Rabu, 13 Mei 2026

ROH KEBENARAN AKAN MEMIMPIN KITA

Renungan

Rabu, 13 Mei 2026

ROH KEBENARAN AKAN MEMIMPIN KITA

Yohanes 16:12-15




 

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,

Bayangkan Anda sedang mendaki sebuah gunung. Jalannya curam dan berkelok-kelok, kabut tebal menyelimuti pandangan. Anda memang membawa peta yang bagus, tetapi di tengah kabut dan kegelapan, peta saja tidak cukup. Yang Anda butuhkan adalah seorang pemandu yang mengenal setiap celah batu, setiap aliran air, dan setiap bahaya longsor. Tanpa pemandu yang setia, perjalanan bisa menjadi sangat berbahaya, bahkan terhenti di tengah jalan.

Itulah gambaran yang digunakan Yesus ketika berbicara kepada para murid-Nya dalam bacaan Injil hari ini. Yesus tahu bahwa murid-murid-Nya “belum sanggup” menerima seluruh kebenaran sekaligus. Mereka baru saja mendengar bahwa Ia akan pergi, dan hati mereka gelisah. Banyak hal yang belum mereka pahami: tentang salib, kebangkitan, misi mereka di dunia, dan rencana Allah yang jauh lebih besar. Karena itu, Yesus tidak memaksa mereka memahami segalanya seketika. Ia menjanjikan Roh Kebenaran, yaitu Roh Kudus sebagai Pemandu Ilahi yang akan memimpin mereka langkah demi langkah.

Roh Kudus adalah Pemandu yang setia dan rendah hati. Perhatikan kata-kata Yesus yang indah ini: “Ia tidak berbicara dari diri-Nya sendiri” (Yoh 16:13). Ia bukan guru yang sombong, melainkan yang selalu menyampaikan apa yang Ia dengar dari Bapa dan Putra. Ia memuliakan Yesus dengan mengambil dari apa yang menjadi milik Yesus dan memberitakannya kepada kita (Yoh 16:14). Segala sesuatu yang dimiliki Bapa adalah milik Yesus, dan Roh Kudus menyampaikannya kepada kita (Yoh 16:15).

Ia bekerja seperti seorang sopir taksi yang sangat profesional. Ia tidak memamerkan mobilnya sendiri, tetapi dengan tenang dan terampil membawa penumpangnya sampai ke tujuan dengan selamat. Begitu pula Roh Kudus: Ia tidak mencari perhatian untuk diri-Nya, tetapi selalu mengarahkan kita kepada Yesus Kristus dan kebenaran Allah.

Roh Kudus juga bekerja dengan kesabaran seperti seorang ibu rumah tangga yang memasak rendang atau opor ayam untuk keluarga besar. Ia tidak menuangkan semua bumbu sekaligus ke dalam kuali. Ia memasak bertahap: menumis bawang dulu, memasukkan santan perlahan, dan mengaduk dengan sabar agar tidak pecah. Demikianlah Roh Kudus mengajar kita kebenaran — secara bertahap, sesuai dengan kapasitas dan kesiapan hati kita. Kadang melalui Sabda Tuhan dalam Misa, kadang melalui peristiwa kehidupan sehari-hari, nasihat teman, atau bahkan lewat kesulitan yang kita alami.

Di tengah zaman yang penuh tantangan ini: hoaks di media sosial, polarisasi, godaan materialisme, dan tekanan ekonomi, kita sangat membutuhkan Pemandu yang dapat diandalkan ini. Tanpa Roh Kudus, kita mudah tersesat mengikuti “kebenaran” versi sendiri atau tren sesaat. Dengan Roh Kudus, kita diajak masuk ke dalam kebenaran yang memerdekakan (Yoh 8:32).

Marilah kita membiasakan diri berdoa setiap pagi dengan rendah hati: “Roh Kudus, datanglah. Pimpinlah aku hari ini ke dalam seluruh kebenaran. Buka mataku agar aku semakin melihat Yesus dengan jelas.”

Bacalah Sabda Tuhan dengan sikap terbuka, bukan sekadar mencari ayat yang mendukung kehendak kita sendiri. Dengarkan suara hati nurani, maafkan yang menyakiti, dan berbagi dengan yang membutuhkan. Itulah cara Roh Kudus memuliakan Yesus melalui hidup kita sehari-hari.

Saudara-saudari, Yesus tidak meninggalkan kita sebagai yatim piatu. Ia mengutus Roh Kudus agar kita tidak tersesat di tengah kabut dunia ini. Biarlah Roh Kebenaran itu menjadi Pemandu setia dalam perjalanan iman kita sebagai umat Katolik yang kaya budaya, namun semakin haus akan kebenaran Allah.

Tuhan memberkati kita semua. Amin.


Sorang Tumanggor, S.Ag
Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Selasa, 12 Mei 2026

DIKUATKAN OLEH ROH KUDUS DI TENGAH KETIDAKPASTIAN

Renungan

Selasa, 12 Mei 2026

DIKUATKAN OLEH ROH KUDUS DI TENGAH KETIDAKPASTIAN

Yohanes 16:5-11

 


Saudara-saudari yang dikasihi Kristus,

Pernahkah kita merasa kecewa atau sedih karena ditinggalkan oleh seseorang yang sangat kita kasihi? Misalnya, seorang anak yang harus merantau ke kota lain, meninggalkan orang tuanya yang sudah lanjut usia. Atau seorang sahabat karib yang pindah ke luar negeri. Ada rasa hampa, takut, dan penuh ketidakpastian. “Siapa yang akan menolongku nanti? Siapa yang akan membimbingku?”

Dalam bacaan Injil hari ini, para murid Yesus merasakan hal yang sama. Yesus berkata bahwa Ia akan pergi kepada Bapa (Yohanes 16:5). Mendengar itu, hati mereka diliputi kesedihan (ay. 6). Mereka belum mengerti rencana besar Allah. Mereka hanya melihat kepergian, belum melihat kedatangan Roh Kudus yang telah dijanjikan.

Bayangkan seorang anak kecil yang baru belajar naik sepeda. Sang ayah dengan sabar memegang boncengan belakang, berlari kecil di samping anaknya. “Jangan takut, Ayah pegang!” Anak itu merasa aman karena ada tangan ayah yang siap menahan jika ia jatuh. Suatu hari, sang ayah berkata, “Nak, sekarang Ayah akan melepaskan peganganku. Kamu harus melaju sendiri.” Anak itu tentu merasa takut dan sedih. “Jangan, Yah! Nanti aku jatuh!” Namun sang ayah menjawab, “Percayalah. Dengan melepaskan tangan Ayah, kamu justru akan benar-benar bisa bersepeda. Karena kamu harus belajar keseimbangan dan kekuatan kakimu sendiri.”

Demikianlah Yesus berkata kepada para murid: “Lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi” (ay. 7). Kepergian Yesus ke surga bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari kekuatan yang jauh lebih besar: kedatangan Roh Kudus, sang Penghibur, yang akan tinggal di dalam hati setiap orang percaya.

Yesus menjelaskan bahwa Roh Kudus akan menginsafkan dunia akan tiga hal: dosa, kebenaran, dan penghakiman. Mari kita simak satu per satu (ayat 8-11):

Pertama, menginsafkan dunia akan dosa. Karena dunia tidak percaya kepada Yesus. Di zaman sekarang, dosa sering kali tersamar dalam hal-hal yang tampak modern: keserakahan, ketidakjujuran, hidup hanya untuk diri sendiri, dan menolak belas kasih. Roh Kudus menyadarkan kita bahwa meninggalkan Yesus adalah akar segala dosa.

Kedua, menginsafkan akan kebenaran. Karena Yesus pergi kepada Bapa. Kebenaran sejati bukanlah semata-mata karena perbuatan baik kita, melainkan karena Yesus telah menyelesaikan karya penyelamatan. Roh Kudus mengingatkan bahwa kita dibenarkan oleh iman kepada Kristus.

Ketiga, menginsafkan akan penghakiman. Karena penguasa dunia ini, yaitu iblis, telah dihukum. Di kayu salib, Yesus mengalahkan kuasa kegelapan. Roh Kudus memberi kita keberanian untuk tidak takut pada kuasa jahat, karena kemenangan sudah menjadi milik Kristus.

Saudara-saudari terkasih, kita hidup di tengah dunia yang penuh tantangan: naiknya harga kebutuhan, tekanan ekonomi, bencana alam, bahkan kesulitan dalam keluarga. Seringkali kita bertanya, “Tuhan, mengapa sepertinya Engkau diam? Mengapa seolah Engkau pergi?” Namun Yesus justru berkata: Aku tidak meninggalkanmu yatim piatu. Aku mengutus Roh Kudus, yang menolong kita dari dalam.

Ketika kita merasa sendirian saat merantau di kota orang, Roh Kudus adalah penghibur yang memberi damai sejahtera. Ketika kita tergoda untuk curang dalam berdagang atau korupsi di kantor, Roh Kudus menginsafkan kita akan dosa. Ketika kita bingung memilih mana yang benar di tengah banjir hoaks dan kebohongan, Roh Kudus menuntun kita pada kebenaran Kristus.

Para murid sedih karena hanya melihat kepergian Yesus. Tetapi sekarang kita melihat lebih jauh: Yesus telah bangkit, naik ke surga, dan Roh Kudus dicurahkan. Kita tidak pernah berjalan sendiri. Seperti anak kecil yang akhirnya bisa mengayuh sepeda dengan percaya diri karena ayahnya telah menanamkan keseimbangan dalam dirinya, demikian pula kita. Roh Kudus adalah “roda keseimbangan” rohani yang membuat kita tetap tegak di jalan Tuhan.

Mari kita buka hati bagi Roh Kudus hari ini. Jangan takut menghadapi ketidakpastian. Yesus pergi, justru agar sang Penghibur datang. Dan Dia telah datang, dan tinggal di dalam hati kita yang percaya. Amin.


Sorang Tumanggor, S.Ag
Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

 

Senin, 11 Mei 2026

Jangan Takut, Roh Kudus Menyertai dan Menguatkanmu

Renungan

Senin, 11 Mei 2026


Jangan Takut, Roh Kudus Menyertai dan Menguatkanmu

Yohanes 15:26-16:4a




 

Saudara-saudari yang dikasihi Kristus,

Pernah nggak sih kamu merasa sendirian banget saat lagi menghadapi masalah? Atau merasa takut untuk membela kebenaran karena khawatir dimusuhi?

Hari ini, Yesus mau berbicara langsung soal perasaan-perasaan itu. Dalam Injil Yohanes, Dia berjanji akan mengirimkan Roh Kebenaran, yaitu Roh Kudus, yang akan bersaksi tentang Dia. Dan kita juga dipanggil untuk ikut bersaksi.

Yesus jujur, lho. Mengikuti-Nya nggak selalu mudah. Ada orang yang akan membenci, mengucilkan, bahkan menganggap tindakan mereka melawan orang Kristen sebagai bentuk ibadah kepada Tuhan. Kedengarannya serem, ya?

 

Bayangkan ini:

Seorang anak kecil harus berjalan sendirian di hutan gelap di malam hari. Dia ketakutan mendengar suara-suara aneh dan melihat bayangan-bayangan menyeramkan.

Lalu ayahnya memberikan sebuah senter yang sangat terang. Sang ayah berkata,
"Nak, Bapa memang nggak bisa selalu ada di sampingmu secara fisik. Tapi senter ini akan selalu bersamamu. Cahayanya akan menerangi jalanmu. Jangan takut, karena terang ini lebih kuat daripada gelap mana pun."

Roh Kudus itulah senter penerang kita. Dunia ini memang kadang terasa gelap karena kebencian, fitnah, dan penolakan. Tapi Roh Kudus akan menerangi hati kita, mengingatkan kita pada ajaran Yesus, dan memberi kita keberanian untuk tetap setia.

 

Tiga Hal Penting yang Bisa Kita Renungkan:

1. Kita Nggak Sendirian
Yesus nggak pernah meninggalkan kita sebagai yatim piatu (Yohanes 14:18). Roh Kudus adalah Penolong—sahabat sejati yang tinggal di dalam diri kita. Saat kita dibenci karena iman, Dialah yang memberi kita ketenangan hati dan kata-kata yang tepat.

2. Bersaksi Itu Berbagi Kasih, Bukan Menang Argumen
Yesus nggak pernah menyuruh kita berdebat atau menyerang orang lain. Bersaksi artinya hidup dalam kebenaran dan kasih, seperti Yesus sendiri. Kalau kita dicemooh? Itu bukan kegagalan. Itu bagian dari perjalanan mengikuti jejak Guru kita.

3. Jangan Kaget Kalau Dunia Ini Membenci
Yesus berkata terus terang: akan ada pengucilan, bahkan pembunuhan terhadap pengikut-Nya (Yohanes 16:2). Mungkin di zaman kita nggak segarang dulu, tapi ejekan, diskriminasi, atau dianggap kuno itu nyata. Yesus mengatakan semua ini agar kita tidak goyah imannya (Yohanes 16:1).

 

Seperti Pohon yang Tidak Takut Angin

Yesus pernah berkata, "Akulah pokok anggur, kamu cabang-cabangnya" (Yohanes 15:5). Cabang yang kuat nggak takut angin. Semakin kencang angin bertiup, semakin dalam akarnya mencengkeram tanah. Roh Kudus adalah getah kehidupan yang membuat kita tetap melekat pada Yesus.

Dunia boleh berhembus kencang, tapi kalau kita tetap bersatu dengan Yesus, kita akan tetap tegak berdiri.

 

Saudara-saudari, mungkin minggu ini kita akan mengalami situasi di mana iman kita diuji. Entah karena harus membela kebenaran dengan lembut, diejek karena pergi ke gereja, atau merasa takut berbuat baik karena khawatir dicibir.

Ingatlah: Roh Kudus sudah diberikan kepada kita dalam Baptis dan Krisma. Dia adalah Sahabat Sejati yang membisikkan keberanian dan hikmat di tengah kegelapan.

Tetaplah bersukacita! Roh Kebenaran menyertai kita setiap saat, hingga akhir zaman.

Amin.


Sorang Tumanggor, S.Ag
Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Kamis, 07 Mei 2026

TINGGALLAH DI DALAM KASIH-KU

Renungan

Kamis, 7 Mei 2026

TINGGALLAH DI DALAM KASIH-KU

Yohanes 15:9-11





Saudara-saudari seiman yang dikasihi Kristus,

Dalam bacaan hari ini, Yesus berkata, "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu." Coba kita perhatikan: Kasih itu datang lebih dulu dari Tuhan. Bukan karena kita sempurna. Bukan karena kita hebat. Melainkan karena Allah adalah kasih itu sendiri.

Di Indonesia yang kaya akan budaya dan keramahan, kita akrab dengan istilah wong loro ati atau tepa selira (tenggang rasa). Namun kasih Yesus melampaui semua itu. Kasih-Nya bukan sekadar basa-basi atau sopan santun. Kasih-Nya adalah relasi yang hidup: "Tinggallah di dalam kasih-Ku."

Bayangkan seorang ibu di sebuah desa. Setiap pagi, dia bangun lebih awal, menyalakan api kayu, lalu memasak untuk anak-anaknya. Anak-anaknya kadang tidak sadar, bahkan kerap rewel. Namun sang ibu tetap melayani dengan kasih. Mengapa? Karena baginya, kasih bukan perasaan sesaat, melainkan pilihan setia yang diulang setiap hari.

Seperti itulah kasih Yesus kepada kita: setia, meski kita kerap tidak bersyukur. Tuhan lebih dulu mengasihi kita.

Yesus lalu berkata: "Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku."
Apa perintah itu? Dalam Yohanes 13:34, Yesus berpesan: "Aku memberikan perintah baru kepadamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu."

Menuruti perintah-Nya bukanlah beban. Justru itulah jalan untuk tetap tinggal dalam kasih. Di tengah kehidupan kita di Indonesia yang sering dihadapkan pada perbedaan suku, pandangan politik, atau bahkan gaya hidup, perintah untuk saling mengasihi menjadi sangat nyata: jangan bergosip, jangan memfitnah, jangan membenci. Sebaliknya, bantulah mereka yang lemah, dan maafkanlah mereka yang bersalah.

Ada satu kisah nyata dari sebuah paroki di kota besar. Dua ibu lingkungan berselisih paham soal keuangan kas lingkungan. Awalnya hanya diam-diam, lalu saling sindir di grup WhatsApp, dan akhirnya tidak mau berbicara satu sama lain. Suasana lingkungan pun menjadi panas. Namun suatu hari, salah satu dari mereka jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit. Ibu yang lain tergugah: "Apakah ini caraku tinggal dalam kasih Kristus?"

Dia pun menjenguk, serta membawakan sayur asem dan ikan asin—kesukaan lawannya. Air mata pun menetes. Mereka berpelukan. Itulah artinya tinggal dalam kasih: bukan tanpa konflik, tetapi ada gerakan nyata untuk berdamai.

Yesus melanjutkan, "Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh." Menarik sekali, Yesus tidak berkata, "Semua ini Kuperintahkan supaya kalian capek dan tertekan." Justru sebaliknya: hidup dalam kasih-Nya membawa sukacita sejati.

Dunia ini sering menawarkan sukacita palsu melalui harta, jabatan, atau kesenangan sesaat. Namun sukacita dari Yesus adalah damai di tengah badai. Bahagia bukan karena keadaan sedang baik, melainkan karena kita dekat dengan Sumber Kasih itu sendiri.

Seorang bapak pemulung di pinggiran kota setiap minggu tetap pergi ke misa dengan pakaian sederhana namun bersih. Ketika ditanya, "Pak, kok masih semangat pergi misa? Hidup saja susah," beliau menjawab, "Saya susah, tapi tidak sendiri. Yesus ada. Dan di gereja, saya punya keluarga iman. Itu sudah cukup untuk membuat saya senang." Sukacita penuh tidak tergantung pada fasilitas mewah, tetapi pada hati yang sadar bahwa dirinya dikasihi.

Saudara-saudari, renungan hari ini mengajak kita untuk:

  1. Mengingat bahwa kasih Tuhan lebih dulu – jangan merasa harus layak dulu baru menerima kasih-Nya.
  2. Tinggal di dalam kasih dengan menaati perintah-Nya – yaitu saling mengasihi secara konkret, terutama dalam keluarga, komunitas lingkungan, dan tempat kerja.
  3. Menerima sukacita sejati – yang tidak tergantung pada keadaan fisik atau sosial, tetapi karena kita terhubung dengan Yesus.

Semoga renungan ini menguatkan iman kita. Tuhan memberkati.


Sorang Tumanggor, S.Ag
Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 


Rabu, 06 Mei 2026

HIDUP DALAM POKOK ANGGUR SEJATI

Renungan

Rabu, 6 Mei 2026

HIDUP DALAM POKOK ANGGUR SEJATI

Yohanes 15:1-8



 

Saudara-saudari yang dikasihi Kristus,

Pernahkah Anda merasa kuat, hebat, dan sanggup melakukan segalanya sendirian? Yesus justru mengajarkan kebenaran yang sebaliknya: di luar Dia, kita tidak bisa berbuat apa-apa.

Bukan berarti kita tidak bisa bekerja, belajar, atau beraktivitas. Namun tanpa persatuan dengan Yesus, semua usaha kita tidak akan menghasilkan buah kekal yang sejati.

Yesus berkata, "Akulah pokok anggur, kamulah ranting-rantingnya" (Yohanes 15:5). Ini gambaran tentang kehidupan yang terhubung. Ranting tak bisa hidup tanpa pokok. Demikian juga kita—tak bisa hidup rohani tanpa Yesus.

 

Ilustrasi sederhana dari kebun anggur

Di lereng sebuah gunung, hiduplah seorang petani yang sangat telaten merawat kebun anggurnya. Suatu hari, seorang anak kecil bertanya, "Pak, mengapa Bapak memotong ranting-ranting yang sehat dan bersih? Bukankah itu sayang?"

Petani itu tersenyum dan menjawab, "Nak, ranting yang tidak pernah dipotong akan tumbuh liar. Daunnya lebat, tapi buahnya kecil dan asam. Ranting yang tampaknya 'sakit' saat dipotong, justru akan merangsang tunas baru. Dan dari situlah kelak buah yang besar dan manis tumbuh."

Anak itu mengangguk. Lalu petani melanjutkan, "Namun ingat: tanpa terhubung ke pokok anggur yang kuat, ranting mana pun akan kering. Dan jika sudah kering, tidak berguna lagi selain untuk dibakar."

Saudara-saudari, itulah gambaran hidup kita. Kita kerap tidak mengerti mengapa Tuhan mengizinkan pemotongan dan pembersihan, mungkin lewat kegagalan, kehilangan orang yang dikasihi, sakit penyakit, atau kekecewaan.

Tapi percayalah: Bapa adalah pengusaha kebun anggur yang bijaksana. Ia membersihkan kita bukan untuk menghukum, melainkan supaya kita semakin berbuah.

 

Tiga pesan penting dari Yohanes 15:1–8

Pertama, Tetap melekat pada Yesus (ayat 4)

"Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu." Ini bukan hanya soal ke gereja setiap Minggu. Ini soal hubungan pribadi: doa, membaca Kitab Suci, menerima sakramen, dan hidup dalam kasih. Ranting tidak bisa memutus hubungan dengan pokoknya sesuka hati.

Kedua, Buah yang diharapkan (ayat 8)

Yesus berkata, "Dengan demikian Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu kamu berbuah banyak."
Buah itu bukan sekadar kesuksesan duniawi. Buah Roh adalah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Galatia 5:22–23). Juga buah perbuatan baik: mengampuni, berbagi dengan sesama, setia dalam panggilan hidup.

Ketiga, Bahaya ranting kering (ayat 6)

Ranting yang tidak berbuah akan dipotong dan dikumpulkan untuk dibakar. Ini peringatan serius. Menjadi Kristen tanpa buah sama seperti ranting kering: tidak berguna dan akan dibuang. Bukan karena Tuhan kejam, tetapi karena hidup tanpa Yesus lambat laun akan mati rohani.

Mari kita aplikasikan pesan penting ini dalam kehidupan sehari-hari. Coba tanyakan pada diri sendiri:

  • Apakah saat ini saya merasa kering dalam doa dan iman?
  • Apakah saya lebih mengandalkan kekuatan sendiri daripada bersatu dengan Yesus?
  • Apakah ada ranting dalam hidup saya yang harus dipotong? Misalnya: kebiasaan dosa, kesombongan, dendam, atau kemalasan rohani?

Karena itu, jangan takut pada pemotongan dari Bapa. Sebaliknya, bersyukurlah. Itu tanda bahwa Ia peduli dan ingin kita berbuah lebih banyak. Seperti seorang pelari yang ototnya terasa sakit saat dilatih—justru itu tanda ia sedang dipersiapkan untuk kemenangan.

Saudara-saudari, jangan takut dengan proses pembersihan. Tuhan sedang membentuk Anda menjadi ranting yang produktif. Tetaplah dekat dengan Yesus. Maka Anda akan melihat bagaimana hidup Anda perlahan-lahan berubah menjadi berkat bagi banyak orang. Tuhan memberkati. Amin.


Sorang Tumanggor, S.Ag
Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

Selasa, 05 Mei 2026

DAMAI SEJATI BUKAN TANPA GELORA

Renungan

Selasa, 5 Mei 2026

 

DAMAI SEJATI BUKAN TANPA GELORA

Yohanes 14:27-31a



Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,

Pernahkah kita membeli produk elektronik, misalnya kipas angin atau AC, yang di kemasannya tertulis "Cooling technology, peace of mind"? Atau pernahkah kita melihat iklan minuman vitamin yang menjanjikan "tenang dalam tekanan"?

Dunia memang pandai menjual kata "damai". Namun sering kali, damai yang ditawarkan dunia hanya bertahan selama tagihan listrik dibayar, selama AC masih dingin, atau selama stres belum datang lagi.

Tetapi hari ini, Tuhan Yesus berbicara tentang sesuatu yang sangat berbeda. Ia tidak menawarkan ketenangan tanpa badai. Ia menawarkan damai di tengah badai.

Yesus berkata, "Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu." Lalu, apa bedanya damai dunia dengan damai Kristus?

Damai dunia itu bersyarat. Ia tergantung pada situasi: semua beres, semua sesuai rencana, semua orang setuju dengan kita. Damai dunia seperti air kolam — tenang saat tidak ada angin, tetapi begitu ada batu yang dilempar, airnya menjadi keruh dan bergelombang.

Sebaliknya, damai Kristus adalah damai yang Ia miliki saat Ia tahu bahwa dalam beberapa jam lagi Ia akan ditangkap, disiksa, dan disalibkan. Damai itu tetap tinggal di hati-Nya. Damai itu lahir bukan dari kenyamanan, melainkan dari kepercayaan total kepada Bapa.

Coba bayangkan seorang ibu yang anaknya sedang sakit parah di rumah sakit. Dunia mungkin berkata, "Bagaimana mungkin dia tenang?" Tetapi ibu itu duduk di samping tempat tidur, menggenggam tangan anaknya, sambil berdoa. Tidak ada kepastian medis, tetapi ada kedamaian aneh yang tidak bisa dijelaskan. Dari mana datangnya? Dari keyakinan bahwa ia tidak sendirian. Tuhan menyertainya. Damai itu tidak diambil dari situasi, melainkan dari relasi.

Yesus melanjutkan, "Janganlah gelisah dan gentar hatimu." Ini menarik. Yesus mengucapkan kalimat ini tepat sebelum Ia sendiri menghadapi penderitaan. Ia tidak berkata, "Tidak akan ada masalah." Ia berkata, "Jangan biarkan hatimu gelisah." Artinya, kegelisahan bukan sekadar reaksi, tetapi keputusan batin untuk membiarkan diri dikuasai ketakutan.

Mungkin kita pernah naik mobil di tengah macetnya Jakarta menjelang magrib. Sopir taksi online yang sudah berpengalaman tetap tenang. Ia tahu jalur alternatif sambil memutar musik klasik yang lembut. Tetapi penumpang di belakang justru gelisah, bolak-balik melihat jam, mengomel, padahal nasibnya sama. Apa bedanya? Sopir itu sudah berpengalaman dan percaya pada prosesnya. Demikian juga Yesus — Ia sudah mengendalikan segalanya. Ia berkata, "Aku pergi, tetapi Aku datang kembali." Ketakutan kita muncul karena kita merasa sendirian, padahal Tuhan tidak pernah pergi untuk selamanya.

Selanjutnya Yesus berkata, "Tidak banyak lagi Aku berkata-kata dengan kamu, sebab penguasa dunia ini datang. Ia tidak berkuasa apa-apa atas Aku." Penguasa dunia ini: dosa, kejahatan, kematian, setan. Mereka datang seperti badai. Tetapi Yesus menunjukkan bahwa Ia taat kepada Bapa. Ketaatan-Nya adalah bukti kasih. Dan dalam ketaatan itulah kuasa kegelapan dikalahkan.

Kita pun sering takut pada "penguasa dunia" versi kita sendiri: ketidakpastian ekonomi, PHK, kegagalan, penyakit, perpecahan keluarga. Yesus tidak menghapus semua itu. Tetapi Ia berkata, "Mereka tidak berkuasa penuh atas dirimu, karena engkau milik-Ku."

Bayangkan ketika seorang bapak kepala keluarga tiba-tiba di-PHK. Dunianya runtuh. Istrinya panik. Tetapi bapak itu duduk di ruang tamu, membuka Alkitab kecilnya, dan berkata, "Bu, kita punya Tuhan yang lebih besar dari resesi." Bukan berarti ia tidak sedih. Ia sedih. Namun di dasar hatinya, ada damai yang tidak bisa dirampas oleh surat PHK. Itulah damai Yesus. Damai yang lahir dari iman bahwa "penguasa dunia ini tidak berkuasa atas jiwaku."

Di akhir bacaan, Yesus berkata, "Bangunlah, marilah kita pergi dari sini." Ini penting. Damai Yesus bukanlah damai yang membuat kita diam dan pasrah. Damai-Nya justru memberi kita kekuatan untuk bangkit dan melangkah. Setelah menerima damai, kita tidak tinggal diam di ruang atas yang aman. Kita pergi ke dunia yang kacau, tetapi dengan damai yang membawa terang.

Saudara-saudari, hari ini Tuhan bertanya kepada kita: Damai macam apa yang sedang kamu cari? Damai instan dari dunia yang lenyap saat sinyal ponsel hilang? Atau damai dari Yesus yang tetap tinggal di hati, walau badai mengguncang? Amin.


Sorang Tumanggor, S.Ag
Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Senin, 04 Mei 2026

MENGASIHI DENGAN TINDAKAN, BUKAN HANYA PERASAAN

Renungan

Senin, 4 Mei 2026

MENGASIHI DENGAN TINDAKAN, BUKAN HANYA PERASAAN

Yohanes 14:21-26

 



Salam sejahtera bagi kita semua, saudara-saudari yang dikasihi Tuhan.

Sebagai masyarakat yang hidup berdampingan dari berbagai suku di tanah Sumatera Utara, kita tentu memahami betul makna kata “holong” atau cinta kasih. Dalam budaya kita, kasih tidak cukup diucapkan di bibir, melainkan harus dibuktikan dalam tindakan. Hari ini, Yesus mengajarkan hal yang sama kepada kita.

1. Mengasihi berarti menuruti perintah (Yohanes 14:21)

Tuhan Yesus berkata, “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku.”

Coba bayangkan seorang ayah yang meminta anaknya menjaga adik ketika ia pergi ke kebun. Jika si anak hanya menjawab, “Aku sayang Bapak,” tetapi ketika ayahnya pergi ia malah menonton TV dan membiarkan adiknya menangis, benarkah ia mengasihi? Kasih tanpa ketaatan hanyalah kata-kata kosong.

Demikian jugalah dengan kita. Banyak dari kita yang rajin datang ke gereja pada Minggu pagi, berdoa rosario di rumah, atau ikut lari pagi sambil mendengarkan lagu rohani. Namun, apakah kita taat pada perintah-Nya untuk saling mengampuni, tidak bergosip, tidak korupsi di kantor, dan tidak menimbun beras saat harga naik? Di Sumatera Utara, isu harga pangan sering kali membuat kita resah. Yesus mengajarkan bahwa ketaatan adalah bukti kasih. Jika kita sungguh mengasihi Yesus, kita tidak akan menipu tetangga saat berdagang di pasar tradisional.

2. Bapa dan Putra yang bersatu (Yohanes 14:23)

Yesus melanjutkan, “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku, dan Bapa-Ku akan mengasihi dia, dan Kami akan datang kepadanya serta diam bersama-sama dengan dia.”

Ini seperti keluarga Batak yang rukun. Apabila seorang anak sungguh menghormati orang tuanya, maka seluruh keluarga besar akan datang merayakan pesta bersama di rumah. Itulah gambaran iman kita: ketika kita hidup dalam kasih dan ketaatan, Allah Tritunggal sendiri berkenan tinggal di dalam hati kita. Bukan hanya menyambut Tuhan saat kebaktian, tetapi Tuhan tinggal setiap hari—di rumah kita, di dalam angkot yang kita tumpangi, di perkebunan karet yang kita garap.

Di Sumatera Utara, kita sering mendengar istilah “martandang” (berkunjung). Yesus ingin “martandang” secara permanen dalam hidup kita. Bukan hanya sebagai tamu, tetapi menjadi bagian dari keluarga kita.

3. Penghibur Roh Kudus yang mengingatkan (Yohanes 14:25-26)

Yesus berjanji, “Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.”

Kita sering kali pelupa. Lupa janji, lupa membayar utang, lupa membawa plastik saat belanja ke pasar, bahkan lupa berdoa sebelum tidur. Namun, Roh Kudus adalah “memori ilahi” bagi kita.

Ibarat seorang guru yang mengajarkan rumus matematika. Murid-muridnya lupa saat ujian. Tetapi jika mereka sungguh memahami dan mempraktikkannya, mereka pasti ingat. Roh Kudus bekerja persis seperti itu. Ketika kita sedang marah kepada sopir angkot yang ugal-ugalan, Roh Kudus berbisik, “Tenang, maafkan dia.” Ketika kita ingin menyebarkan berita hoaks tentang politik di grup WhatsApp keluarga, Roh Kudus mengingatkan, “Apakah ini membangun kasih?” Namun, bisikan Roh Kudus hanya dapat kita dengar jika kita sering berdiam diri dalam doa dan Sabda Allah. Jika kita terus sibuk bermain TikTok atau menonton sinetron, kita tidak akan peka.

Aplikasi praktis dalam kehidupan sehari-hari:

  • Di dalam rumah: Setelah membaca renungan ini, ajaklah keluarga duduk bersama. Tanyakan, “Apa satu perintah Yesus yang paling sulit kita taati sebagai keluarga?” Kemudian berdoalah bersama, memohon Roh Kudus untuk menolong.
  • Di tempat kerja: Hari ini, cobalah menaati perintah Tuhan di tempat kerja. Jika Anda seorang kepala desa, tolaklah suap. Jika Anda seorang buruh pabrik, jangan bermalas-malasan ketika mandor tidak melihat. Itulah bentuk kasih kepada Yesus.
  • Dalam budaya: Orang Sumatera Utara terkenal dengan semangat “marhorja” (mengerjakan pesta bersama). Gunakan semangat gotong royong itu untuk melakukan kebaikan: menjenguk yang sakit, membantu biaya sekolah anak janda, atau membersihkan lingkungan gereja pada hari Sabtu.

Selamat beraktivitas. Ingatlah, Tuhan tidak tinggal jauh di langit. Ia tinggal bersama kita, asalkan kita mengasihi dan menuruti firman-Nya.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.


Sorang Tumanggor, S.Ag
Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi