Rabu, 22 April 2026

DUA LANGKAH MENUJU HIDUP KEKAL

Renungan

Rabu, 22 April 2026

DATANG DAN PERCAYA: DUA LANGKAH MENUJU HIDUP KEKAL

Yohanes 6:35-40


 


Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Pernahkah kita merasa ada ruang kosong di dalam hati yang tak bisa diisi oleh apa pun? Kita sudah mengisinya dengan pekerjaan, hiburan, media sosial, bahkan pelayanan rohani. Namun tetap saja ada rasa “haus” dan “lapar” yang misterius.

Dalam Injil Yohanes hari ini, Yesus menjawab kerinduan terdalam kita dengan tegas: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” (Yoh 6:35)

Yesus menggunakan dua kata kerja yang sangat konkret: datang dan percaya. “Datang” berarti gerak nyata, bukan sekadar niat baik, tetapi tindakan. Seperti anak lapar yang berlari ke meja makan. “Percaya” berarti menggantungkan seluruh hidup pada Yesus, bukan hanya mengaku dengan bibir.

Yesus tidak berkata, “Barangsiapa tahu ajaran-Ku,” atau “Barangsiapa rajin ke gereja” (meskipun itu penting), melainkan “datang dan percaya.” Inilah inti iman Kristen: hubungan pribadi dengan Pribadi yang adalah Roti Hidup.

Ada kisah tentang seorang anak laki-laki yang pulang sekolah dalam keadaan lapar. Ibunya menyiapkan kue bolu kesukaannya. Anak itu duduk lalu bertanya panjang lebar, “Bu, tepung ini dari mana? Gula pasir atau gula aren? Telurnya dari ayam kampung? Apakah kue ini benar-benar enak?” Ibunya tersenyum dan berkata, “Nak, jangan banyak tanya. Datang dan makanlah. Nanti kau tahu sendiri rasanya.”

Saudara-saudariku, banyak dari kita menghabiskan waktu bertanya-tanya tentang misteri Ekaristi, tentang dosa, tentang keselamatan, tetapi tidak pernah benar-benar datang kepada Yesus dalam doa dan percaya penuh. Iman bukanlah analisis teoretis, melainkan penyantapan pribadi akan Roti Hidup.

Yesus memberikan tiga jaminan dengan logika kasih, bukan logika dunia:

Pertama, “Setiap orang yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku” (ay. 37). Artinya: kerinduanmu untuk datang kepada Yesus bukanlah kebetulan, melainkan panggilan dan karunia Bapa. Jika hatimu tertarik kepada Yesus hari ini, itu adalah rahmat.

Kedua, “Ia yang datang kepada-Ku tidak akan Kubuang” (ay. 37). Dunia sering membuang: ketika gagal, tua, sakit, berdosa. Tetapi Yesus berkata, “Aku tidak pernah membuang.” Petrus yang menyangkal, Tomas yang ragu, Paulus yang menganiaya — semuanya diterima.

Ketiga, “Inilah kehendak Bapa-Ku: Aku akan membangkitkannya pada akhir zaman” (ay. 39–40). Bukan hanya penyelamatan masa kini, tetapi juga masa depan. Kebangkitan adalah titik akhir dari semua air mata.

Bayangkan seorang anak kecil jatuh dari sepeda. Lututnya berdarah, tangannya penuh debu. Ia malu dan menangis. Ayahnya datang berlari. Anak itu berkata, “Ayah, aku pasti sudah tidak layak jadi anak Ayah. Aku sering jatuh.” Sang ayah lalu membuka gelang karet murah di tangannya yang sudah kendor. Ia berkata, “Nak, gelang ini murah dan mudah putus. Tapi lihatlah cincin kawin Ayah. Ini tidak pernah lepas. Begitulah janji Ayah padamu. Aku tidak akan membuangmu, apa pun yang terjadi.”

Saudara-saudariku, janji manusia seperti gelang karet, bisa putus. Tetapi janji Yesus, “Tidak akan Kubuang,” adalah seperti cincin kawin Allah dengan umat-Nya. Kekal. Tak terlepas. Meskipun kita jatuh berkali-kali.

Apa artinya “datang dan percaya” dalam hidup sehari-hari? Bagi kita, Misa Mingguan bukan sekadar kewajiban, tetapi saat kita benar-benar datang menyantap Roti Hidup dalam Komuni Kudus. Sebelum komuni, bisikkan dalam hati: “Tuhan, aku lapar akan Engkau.” Dalam pencobaan dosa, jangan lari dari Yesus karena malu, tetapi datanglah lebih cepat kepada-Nya. Sakramen Tobat adalah tempat Yesus kembali menerima tanpa membuang. Ketika doa terasa kering, tetaplah percaya bahwa Yesus adalah Roti — meskipun tidak terasa enak di lidah iman, Ia tetap memberi hidup.

Yesus menutup perikop ini dengan kata yang menghancurkan hati: “Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu setiap orang yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal” (ay. 40).

Bukan hidup yang sempurna tanpa masalah, tetapi hidup yang tidak pernah lagi lapar dan haus dalam arti terdalam. Lapar akan makna, haus akan cinta sejati — semuanya dipuaskan hanya dalam diri Kristus, Roti Hidup.

Maka, saudaraku, jangan takut. Datanglah. Percayalah. Dan biarkan Yesus berkata kepada hatimu hari ini: “Kamu tidak akan Kutinggalkan. Aku sendiri akan membangkitkanmu.” Amin.


Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Selasa, 21 April 2026

ROTI HIDUP: LEBIH DARI SEKADAR KENYANG PERUT

Renungan

Selasa, 21 April 2026

ROTI HIDUP: LEBIH DARI SEKADAR KENYANG PERUT

Yohanes 6:30-35




Kita hidup di zaman yang serba cepat dan praktis. Setiap hari, kita disuguhi berbagai janji kebahagiaan instan dari media. Cukup dengan satu klik, kita bisa mendapatkan makanan, hiburan, bahkan teman. Namun, di balik semua kemudahan itu, hati manusia tetap gelisah. Kita merindukan sesuatu yang nyata—sesuatu yang bisa membuat kita berkata, "Sekarang aku benar-benar puas."

Dalam bacaan hari ini, orang banyak sedang mengalami situasi serupa. Mereka baru saja menyaksikan mukjizat penggandaan roti (Yohanes 6:1-15). Perut mereka kenyang. Tetapi keesokan harinya, mereka kembali mencari Yesus. Bukan karena mereka mengasihi-Nya, melainkan karena perut mereka lapar lagi. Mereka ingin melihat "tanda" sekali lagi. Bahkan, mereka membandingkan Yesus dengan Musa: "Musa memberi nenek moyang kami makan manna. Engkau bisa apa?"

Dengan sabar, Yesus meluruskan cara pikir mereka. Manna di padang gurun memang ajaib, tetapi sifatnya sementara. Setiap hari orang Israel harus mengumpulkannya, dan jika disimpan hingga keesokan harinya, manna itu menjadi busuk. Manna adalah roti untuk bertahan hidup, bukan untuk hidup yang kekal.

Lalu Yesus menyampaikan pernyataan yang revolusioner: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi." (Yohanes 6:35)

Perhatikan kata "Akulah". Dalam bahasa Yunani, ini adalah pernyataan "Ego Eimi" (Akulah Aku), frasa yang mengingatkan kita pada nama Allah dalam Perjanjian Lama. Yesus tidak berkata, "Aku memberi roti," melainkan Aku adalah Roti. Artinya, bukan hanya pemberian-Nya yang menyelamatkan, melainkan pribadi-Nya sendiri.

Roti biasa hanya mengenyangkan perut sebentar, lalu lapar lagi. Tetapi Yesus, Roti Hidup, memuaskan kerinduan terdalam hati manusia: akan makna hidup, pengampunan, dan kekekalan.

Mari kita bayangkan sebuah ilustrasi sederhana. Seorang anak laki-laki bernama Andi sangat menanti-nantikan hari ulang tahunnya. Ibunya membuatkan kue tar besar dengan hiasan krim stroberi dan cokelat. Mata Andi berbinar. Namun, saat hendak memotong kue, ibunya berkata, "Kue ini hanya untuk dilihat, Nak. Kita tidak boleh memakannya. Kita hanya boleh memotretnya dan menyimpannya di lemari."

Andi kecewa berat. Setiap hari ia melihat kue itu dari balik kaca lemari. Kuenya masih indah, masih harum, tapi tak bisa dinikmati. Suatu hari, kue itu berjamur dan akhirnya dibuang.

Banyak dari kita seperti Andi. Kita mengagumi Yesus dari jauh. Kita tahu ajaran-Nya indah, kita datang ke gereja, kita melihat hosti (Roti Ekaristi). Tetapi kita tidak benar-benar "memakan" Dia—artinya, tidak bersatu dengan-Nya dalam doa, tidak percaya sepenuh hati, tidak membiarkan firman-Nya mengubah hidup kita. Kita hanya melihat Roti Hidup, tetapi tidak menikmati Dia.

Akibatnya? Kita tetap lapar. Kita lari mencari roti dunia: popularitas, harta, seks, narkoba, gosip—semua itu seperti kue pajangan. Cantik sebentar, tetapi tak pernah memuaskan. Pada akhirnya, semuanya membusuk.

Yesus tidak ingin hanya dilihat dari jauh. Dia berkata, "Datanglah kepada-Ku. Makanlah Aku. Jadikan Aku santapan harianmu."

Karena itu, pertama, mari kita bedakan antara kebutuhan fisik dan kerinduan jiwa. Tuhan tahu kita membutuhkan makanan fisik (doa "Berilah kami rezeki pada hari ini"). Namun Yesus juga ingin kita mengakui bahwa kerinduan terbesar kita adalah akan hadirat-Nya sendiri. Kedua, mari kita manfaatkan Sakramen Ekaristi dengan lebih baik. Setiap kali menerima Komuni Kudus, kita tidak sekadar "makan roti kudus", melainkan dipersatukan dengan Kristus yang bangkit. Sebelum komuni, ucapkan dalam hati: "Tuhan, aku lapar akan Engkau, bukan hanya berkat-Mu." Ketiga, mari berhenti membanding-bandingkan mukjizat. Kadang kita berkata, "Dulu Tuhan menyembuhkan orang sakit, mengapa sekarang tidak?" Atau "Musa bisa membelah laut, Yesus cuma memberi roti?" Yesus mengingatkan: mukjizat terbesar bukanlah manna atau roti berlipat ganda, melainkan Diri-Nya sendiri yang turun dari surga untuk mati dan bangkit bagi kita. Itulah tanda yang paling dahsyat.

Marilah kita berdoa seperti orang banyak yang akhirnya berkata dalam Yohanes 6:34: "Tuhan, berilah kami roti itu senantiasa." Bukan roti untuk sehari, tetapi Roti untuk hidup yang kekal. Bukan sekadar mukjizat yang spektakuler, melainkan kehadiran-Mu yang sederhana namun mampu memuaskan jiwa seutuhnya. Amin.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Senin, 20 April 2026

DARI MENCARI BERKAT MENJADI MENCARI SANG PEMBERI BERKAT

Renungan

Senin, 20 April 2026

DARI MENCARI BERKAT MENJADI MENCARI SANG PEMBERI BERKAT

Yohanes 6:22-29




 

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Kita hidup di zaman yang serba cepat dan praktis. Tak heran jika banyak orang mencari Tuhan sekadar untuk keuntungan jasmani: kesembuhan, rezeki, atau jalan keluar dari masalah. Memohon berkat jasmani memang tidak salah. Namun, dalam Injil hari ini, Yesus menegur orang banyak yang mencari-Nya, bukan karena tanda-tanda yang mereka lihat, melainkan karena perut mereka kenyang setelah diberi makan roti.

Yesus tahu isi hati manusia. Mereka datang kembali kepada-Nya, tetapi dengan motivasi yang keliru. Mereka ingin mukjizat roti diulang setiap hari, tanpa memahami bahwa roti itu hanyalah tanda dari sesuatu yang jauh lebih besar: Yesus sendiri adalah Roti Hidup.

Jangan pernah menjadikan Yesus sekadar "tukang roti" yang memberi kepuasan sesaat. Sebaliknya, kenali Dia sebagai Sumber kehidupan kekal.

Allah tidak melarang kita bekerja untuk memenuhi kebutuhan jasmani. Yang ditegur Yesus adalah orientasi hidup yang hanya berpusat pada hal-hal yang fana. Orang banyak itu rela naik perahu mengelilingi Danau Tiberias, jauh-jauh mencari Yesus, tetapi tujuan mereka salah. Mereka lelah secara fisik, namun rohani mereka tidak bertumbuh.

Yesus lalu mengajak mereka—dan juga kita—untuk "bekerja" demi makanan yang tidak binasa. Ketika mereka bertanya, "Apa yang harus kami perbuat?" Yesus menjawab, "Percayalah kepada Dia yang diutus Allah." Artinya, pekerjaan yang dikehendaki Allah bukanlah sekadar serangkaian ritual atau amal lahiriah, melainkan iman yang hidup dan total kepada Yesus.

Bayangkan seorang buruh harian lepas di Pasar Induk. Setiap pagi pukul 03.00, dia sudah berangkat, mengangkut karung beras, sayur, dan buah. Badannya penuh peluh. Sore harinya, ia menerima upah Rp100.000. Dengan uang itu, ia membeli nasi bungkus untuk dirinya dan keluarganya. Malamnya, ia tidur dalam kelelahan. Esok paginya, ia kembali ke pasar melakukan hal yang sama.

Suatu hari, seorang dermawan memberinya hadiah berupa sebuah rumah sederhana dan modal usaha. Buruh itu sangat senang. Tetapi keesokan harinya, dia kembali ke pasar, bukan untuk berterima kasih, melainkan mencari dermawan itu lagi, berharap mendapat rumah kedua. Dia tidak peduli dengan kebaikan hati sang dermawan; dia hanya peduli pada hadiahnya.

Saudara-saudari,

Bukankah kita sering berlaku seperti itu terhadap Yesus? Kita datang ke Misa, novena, ziarah, tetapi motivasinya: "Supaya dapat rezeki", "Supaya anak lulus ujian", "Supaya cepat kawin." Kita mencari Yesus karena mukjizat jasmani, bukan karena diri-Nya sendiri. Begitu masalah selesai, kita pun pergi, sampai masalah berikutnya datang lagi.

Yesus tidak keberatan kita membawa pergumulan jasmani kepada-Nya. Namun, Dia rindu kita naik level: dari mencari tangan-Nya menjadi mencari wajah-Nya; dari mencari berkat menjadi mencari Sang Pemberi Berkat.

Lalu, secara praktis, apa yang bisa kita terapkan dari bacaan hari ini?

Pertama, mari kita evaluasi motivasi doa kita. Apakah doa kita hanya berisi daftar permintaan barang dan solusi? Luangkan waktu untuk sekadar memuji dan bersyukur tanpa meminta apa pun.

Kedua, mari kita jadikan Ekaristi sebagai pusat hidup. Roti yang kita terima dalam Komuni bukan sekadar roti biasa, melainkan Yesus sendiri. Jangan datang ke Misa hanya karena kewajiban atau kebiasaan, tetapi karena rindu akan Roti Hidup.

Ketiga, mari kita bekerja keras, tetapi jangan lupa kerja iman. Bekerja mencari nafkah itu mulia. Namun, jangan sampai kita begitu sibuk mencari "makanan yang binasa" seperti uang, karier, atau popularitas, hingga melupakan "makanan yang kekal", yaitu hubungan dengan Yesus. Amin.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Kamis, 16 April 2026

MENOLAK TUHAN, MENOLAK HIDUP

Renungan

Kamis, 16 April 2026

MENOLAK TUHAN, MENOLAK HIDUP

Yohanes 3:31–36





Saudara-saudari terkasih,

Dalam perikop Injil Yohanes 3:31–36 ini, Yohanes Pembaptis dengan tegas membedakan dua hal: “yang datang dari atas” dan “yang berasal dari bumi.”

Manusia cenderung berbicara berdasarkan pengalaman duniawi yang terbatas, penuh kepentingan pribadi, dan sering kali dangkal. Sebaliknya, Yesus, yang datang dari surga, berbicara dengan otoritas mutlak, karena Ia langsung melihat dan mendengar dari Allah Bapa.

Karena itu, ada pesan mendalam bagi kita: hentikan mencari kebenaran mutlak dari opini dunia, media sosial, atau bahkan dari hati nurani kita yang belum diterangi iman. Kebenaran sejati hanya datang dari “atas,” yaitu dari Yesus Kristus. Jika kita terus mendengarkan suara “bumi” untuk memahami “surga,” kita pasti tersesat.

Ayat 32 menyampaikan teguran yang sangat tajam: “Ia memberi kesaksian… tetapi tidak seorang pun yang menerima kesaksian-Nya.” Sungguh ironi yang besar. Sang Kebenaran telah datang, namun dunia lebih memilih kebohongan yang nyaman. Yesus bersaksi tentang kasih, pengampunan, dan hidup kekal; tetapi manusia sibuk mengejar harta, gengsi, dan dosa. Renungkanlah: Pernahkah kita “menolak” kesaksian Yesus? Setiap kali kita lebih memilih dosa daripada rahmat, setiap kali kita mengabaikan Firman Tuhan karena merasa lebih nyaman dengan logika dunia, saat itulah kita sedang menolak kesaksian-Nya.

Ayat 33 mengatakan: “Siapa yang telah menerima kesaksian-Nya, ia memeteraikan bahwa Allah adalah benar.” Ketika kita percaya kepada Yesus, kita tidak sedang “mencoba-coba” iman. Kita sedang membubuhkan meterai, sebuah pernyataan resmi dan final: “Allah itu benar. Firman-Nya teguh. Janji-Nya pasti.” Iman bukan sekadar perasaan. Iman adalah tindakan keberanian untuk berkata, “Dunia boleh berkata A, tetapi Allah melalui Yesus berkata B. Maka kami memilih B.”

Selanjutnya, ayat 34–35 mengingatkan kita bahwa Yesus berbicara dengan kepenuhan Roh Kudus (tanpa batas). Dan Bapa mengasihi Anak, lalu menyerahkan segala sesuatu ke dalam tangan-Nya. Ini berarti bahwa Yesus bukan sekadar guru moral. Dia adalah pewaris segala sesuatu. Keselamatan, kebenaran, kuasa, dan penghakiman, semuanya ada di tangan Yesus. Menerima Dia berarti menerima Bapa. Menolak Dia berarti menolak Bapa.

Lalu ayat 36 menyampaikan inti paling serius dari renungan ini: Tidak ada zona abu-abu. Hanya ada dua jalan. Percaya kepada Anak berarti hidup kekal, bukan hanya nanti di surga, tetapi mulai dari sekarang: hidup dalam kelimpahan rahmat, damai sejahtera, dan pengharapan. Sebaliknya, tidak taat kepada Anak berarti tidak akan melihat hidup. Murka Allah tetap ada di atasnya. Kata “tetap” (Yunani: menei) sungguh mengguncang kita. Murka Allah bukan seperti kemarahan manusia yang datang lalu pergi. Murka Allah adalah ketiadaan hidup. Ketika seseorang menolak Yesus, ia sebenarnya memilih untuk tinggal dalam kematian rohani.

Karena itu, marilah kita periksa sumber informasi iman kita. Apakah kita lebih percaya pada komentar teman, berita, atau tren dibandingkan pada Injil? Hari ini, luangkan waktu 10 menit untuk membaca satu bagian Injil dan tanyakan: “Apa yang Yesus katakan dari ‘atas’ tentang situasiku?”

Marilah kita menerima kesaksian-Nya dalam Sakramen. Apakah kita sudah lama tidak mengaku dosa? Menerima Yesus berarti membiarkan Dia membersihkan kita melalui imam yang mewakili-Nya. Jangan tunda lagi.

Marilah kita hidup dalam ketaatan, bukan sekadar pengetahuan. Percaya bukan hanya mengangguk setuju. Percaya adalah taat. Jika kita tahu Yesus memerintahkan pengampunan, maafkanlah. Jika kita tahu Yesus memerintahkan kesucian, tinggalkanlah dosa yang biasa kita perbuat.

Saudara-saudari terkasih,

Injil Yohanes 3:36 adalah ringkasan terpendek dari seluruh Injil: “Siapa yang percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal.” Hari ini, Yesus berdiri di hadapan kita. Bukan untuk menghakimi, tetapi untuk memberi kesaksian tentang kasih Bapa. Jangan tolak Dia seperti dunia menolak Dia. Jangan pilih bumi, karena bumi akan binasa. Pilihlah Yang Dari Atas, karena hanya Dialah yang memberi hidup.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Rabu, 15 April 2026

ALLAH TIDAK MENGHAKIMI, TETAPI MENYELAMATKAN

Renungan

Rabu, 15 April 2026

 

ALLAH TIDAK MENGHAKIMI, TETAPI MENYELAMATKAN

Yohanes 3:16-21




Saudara-saudari yang dikasihi Kristus,

Coba kita bayangkan sebuah ruang tamu yang sangat gelap. Di tengah ruangan itu, seorang anak kecil sedang bermain kelereng. Ia sengaja mematikan semua lampu karena takut dimarahi ibunya. Tadi, tanpa sengaja, ia memecahkan vas bunga.

Lalu ibunya datang. Ia tidak membawa tongkat pemukul, juga tidak membawa senter yang menyilaukan untuk menyorot wajah anak itu dengan marah. Sebaliknya, ia membawa lampu kecil yang hangat. Dengan lembut ia berkata, "Nak, Ayah dan Ibu tidak marah. Mari kita nyalakan lampu, supaya kamu bisa melihat dan tidak tersandung."

Akan tetapi, anak itu justru semakin bersembunyi di balik sofa. Bukan karena ibunya jahat, tetapi karena ia sudah merasa bersalah dan takut ketahuan.

Kita tentu sudah tidak asing dengan Injil Yohanes pasal 3 ayat 16. Mungkin inilah ayat yang paling sering kita hafal di luar kepala: "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."

Ayat itu indah. Namun sayang, sering kali kita berhenti hanya sampai di sana. Padahal, Yesus melanjutkan perkataan-Nya dengan sesuatu yang sangat penting tentang terang dan gelap.

Hari ini, kita semua diajak merenungkan satu pesan mendalam: Allah datang bukan untuk menghakimi kita, tetapi untuk menyelamatkan kita. Persoalannya bukan pada Allah yang menghakimi, melainkan pada pilihan kita sendiri: apakah kita mau datang kepada terang, atau justru lari ke dalam gelap.

Saudara-saudari, begitulah gambaran kita dan Allah. Allah datang membawa terang kasih-Nya, tetapi sering kali kita justru bersembunyi. Bukan karena Allah menghakimi, melainkan karena hati kita sendiri yang belum mau terbuka.

Mari kita simak Yohanes 3:17: "Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya."

Jadi, sangat jelas bahwa tujuan utama kedatangan Yesus bukanlah untuk menghakimi. Penghakiman bukanlah inisiatif Allah. Inisiatif Allah adalah penyelamatan.

Lalu mengapa ada ayat 18 dan seterusnya yang berbicara tentang penghakiman? Ayat 18 berkata: "Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah penghakiman."

Perhatikan kata "telah berada", bukan "akan dihakimi nanti". Artinya, penghakiman itu terjadi karena seseorang memilih tinggal dalam gelap, bukan karena Allah mengirimkan hukuman.

Ayat 19 semakin mempertegas: "Inilah penghakiman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat."

Dengan demikian, penghakiman adalah konsekuensi dari pilihan kita sendiri, bukan vonis dari Allah. Allah sudah menyediakan terang. Yang menentukan gelap atau terang adalah kita.

 

Saudara-saudari terkasih,

Mungkin banyak dari kita kadang menjauh dari Tuhan karena takut. Takut dosa kita diungkap, takut malu, takut dihakimi. Padahal Yesus sendiri berkata, Aku datang bukan untuk menghakimi.

Terang yang dibawa Yesus bukan seperti lampu sorot di ruang interogasi. Terang Yesus seperti sinar matahari pagi yang menyembuhkan, yang membuat bunga mekar, yang menunjukkan debu-debu di lantai supaya kita bisa membersihkannya dengan sukacita, bukan dengan ketakutan.

Orang yang datang kepada terang (ayat 21) adalah orang yang membiarkan perbuatannya dinyatakan sebagai perbuatan yang dikerjakan dalam Allah. Artinya, terang itu justru memulihkan, bukan membinasakan.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan sekarang?

Pertama, jujurlah pada diri sendiri. Jangan bersembunyi di balik kesibukan, kepura-puraan, alkohol, atau media sosial. Katakan dalam hati: "Tuhan, aku takut. Tetapi aku mau datang kepada-Mu."

Kedua, marilah mendekati Sakramen Tobat—bukan karena takut dihakimi, tetapi karena rindu diselamatkan. Imam bukan hakim, melainkan saksi kasih Allah yang membawa terang.

Ketiga, jangan menghakimi orang lain. Jika Allah saja tidak menghakimi secara langsung, tetapi memberi kesempatan, mengapa kita cepat menghakimi pasangan, anak, tetangga, atau rekan kerja? Tugas kita adalah membawa terang, bukan obor penghakiman.

Saudara-saudari terkasih,

Allah tidak menciptakan neraka untuk manusia. Neraka adalah keadaan di mana seseorang dengan bebas memilih untuk tetap tinggal dalam gelap, meskipun terang sudah menyinari.

Hari ini, Yesus berkata kepada kita: "Aku datang bukan untuk menghakimi, tetapi untuk menyelamatkan." Karena itu, jangan takut. Keluarlah dari persembunyian kita. Bukalah pintu hati kita. Biarkan terang kasih-Nya masuk.

Kita tidak perlu menjadi sempurna untuk datang kepada terang. Kita datang justru karena kita tidak sempurna. Terang itu akan menyembuhkan, membersihkan, dan memulihkan kita menjadi anak-anak terang.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

  

Selasa, 14 April 2026

DILAHIRKAN KEMBALI UNTUK MELIHAT TERANG

Renungan

Selasa, 14 April 2026


DILAHIRKAN KEMBALI UNTUK MELIHAT TERANG

Yohanes 3:7-15

 


Seorang ibu memiliki anak yang kecanduan judi online dan minuman keras. Setiap hari anak itu membuat onar, menghabiskan harta, dan membawa malu bagi keluarganya. Sang ibu sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Suatu malam, dalam doa Rosario, ia menangis dan menyerahkan anaknya sepenuhnya kepada Tuhan.

Tidak ada mukjizat yang terjadi seketika. Namun perlahan-lahan, seorang teman mulai mengajak anak itu ke komunitas doa. Meskipun awalnya merasa "tidak enak", ia tetap diajak terus. Suatu ketika, dalam sebuah ibadah penyembuhan, ia tersungkur dan menangis tersedu-sedu. Ia mengaku seperti "dilahirkan baru". Sejak saat itu, ia berhenti minum, berdamai dengan ibunya, dan bahkan menjadi pemuda yang aktif di lingkungan gereja.

Para tetangga heran melihat perubahan itu. Sang ibu hanya menjawab, "Saya tidak mengerti apa yang terjadi, tapi saya melihat dia berubah total. Itu bukan buatan saya."

Dalam perikop ini, Yesus berbicara kepada Nikodemus, seorang Farisi yang saleh dan ahli Taurat. Nikodemus datang pada malam hari, mungkin karena takut, atau karena ingin merenung dalam diam. Yesus langsung menyingkap keterbatasan pemahaman Nikodemus tentang Kerajaan Allah.

Pada ayat 7, Yesus berkata: "Janganlah engkau heran." Yesus tahu bahwa manusia sering terpaku pada hal-hal jasmani. Nikodemus heran bagaimana seseorang bisa dilahirkan untuk kedua kalinya. Maka Yesus mengajaknya melampaui akal budi belaka. Pada ayat 8: "Angin bertiup ke mana ia mau" , dalam bahasa Yunani dan Ibrani, kata untuk "angin" sama dengan "Roh" (pneuma / ruach). Kita tidak bisa mengontrol Roh Kudus, tetapi kita bisa mendengar dan merasakan efek-Nya. Kelahiran kembali bukanlah hasil usaha manusia, melainkan anugerah yang tidak bisa dipaksakan.

Kemudian pada ayat 14-15, Yesus mengingatkan kisah ular tembaga di padang gurun (Bilangan 21:4-9). Ular tembaga yang ditinggikan menyelamatkan mereka yang memandangnya dengan iman. Itu adalah lambang salib Kristus. Lahir kembali berarti melihat Yesus yang ditinggikan di kayu salib dan percaya bahwa di dalam Dia ada hidup kekal.

Ajaran Gereja Katolik (KGK 1213, 1265) menegaskan bahwa "kelahiran kembali" terjadi secara sakramental dalam Baptisan. Namun pembaruan rohani itu harus terus berlangsung seumur hidup: pertobatan terus-menerus, pembaharuan hati, dan keterbukaan terhadap Roh Kudus.

Di Indonesia, banyak umat Katolik yang sudah dibaptis sejak bayi, tetapi hidupnya tidak berbeda dengan orang dunia: gemar bergosip, iri hati, melakukan korupsi kecil, malas ke gereja, atau menjalankan agama hanya sebagai tradisi. Yesus berkata: "Jangan heran, kamu harus dilahirkan kembali." Artinya, kelahiran baru bukan sekadar akta baptis. Ia adalah proses terus-menerus untuk mati terhadap ego dan hidup dalam Kristus. Seperti Nikodemus, kita sering ingin mengatur Tuhan. Padahal Roh Kudus bekerja secara misterius, kadang melalui sakit, kegagalan, atau pertemuan tak terduga. Dalam kesulitan hidup—seperti PHK, sakit, atau konflik keluarga—kita diajak untuk tidak hanya melihat masalah, tetapi memandang salib, karena di situlah kemenangan sejati.

Kita sering heran melihat orang bertobat total. Kita juga heran ketika doa kita sepertinya tidak dijawab. Tetapi Yesus berkata: "Jangan heran." Artinya, jangan batasi Tuhan dengan logika duniawi.

Kelahiran kembali bukanlah tentang perasaan euforia rohani, melainkan tentang arah hidup yang baru. Seperti ular tembaga di padang gurun, keselamatan tidak datang dari perbuatan hebat kita, tetapi dari memandang Dia yang disalibkan.

Dalam keseharian kita, saat kita mengaku dosa dalam Sakramen Rekonsiliasi, kita mengalami "kelahiran kembali" dalam skala kecil. Saat kita menerima Ekaristi, kita dibaharui dalam Tubuh Kristus. Saat kita memaafkan pasangan atau tetangga yang menyakiti, kita membiarkan Roh bertiup dalam keluarga kita.

Hari ini, periksalah area hidupmu yang terasa "mati": kebiasaan dosa, hubungan yang retak, iman yang hanya rutinitas belaka. Mintalah Roh Kudus meniupkan kehidupan baru. Jangan berusaha mengendalikan angin; serahkan hasil akhirnya kepada Tuhan. Tugasmu adalah percaya dan taat. Pandanglah Yesus yang ditinggikan. Saat stres atau cemas, jangan panik. Arahkan pandanganmu pada salib Kristus di rumahmu atau di gereja. Katakan dalam hati: "Tuhan, aku percaya pada-Mu."

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Senin, 13 April 2026

MEMBUKA HATI BAGI ROH KUDUS

Renungan

Senin, 13 April 2026

 

MEMBUKA HATI BAGI ROH KUDUS

Yohanes 3:1-8

 


Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

"Ada seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. Ia datang kepada Yesus pada waktu malam..." (ay. 1-2)

Pernahkah kita merasa bahwa hidup beragama kita terasa kering? Kita rajin ke gereja, menerima komuni, berdoa novena, tetapi hati terasa kosong. Atau mungkin kita merasa bahwa iman kita hanya warisan orang tua, sesuatu yang kita terima tanpa pernah benar-benar hidup.

Dalam situasi seperti itulah Yesus berbicara kepada Nikodemus, seorang pemimpin agama yang saleh, cerdas, dan taat. Namun Yesus berkata kepadanya: "Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah" (Yoh 3:3).

Nikodemus bingung. Dia mengira Yesus berbicara tentang kelahiran fisik. Seperti kita kadang mengira bahwa menjadi Katolik berarti cukup dengan dibaptis bayi dan kemudian menjalani sakramen-sakramen secara otomatis.

 

Saudara-saudari,

Nikodemus datang pada malam hari: bisa karena takut, atau karena ia mencari kebenaran dengan hati-hati. Banyak dari kita juga "datang kepada Yesus pada malam hari": iman kita hanya menyala saat ada masalah, saat krisis, saat kehilangan. Selebihnya kita hidup dengan iman yang dingin dan formal.

Yesus menegaskan bahwa "jika seseorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah" (ay. 5). Air merujuk pada baptisan, tetapi bukan sekadar air sakramen. Di Indonesia, kita sering melihat baptisan sebagai "syarat administratif" menjadi Katolik. Namun Yesus menghendaki lebih: kelahiran dari Roh Kudus.

Di mana Roh bertiup, kata Yesus, Ia bertiup ke mana Ia mau (ay. 8). Ini mengingatkan kita pada angin muson yang melintasi Indonesia: tidak bisa kita kendalikan, tidak bisa kita lihat asalnya, tetapi dampaknya nyata, membawa hujan, kesuburan, kehidupan. Demikian pula Roh Kudus: Ia bekerja diam-diam, mengubah hati yang keras menjadi daging, hati yang egois menjadi murah hati.

 

Saudara-saudari,

Sebagian umat Katolik di Indonesia, kita cenderung menekankan sakramen dan tradisi tetapi melupakan pengalaman pribadi akan Yesus. Nikodemus adalah gambaran kita: tahu banyak tentang Kitab Suci, tetapi tidak mengenal kuasa pembaruan Roh.

Padahal, Yesus mengatakan bahwa yang lahir dari daging adalah daging, dan yang lahir dari Roh adalah roh (ay. 6). Artinya: tidak cukup hanya menjadi "Katolik turunan", ikut misa mingguan karena kebiasaan, atau memberi persembahan karena gengsi sosial di lingkungan. Yang diperlukan adalah pertobatan batin, sebuah kelahiran baru yang mengubah cara pandang, prioritas, dan gaya hidup.

Contoh konkret di Indonesia: Banyak umat yang masih memegang dendam antartetangga, tetapi tetap komuni. Ada yang rajin ke gereja tetapi korupsi di kantor. Ada yang ikut doa rosario tetapi tidak peduli pada buruh yang dibayar murah. Inilah tanda bahwa kelahiran baru belum sungguh terjadi.

 

Saudara-saudari,

Dilahirkan kembali bukan berarti kita menjadi sempurna tanpa dosa, tetapi arah hidup kita berubah. Seperti angin yang tak kelihatan tetapi pohon melambai, demikianlah kelahiran baru kelihatan dari buahnya. Berikut tanda-tanda seseorang telah dilahirkan Kembali, antara lain:

  • Hati menjadi lembut terhadap orang miskin dan tersingkir (bukan hanya memberi sedekah ritual).
  • Mengampuni dengan tulus, bukan sekadar diam tapi menyimpan sakit hati.
  • Mencari kehendak Allah dalam setiap keputusan, bukan hanya ikut arus mayoritas atau status sosial.
  • Berani menjadi berbeda dari lingkungan yang korup atau munafik.

Nikodemus sendiri akhirnya menunjukkan tanda kelahiran baru: dalam Yohanes 19:39, ia datang dengan membawa campuran minyak mur dan lidah buaya untuk menguburkan Yesus, di siang bolong, tanpa takut. Dari datang pada malam hari karena takut, menjadi saksi berani di depan umum. Itulah kelahiran baru.

Mari kita refleksikan dalam keheningan:

  1. Apakah iman saya hanya rutinitas mingguan, atau hubungan hidup dengan Yesus?
  2. Apakah Roh Kudus benar-benar memimpin keputusan saya dalam berbisnis, berkeluarga, dan bersosial?
  3. Apa satu area dalam hidup saya yang belum "dilahirkan kembali", misalnya kemarahan, keserakahan, atau ketakutan akan pandangan orang?

Kita tidak perlu seperti Nikodemus yang datang pada malam hari. Yesus menawarkan kelahiran baru sekarang juga. Bukan dengan melakukan ritual baru, tetapi dengan membuka hati bagi Roh yang bertiup bebas. Roh itu sudah berhembus di tengah keluarga kita, di gereja, di tengah pergumulan bangsa Indonesia yang carut-marut ini. Biarkan Ia membentuk hati kita kembali.

 

Saudara-saudari,

Kelahiran baru bukan tentang menjadi orang Katolik yang lebih "alim" di luar. Tetapi tentang menjadi manusia baru di dalam, yang hidupnya tidak lagi dikuasai ketakutan, kemunafikan, atau kebiasaan mati. Seperti angin, Roh Kudus tidak bisa kita lihat, tetapi kita bisa merasakan hembusan-Nya mengubah hidup kita. Amin.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi