Kamis, 12 Maret 2026

DIBENARKAN KARENA RENDAH HATI (Sikap hati yang dibenarkan Allah: Merendahkan diri di hadapan-Nya)

RENUNGAN

Hari, Tanggal   :    Sabtu, 14 Maret 2026

Bacaan            :    Lukas 18:9-14

DIBENARKAN KARENA RENDAH HATI

(Sikap hati yang dibenarkan Allah: Merendahkan diri di hadapan-Nya)

 


Saudara-saudari terkasih dalam Kristus Yesus.

Coba kita bayangkan sejenak. Kita sedang berada di pelataran gereja yang megah. Dua orang masuk untuk berdoa. Yang satu berpakaian rapi, mungkin memakai ulos yang indah, mencerminkan status dan kehormatannya di masyarakat. Yang lain datang dengan pakaian biasa, bahkan agak lusuh, dan memilih duduk di bangku paling belakang, hampir tak ingin dilihat orang. Siapa di antara kedua orang ini yang pulang ke rumahnya dalam keadaan berkenan di hati Tuhan?

Inilah pertanyaan radikal yang diajukan Yesus dalam perumpamaan yang kita baca dari Injil Lukas 18:9-14. Teks suci ini ditujukan secara khusus "kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain." Sebuah teguran yang sangat keras, tetapi juga sebuah undangan yang lembut untuk masuk lebih dalam ke dalam relasi sejati dengan Allah.

Hari ini, di tanah Sumatera Utara yang kaya budaya dan tradisi, kita akan merenungkan satu tema pokok, yaitu “Sikap hati yang dibenarkan Allah: merendahkan diri di hadapan-Nya.” Di tengah gengsi budaya Dalihan Na Tolu (bagi kita yang berlatar Batak) atau dalam interaksi sosial yang menghargai status dan martabat, bagaimana kita bisa hidup dalam kebenaran Allah tanpa jatuh pada perangkap kesombongan rohani? Mari kita berjalan bersama menuju Bait Allah melalui perikop ini.

Pertama, kita melihat orang Farisi. Ia berdiri sendirian. Ia berdoa, tetapi sebenarnya ia berbicara tentang dirinya sendiri di hadapan Allah. Ucapannya, "Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain..." Perhatikan, syukurnya bukan karena kebesaran Allah, melainkan karena perbandingan dengan orang lain. Ia menjalankan kewajiban agamanya dengan baik: berpuasa dua kali seminggu (padahal aturan hanya mewajibkan sekali setahun) dan memberikan persepuluhan. Dari luar, ia sempurna.

Namun Paus Fransiskus sering mengingatkan bahwa sikap ini adalah "penyakit rohani" yang paling halus: merasa diri lebih kudus dari orang lain. Ia memandang rendah pemungut cukai, sesama ciptaan Allah. Ia lupa bahwa di hadapan Tuhan, semua manusia adalah pendosa yang butuh belas kasihan.

Kedua, mari kita arahkan pandangan kepada si pemungut cukai. Dalam konteks sosial-keagamaan saat itu, ia adalah "orang berdosa" karena bekerja untuk penjajah Romawi dan sering korupsi. Namun, lihatlah sikapnya. Ia berdiri "jauh-jauh," bahkan tidak berani menengadah ke langit. Ia memukul dadanya, tanda dukacita yang mendalam.

Doanya hanya satu kalimat: "Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini." Kata "kasihanilah" dalam bahasa aslinya (Yunani: hilaskomai) mengandung arti "jadilah pendamaian bagiku." Ini adalah seruan iman yang sangat dalam. Ia tidak membawa apapun kecuali ketidaklayakannya. Ia datang dengan tangan kosong, dan justru di situlah Allah dapat memenuhinya dengan rahmat.

Perumpamaan ini sangat penting bagi kita di Sumatera Utara

Pertama, karena kita hidup dalam budaya yang sangat menghargai "harga diri" (hasangapon). Dalam budaya Batak, misalnya, konsep hasangapon (kehormatan), hamoraon (kekayaan), dan hagabeon (kebahagiaan keturunan) adalah nilai-nilai luhur. Namun, nilai-nilai ini bisa menjadi jebakan rohani jika kita salah menempatkannya. Kita bisa saja rapi di gereja, aktif di segala kegiatan, memberikan persembahan yang besar, tetapi hati kita penuh dengan perbandingan: "Saya lebih aktif dari dia," "Saya lebih tahu liturgi dari orang itu," "Saya bukan seperti dia yang baru datang sebulan sekali." Inilah yang disebut “kesombongan rohani”, yang lebih berbahaya dari dosa-dosa lahiriah karena ia bersembunyi di balik jubah kesalehan.

Kedua, semangat Dalihan Na Tolu (Tungku Nan Tiga). Prinsip somba marhula-hula (hormat kepada pihak pemberi berkat), elek marboru (ramah kepada perempuan/boru), dan manat mardongan tubu (hati-hati dengan sesama marga) adalah landasan harmoni. Namun, harmoni sosial ini harus bersumber dari kerendahan hati di hadapan Tuhan. Jika kita hanya pandai merendah secara sosial karena takut gengsi, tetapi di hadapan Tuhan kita merasa hebat, maka kerendahan kita itu palsu. Kerendahan hati sejati dimulai dari mengakui bahwa di hadapan Allah, kita semua, apa pun marga atau status kita, adalah "pemungut cukai" yang butuh belas kasihan.

Ketiga, konteks kemajemukan. Kita hidup di Sumatera Utara yang majemuk, dengan saudara-saudari dari berbagai suku dan agama. Orang Farisi memisahkan diri dan memandang rendah orang lain. Orang yang dibenarkan Allah justru adalah mereka yang sadar akan dosanya sendiri, bukan yang sibuk menghakimi orang lain. Sikap rendah hati di hadapan Tuhan akan melahirkan sikap hormat dan rendah hati terhadap sesama manusia, apapun latar belakangnya.

Bagaimana kita sebagai "orang yang dibenarkan" seperti pemungut cukai itu?

Periksalah motivasi ibadah kita. Ketika kita datang mengikuti perayaan Ekaristi, ketika kita berdoa Rosario, ketika kita memberi persembahan, tanyakan pada diri kita: "Apakah ini untuk menunjukkan kesalehanku, atau untuk bertemu dengan Allah yang kudus?" Gereja mengajarkan bahwa doa adalah mengangkat hati kepada Tuhan. Jika doa kita berputar pada "aku, aku, aku," mungkin kita lebih mirip dengan orang Farisi.

Belajar dari inkulturasi iman. Indah sekali melihat bagaimana Gereja di Sumatera Utara, misalnya menggunakan Ulos dan perangkat adat dalam perayaan tertentu. Ini bukan sekadar estetika. Ini adalah pengakuan bahwa budaya kita dapat menjadi jalan untuk menghantar kita kepada Tuhan. Namun ingat, simbol-simbol budaya yang indah ini—ulos yang mahal, lagu-lagu Batak yang merdu—harus sepadan dengan kerendahan hati batin. Jangan sampai kita bangga dengan "kemasan" ibadah, tetapi hati kita kosong dari pengakuan akan dosa.

Mengasihi dengan tindakan. Orang yang merasa dibenarkan oleh Tuhan akan menjadi berkat. Jika kita sadar bahwa kita diselamatkan hanya oleh kasih karunia, bukan karena jasa, maka kita tidak akan sulit mengasihi orang lain, termasuk mereka yang kita anggap "lebih berdosa" atau "lebih rendah" status sosialnya. Cobalah untuk lebih peka terhadap sesama yang membutuhkan pertolongan, baik secara materi maupun rohani. Itulah wujud syukur kita yang sejati.

Saudara-saudari terkasih,

Yesus menutup perumpamaan ini dengan satu hukum rohani yang kekal: "Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."

Kita boleh pulang dari rumah ibadat dengan hati yang tenang, bukan karena kita telah melakukan segala kewajiban agama, tetapi karena kita telah membuka hati bagi belas kasihan-Nya. Seperti pemungut cukai, mari kita tinggalkan segala topeng kesombongan di depan pintu Bait Allah. Mari kita datang dengan jujur di hadapan Tuhan, mengakui: "Tuhan, aku ini orang berdosa. Kasihanilah aku." Maka, dengan penuh keyakinan iman, kita tidak hanya pulang sebagai orang yang puas secara agama, melainkan sebagai pribadi-pribadi yang telah dibenarkan dan diperbarui oleh kasih karunia Allah.

Semoga Roh Kudus menuntun kita agar kita dapat menjadi garam dan terang bagi sesama, dengan hati yang rendah dan penuh syukur. Amin.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag 

(Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi)


 

Rabu, 11 Maret 2026

KITA HARUS TURUN, BERHENTI, DAN MELIHAT MEREKA YANG TERPINGGIRKAN DI SEKITAR KITA

RENUNGAN HARIAN

Hari, Tanggal  :    Jumat, 13 Maret 2026

Bacaan            :    Markus 12:28b-34

 

KITA HARUS TURUN, BERHENTI, DAN MELIHAT MEREKA YANG TERPINGGIRKAN DI SEKITAR KITA




 

Saudara-saudari terkasih,

 

Pernahkah kita merasa sudah melakukan segalanya dengan benar dalam beragama? Rajin ke gereja, setia berdoa, bahkan aktif dalam kegiatan sosial? Namun, ada satu pertanyaan yang mungkin mengganggu di lubuk hati: apakah semua itu sudah cukup?

Hari ini, Injil Markus membawa kita ke sebuah percakapan yang teduh namun mendalam di Bait Allah. Seorang ahli Taurat, yang mungkin lelah dengan perdebatan para rabi tentang mana hukum yang terberat dan teringan di antara 613 perintah Taurat, datang kepada Yesus dengan pertanyaan jujur, "Perintah manakah yang paling utama?"

Yesus tidak terjebak dalam perdebatan. Ia menjawab dengan merajut dua kutipan dari kitab suci mereka sendiri. Pertama, Shema Israel, doa inti yang setiap hari terucap dari bibir orang Yahudi: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap akal budimu, dan dengan segenap kekuatanmu." Lalu, tanpa jeda, Ia menambahkan perintah kedua yang "sama dengan itu": "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."

Dua perintah ini, bagi Yesus, adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Seperti dua sisi mata uang yang sama. Seperti nafas yang keluar dan masuk. Tak mungkin kita mengaku mengasihi Tuhan yang tak kelihatan, jika kita menutup mata terhadap sesama yang ada di hadapan kita.

Saudara terkasih, mari kita bawa renungan ini ke tanah kelahiran kita, Sumatera Utara. Di sini, kita memiliki kekayaan budaya Batak yang luhur dengan filosofi Dalihan Na Tolu (tungku nan tiga). Almarhum Mgr. Anicetus Bongsu Sinaga OFMCap, dengan indah pernah menyublimasikan nilai ini dalam terang iman. Beliau memaknai Somba Marhula-hula (hormat kepada pihak hula-hula) sebagai lambang hubungan vertikal kita kepada Tuhan—sumber berkat dan kehidupan. Sementara Elek Marboru (mengayomi pihak boru) dan Manat Mardongan Tubu (saling menjaga dengan sesama semarga) adalah perwujudan nyata dari kasih horizontal kepada sesama.

Filosofi luhur ini mengajarkan kita bahwa ibadah kepada Tuhan dan kepedulian kepada manusia adalah satu paket yang utuh. Namun, dalam keseharian, seringkali kita tergoda untuk memisahkannya. Ada godaan untuk menjadi saleh di dalam gereja. Kita bangga dengan megahnya rumah ibadah di kota Medan, atau semangat umat di stasi-stasi terpencil Nias dan Tapanuli. Kita sibuk mempersembahkan kurban dan doa. Tetapi, pada saat yang sama, hati kita tuli terhadap tangisan "Yerikho" di sekitar kita—tangisan para perantau yang kesepian, tangisan keluarga miskin di pesisir Sibolga yang hidupnya terhimpit, atau tangisan mereka yang tersingkirkan karena berbeda suku dan keyakinan.

Sebaliknya, ada juga godaan untuk menjadi aktif secara sosial. Kita sibuk dengan kegiatan Elek Marboru, memberikan bantuan, dan terlibat dalam berbagai organisasi kemanusiaan. Namun, jika semua itu tidak bersumber dari perjumpaan pribadi dengan Sang Sumber Kasih, hati kita bisa menjadi kering. Kita memberi, tetapi mungkin karena gengsi, karena tradisi, atau karena ingin dipuji, bukan karena sungguh-sungguh melihat wajah Kristus dalam diri sesama.

Di sinilah pesan Yesus menjadi sangat tajam. Ahli Taurat dalam Injil hari ini memahami hal ini. Ia bahkan berkata bahwa mengasihi Allah dan sesama "jauh lebih utama daripada semua korban bakaran dan korban sembelihan." Sebuah pengakuan yang revolusioner, yang diucapkannya tepat di tengah Bait Allah yang megah, pusat segala ritual kurban. Yesus melihat kedalaman pemahamannya dan berkata, "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah."

Saudara-saudari, apa artinya "tidak jauh"? Artinya, kita bisa saja memiliki pemahaman yang benar, teologi yang tepat, dan tradisi yang indah. Tetapi semua itu akan sia-sia jika hanya berhenti di kepala dan tidak menjelma menjadi tindakan. IKKSU (Ikatan Keluarga Katolik Sumatera Utara) di perantauan, misalnya, memiliki tekad mulia untuk memastikan tak ada sesama perantau yang kelaparan atau kesepian di rumah sakit. Itulah wujud kasih sesama yang nyata. Namun, seperti diingatkan Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap, panggilan kita bukan sekadar untuk "mendapat" atau memberi secara seremonial, tetapi untuk "memberi diri". Prinsipnya, not to have but to give.

Memberi diri berarti kita harus keluar dari zona nyaman. Kita harus berhenti, seperti Yesus yang berhenti di Yerikho untuk Bartimeus, si pengemis buta yang tersisihkan. Kita harus turun dan melihat secara langsung penderitaan orang lain. Dalam masyarakat kita yang majemuk—dengan Batak Toba, Karo, Simalungun, Pakpak, Mandailing, Nias, Jawa, Tionghoa, India, dan lainnya—kasih yang sejati tidak boleh diskriminatif. Perbedaan suku, agama, ras, dan budaya tidak boleh menjadi tembok pemisah, melainkan jembatan untuk saling mengasihi.

Kita bangga menjadi orang Batak Toba, Karo, Simalungun, Pakpak, Nias, atau orang Medan. Itu adalah anugerah. Budaya adalah jalan kita menuju Tuhan. Namun, identitas kultural kita tidak boleh lebih besar daripada identitas kita sebagai murid Yesus. Salib Kristus adalah pemersatu sejati. Jika kita sungguh mengasihi, kita tak akan membiarkan perbedaan marga, asal-usul, atau status sosial menghalangi kita untuk berbagi kasih.

Saudara-saudari terkasih, marilah kita naik ke Yerusalem, berjumpa dengan Tuhan dalam doa dan Ekaristi. Marilah kita membarui hati kita dengan Shema yang baru: "Dengarlah, hai umat Katolik, Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa. Kasihilah Dia dengan segenap hati." Tetapi ingatlah, jalan menuju Yerusalem harus melewati Yerikho. Kita harus turun, berhenti, dan melihat mereka yang terpinggirkan di sekitar kita.

Orang yang tidak jauh dari Kerajaan Allah adalah orang yang tahu persis ke mana ia harus pergi, dan tahu persis jalan apa yang harus ditempuh. Yesus berkata, "Akulah Jalan." Dan jalan itu adalah Jalan Kasih: kasih kepada Allah yang Esa dan kasih kepada sesama yang konkret. Semoga kita, tidak hanya "tidak jauh" dari Kerajaan Allah, tetapi sungguh masuk dan menghadirkan Kerajaan itu di Tanah Sumatera Utara yang kita cintai, mulai dari hari ini. Amin.

 

(Sorang Tumanggor, S.Ag Penyuluh Agama Katolik Kankemenag Kabupaten Dairi)

 

MERAJUT PERSAUDARAAN SEJATI DI TANAH YANG SUBUR

RENUNGAN HARIAN

Hari, Tanggal  :    Kamis, 12 Maret 2026
Bacaan Injil     :    Lukas 11:14-23

MERAJUT PERSAUDARAAN SEJATI DI TANAH YANG SUBUR




Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,

Kita hidup di tanah yang subur, Sumatera Utara. Tanah ini memberkati kita dengan panorama indah dan hasil bumi yang melimpah. Namun, kita juga menyadari, di tengah kesuburan itu, ada banyak “hama” yang mengancam—bukan hanya hama tanaman, tetapi juga hama kehidupan bersama: egoisme kesukuan yang berlebihan (parokialisme), prasangka buruk antarkelompok, berita bohong (hoaks) yang memecah belah, serta gaya hidup yang hanya mengejar materi. Semua ini adalah belenggu modern yang membuat kita bisu untuk bersyukur dan tuli terhadap tangisan sesama.

Bacaan Injil Lukas 11:14-23 hari ini berbicara tepat tentang realitas tersebut. Yesus berhadapan langsung dengan kuasa yang membelenggu manusia, dan Ia menunjukkan jalan menuju pembebasan sejati. Marilah kita renungkan sabda Tuhan ini, agar kita semakin berani berpihak kepada-Nya, Sang “Lebih Kuat” yang membebaskan.

Perikop Injil bercerita tentang Yesus yang mengusir setan bisu. Seorang yang terbelenggu akhirnya bisa berbicara. Namun, respons orang-orang pun beragam. Ada yang kagum, tetapi ada pula yang menuduh Yesus bersekutu dengan Beelzebul, pemimpin setan. Bahkan, ada yang meminta tanda lain dari surga. Mereka menolak terang yang jelas-jelas sudah bersinar di depan mata. Ironis, bukan? Di hadapan karya pembebasan yang nyata, mereka justru mencari-cari kesalahan. Hal ini mengingatkan kita pada tuduhan-tuduhan tak berdasar yang kerap dialamatkan kepada Gereja atau sesama di dunia digital saat ini.

Yesus membantah tuduhan itu dengan logika sederhana: “Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa.” Mustahil Iblis mengusir Iblis; itu sama saja bunuh diri. Lalu Yesus menggunakan frasa yang sangat indah, “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan jari Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.”

Frasa “jari Allah” mengingatkan kita pada kisah Musa ketika tulah menimpa Mesir. Para ahli sihir Firaun pun mengakui, “Inilah jari Allah” (Kel. 8:19). Itulah kuasa ilahi yang otentik. Yesus menegaskan bahwa kuasa pembebasan ini bukan berasal dari dunia gelap, melainkan tanda nyata bahwa Kerajaan Allah—pemerintahan kasih dan kebenaran—telah hadir di tengah-tengah mereka. Hanya dengan jari-Nya, Allah membebaskan. Ini menunjukkan bahwa bagi Allah, tidak ada belenggu yang terlalu kuat.

Yesus memperdalam ajaran-Nya dengan perumpamaan: Iblis itu seperti “orang kuat” yang menjaga rumahnya dengan senjata lengkap. Namun, Yesus adalah “Yang Lebih Kuat” yang datang untuk mengalahkannya. Inilah inti peperangan rohani. Yesus datang bukan untuk berdiplomasi dengan kejahatan, tetapi untuk merampas jarahan dan membebaskan para tawanan. Kemenangan ini menjadi fondasi pengharapan kita. Kita tidak perlu takut pada kuasa kegelapan, karena Kristus telah mengalahkannya secara mutlak.

Dan inilah pesan yang paling tajam dan relevan bagi kita: *“Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku; dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan.” * Yesus menegaskan bahwa dalam peperangan rohani ini tidak ada zona abu-abu. Tidak ada sikap netral. Hidup kita adalah medan perang antara kasih dan kebencian, antara kejujuran dan kecurangan, antara persatuan dan perpecahan. Jika kita tidak aktif mengumpulkan bersama Kristus—bersatu, membangun, merajut—maka secara tidak sadar kita sedang mencerai-beraikan. Sikap masa bodoh, acuh tak acuh terhadap sesama, sama saja dengan memberi ruang bagi musuh untuk bekerja.

 

Saudara-saudari terkasih,

Apa artinya semua ini bagi kita yang hidup sebagai warga Katolik di Sumatera Utara?

Pertama, melawan belenggu modern dengan kuasa Kristus. Belenggu kita hari ini tidak selalu berupa kerasukan demoniak, tetapi bisa berupa “setan bisu” modern: ketidakmampuan kita untuk bersuara membela kebenaran karena takut, atau keengganan kita untuk memuji Tuhan karena sibuk dengan urusan dunia. Ada juga “setan tuli”: tidak mau mendengar nasihat, tidak mau mendengar suara hati nurani, dan tidak peduli pada seruan kaum miskin dan terpinggirkan. Yesus, Sang “Lebih Kuat”, telah memberi kita kuasa-Nya. Kita dipanggil untuk menggunakan kuasa kasih itu: melawan hoaks dengan kebenaran, melawan ujaran kebencian dengan kata-kata yang membangun, dan melawan ketidakadilan dengan aksi nyata.

Kedua, membangun persaudaraan sejati di atas perbedaan. Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap, berulang kali mengajak kita untuk menciptakan komunitas yang sinodal, kondusif, dan formatif. Di Sumatera Utara, kita hidup bersama dengan berbagai suku: Batak, Jawa, Tionghoa, Tamil, Nias, Melayu, dan lainnya. Kita memiliki Gereja Graha Maria Annai Velangkanni di Medan yang indah, dengan arsitektur yang memadukan budaya Tamil, Katolik, bahkan nuansa Islam. Gereja itu menjadi simbol inkulturasi dan toleransi yang nyata. Inilah “jari Allah” yang bekerja! Inilah bukti bahwa Kerajaan Allah hadir ketika kita mampu merangkul perbedaan dan menciptakan keindahan bersama.

Almarhum Mgr. Anicetus Bongsu Sinaga, OFMCap, pendahulu kita, pernah berpesan agar umat Katolik Sumatera Utara jangan menjadi kelompok yang eksklusif, melainkan membangun persaudaraan dengan semua suku. Bersikap eksklusif, hanya nyaman dengan kelompok sendiri, adalah bentuk “mencerai-beraikan”. Sebaliknya, merangkul sesama yang berbeda adalah wujud nyata “mengumpulkan bersama Kristus”.

Ketiga, berpihak secara sadar dan aktif. Tidak ada netralitas! Entah kita sedang bekerja, bergaul di lingkungan, atau bermedia sosial, kita selalu dihadapkan pada pilihan: apakah sikap kita membangun atau menghancurkan? Apakah kata-kata kita mengobati atau melukai? Apakah tindakan kita mempersatukan atau memecah belah? Menjadi pengikut Kristus berarti secara sadar memilih untuk berada di pihak-Nya, yaitu pihak kasih, kebenaran, dan persaudaraan. Ini adalah perjuangan iman yang terus-menerus, seperti yang telah dicontohkan para kudus dan tokoh iman kita.

Marilah, saudara-saudari terkasih. Tuhan Yesus, Sang “Lebih Kuat”, telah memenangkan pertempuran di kayu salib. Ia telah membebaskan kita dari belenggu dosa dan maut. Sekarang, Ia memanggil kita untuk menjadi rekan kerja-Nya di tanah Sumatera Utara yang kita cintai ini.

Jangan biarkan diri kita kosong kembali setelah dibersihkan. Isilah hati dan pikiran kita dengan Roh Kudus, dengan Sabda Tuhan, dan dengan kasih yang aktif. Jadilah terang dan garam. Berpihaklah selalu kepada Kristus, dengan merajut persaudaraan, membangun dialog, dan berani melawan segala bentuk kejahatan yang berkedok kewajaran.

Karena barangsiapa tidak bersama Yesus, ia melawan Yesus. Dan syukurlah, kita memilih untuk bersama-Nya, Sang Gembala Baik yang mengumpulkan kita semua dalam satu kawanan, dalam kasih yang tak terbagi. Amin.

 

(Sorang Tumanggor, S.Ag Penyuluh Agama Katolik Kankemenag Kabupaten Dairi)


Selasa, 10 Maret 2026

Hukum Kasih Adalah Fondasi Yang Membebaskan, Bukan Belenggu Yang Membatasi

 

Hukum Kasih Adalah Fondasi Yang Membebaskan,

Bukan Belenggu Yang Membatasi


(Matius 5:17-19)




Saudara-saudari terkasih dalam Yesus Kristus,

Semoga rahmat Tuhan senantiasa menyertai kita yang sedang berjuang menghidupi iman di tengah kesibukan harian kita. Baik kita yang pagi-pagi sudah berjibaku dengan macet di Jalan, para orangtua yang sibuk mengantar anak ke sekolah, para petani dan pekebun yang setia mengolah tanah, para buruh dan pekerja di kawasan industri, maupun para pelajar dan mahasiswa yang haus akan ilmu. Di tengah peluh dan perjuangan kita, firman Tuhan hari ini hadir menyapa kita.

Hari ini, kita merenungkan Injil Matius 5:17-19. Ini adalah bagian dari khotbah di bukit, ajaran agung Yesus di awal pelayanan-Nya. Di ayat-ayat ini, Yesus dengan tegas berkata: "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya."

Pernyataan ini sangat penting. Yesus seolah ingin meluruskan kesalahpahaman. Mungkin ada yang mengira bahwa ajaran kasih yang dibawa-Nya akan menggantikan semua aturan dan hukum yang sudah berabad-abad menjadi pegangan umat. Bisa jadi, kita pun kadang berpikir serupa: "Ah, yang penting kan kasih, yang penting kan hati. Aturan-aturan Gereja, hukum-hukum moral, itu semua 'kan cuma formalitas, yang penting kan perbuatan baik."

Namun, Yesus dengan jelas membantah anggapan itu. Kedatangan-Nya bukan untuk meruntuhkan fondasi lama, melainkan untuk menyempurnakannya, menggenapinya, dan mengembalikannya pada makna yang paling hakiki. Hari ini, mari kita renungkan satu tema sentral: Hukum Kasih adalah fondasi yang membebaskan, bukan belenggu yang membatasi. Bagaimana kita, sebagai warga Sumatera Utara yang majemuk ini, dapat memahami dan menghidupi kebenaran ini?

Saudara-saudari, bayangkan sebuah rumah tradisional Batak Toba. Rumah itu berdiri kokoh karena memiliki tiang-tiang penyangga yang kuat dengan batu dan tertancap dalam di tanah. Hukum Taurat dan kitab para nabi adalah tiang-tiang penyangga itu. Mereka adalah fondasi yang diajarkan Allah sendiri kepada umat-Nya untuk membedakan yang baik dan yang jahat, yang kudus dan yang najis. Sepuluh Perintah Allah adalah fondasi itu.

Yesus tidak datang untuk membongkar fondasi itu. Justru, Ia datang untuk membangun rumah di atas fondasi itu, untuk menunjukkan seperti apa seharusnya kehidupan yang berdiri di atas fondasi Allah itu. Jika kita hanya terpaku pada tiang penyangga, kita hanya melihat aturan-aturan kering: jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri. Itu semua benar dan baik, tetapi jika berhenti di situ, iman kita bisa menjadi legalistik, hanya soal memenuhi kewajiban, tidak lebih.

Yesus "menggenapi" artinya Ia memberi jiwa pada fondasi itu. Ia masuk ke dalam inti dari setiap hukum. Misalnya, tentang "jangan membunuh". Yesus memperdalamnya: jangan marah terhadap saudaramu tanpa sebab (Matius 5:21-22). Di sini, hukum kasih bekerja. Bukan hanya soal menghindari tindakan fisik, tetapi juga soal mengelola hati. Jika kita marah kepada rekan kerja, jika kita mendendam kepada tetangga, bukankah kita sudah "membunuh" sukacita dan kerukunan? Di lingkungan kita yang majemuk di Sumatera Utara, di mana kita hidup berdampingan dengan berbagai suku dan agama, sabda Yesus ini sangat relevan. Kemarahan yang tidak terkendali, prasangka, bisa menjadi api dalam sekam yang merusak persaudaraan. Hukum kasih memanggil kita untuk tidak hanya tidak membunuh, tetapi juga aktif membangun perdamaian.

Di sinilah kita sering dihadapkan pada dilema. Di satu sisi, ada godaan untuk menjadi seperti ahli-ahli Taurat dan orang Farisi. Kita bisa saja rajin ke Gereja tiap Minggu, rajin memberi persembahan, rajin mengikuti segala aturan Gereja. Namun di sisi lain, hati kita mungkin jauh dari kasih. Kita mungkin pelit terhadap pembantu rumah tangga, kita mungkin cuek terhadap sesama yang kesusahan di lingkungan kita, kita mungkin mudah menghakimi orang lain yang tidak se-"kita". Ini adalah sikap "taat buta" yang kering dan tidak berbuah.

Di sisi lain, ada godaan yang tak kalah besarnya, yaitu mentalitas "yang penting kasih". Ini adalah godaan masa kini. Kita berkata, "Ah, yang penting mah kasih sama Tuhan, sama sesama. Ngapain ribet-ribet dengan aturan?" Akibatnya, kita bisa saja seenaknya sendiri. Kita mulai meninggalkan Ekaristi Minggu dengan alasan sibuk. Kita mengabaikan ajaran Gereja tentang moral perkawinan. Kita merasa cukup dengan menjadi orang "baik" menurut ukuran kita sendiri. Ini adalah kasih tanpa arah, yang berujung pada relativisme: semua boleh, semua baik, karena ukurannya hanya perasaan saya.

Di tengah arus dunia yang semakin sekuler ini, umat di Sumatera Utara ini menghadapi tantangan nyata. Di kota besar, ada godaan materialisme dan individualisme. Di perkebunan, ada godaan ketidakadilan dan eksploitasi. Di mana-mana, ada godaan untuk mengompromikan iman demi kenyamanan atau keuntungan duniawi.

Yesus mengingatkan kita untuk tidak jatuh ke kedua jurang itu. Ayat 19 berkata: "Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga."

Ini bukan tentang peringkat di surga, tetapi tentang konsekuensi dari pilihan hidup kita. Jika kita menganggap remeh perintah Tuhan yang "kecil" sekalipun, kita sedang merusak keutuhan iman kita sendiri dan bisa menyesatkan orang lain. Kesetiaan dalam hal-hal kecil adalah cerminan kesetiaan dalam hal-hal besar.

Lalu, bagaimana kita, sebagai murid-murid Yesus di tanah Sumatera Utara ini, menghidupi hukum kasih yang digenapi Yesus ini?

Pertama, hiduplah dengan penuh kesadaran. Ketika kita pergi ke Gereja, jangan lakukan hanya sebagai rutinitas. Sadari bahwa kita sedang bertemu dengan Tuhan yang adalah Kasih itu sendiri. Ketika kita berdoa, ketika kita memberi, lakukanlah dengan hati yang penuh syukur dan cinta. Kasih memberi makna pada setiap tindakan lahiriah kita. Ibadah kita menjadi ekspresi kasih, bukan sekadar kewajiban.

Kedua, wujudkan kasih dalam tindakan nyata di lingkungan kita. Sebagai warga Katoli,  kita punya banyak kesempatan. Mungkin kita bisa terlibat dalam kegiatan lingkungan, menjadi pengurus lingkungan, atau aktif dalam legio Maria, dan sebagainya. Kasih itu konkret. Membantu tetangga yang sedang kesusahan, menyapa pedagang di pasar, tersenyum pada pengemudi becak, bersikap adil kepada karyawan kita – itulah bentuk-bentuk nyata dari "melakukan" perintah Tuhan. Inilah cara kita menggenapi hukum Taurat dalam kehidupan sehari-hari, di tengah kemajemukan masyarakat Sumatera Utara. Sikap hormat dan cinta kita kepada sesama, apapun latar belakangnya, adalah kesaksian iman yang paling otentik.

Ketiga, biarkan hukum Tuhan menuntun kita menuju kebebasan sejati. Mungkin kita berpikir aturan itu mengekang. Tapi coba kita renungkan: mengapa ada rambu-rambu lalu lintas? Bukan untuk mengekang pengemudi, tetapi untuk mengatur lalu lintas agar semua selamat dan lancar sampai tujuan. Demikian pula hukum Tuhan. Hukum kasih yang diajarkan Yesus bukanlah belenggu yang membuat kita takut melangkah, melainkan pagar yang melindungi kita dari jurang kehancuran. Pagar itu menjaga kita tetap berada di jalan yang menuju kepada kebahagiaan sejati, kepada kepenuhan hidup bersama Allah.

Saudara-saudari terkasih,

Yesus datang untuk menggenapi hukum Taurat. Ia adalah penggenapan itu sendiri. Dalam diri Yesus, kita melihat wujud sempurna dari hukum kasih: Ia setia kepada Bapa sampai mati di kayu salib, dan dalam kesetiaan itu, Ia mewujudkan kasih yang paling agung, yaitu memberikan nyawa-Nya bagi sahabat-sahabat-Nya, bagi kita semua.

Marilah kita belajar dari Yesus. Jangan menjadi orang Kristen yang hanya taat secara lahiriah, tetapi hatinya kosong. Jangan pula menjadi orang Kristen yang mengaku cinta Tuhan, tetapi hidupnya semaunya sendiri. Jadilah murid-murid yang sejati, yang memahami bahwa setiap perintah Tuhan adalah undangan untuk masuk lebih dalam ke dalam misteri kasih-Nya.

Dengan berpegang teguh pada fondasi iman yang kokoh, dan menghidupinya dengan semangat kasih yang membebaskan, kita akan menjadi berkat bagi keluarga kita, bagi lingkungan kita, dan bagi Gereja kita tercinta.

Selamat beraktivitas. Tuhan memberkati kita semua dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Amin.

 

(Sorang Tumanggor, S.Ag Penyuluh Ahli Madya Agama Katolik Kankemenag Kabupaten Dairi)

 

Kita Dipanggil Untuk Mengampuni

 

Kita Dipanggil Untuk Mengampuni

(Matius 18:21-35)




Saudara-saudari terkasih, umat Tuhan yang berbahagia.

Kita hidup di tanah yang subur, dikelilingi oleh gunung yang hijau, perkebunan yang luas, dan kota yang terus berkembang. Kita adalah gambaran indah dari kebhinekaan: Batak, Jawa, Tionghoa, Melayu, Nias, dan berbagai suku lainnya, hidup berdampingan sebagai saudara seiman dan sebangsa. Kita tahu, hidup dalam keberagaman adalah sebuah rahmat, namun juga tantangan. Kadang, gesekan kecil bisa terjadi. Mungkin karena urusan lahan, masalah bisnis, perselisihan antartetangga, atau salah paham dalam pergaulan sehari-hari.

Di tengah realitas itulah, firman Tuhan hari ini dari Injil Matius berbicara sangat keras dan jelas. Petrus datang kepada Yesus dengan sebuah pertanyaan yang mungkin sering terlintas di benak kita, "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" (Mat 18:21).

Tujuh kali, dalam pemikiran Petrus, itu sudah angka yang luar biasa besar dan murah hati. Dia merasa sudah memberikan batas maksimal dari kesabaran. Tapi jawaban Yesus mengejutkan: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali" (Mat 18:22).

Yesus tidak sedang mengajak kita menghitung sampai 490 kali. Ia sedang meruntuhkan logika hitung-hitungan manusia. Di Kerajaan Surga, pengampunan tidak punya batas. Ia seperti kasih Bapa yang tak terhingga. Untuk menjelaskan hal ini, Yesus lalu menceritakan sebuah perumpamaan yang sangat kuat.

Perumpamaan itu berkisah tentang seorang hamba yang berutang 10.000 talenta. Saudara-saudari, coba kita bayangkan angka ini dalam konteks kita di Medan. Satu talenta adalah upah seorang buruh selama 20 tahun. Maka 10.000 talenta adalah utang yang mustahil dibayar, mungkin setara dengan utang negara atau perusahaan raksasa. Hamba itu tidak punya harapan.

Saat tuannya memerintahkan untuk menjual dia dan keluarganya untuk membayar utang, si hamba tersungkur dan memohon, "Sabarlah dahulu, segala utangku akan kulunaskan" (Mat 18:26). Ini janji yang mustahil. Tapi lihatlah hati tuannya: "Tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan utangnya" (Mat 18:27).

Inilah gambaran Allah kita. Bukan karena kita sanggup membayar, bukan karena kita layak, tetapi karena belas kasihan-Nya yang tak terduga, Ia menghapus seluruh dosa kita, seluruh "utang" kita kepada-Nya. Ia memberikan kita hidup baru, tanpa ikatan.

Namun, cerita ini berubah tragis. Hamba yang baru saja menerima pengampunan sebesar 10.000 talenta itu keluar dan bertemu dengan temannya yang berutang 100 dinar kepadanya. 100 dinar adalah utang kecil, kira-kira upah 100 hari kerja. Bandingkan dengan 10.000 talenta yang setara dengan 60 juta dinar! Utang temannya itu bagaikan setetes air dibandingkan samudra utang yang baru saja dihapuskan.

Apa yang terjadi? Ia menagih dengan kasar, mencekik leher temannya, dan bahkan ketika temannya memohon dengan kata-kata yang persis sama seperti dulu ia mohon kepada tuannya, "Sabarlah dahulu, hutangku akan kulunaskan" (Mat 18:29), hamba itu tidak tergerak. Hatinya keras. Ia memasukkan temannya ke dalam penjara.

Saudara-saudari, bukankah ini sering terjadi dalam hidup kita? Kita merayakan pengampunan Tuhan setiap hari Minggu, kita menerima komuni kudus, tetapi begitu keluar dari pintu gereja, kita bertemu dengan saudara, rekan kerja, atau tetangga yang pernah menyakiti kita. Mungkin sakit hati itu masih membekas. Lalu kita berkata dalam hati, "Saya tidak akan pernah memaafkannya. Dia sudah terlalu keterlaluan."

Di kota Medan dan sekitarnya yang dinamis ini, banyak "utang" yang mungkin kita pegang:

Utang harga diri: Mungkin kita pernah direndahkan atau dilecehkan dalam pergaulan. Utang materi: Mungkin ada saudara atau teman yang belum mengembalikan uang pinjamannya. Utang perasaan: Mungkin ada konflik keluarga, warisan yang tidak kunjung selesai, atau pernikahan yang retak karena perselingkuhan.

Semua itu adalah "100 dinar" kita. Sakitnya nyata, lukanya dalam. Tetapi ketika kita melihat salib Kristus, kita diingatkan akan "10.000 talenta" kita, yaitu dosa-dosa kita yang tak terbayar, yang telah ditebus oleh darah-Nya. Bagaimana mungkin kita yang telah diampuni sebanyak itu, masih tega membiarkan saudara kita sendiri masuk "penjara" karena sakit hati kita? "Penjara" itu bisa berupa kebencian, dendam, gunjingan, atau sikap dingin yang berkepanjangan. Di paroki kita, di lingkungan kita, mungkin ada "penjara-penjara" kecil yang kita ciptakan karena kita tidak mau mengampuni.

Saudara-saudari terkasih,

Yesus mengakhiri perumpamaan ini dengan peringatan keras: "Bapa-Ku yang di sorga juga akan berbuat demikian terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu" (Mat 18:35).

Pengampunan bukan sekadar perasaan hangat atau kata "saya maafkan" di bibir. Pengampunan adalah keputusan radikal untuk melepaskan hak kita untuk membalas dendam. Ini adalah proses, sebuah perjuangan. Namun, kita tidak berjuang sendirian. Roh Kudus, yang kita terima dalam sakramen, memberi kita kekuatan untuk mengampuni seperti Kristus telah mengampuni kita.

Marilah kita dengan tekad baru: mengingat kasih karunia Tuhan. Setiap kali kita merasa berat untuk mengampuni, ingatlah betapa besar pengampunan yang telah kita terima dari Tuhan. Lihatlah lagi salib-Nya. Marilah kita mulai dari hal kecil. Mungkin ada seseorang yang dekat dengan kita yang perlu kita maafkan. Jangan tunda. Ucapkan dalam hati, doakan dia, atau jika perlu, sambung kembali komunikasi dengan rendah hati. Marilah kita membangun komunitas yang mengampuni. Sebagai umat Keuskupan Agung Medan, mari kita jadi saksi bahwa di tengah masyarakat yang majemuk ini, pengampunan Kristus sanggup mempersatukan kita. Jadilah agen rekonsiliasi di keluarga, tempat kerja, dan lingkungan kita.

Saudara-saudari, Tuhan telah membebaskan kita dari utang dosa yang tak terbayarkan. Jangan biarkan kita kembali menjadi budak dengan memenjarakan sesama dalam ketidakmaafan kita. Mari kita belajar mengampuni dengan segenap hati, karena hanya dengan hati yang bebas dan penuh pengampunan, kita benar-benar dapat merasakan damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal. Damai Kristus, yang lahir dari pengampunan sejati, kiranya menyertai kita semua, di sini, di tanah Sumatera Utara yang kita cintai. Amin.

 

(Sorang Tumanggor S.Ag Penyuluh Ahli Madya Agama Katolik Kankemenag Kabupaten Dairi)

Bukan Sekadar Daun, Tetapi Buah Iman Sejati

 

Bukan Sekadar Daun, Tetapi Buah Iman Sejati

(Markus 11:11-26)




Saudara-saudari terkasih, yang dikasihi Tuhan,

Kita semua pasti pernah mengalami kekecewaan. Mungkin karena janji yang tidak ditepati, atau penampilan luar yang tidak sesuai dengan kenyataan. Dalam bacaan Injil hari ini, kita melihat Yesus juga mengalami "kekecewaan." Bukan kekecewaan yang kecil, tetapi kekecewaan ilahi yang menjadi pelajaran keras bagi kita semua.

Perikop hari ini menyajikan dua peristiwa besar yang saling terkait: Kutukan atas pohon ara dan Penyucian Bait Allah. Dua peristiwa ini memiliki satu tema sentral yang sama, yaitu Kemunafikan Iman.

Mari kita renungkan bersama, bagaimana firman Tuhan ini berbicara secara konkret dalam kehidupan kita sebagai warga Gereja di Sumatera Utara, khususnya di tengah tantangan dan realitas kita sehari-hari.

 

Kemunafikan: Daun yang Rimbun Tanpa Buah

Cerita dimulai dengan Yesus yang lapar. Dari jauh, Ia melihat sebatang pohon ara yang penuh dengan daun. Daun yang lebat biasanya menjadi tanda bahwa pohon itu sedang dalam masa berbuah. Namun, ketika didekati, ternyata tidak ada apa-apa selain daun belaka. Pohon itu palsu, menjanjikan sesuatu yang tidak dimilikinya. Akibatnya, Yesus mengutuk pohon itu.

Tetapi, Yesus tidak mengutuk pohon itu karena tidak sempurna atau karena gagal panen. Ia mengutuknya karena kepalsuannya. Dari kejauhan, ia tampak seperti pohon ara yang produktif, tetapi pada kenyataannya ia mandul.

Saudara-saudari, inilah gambaran yang sangat kuat tentang kemunafikan. Kemunafikan adalah ketika penampilan luar kita tidak sesuai dengan realitas batin. Ketika kita, sebagai orang Katolik, dari luar tampak saleh, rajin ke gereja, aktif di lingkungan, tetapi hati dan perbuatan kita tidak menghasilkan buah iman yang sejati.

Di wilayah kita ini, kita hidup dalam masyarakat yang majemuk, dinamis, dan penuh tantangan. Di satu sisi, kita bangga dengan gereja-gereja kita yang megah, dengan paduan suara yang merdu, dengan banyaknya kegiatan rohani. Itu semua adalah "daun-daun" iman kita. Daun itu penting, ia menandakan kehidupan. Namun, Yesus memperingatkan kita: Jangan hanya puas dengan daun. Pertanyaan krusial bagi kita adalah: di manakah buahnya?

Buah Iman di Keluarga: Apakah kesalehan kita di gereja berbuah dalam kasih dan pengampunan di rumah? Ataukah kita seperti pohon ara yang rimbun di luar, tetapi di dalam rumah tangga kita penuh dengan kemarahan, keegoisan, dan luka yang tidak terobati?

Buah Iman di Masyarakat: Apakah iman kita berbuah dalam kepedulian terhadap sesama? Di kota Medan dan sekitarnya, masih banyak saudara kita yang miskin, sakit, dan tersisih. Apakah kehadiran kita sebagai orang Katolik membawa berkat dan keadilan bagi mereka, atau hanya sekadar wacana belaka? Apakah iman kita berbuah dalam kejujuran di tempat kerja, di pasar, dalam bisnis?

Buah Iman di Gereja: Apakah kita hanya menjadi pengunjung mingguan, atau kita menjadi murid yang sungguh-sungguh bertumbuh? Apakah kita mudah menghakimi sesama umat, sementara kita sendiri lalai dalam pertobatan pribadi?

 

Bait Allah yang Suci: Rumah Doa atau Sarang Penyamun?

Peristiwa kutukan pohon ara ini diapit oleh kisah Yesus menyucikan Bait Allah. Bait Allah di Yerusalem adalah pusat ibadah, tempat paling kudus. Namun, Yesus mendapatinya telah berubah menjadi pasar, tempat transaksi, tempat keuntungan pribadi. Ia menyebutnya sebagai "sarang penyamun."

Orang-orang Farisi dan pedagang di Bait Allah menggunakan agama untuk keuntungan diri. Mereka menciptakan sistem yang membebani umat kecil. Ibadah telah kehilangan esensinya sebagai relasi pribadi dengan Allah, dan berubah menjadi ritual yang hampa.

Sekarang, mari kita renungkan: Gereja, lingkungan, dan bahkan hati kita sendiri adalah Bait Allah yang baru. Santo Paulus mengingatkan kita bahwa tubuh kita adalah Bait Roh Kudus (1Kor 6:19).

Apakah hati kita masih menjadi rumah doa? Ataukah sudah berubah menjadi "sarang penyamun"? Sarang penyamun adalah tempat para perampok bersembunyi setelah berbuat jahat. Mungkin kita datang ke gereja, tetapi hati kita masih dipenuhi dengan rencana-rencana curang, dendam, iri hati, dan cinta uang yang berlebihan. Kita mencoba "menyamar" dengan ritual, sementara hati kita jauh dari Tuhan.

Apakah Gereja kita (komunitas kita) menjadi rumah doa bagi semua orang? Di tengah kemajemukan masyarakat Sumatera Utara, apakah komunitas kita menjadi saksi kasih Allah yang inklusif? Ataukah kita justru menjadi kelompok eksklusif yang sibuk dengan urusan internal dan melupakan panggilan untuk menjadi berkat bagi lingkungan sekitar?

 

Iman yang Berbuah: Percaya, Berdoa, dan Mengampuni

Setelah mengutuk pohon ara dan menyucikan Bait Allah, Yesus mengajar para murid tentang kekuatan iman dan doa. "Percayalah kepada Allah!" tegas Yesus. Iman sejati bukan sekadar pengakuan mulut, tetapi keyakinan yang menggerakkan gunung, yaitu segala tantangan dan dosa yang menghalangi kita untuk berbuah.

Yesus juga mengaitkan iman dan doa dengan satu hal yang sangat praktis: PENGAMPUNAN.

"Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu." (Mrk 11:25)

Ini adalah inti dari buah iman. Tanda paling nyata bahwa kita bukan pohon ara yang palsu adalah kemampuan kita untuk mengampuni.

Saudara-saudari, kita hidup dalam masyarakat yang dinamis, di mana gesekan dan konflik bisa terjadi di mana-mana: di lingkungan kerja, di pasar, di jalanan, bahkan di dalam keluarga dan lingkungan gereja sendiri. Kemarahan, dendam, dan sakit hati adalah "ulat-ulat" yang memakan buah iman kita sehingga menjadi kering dan rontok. Yesus mengajarkan bahwa mustahil kita berhubungan dengan Allah (berdoa) sementara hati kita masih penuh kebencian terhadap sesama. Pengampunan adalah "pupuk" yang membuat iman kita berbuah lebat.

 

Panggilan untuk Menjadi Saksi yang Berbuah

Saudara-saudari terkasih,

Marilah kita merenungkan diri: Apakah hidup saya hanya dipenuhi dengan "daun-daun" kesalehan yang rimbun tetapi mandul? Apakah Bait Allah hati saya telah berubah menjadi pasar atau sarang penyamun? Apakah saya bersedia untuk mengampuni saudara saya yang bersalah kepada saya?

Tuhan Yesus hari ini mengajak kita untuk suatu pertobatan sejati. Ia ingin kita bukan sekadar orang Katolik yang tampak baik di luar, tetapi pengikut Kristus yang sungguh-sungguh berbuah di dalam. Buah kasih, buah keadilan, buah kejujuran, buah kerendahan hati, dan terutama buah pengampunan.

Dengan iman yang teguh kepada Allah, marilah kita bersihkan Bait Allah hati kita. Mari kita jadikan hidup kita sebagai rumah doa yang sesungguhnya, sehingga dari kehidupan kita, orang lain dapat merasakan kehadiran dan kasih Allah. Hanya dengan demikian, kita terhindar dari kutukan kemandulan dan menjadi pohon ara yang rimbun dan berbuah lebat, untuk kemuliaan Tuhan dan keselamatan kita semua.

Tuhan memberkati kita semua. Amin.


(Sorang Tumanggor, S.Ag Penyuluh Ahli Madya Agama Katolik Kankemenag Kabupaten Dairi)

Senin, 09 Maret 2026

KEMULIAAN SEJATI DI TENGAH DUNIA YANG MENGAGUNGKAN PUJIAN

 

KEMULIAAN SEJATI DI TENGAH DUNIA

YANG MENGAGUNGKAN PUJIAN


Matius 20:17-28



Saudara-saudari terkasih,

Pernahkah kita merasa ingin diakui? Ingin dipuji? Ingin dianggap penting? Perasaan ini wajar, karena kita semua manusia. Namun hari ini, Tuhan Yesus mengajak kita melihat dengan cara yang berbeda.

Yesus sedang dalam perjalanan menuju Yerusalem. Ia tahu apa yang akan menimpa-Nya: penderitaan, penolakan, bahkan kematian di salib. Tetapi di saat yang sama, dua murid-Nya, Yakobus dan Yohanes, justru meminta tempat terhormat di surga. Ibu mereka pun ikut memohon agar kedua anaknya duduk di kanan dan kiri Yesus dalam kemuliaan. Bukankah ini lucu? Yesus berbicara tentang pengorbanan, tetapi mereka berbicara tentang kedudukan. Yesus berbicara tentang memberi hidup, tetapi mereka berbicara tentang keuntungan. Namun, jangan cepat menghakimi mereka. Bukankah kita pun sering seperti itu?

Saudara-saudari, kita hidup di zaman di mana orang diukur dari jumlah "like" di media sosial, jabatan di kantor, atau pengakuan dari sesama. Banyak orang rela melakukan apa saja agar dilihat, dipuji, dan dianggap hebat. Ibu Yakobus dan Yohanes sebenarnya tidak berbeda dengan banyak orang tua zaman sekarang yang ingin anaknya sukses, terkenal, dan "nomor satu."

Pertanyaan untuk kita: Apa motivasi kita dalam melayani? Ketika kita aktif di lingkungan, ikut legio, menjadi lektor, atau membantu di gereja, apakah kita diam-diam berharap diperhatikan? Apakah kita kecewa jika tidak dipuji? Apakah kita merasa kecil jika tidak disebut namanya? Yesus membalik semua logika dunia ini. Ia berkata:"Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu." (Mat 20:26). Wah, ini benar-benar terbalik! Dunia bilang: "Kejarlah pujian, kumpulkan pengakuan." Yesus bilang: "Jadilah pelayan, berikan dirimu."

Lalu, di mana kita bisa menemukan Salib dalam hidup sehari-hari? Salib tidak selalu berarti penderitaan besar, salib bisa hadir dalam hal-hal sederhana: Ketika kita mengalah demi kedamaian, merawat orang tua yang sakit tanpa mengeluh, atau sabar menghadapi anak yang rewel. Di situlah kita "minum cawan" yang Yesus maksudkan. Ketika kita memilih jujur meskipun rugi, membantu rekan kerja tanpa ingin dipuji, atau menolak korupsi meskipun karir kita tidak naik. Di situlah kita memikul salib. Ketika kita membela orang yang tertindas, memaafkan orang yang menyakiti kita, atau berbagi dengan sesama meskipun kita sendiri kekurangan. Di situlah kita mengikuti jejak Yesus. Ketika kita melayani di posisi yang tidak terlihat, misalnya membersihkan gereja, menyiapkan perlengkapan misa, atau setia melakukan tugas kecil yang itu-itu saja. Di situlah kita belajar arti "besar" di mata Tuhan.

Yesus tidak melarang kita untuk menjadi besar. Tetapi Ia mengubah arti "besar" itu sendiri. Besar bukan berarti berapa banyak yang kita kumpulkan untuk diri sendiri, melainkan berapa banyak yang kita berikan untuk orang lain. Besar bukan berarti berdiri di atas orang lain, melainkan membungkuk membasuh kaki mereka. Besar bukan berarti terkenal di mana-mana, melainkan setia dalam hal-hal kecil yang tidak dilihat orang.

Di tengah dunia yang mengejar penampilan dan pujian, kita dipanggil untuk menjadi "kontra-budaya." Kita dipanggil menjadi lilin yang menerangi orang lain dengan membakar diri sendiri. Kita dipanggil menjadi air yang memberi kehidupan, bukan bendungan yang menahan air hanya untuk diri sendiri.

Mari kita tanya diri kita masing-masing: Apa motivasi saya dalam bekerja dan melayani? Apakah karena ingin diakui atau karena kasih yang tulus? Dalam bidang apa saya dipanggil untuk "minum cawan" penderitaan dengan rela? Mungkin dalam kesabaran menghadapi orang lain, dalam pengampunan, atau dalam perjuangan untuk keadilan? Bagaimana saya bisa menjadi "pelayan" bagi sesama di lingkungan saya saat ini, meskipun dengan cara yang sederhana dan tidak terkenal?

Saudara-saudari terkasih, ingatlah selalu: sebelum kebangkitan, selalu ada salib. Sebelum kemuliaan sejati, selalu ada pengorbanan. Dunia mungkin tidak akan bertepuk tangan untuk pelayanan kita yang tersembunyi. Tidak ada berita di TV tentang orang yang setia merawat orang tua sakit. Tidak ada "like" di media sosial untuk ibu yang sabar mendidik anaknya. Tetapi Bapa di surga melihat semuanya. Ia menyimpan setiap tetes air mata, setiap lelah, dan setiap cinta yang kita berikan dalam pelayanan yang tulus. Amin.


Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kankemenag Kab. Dairi