Gembala yang baik dari Injil Yohanes. Peristiwa itu terjadi di Yerusalem, pada saat perayaan Pentahbisan Bait Allah. Yesus berjalan di Serambi Salomo, di tengah musim dingin. Dinginnya suasana tidak hanya karena angin, tetapi juga karena hati orang-orang yang datang kepada-Nya. Mereka berkata, "Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami."

Kebimbangan adalah sifat manusiawi yang kerap melanda iman kita. Kadang kita seperti mereka: ingin bukti, ingin kepastian yang jelas, sebelum akhirnya percaya. Mari kita renungkan bersama bagaimana Tuhan Yesus menanggapi keraguan itu, dan apa artinya menjadi domba-domba yang mengenal suara Gembalanya.

Keraguan yang Jujur, Bukan karena Ketidakmampuan Allah

Orang-orang Yahudi itu meminta pernyataan terus terang. Ironisnya, Yesus sudah sering berkata terang-terangan tentang diri-Nya (Yoh 8:58; 10:11). Namun hati mereka tetap tertutup. Yesus menjawab, "Aku sudah mengatakannya kepadamu, tetapi kamu tidak percaya." Keraguan mereka bukan karena kurang informasi, melainkan karena hati yang belum dipersiapkan.

Ibarat seorang anak kecil yang meminta dibelikan es krim oleh ayahnya. Sang ayah sudah membelikannya, bahkan memegang es krim itu di tangan. Tetapi si anak terus menangis, "Mana es krimnya, Ayah? Aku tidak lihat!" Padahal es krim itu tepat di depan matanya. Kadang kita seperti itu. Tuhan sudah berbicara melalui sabda-Nya, melalui sakramen, melalui alam, dan melalui sesama. Tetapi karena kita sibuk dengan rasa dingin di hati sendiri, kita tidak kunjung melihat kehadiran-Nya.

Yesus tidak marah, tetapi dengan lembut menunjukkan akar masalahnya: "Kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku." Jangan disalahartikan: ini bukan tentang pilih kasih Allah, tetapi tentang kesediaan hati untuk mendengar dan mengikuti.

Ciri Domba yang Mengenal Gembalanya

Yesus lalu memberikan ciri-ciri domba-domba-Nya. Ada tiga hal penting:

Pertama, domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku. Mendengar bukan hanya dengan telinga, tetapi dengan hati yang taat. Di tengah kebisingan dunia—ambisi, ketakutan, kesibukan—domba sejati belajar membedakan suara Tuhan.

Kedua, Aku mengenal mereka. Ini lebih dari sekadar tahu nama. Ini adalah relasi pribadi yang intim. Allah mengenal kita lebih dalam daripada kita mengenal diri sendiri: luka kita, pergumulan kita, kerinduan kita.

Ketiga, mereka mengikut Aku. Mengikut bukan sekadar berjalan di belakang, tetapi meneladani dan percaya sepenuhnya. Ketika Gembala berjalan melewati lembah kekelaman, domba tetap mengikuti, karena tahu Gembalanya tidak akan menyesatkan.

Bayangkan seorang gembala memiliki seratus ekor domba. Ada satu domba yang selalu dekat, selalu menatapnya, dan langsung berlari saat dipanggil. Suatu malam, badai besar membuat semua domba tercerai-berai. Namun domba yang biasa dekat itu tetap tenang mengikuti langkah gembalanya, karena suara gembalanya sudah meresap dalam hatinya. Demikianlah iman kita: diuji dalam badai kehidupan, seperti sakit parah, krisis ekonomi, atau kehilangan orang terkasih.

Janji Gembala Agung: Keamanan Abadi

Yesus memberikan jaminan yang luar biasa di ayat 28-29:

  • "Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka."
  • "Mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya."
  • "Tidak seorang pun akan merebut mereka dari tangan-Ku."
  • "Tangan Bapa-Ku lebih kuat dari pada semua."

Semua ini adalah janji keselamatan yang mutlak, bukan karena hebatnya kita, tetapi karena kuatnya tangan Allah. Domba boleh lemah, tersesat, bahkan jatuh ke dalam jurang, namun tangan Gembala dan tangan Bapa adalah genggaman rangkap dua yang tak terputuskan.

Pernahkah Anda melihat seorang anak kecil yang digandeng ibunya di pasar yang ramai? Tangan anak itu kecil, mudah lepas. Namun sang ibu menggenggam erat. Begitulah iman kita: kadang lepas, ragu, atau tertarik ke kios-kios dunia. Namun Allah tidak pernah melepaskan genggaman-Nya. Yang membahagiakan: bukan kuatnya kita berpegang pada Tuhan, tetapi kuatnya Tuhan berpegang pada kita.

"Aku dan Bapa adalah Satu" — Inti Iman Kristiani

Pada ayat 30, Yesus membuat pernyataan yang sangat kontroversial bagi orang Yahudi: "Aku dan Bapa adalah satu." Inilah dasar iman kita bahwa Yesus adalah Allah sejati. Gembala yang baik bukan sekadar utusan, tetapi Allah sendiri yang turun mencari domba-Nya. Karena itu, suara-Nya berwibawa, janji-Nya kekal, dan perlindungan-Nya sempurna.

Saudara-saudari, di tengah dunia yang sering membuat hati kita "musim dingin"—dingin karena kecewa, sakit hati, atau dosa—Yesus berdiri di Serambi Salomo. Dan Dia bertanya, "Apakah engkau masih ragu?" Dia tidak memaksa, tetapi menawarkan suara-Nya.

Mari Belajar Mendengar di Musim Dingin

Mungkin kita sedang berada dalam "musim dingin" iman. Doa terasa kering, Misa terasa seperti rutinitas, keraguan menyelinap masuk. Namun Gembala Baik tetap berseru. Bagaimana caranya? Dia berbicara dalam keheningan Adorasi, dalam firman Kitab Suci, dalam teguran lembut suami atau istri, dalam kebutuhan saudara kita yang miskin.

Melalui bacaan hari ini, kita diajak untuk:

  • Meluangkan waktu lima menit setiap malam untuk hening, lalu bertanya: "Suara Tuhan mana yang saya dengar hari ini? Suara mana yang saya ikuti?"
  • Bertanya apakah ada "keraguan" yang selama ini tidak saya bawa ke dalam doa. Tuliskan satu keraguan, lalu bawa ke dalam Misa berikutnya dalam keheningan.
  • Sebagai keluarga atau komunitas, mari kita biasakan meresapkan dalam hati ayat Yohanes 10 setiap pagi: "Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku."

Amin.


Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Senin, 27 April 2026

MENGENAL SUARA GEMBALA BAIK DI TENGAH DUNIA YANG BISING

Renungan

Senin, 27 April 2026


MENGENAL SUARA GEMBALA BAIK
DI TENGAH DUNIA YANG BISING


Yohanes 10:1-18


 


Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,

Hari ini kita diajak merenungkan salah satu pengajaran Yesus yang paling indah dan penuh makna: perumpamaan tentang Gembala Baik. Dalam Injil Yohanes 10:1-18, Yesus melukiskan hubungan antara gembala dan domba-domba-Nya. Bukan sekadar hubungan pemilik dan ternak, melainkan relasi yang intim, penuh kasih, dan sarat pengorbanan.

Dunia saat ini bagaikan padang gurun yang luas dan sunyi, tetapi juga bising oleh ribuan suara: suara ambisi, suara ketakutan, suara kesuksesan palsu, suara media sosial, bahkan suara hati yang sering membingungkan. Pertanyaannya: suara siapa yang selama ini kita ikuti?

Yesus berkata, "Barangsiapa masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba." Pintu di sini melambangkan Yesus sendiri (ayat 9), sekaligus otoritas yang sah dan benar. Seorang gembala sejati tidak memanjat pagar; ia masuk melalui pintu. Ia datang dengan cara yang benar, bukan dengan tipu daya atau kekerasan.

Coba bayangkan sebuah padang rumput yang dikelilingi tembok tinggi. Di malam hari, domba-domba tertidur dengan tenang di dalam kandang. Tiba-tiba, ada seseorang yang diam-diam memanjat tembok. Ia membawa pisau dan racun. Ia ingin mencuri, membunuh, dan membinasakan. Itulah gambaran si pencuri. Namun, ketika pagi tiba dan pintu terbuka, masuklah seorang pria sederhana dengan tongkat di tangannya. Domba-domba tidak lari. Mereka justru menghampirinya. Mengapa? Karena mereka mengenal suaranya. Dia adalah gembala sejati.

Dunia ini penuh dengan "pencuri" yang menyamar. Mereka bisa berupa ideologi sesat, gaya hidup hedonis, atau tawaran kebahagiaan instan. Tetapi Gembala Sejati masuk melalui pintu, yaitu Yesus sendiri, yang datang dengan kasih dan kebenaran. "Domba-domba mendengar suaranya. Ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya."

Saudara-saudari, ini luar biasa. Sang Gembala mengenal domba-domba-Nya satu per satu, nama per nama. Bukan sekadar nomor, bukan hanya "salah satu dari kawanan". Ia tahu kelemahan kita, ketakutan kita, juga potensi kita.

Pernahkah Anda tersesat di tempat ramai, misalnya di stasiun kereta atau pusat perbelanjaan, ketika masih kecil? Anda mendengar banyak suara: orang berteriak, pengumuman stasiun, langkah kaki. Namun, ketika Anda mendengar suara ibu atau ayah memanggil nama Anda, hati Anda langsung tenang. Anda tahu persis dari mana suara itu berasal. Mengapa? Karena suara itu begitu akrab. Suara itu penuh kasih.

Demikian pula dengan Tuhan. Di tengah hiruk-pikuk dunia, suara Tuhan tidak selalu keras, tetapi selalu khas. Ia memanggil kita dalam doa, dalam sabda Kitab Suci, dalam hening adorasi, bahkan dalam bisikan hati nurani yang jujur.

Domba yang tidak mengenal gembalanya akan lari mengikuti suara asing. Karena itu, kita perlu memelihara keakraban dengan Tuhan setiap hari. "Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya."

Inilah inti pesan Yesus. Gembala sejati bukan hanya pemimpin, tetapi juga penyelamat. Ia tidak lari ketika melihat serigala datang. Sebaliknya, ia berdiri di depan domba-dombanya. Ia rela terluka, bahkan mati, demi keselamatan mereka.

Gembala upahan akan lari karena ia hanya bekerja untuk bayaran. Tetapi Gembala Baik memberikan nyawa-Nya karena cinta. Yesus tidak mati di kayu salib karena terpaksa. Ia mati karena Ia memilih untuk mengasihi kita sampai akhir.

Bayangkan sebuah kisah. Di sebuah desa pegunungan, terjadi kebakaran hutan yang dahsyat. Seorang gembala bernama Petrus sedang menggembalakan 50 ekor dombanya. Ketika api mulai mendekat, sebagian besar domba lari ketakutan. Petrus sebenarnya bisa menyelamatkan diri sendiri. Tetapi ia melihat seekor domba kecil yang terjebak di antara bebatuan. Tanpa berpikir panjang, Petrus berlari ke arah domba itu, membungkusnya dengan jubahnya, lalu berlari keluar dari kepungan api. Seluruh punggungnya melepuh, tetapi domba itu selamat.

Yesus melakukan lebih dari itu. Ia menanggung dosa kita—bukan sekadar luka bakar, melainkan kematian kekal—agar kita mendapat hidup kekal. Itulah bukti bahwa Dia adalah Gembala Baik.

"Aku mempunyai domba lain, yang bukan dari kandang ini. Domba-domba itu harus Kutuntun juga." Yesus berbicara tentang bangsa-bangsa non-Yahudi, termasuk kita, saudara-saudari. Ia datang bukan hanya untuk satu kelompok, melainkan untuk semua orang. Pintu kasih-Nya terbuka bagi siapa pun yang mau mendengar suara-Nya.

Ini menjadi tantangan bagi kita: Apakah kita juga mau menjadi "gembala kecil" bagi saudara-saudari kita yang belum mengenal Yesus? Apakah kita peduli dengan domba-domba yang tersesat di sekitar kita?

Lalu, saudara-saudari, apa yang harus kita lakukan setelah mendengar sabda ini?

  1. Kenali suara Tuhan setiap hari. Luangkan waktu untuk hening, membaca Kitab Suci, dan berdoa. Jangan biarkan suara dunia membisukan panggilan kasih-Nya.
  2. Jangan takut mengikuti Gembala Baik. Meskipun jalan-Nya kadang melewati lembah kekelaman, tongkat dan gada-Nya menghibur kita (Mazmur 23).
  3. Jadilah domba yang juga peduli pada domba lain. Kita dipanggil untuk saling menguatkan, membawa damai, dan menunjukkan kasih Kristus kepada mereka yang tersesat.

Di akhir hidup kita, Yesus tidak akan bertanya berapa banyak uang yang kita kumpulkan, atau seberapa terkenal kita. Ia akan bertanya: "Apakah engkau mendengar suara-Ku? Apakah engkau percaya bahwa Aku memberikan nyawa-Ku bagimu?"

Amin.


Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

  

Kamis, 23 April 2026

ROTI HIDUP YANG TURUN DARI SURGA

Renungan

Kamis, 23 April 2026

ROTI HIDUP YANG TURUN DARI SURGA

Yohanes 6:44-51




 

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Firman Tuhan hari ini mengajak kita menyelami misteri terbesar iman kita, yaitu Yesus sendiri sebagai Roti Hidup. Ia bukan sekadar guru, nabi, atau teladan moral, melainkan makanan sejati yang turun dari surga.

Perhatikanlah bagaimana Yesus menegaskan, "Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa." Pernyataan ini mengingatkan kita bahwa iman bukanlah semata-mata hasil usaha manusia, melainkan anugerah. Bapalah yang menarik hati kita. Namun, daya tarik ilahi itu bukan paksaan, melainkan daya cinta yang lembut. Ketika kita merasa rindu akan kekekalan, gelisah karena dosa, atau haus akan makna hidup, di situlah Bapa sedang menarik kita.

Yesus kemudian membuat perbedaan yang radikal. Manna di padang gurun adalah roti yang sementara. Nenek moyang Israel memakannya, namun mereka tetap mati. Mengapa? Karena manna hanya mempertahankan hidup jasmani, tetapi tidak menyentuh kematian rohani. Sebaliknya, Yesus adalah roti yang membuat orang yang memakannya hidup selama-lamanya.

Apa artinya "makan roti ini"? Itu bukan sekadar penerimaan secara intelektual, melainkan persekutuan yang mendalam. Menerima Ekaristi bukanlah ritual belaka, tetapi membiarkan Yesus bersatu dengan kita secara nyata. Daging dan darah-Nya menjadi makanan jiwa. Seperti kata Santo Agustinus, "Kamu tidak mengubah Aku menjadi dirimu, tetapi kamulah yang diubah menjadi Aku."

Ada pesan mendalam bagi kita. Kita sering kali mencari roti yang fana. Kita bekerja keras untuk roti ekonomi, roti popularitas, roti kesehatan, dan roti hiburan. Semua itu baik, tetapi semuanya akan basi. Tidak satu pun yang bisa membebaskan kita dari kematian, baik kematian fisik maupun kematian rohani akibat dosa dan keputusasaan. Hanya Yesus, Roti Hidup, yang memberi hidup kekal.

Tantangannya bagi kita: Apakah kita benar-benar lapar akan Yesus? Atau kita datang ke Misa hanya karena kebiasaan? Apakah kita sungguh-sungguh percaya bahwa menerima Komuni Kudus adalah menyentuh surga itu sendiri?

Mari kita renungkan sebuah ilustrasi. Di sebuah kota kecil, hiduplah seorang wanita tua bernama Marta. Setiap hari, ia berjalan kaki ke toko roti langganannya untuk membeli roti gandum. Roti itu enak, hangat, dan mengenyangkan. Namun suatu hari, kota itu dilanda wabah penyakit aneh. Banyak orang jatuh sakit, menjadi lemah, dan akhirnya meninggal. Para dokter pun bingung. Ternyata, semua toko roti di kota itu secara tidak sengaja menggunakan tepung yang sudah basi dan beracun. Semua roti yang dijual, meskipun enak di lidah, lambat laun meracuni tubuh.

Marta pun ikut sakit. Ia hampir putus asa. Di tengah keputusasaannya, ia bertemu seorang musafir asing yang berkata, "Nona, jangan beli roti di toko itu lagi. Semua roti di kota ini mematikan. Ikutlah aku, aku akan membawamu ke toko roti yang benar." Dengan susah payah, Marta mengikuti musafir itu ke luar kota. Mereka berjalan jauh hingga sampai di sebuah gudang sederhana. Di dalamnya tidak ada rak-rak mewah, hanya satu meja dengan sebuah roti besar, putih bersinar, bercahaya lembut.

Musafir itu berkata, "Inilah satu-satunya roti yang tidak beracun. Roti ini turun dari surga. Setiap orang yang memakannya akan sembuh dan hidup selama-lamanya." Marta ragu. "Tetapi tidak ada penjualnya? Tidak ada harga?" Musafir itu tersenyum. "Harganya sudah dibayar oleh Pemiliknya. Ia memberikan daging-Nya sendiri untuk menjadi roti ini. Percayalah dan makanlah."

Marta menggigit roti itu. Ajaib, kelemahannya hilang. Dadanya yang sesak menjadi lega. Ia sembuh total. Kemudian ia bertanya, "Siapakah engkau, musafir?" Musafir itu menjawab, "Akulah roti itu sendiri. Akulah Yesus. Dan setiap hari, di setiap Misa, Aku masih memberikan roti-Ku kepadamu."

 

Saudara-saudari terkasih,

Dunia ini adalah "kota yang penuh toko roti beracun": janji-janji kebahagiaan palsu, kesenangan sesaat, harta yang fana, dan kuasa yang menipu. Semua itu kita makan setiap hari, dan perlahan-lahan meracuni jiwa kita dengan kecemasan, kesombongan, dan kematian rohani.

Namun Yesus berkata, "Akulah roti hidup... roti yang Kuberikan ialah daging-Ku untuk hidup dunia." Di setiap Perayaan Ekaristi, Ia menyediakan Roti sejati itu secara cuma-cuma. Bukan dengan uang, melainkan dengan iman dan kerendahan hati.

Pertanyaan refleksi bagi kita: Apakah saya masih sibuk mencari "roti beracun" dari dunia? Apakah saya sungguh-sungguh percaya bahwa menerima Komuni Kudus berarti menerima Yesus sendiri, bukan sekadar simbol? Apakah saya sudah "ditarik oleh Bapa" untuk merindukan Roti Hidup setiap hari? Amin.


Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi