Kamis, 13 Agustus 2026

BAGAIMANA MENJALANI HIDUP DALAM IMAN DAN SUKACITA

Renungan

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga

Minggu, 16 Agustus 2026

Bacaan Injil Lukas 1:39-56

 

BAGAIMANA MENJALANI HIDUP DALAM IMAN DAN SUKACITA

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi





Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,

Hari ini Gereja sejagat merayakan salah satu puncak penghormatan kepada Bunda Maria, yaitu Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Ini adalah salah satu dari empat dogma Maria dalam Gereja Katolik yang didefinisikan oleh Paus Pius XII pada tanggal 1 November 1950 dalam Konstitusi Apostolik Munificentissimus Deus. Gereja mengajarkan bahwa Bunda Maria, setelah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, diangkat jiwa dan raganya ke dalam kemuliaan surgawi. Perayaan ini bukan sekadar dongeng indah atau harapan kosong, melainkan sebuah tanda profetis tentang masa depan kita semua.

Injil Lukas 1:39-56 mengajak kita untuk merenungkan peristiwa yang terjadi jauh sebelum Maria diangkat ke surga—yaitu kunjungannya kepada Elisabet dan kidung pujiannya yang agung, yang kita kenal sebagai Magnificat. Melalui peristiwa ini, kita diajak belajar dari Maria tentang bagaimana menjalani hidup dalam iman dan sukacita.

 

1. Perjalanan Iman yang Penuh Risiko

Mari kita bayangkan sejenak situasi yang dihadapi Maria saat ia memutuskan untuk berangkat mengunjungi Elisabet. Secara manusiawi, hidup Maria saat itu sedang dalam risiko besar. Ia adalah seorang gadis muda yang mengandung sebelum menikah secara resmi. Ancaman cemoohan masyarakat, risiko sosial, bahkan bahaya hukum adalah hal yang nyata di hadapannya. Hubungannya dengan Yusuf pun belum sepenuhnya pasti.

Namun, apa yang dilakukan Maria? Injil mengatakan: "Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda" (Lukas 1:39). Maria tidak berdiam diri dalam ketakutan. Ia tidak membiarkan kecemasan melumpuhkannya. Ia berangkat—dengan iman, dengan keberanian, dan dengan keyakinan bahwa Allah sedang berkarya dalam hidupnya.

Seperti yang diingatkan Paus Fransiskus, Maria tidak takut akan bahaya atau penghakiman orang lain; ia justru pergi menuju sesama, bukannya memilih untuk melindungi diri dari dunia. Inilah teladan pertama yang kita petik: iman sejati menggerakkan kita untuk melangkah keluar dari zona nyaman, menjumpai sesama, dan percaya bahwa Tuhan menyertai setiap langkah kita.

 

2. Sukacita Pertemuan: Elisabet dan Maria

Ketika Maria sampai di rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet, terjadilah peristiwa yang mengharukan: "Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus" (Lukas 1:41).

Elisabet, yang mengandung Yohanes Pembaptis, merasakan gerakan sukacita dalam rahimnya. Dan dengan penuh Roh Kudus, ia berseru: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan" (Lukas 1:42-44).

Perhatikan kata-kata Elisabet: "Diberkatilah engkau ... dan diberkatilah buah rahimmu." Dengan demikian, Elisabet adalah orang pertama yang secara terbuka mengakui dan memuliakan Yesus yang masih dalam kandungan Maria. Ini mengingatkan kita akan penghormatan Gereja yang mendalam terhadap kehidupan sejak awal pembuahan.

Lebih lanjut, beberapa Bapa Gereja melihat kunjungan Maria kepada Elisabet sebagai suatu gambaran yang sangat kaya akan makna Perjanjian Lama. Dalam 2 Samuel 6, kita membaca tentang Raja Daud yang menari-nari di hadapan Tabut Perjanjian ketika Tabut itu dibawa ke Yerusalem, dan ia berseru dengan sukacita. Demikian pula, Yohanes Pembaptis melonjak kegirangan di hadapan Maria yang membawa Yesus dalam kandungannya. Maria dipandang sebagai Tabut Perjanjian yang baru—bukan lagi menyimpan loh batu dan manna, tetapi menyimpan Kristus sendiri, Sabda yang menjadi daging.

 

3. Kidung Magnificat: Syukur Sebelum Melihat Hasil

Saudara-saudari yang terkasih, bacaan ini mencapai puncaknya pada kidung Maria yang kita kenal sebagai Magnificat. Kata-kata Maria bergema penuh kuasa:

"Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya" (Lukas 1:46-49).

Yang luar biasa dari pujian ini adalah waktu pengucapannya. Maria memuji Tuhan sebelum ia melihat semua hasilnya. Ia bersyukur bukan setelah situasinya aman, bukan setelah Yesus lahir dengan selamat, bukan setelah semua masalah selesai. Ia bersyukur di tengah-tengah ketidakpastian, di tengah risiko yang mengancam.

Inilah yang disebut sebagai "gaya hidup Magnificat": bersyukur sebelum melihat hasil. Pujian Maria tidak bertumpu pada situasi di sekitarnya, melainkan pada Allah yang diimaninya. Maria bersyukur karena ia tahu bahwa Allah sedang bekerja, bahkan ketika matanya belum melihat hasil akhirnya.

Paus Fransiskus mengingatkan bahwa dalam Magnificat ini, Maria tidak berbicara tentang dirinya sendiri, tetapi tentang Allah. Semua kata kerja dalam kidung ini memang dalam bentuk lampau—"telah memperhatikan," "telah melakukan"—namun kata-katanya dipenuhi dengan ingatan akan kasih yang menerangi masa kini dengan iman dan menerangi masa depan dengan pengharapan. Maria menyanyikan rahmat masa lalu, tetapi ia adalah wanita masa kini yang mengandung masa depan dalam rahimnya.

 

4. Makna Mendalam: Kacamata Iman

Mengapa Maria dapat memuji Allah dengan begitu meluap-luap di tengah situasi yang secara manusiawi sangat berat? Jawabannya sederhana: Maria melihat segala sesuatu dari kacamata iman, dari perspektif Allah.

Maria percaya bahwa apa yang dialaminya—termasuk kehamilan yang penuh risiko ini—bukanlah sebuah beban, melainkan bagian dari rencana agung Allah. Ia melihat tanggung jawabnya sebagai sebuah kehormatan, kecemasannya sebagai kesempatan untuk percaya, dan penderitaannya sebagai partisipasi dalam karya penyelamatan Allah.

Bunda Maria mengajak kita untuk melakukan hal yang sama: melihat karya Tuhan dari kacamata iman yang positif. Orang yang mampu bersukacita dalam Tuhan di tengah penderitaan adalah orang yang paling berbahagia. Karena ketika banyak orang berusaha menemukan kebahagiaan lewat harta dan kenikmatan duniawi, Maria menemukan satu-satunya alasan untuk berbahagia: Tuhan sendiri.

 

5. Aplikasi dalam Kehidupan Sehari-hari

Saudara-saudari yang terkasih, bagaimana kita dapat menghidupi gaya hidup Magnificat ini dalam keseharian kita? Perayaan Maria Diangkat ke Surga hari ini mengajak kita untuk merenungkan beberapa hal:

Pertama, di tengah pergumulan ekonomi. Ketika beban finansial menekan, alih-alih tenggelam dalam kecemasan yang melumpuhkan, belajarlah mengucap syukur atas pemeliharaan Tuhan hari ini—napas hidup, makanan di meja, dan kekuatan untuk terus berusaha. Percayalah bahwa Allah yang memelihara burung di udara tidak akan membiarkan kita berjalan sendirian.

Kedua, di tengah ketegangan keluarga. Saat komunikasi dalam keluarga terasa hambar atau penuh konflik, mulailah bersyukur atas kehadiran mereka. Bersyukurlah atas benih-benih kebaikan yang Tuhan tempatkan dalam diri pasangan atau anak-anak kita, bahkan sebelum kita melihat perubahan sikap pada diri mereka.

Ketiga, dalam doa-doa kita. Ubahlah cara kita berdoa. Jangan hanya memenuhi doa dengan daftar permintaan dan keluh kesah. Belajarlah untuk memuji Tuhan terlebih dahulu, mengucap syukur atas apa yang telah Dia lakukan, dan percaya bahwa Dia sedang bekerja bahkan di tengah proses yang belum selesai.

Keempat, meneladan keteguhan iman Maria. Dalam perjalanan hidupnya, Maria mengalami banyak penderitaan—mulai dari kehamilan yang penuh risiko, pelarian ke Mesir, kehilangan Yesus di Bait Allah, hingga akhirnya berdiri di bawah salib melihat Putranya wafat. Namun Maria tetap setia. Ia tidak pernah kehilangan imannya. Dan karena kesetiaannya, Allah mengangkatnya ke dalam kemuliaan surgawi.

 

Penutup: Pengharapan Kebangkitan

Saudara-saudari yang terkasih, perayaan Maria Diangkat ke Surga hari ini bukan hanya tentang Maria, tetapi juga tentang kita. Dalam diri Maria, buah Paskah Kristus telah berbuah penuh. Tubuh manusia—tubuh kita yang berkeringat di bawah terik matahari, tubuh kita yang lelah setelah bekerja keras, tubuh kita yang menua—tidak ditakdirkan untuk dibinasakan, tetapi untuk dimuliakan.

Paulus berkata dengan keyakinan yang menggetarkan: "Kristus telah bangkit sebagai buah sulung dari orang-orang yang telah meninggal" (1 Korintus 15:20). Kebangkitan Kristus adalah jaminan bahwa kita semua yang percaya kepada-Nya akan dibangkitkan. Dan dalam diri Maria, kita melihat janji itu sudah digenapi secara sempurna.

Maria telah mendahului kita dalam kemuliaan. Ia adalah tanda harapan bahwa kita semua dipanggil untuk mencapai kemuliaan yang sama. Maka, marilah kita meneladan iman, harapan, dan kasih Maria. Marilah kita belajar bersyukur sebelum melihat hasil, percaya bahwa Tuhan selalu bekerja dalam hidup kita, dan berani melangkah dengan iman seperti Maria.

Semoga Bunda Maria, Ratu Surga, menyertai kita dan membimbing setiap langkah kita menuju Yesus, Putranya, yang hidup dan berkuasa selama-lamanya. Amin.

MENATAP SURGA DENGAN PENUH HARAPAN

Renungan

Sabtu, 15 Agustus 2026

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga

Bacaan Injil: Matius 19:13-15

 

MENATAP SURGA DENGAN PENUH HARAPAN

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi


 


Saudara-saudari terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus,

Hari ini, Gereja di seluruh dunia merayakan salah satu misteri agung iman kita: Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Pada hari yang istimewa ini, kita memuliakan Bunda Maria yang telah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia dan diangkat tubuh serta jiwanya ke dalam kemuliaan surgawi . Dogma yang secara resmi dinyatakan oleh Paus Pius XII pada tahun 1950 ini bukan sekadar penghormatan istimewa kepada Bunda Allah, melainkan juga menjadi tanda pengharapan bagi kita semua bahwa keselamatan yang dijanjikan Kristus adalah nyata dan terbuka bagi setiap orang yang beriman.

Pada Sabtu, 15 Agustus 2026 ini, kita mendengarkan Sabda Tuhan dari Injil Matius 19:13-15 . Di tengah kemuliaan Maria yang kita rayakan, Injil justru mengajak kita untuk merenungkan sebuah peristiwa yang sederhana namun sarat makna: Yesus memberkati anak-anak kecil. Ada pesan mendalam yang hendak disampaikan Tuhan kepada kita pada hari raya ini.

 

Ulasan Injil

Kisah dalam Injil hari ini sungguh mengharukan. Diceritakan bahwa orang-orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, dengan maksud agar Ia meletakkan tangan-Nya ke atas mereka dan mendoakan mereka. Namun, para murid menegur orang-orang itu. Mungkin mereka berpikir bahwa Yesus yang sedang sibuk mengajar dan melayani orang banyak tidak perlu diganggu oleh hal-hal yang dianggap sepele.

Reaksi Yesus sangat jelas dan tegas: "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Surga" (Mat 19:14). Setelah itu, Yesus meletakkan tangan-Nya atas mereka dan memberkati mereka.

Yesus membalikkan logika dunia. Para murid menganggap anak-anak kecil tidak penting, tetapi Yesus justru menjadikan mereka sebagai teladan bagi siapa pun yang ingin masuk ke dalam Kerajaan Surga. Anak-anak kecil memiliki kerendahan hati, ketulusan, dan sikap ketergantungan penuh kepada orang tua mereka. Mereka tidak sombong dengan pencapaiannya, tidak munafik dalam perkataan, dan tidak merasa cukup dengan kemampuan sendiri. Merekalah yang empunya Kerajaan Surga.

 

Relevansi dengan Perayaan Maria Diangkat ke Surga

Apa kaitan antara perikop Injil ini dengan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga yang kita rayakan?

Saudara-saudari, Bunda Maria adalah contoh sempurna dari seorang pribadi yang memiliki hati seperti anak kecil. Sepanjang hidupnya, Maria tidak pernah mengandalkan kekuatan atau kebijaksanaannya sendiri. Ia adalah pribadi yang rendah hati. Ketika malaikat Gabriel menyampaikan kabar gembira bahwa ia akan menjadi Bunda Allah, ia tidak menyombongkan diri. Ia justru mengaku sebagai "hamba Tuhan" (Luk 1:38). Kerendahan hati inilah yang membuat Allah berkenan melakukan perbuatan besar padanya.

Maria juga memiliki ketulusan dan kepasrahan total kepada kehendak Allah. Ia tidak banyak bertanya atau menuntut penjelasan terperinci. Ia percaya bahwa apa yang dikatakan Tuhan akan terlaksana. Inilah iman yang polos dan sederhana seperti seorang anak yang percaya begitu saja kepada perkataan orang tuanya.

Dengan kerendahan hati dan kepasrahan seperti itulah, Maria berjalan sepanjang hidupnya: dari perkabungan di bawah salib hingga sukacita kebangkitan, dari keraguan awal hingga kepastian iman di ruang atas bersama para rasul. Karena ia memiliki hati seperti anak kecil, Allah mengangkatnya ke kemuliaan surgawi. Pengangkatan Maria bukanlah hadiah yang tidak layak, melainkan puncak dari perjalanan iman yang dijalaninya dengan rendah hati dan penuh kepercayaan kepada Allah.

Sebaliknya, para murid yang saat itu melarang anak-anak datang kepada Yesus justru mewakili sikap orang yang menganggap dirinya lebih penting dan lebih tahu. Mereka tidak memiliki hati seperti anak kecil, melainkan hati orang dewasa yang terkadang sombong dan angkuh. Dalam perikop sebelumnya, para murid sedang bertengkar tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Mereka perlu belajar kembali untuk menjadi kecil dan rendah hati.

 

Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari

Saudara-saudari terkasih, pesan Sabda Tuhan pada hari raya ini mengajak kita untuk melakukan refleksi mendalam.

Pertama, bagaimana dengan hati kita? Apakah kita masih memiliki hati seperti anak kecil? Apakah kita masih rendah hati dan bergantung sepenuhnya pada Tuhan? Atau sebaliknya, kita justru menjadi seperti para murid yang sok tahu dan menganggap orang lain lebih rendah, sehingga kita menghalangi orang lain untuk datang kepada Yesus? Mari kita periksa batin kita. Orang yang masuk surga adalah mereka yang mengosongkan diri dan dengan penuh kepercayaan menyerahkan hidupnya kepada Tuhan.

Kedua, marilah kita meneladani Maria. Maria adalah Bunda kita yang telah mencapai kemuliaan surgawi. Ia adalah bukti nyata bahwa rahmat keselamatan itu nyata bagi manusia. Ia bukanlah dewa atau makhluk yang tidak terjangkau. Ia adalah manusia biasa yang dengan rahmat Allah mampu menjalani hidupnya sebagai murid sejati. Setiap hari kita dipanggil untuk meneladani kerendahan hati dan kepasrahannya. Setiap kali kita menerima Tubuh Kristus dalam Ekaristi, kita juga dipersatukan dengan Maria yang pernah mengandung dan melahirkan Sabda Allah.

Ketiga, bagi kita yang adalah orang tua dan pendidik, bacaan hari ini adalah panggilan untuk membawa anak-anak kita kepada Yesus. Jangan pernah menghalangi anak-anak kita untuk mengenal Tuhan. Berkatilah mereka, doakanlah mereka, dan ajaklah mereka untuk terlibat dalam kehidupan menggereja . Masa depan Gereja ada di tangan anak-anak kita. Mereka adalah generasi penerus yang harus kita bimbing dengan kasih dan teladan iman yang nyata.

 

Penutup

Saudara-saudari, di hari raya yang agung ini, kita diajak untuk menatap surga dengan penuh harapan. Bunda Maria telah mendahului kita di sana. Ia, yang memiliki hati seperti anak kecil, kini duduk sebagai Ratu di sisi Putranya. Mari kita mohon doa syafaatnya agar kita pun diberi rahmat untuk merendahkan hati seperti anak kecil. Semoga kita semakin bergantung pada Tuhan, semakin tulus dalam mengasihi, dan semakin siap menerima Kerajaan Allah dengan tangan terbuka.

Pada akhirnya, kita pun dipanggil untuk mengikuti jejak Maria. Dengan berani menjawab "ya" terhadap kehendak Tuhan, kita dipersiapkan untuk suatu hari nanti, bersama dengan dia dan semua orang kudus, mencapai kemuliaan abadi di surga.

Santa Perawan Maria, Ratu Surga, doakanlah kami. Amin.

 

MENGEMBALIKAN MARTABAT PERKAWINAN DI TENGAH TANTANGAN ZAMAN

Renungan Harian Katolik

Jumat, 14 Agustus 2026
Peringatan Wajib Santo Maksimilianus Maria Kolbe, Martir

Bacaan Injil: Matius 19:3-12

 

MENGEMBALIKAN MARTABAT PERKAWINAN

DI TENGAH TANTANGAN ZAMAN

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi


 




Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,

Hari ini, Gereja memperingati seorang pahlawan iman yang luar biasa, Santo Maksimilianus Maria Kolbe, seorang imam Fransiskan yang dengan rela menyerahkan nyawanya di kamp konsentrasi Auschwitz untuk menyelamatkan seorang ayah keluarga. Kesaksian hidupnya mengingatkan kita pada pengorbanan total dan kesetiaan tanpa batas—nilai-nilai yang sangat relevan dengan pesan Injil yang kita dengarkan pada hari ini.

I. Perkawinan: Rencana Allah yang Agung

Dalam bacaan Injil Matius 19:3-12, kita menyaksikan orang-orang Farisi datang kepada Yesus untuk mencobai-Nya dengan pertanyaan tentang perceraian. Pada zaman itu, perceraian adalah praktik yang lumrah dan dianggap sah dengan berbagai alasan, bahkan yang sepele sekalipun . Namun, Yesus tidak terjebak dalam perdebatan hukum yang sempit. Ia mengangkat pandangan lawan bicara-Nya kepada rancangan Allah sejak awal penciptaan.

Yesus mengutip Kitab Kejadian: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging" (Matius 19:4-5). Dengan tegas Yesus menyatakan: "Jadi, mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia" (Matius 19:6).

Ajaran ini bukan sekadar aturan moral, melainkan sebuah pengungkapan martabat luhur perkawinan sebagai sakramen. Perkawinan Katolik bukanlah sekadar kontrak sosial yang dapat dibubarkan kapan saja; melainkan sebuah perjanjian sakral yang mencerminkan kasih setia Allah kepada umat-Nya dan kasih Kristus kepada Gereja . Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa ikatan sakramen ini bersifat tak terceraikan (indissolubile), sebuah anugerah yang sekaligus merupakan tuntutan cinta sejati.

II. Hati yang Keras dan Rahasia Ketidaksetiaan

Ketika orang-orang Farisi menunjuk pada hukum Musa yang mengizinkan perceraian, Yesus menjawab: "Karena ketegaran hatimu, Musa mengizinkan kamu menceraikan istrimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian" (Matius 19:8) . Di sini Yesus mengungkapkan akar masalah sejati: dosa dan kekerasan hati manusia.

Allah dalam kemurahan-Nya memang mengizinkan hal-hal tertentu akibat dosa manusia, namun izin ini bukanlah ideal yang dikehendaki-Nya . Yesus memanggil kita untuk kembali pada rancangan semula Allah—sebuah panggilan untuk mengubah hati yang keras menjadi hati yang penuh kasih dan setia. Ini bukan perkara mudah, karena kesetiaan sejati membutuhkan pengorbanan, pengampunan, dan kerendahan hati setiap hari.

Bagi kita yang bergumul dalam kehidupan perkawinan, atau bagi kita yang pernah mengalami luka perceraian, firman Tuhan ini bukanlah vonis yang menghakimi, melainkan terang yang menunjukkan jalan menuju kesembuhan. Gereja, dengan penuh belas kasih, menemani mereka yang terluka dan mengajak semua orang untuk memahami rencana Allah yang agung.

III. Panggilan Istimewa demi Kerajaan Allah

Menanggapi ajaran Yesus yang radikal ini, para murid berkata: "Jika demikian halnya hubungan antara suami dan istri, lebih baik jangan kawin" (Matius 19:10). Yesus lalu menjelaskan bahwa ada panggilan khusus untuk hidup selibat demi Kerajaan Surga.

Yesus berkata: "Ada orang yang tidak dapat kawin karena mereka lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti, hendaklah ia mengerti" (Matius 19:12) .

Baik panggilan perkawinan maupun panggilan selibat adalah dua jalan hidup yang sama-sama luhur. Keduanya adalah karunia dan panggilan untuk mengasihi dengan total . Hidup selibat yang dipilih demi Kerajaan Allah memungkinkan seseorang untuk mempersembahkan diri sepenuhnya bagi pelayanan dan pewartaan Injil, seperti yang dicontohkan oleh Santo Maksimilianus Maria Kolbe yang kita peringati hari ini . Sementara itu, perkawinan menguduskan cinta suami istri dan membuka diri pada kehidupan, menjadi gambaran nyata kasih Allah di tengah dunia.

IV. Aplikasi dalam Kehidupan Sehari-hari

Saudara-saudari, bagaimana kita meresapi sabda Tuhan ini?

Pertama, bagi kita yang sudah menikah, marilah kita memandang perkawinan kita bukan sebagai beban, melainkan sebagai sakramen yang mempersatukan kita dengan Kristus. Perbaharuilah janji setia setiap hari, bukan hanya dalam perkataan, tetapi dalam tindakan nyata: saling mengampuni, saling mendukung, dan membangun komunikasi yang jujur.

Kedua, bagi yang masih lajang dan sedang mempersiapkan diri untuk menikah, jadikanlah masa persiapan ini sebagai kesempatan untuk sungguh-sungguh memahami makna sakramen perkawinan. Persiapkan hati dan iman, bukan hanya urusan duniawi.

Ketiga, bagi kita semua, marilah kita mendukung pasutri yang tengah berjuang mempertahankan keutuhan rumah tangga mereka. Jangan menghakimi mereka yang gagal, tetapi dampingilah dengan kasih dan doa . Gereja hadir untuk semua, terutama mereka yang terluka.

Keempat, marilah kita menghargai panggilan hidup selibat, baik bagi para imam, bruder, suster, maupun awam yang memilih hidup membiara. Mereka adalah tanda kehadiran Kerajaan Allah di tengah dunia yang sering kali terlalu terikat pada hal-hal duniawi.

Penutup: Belajar dari Teladan Santo Maksimilianus Maria Kolbe

Hari ini kita memperingati Santo Maksimilianus Maria Kolbe, yang memberikan nyawanya demi kasih kepada sesama. Ia menunjukkan bahwa kesetiaan sejati hanya mungkin jika kita berakar dalam kasih Kristus. Seperti yang dinyatakan dalam Kitab Yehezkiel yang menjadi bacaan pertama hari ini, Allah selalu mengingat perjanjian-Nya dan mengampuni umat-Nya yang tidak setia (Yehezkiel 16:60,63). Yesus juga mengingatkan bahwa segala sesuatu mungkin bagi Allah, dan kesetiaan dalam perkawinan adalah buah dari rahmat-Nya. Marilah kita berdoa, memohon rahmat agar kita semua, baik yang menikah maupun yang melajang, dapat menghidupi panggilan kita dengan setia dan penuh sukacita, demi Kerajaan Allah.

Tuhan memberkati kita semua. Amin.

 

Rabu, 12 Agustus 2026

PENGAMPUNAN TANPA BATAS, CIRI UTAMA MURID KRISTUS

Renungan Harian Katolik

Kamis, 13 Agustus 2026
Pekan Biasa XIX, Tahun A
Peringatan Fakultatif: Santo Pontianus dan Santo Hippolitus

Bacaan Injil: Matius 18:21-19:1

 

PENGAMPUNAN TANPA BATAS, CIRI UTAMA MURID KRISTUS

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi


 


Saudara-saudari yang terkasih dalam kasih Kristus,

Pernahkah kita merasa sangat tersakiti oleh perkataan atau perbuatan sesama, sehingga hati kita terasa berat untuk memaafkannya? Pertanyaan Petrus kepada Yesus dalam Injil hari ini sangatlah manusiawi. Ia bertanya, "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" (Matius 18:21). Petrus merasa telah menawarkan angka yang sangat murah hati, karena jauh melampaui standar pengampunan pada zamannya. Namun, jawaban Yesus sungguh mengejutkan: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali" (Matius 18:22).

Angka "tujuh puluh kali tujuh kali" bukanlah soal hitung-hitungan angka 490. Dalam tradisi Kitab Suci, angka tujuh melambangkan kesempurnaan. Dengan menyebutkan angka itu, Yesus hendak mengatakan bahwa pengampunan tidak mengenal batas perhitungan. Mengampuni adalah sebuah sikap hati yang tak berkesudahan, yang harus menjadi gaya hidup kita sebagai pengikut-Nya. Namun, mengapa Yesus menekankan hal ini begitu kuat? Karena pengampunan yang kita berikan adalah cerminan dari pengampunan yang telah kita terima dari Allah.

Pengampunan Allah: Kasih yang Melampaui Keadilan

Untuk menegaskan ajaran-Nya, Yesus menceritakan perumpamaan tentang seorang hamba yang berhutang sepuluh ribu talenta kepada rajanya. Jumlah ini sungguh luar biasa besarnya, tak terbayangkan untuk dilunasi oleh seorang hamba. Itulah gambaran dosa-dosa kita di hadapan Allah: sebuah hutang yang tak mungkin kita bayar dengan usaha kita sendiri. Namun, sang raja, yang digambarkan sebagai pribadi Allah yang maharahim, tergerak oleh belas kasihan. Ia tidak hanya menangguhkan hutangnya, tetapi justru menghapuskan seluruh hutang hamba itu. Ia memberinya kebebasan dan kehidupan baru.

Inilah inti Kabar Gembira: Allah dalam Yesus Kristus telah mengampuni dosa kita dengan cuma-cuma. Ia tidak menghitung-hitung kesalahan kita. Santo Yohanes Paulus II, dalam semangat rekonsiliasi yang luar biasa, juga memberikan teladan dengan secara rendah hati meminta maaf atas kesalahan masa lalu Gereja, menunjukkan bahwa pengakuan akan kerapuhan dan kebutuhan akan pengampunan adalah langkah penting menuju pembaharuan. Kita yang telah menerima lautan pengampunan dari Tuhan, bukankah seharusnya kita pun mampu memberikan setetes pengampunan kepada sesama?

Bahaya Mengunci Hati: Saat Pengampunan Berubah Menjadi Penjara

Kisah ini mengambil giliran tragis ketika sang hamba yang telah diampuni keluar dan bertemu dengan sesama hambanya yang berhutang seratus dinar, jumlah yang sangat kecil jika dibandingkan dengan hutangnya yang telah dihapuskan. Namun, ia bertindak kejam. Ia mencekik dan memasukkan rekannya ke dalam penjara. Betapa ironis! Ia yang baru saja dibebaskan dari penjara hutang, justru dengan tega memenjarakan orang lain. Tindakan ini menggambarkan dengan jelas betapa cepatnya kita bisa melupakan kemurahan hati Tuhan saat berhadapan dengan kesalahan kecil orang lain.

Kegagalan kita untuk mengampuni seringkali justru menciptakan "penjara tanpa jeruji" bagi diri kita sendiri. Kebencian, dendam, dan amarah yang kita pendam hanya akan meracuni hati dan mengganggu ketenangan jiwa kita, sementara orang yang kita benci mungkin hidup dengan tenang. Kita lupa bahwa dalam Doa Bapa Kami, kita memohon, "Ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami." Ini adalah sebuah peringatan serius: kita memohon kepada Allah untuk menggunakan standar pengampunan yang sama dengan yang kita gunakan terhadap sesama. Jika kita menutup pintu maaf bagi orang lain, secara rohani kita sedang menggembok pintu belas kasihan Allah bagi diri kita sendiri.

Pengampunan adalah Jalan Kemerdekaan Sejati

Perumpamaan ini mengajak kita untuk merenungkan kembali pemahaman kita tentang keadilan dan pengampunan. Mengampuni memang bukan perkara mudah. Seringkali terasa seperti "kematian kecil" bagi ego dan harga diri kita. Mengampuni bukan berarti melupakan kejadian, atau mengabaikan keadilan hukum jika diperlukan. Pengampunan adalah keputusan batin untuk melepaskan hak kita untuk membalas dendam dan menyerahkan keadilan ke dalam tangan Tuhan. Ini adalah tindakan anugerah yang memerdekakan kita dari belenggu kepahitan dan membuka hati bagi kasih dan damai sejahtera-Nya.

Penutup dan Doa

Saudara-saudari yang terkasih, marilah kita bertanya pada diri kita sendiri: Sudahkah kita benar-benar menyadari besarnya pengampunan yang telah kita terima dari Allah? Apakah kita masih menyimpan "penjara" dalam hati untuk orang-orang yang telah menyakiti kita? Hari ini, Yesus menantang kita untuk melangkah lebih jauh: jadikanlah pengampunan sebagai gaya hidup. Semoga kita memiliki porsi mengampuni yang cukup luas, sehingga ketika kita berdiri di hadapan Bapa di Surga, kita dapat tersenyum karena kita telah memberikan pengampunan yang sama seperti yang telah kita terima dari-Nya.

Doa:
Ya Bapa, Engkau yang penuh belas kasih, kami mengakui betapa besar hutang dosa kami yang telah Kauampuni melalui Putra-Mu, Yesus Kristus. Kami sering kali begitu cepat marah dan sulit mengampuni sesama. Sentuhlah hati kami yang keras ini. Berilah kami rahmat untuk mampu mengampuni dari lubuk hati yang paling dalam, sebagaimana Engkau telah mengampuni kami. Semoga dengan demikian, kami menjadi saksi cinta-Mu yang sejati bagi dunia. Demi Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan dan pengantara kami. Amin.

 

Selasa, 11 Agustus 2026

KASIH YANG MENEGUR DAN KUASA DOA YANG MENGIKAT

Renungan Harian Katolik

Rabu, 12 Agustus 2026
Peringatan Fakultatif Santa Yohana Fransiska de Chantal, Biarawati

Bacaan Injil: Matius 18:15-20

 

KASIH YANG MENEGUR DAN KUASA DOA YANG MENGIKAT

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 


 


Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Hari ini, Gereja menyapa kita dengan bacaan Injil dari Matius 18:15-20. Pada mulanya, sepintas bagian ini terasa berat dan seperti sebuah manual prosedur tentang cara menangani orang yang berbuat dosa. Namun, jika kita renungkan lebih dalam, di balik kata-kata ini mengalir kasih seorang Bapa yang tidak rela kehilangan satu pun anak-Nya. Inilah logika ilahi yang berbeda dari logika dunia.

Menegur dengan Kasih, Bukan Menghakimi

Yesus mengajarkan kita sebuah langkah yang kelihatannya sederhana namun sangat sulit: "Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata" (Mat 18:15). Dunia mengajarkan kita untuk menyebarkan kesalahan orang lain—gunjingan adalah "makanan sehari-hari" yang tampaknya tak terhindarkan. Paus Fransiskus bahkan menyebut gosip sebagai "wabah yang lebih mengerikan daripada Covid". Namun Yesus berkata: temui dia, bicara berdua saja.

Ini bukan tentang menghakimi, tetapi tentang rehabilitasi. Tujuan kita bukanlah untuk menjatuhkan, melainkan untuk "mendapatkannya kembali"—mengembalikan saudara kita ke pangkuan kasih Allah. Menegur secara pribadi adalah tindakan kasih yang penuh hormat. Ini mengakui bahwa kesalahan adalah masalah pribadi, dan martabat orang yang bersalah harus dilindungi. Jika kita mendengar kabar buruk tentang seorang saudara, bisakah kita berhenti sebelum menyebarkannya? Mampukah kita mendoakannya terlebih dahulu dan, jika perlu, berbicara kepadanya dengan lembut? Inilah yang disebut koreksi persaudaraan.

Gereja: Rumah Penyembuhan, Bukan Pengadilan

Jika teguran pribadi tidak diindahkan, Yesus memberikan langkah berikutnya: ajak satu atau dua orang lain. Tujuannya tetap sama: untuk menegur dan memulihkan, bukan untuk mengadili. Bahkan langkah terakhir, yaitu "sampaikanlah soalnya kepada jemaat" (ay. 17), bukanlah tentang penghukuman publik. Ini adalah pengakuan bahwa dosa merusak komunitas, dan seluruh komunitas memiliki tanggung jawab untuk memulihkan anggotanya.

Jika seorang saudara tetap keras kepala, Yesus berkata: "pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai" (ay. 17). Namun, ingatlah bagaimana Yesus memperlakukan orang-orang yang tidak mengenal Allah dan para pemungut cukai? Ia makan bersama mereka, Ia mencari mereka, Ia mengasihi mereka. Ini bukanlah kalimat pengucilan abadi, melainkan seruan untuk menyerahkan saudara itu sepenuhnya ke dalam tangan belas kasih Allah yang maha besar. Kita dipanggil untuk mengasihi mereka seperti Yesus mengasihi mereka yang tersesat. Saat kita sulit mengampuni, ingatlah bahwa pengampunan bukanlah melupakan, melainkan keputusan sadar untuk melepaskan hati kita dari kepahitan dan menyerahkannya kepada Allah.

Kuasa Doa yang Memulihkan

Bagian akhir dari Injil ini (ay. 18-20) mengingatkan kita pada kuasa doa dan otoritas Gereja. Yesus memberikan kuasa untuk "mengikat dan melepaskan" kepada para murid-Nya. Ini bukanlah kuasa untuk bertindak sewenang-wenang, tetapi kuasa untuk mengampuni dosa dalam Sakramen Tobat dan kuasa untuk memutuskan belenggu dosa melalui doa dan keputusan Gereja yang dipimpin oleh Roh Kudus.

Kita diajak untuk tidak pernah meremehkan kuasa doa bersama. "Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga" (ay. 19). Dalam setiap liturgi, dalam setiap kelompok doa, dalam setiap keluarga yang berdoa bersama, Kristus sendiri hadir di tengah-tengah kita. Di sanalah kesatuan dibangun, luka-luka dipulihkan, dan komunitas yang penuh kasih diperkuat.

Renungan Pribadi:

Kita semua adalah orang berdosa yang setiap hari membutuhkan belas kasih Allah. Hari ini, mari kita bertanya pada diri sendiri:

  1. Dari sisi "yang menegur": Ketika melihat kesalahan saudara, apakah langkah pertamaku adalah menyebarkannya atau mendoakannya? Apakah aku memiliki keberanian untuk menegur dengan kasih, atau aku memilih diam karena takut dan tidak peduli? Saya mungkin takut akan reaksi mereka atau kurang percaya diri. Namun, setiap kali kita melakukannya dengan niat baik, kita merasakan itu adalah jalan Tuhan.
  2. Dari sisi "yang ditegur": Mampukah aku menerima teguran dengan rendah hati, sebagai bentuk kasih yang ingin membantuku bertumbuh? Ataukah aku mudah tersinggung dan membela diri?
  3. Dari sisi "komunitas": Apakah kita sebagai umat membangun Gereja yang menjadi rumah penyembuhan bagi para pendosa, ataukah kita menjadi komunitas yang eksklusif dan menghakimi?

Santa Yohana Fransiska de Chantal, doakanlah kami agar kami memiliki kebijaksanaan dan cinta kasih dalam setiap teguran yang kami sampaikan dan dalam setiap langkah kami menuju pertobatan.

 

Senin, 10 Agustus 2026

KECIL, HILANG, DAN DITEMUKAN

Renungan

Selasa, 11 Agustus 2026

Peringatan Wajib Santa Klara dari Assisi

Bacaan Injil: Matius 18:1-5, 12-14

 

KECIL, HILANG, DAN DITEMUKAN

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi


Pendahuluan

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Hari ini, Gereja tidak hanya mengajak kita merenungkan sabda Tuhan melalui Injil Matius, tetapi juga memandang teladan hidup Santa Klara dari Assisi, yang kita peringati pada hari ini. Seorang perempuan bangsawan yang memilih jalan kerendahan hati dan kemiskinan total demi Kristus. Perjumpaan antara bacaan Injil dan teladan Santa Klara mengantarkan kita pada sebuah refleksi iman yang mendalam tentang hakikat Kerajaan Surga.

 

Dua Pertanyaan, Satu Jawaban

Dalam Injil hari ini, para murid datang kepada Yesus dengan sebuah pertanyaan yang tampaknya sederhana namun sarat ambisi: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?". Ini adalah pertanyaan tentang status, pengakuan, dan kehormatan.

Namun Yesus tidak memberikan jawaban teoretis. Ia melakukan sesuatu yang radikal. Ia memanggil seorang anak kecil, menempatkannya di tengah-tengah mereka, dan berkata: "Jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga" (Mat 18:3).

Saudara-saudari, ini adalah sebuah pembalikan total atas logika dunia. Anak kecil pada zaman Yesus tidak memiliki status sosial, tidak memiliki hak hukum, dan sepenuhnya bergantung pada orang lain. Yesus mengajarkan bahwa jalan menuju kebesaran dalam Kerajaan-Nya bukanlah dengan meninggikan diri, melainkan merendahkan diri—menjadi seperti anak kecil yang polos, rendah hati, dan sungguh-sungguh bergantung pada kasih Bapa.

Di sinilah Santa Klara berbicara kepada kita. Ia lahir dari keluarga bangsawan yang kaya raya. Namun hatinya tertarik pada cita-cita Santo Fransiskus untuk hidup miskin dan rendah hati demi Injil. Pada usia delapan belas tahun, ia meninggalkan istana keluarganya, menukar pakaian mewahnya dengan jubah kasar, dan menyerahkan seluruh hidupnya kepada Kristus. Klara menjadi "kecil" di mata dunia, namun besar di mata Allah. Ia merindukan bukan kekuasaan atau pengakuan, melainkan ketergantungan total pada Sang Gembala.

 

Kasih yang Tak Terbatas: Perumpamaan Domba yang Hilang

Yesus kemudian melanjutkan pengajaran-Nya dengan sebuah perumpamaan yang mengharukan tentang seorang gembala yang memiliki seratus ekor domba. Ketika seekor domba tersesat, gembala itu meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari domba yang hilang itu. Dan jika ia menemukannya, kegembiraannya atas domba yang seekor itu lebih besar daripada atas yang sembilan puluh sembilan yang tidak tersesat.

Inilah gambaran hati Allah. Allah adalah Gembala yang Baik yang tidak rela kehilangan satu pun dari anak-anak-Nya. "Bapa-Ku yang di surga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang" (Mat 18:14) . Kita sering kali tersesat—oleh dosa, kesombongan, kesedihan, atau kesibukan duniawi. Namun kasih Tuhan tidak pernah berhenti. Ia mencari kita. Ia tidak menunggu kita dengan pasif, melainkan datang menjumpai kita di jalan-jalan kehidupan yang berliku.

Bukti terbesar dari kasih pencarian ini adalah inkarnasi: Allah mengutus Putra-Nya sendiri menjadi manusia untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.

Di sinilah kita kembali melihat teladan Santa Klara. Dalam biaranya di San Damiano, ketika serdadu-serdadu Kaisar Frederik II datang menyerang, Klara yang sedang sakit parah meminta dibopong ke altar. Ia mengangkat monstrans berisi Sakramen Mahakudus dan menghadang para penyerang di pintu gerbang. Suatu suara terdengar di hatinya: "Aku akan selalu menempatkan mereka dalam perlindungan-Ku". Para serdadu pun lari ketakutan. Santa Klara tidak melindungi dirinya dengan kekuatan senjata, tetapi dengan iman yang teguh pada Gembala yang setia melindungi domba-domba-Nya.

 

Panggilan Kita: Menjadi Kecil dan Mencari yang Tersesat

Apa arti semua ini bagi kita, umat Katolik pada hari ini?

Pertama, kita dipanggil untuk merendahkan hati seperti anak kecil. Bukan berarti kita menjadi naif, tetapi kita diundang untuk menyadari bahwa segala sesuatu dalam hidup kita adalah anugerah. Kita tidak bisa menyelamatkan diri sendiri. Kita bergantung sepenuhnya pada kasih karunia Allah . Mari kita tanyakan pada diri kita sendiri: apakah saya masih mencari status, pengakuan, atau kuasa? Ataukah saya belajar untuk menjadi kecil di hadapan Tuhan dan sesama?

Kedua, kita dipanggil untuk merangkul mereka yang "kecil" dan tersesat. Yesus dengan tegas berkata: "Jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini" (Mat 18:10). Kita diajak untuk melihat setiap orang, terutama yang lemah, miskin, dan terpinggirkan, sebagai pribadi yang berharga di mata Allah. Santa Klara mendirikan ordonya untuk melayani dan melindungi kaum miskin. Kita pun dipanggil untuk melindungi mereka yang rentan.

Ketiga, kita diajak untuk memiliki hati seperti Gembala. Jika kita sungguh-sungguh mencintai Tuhan dan sesama, kita tidak akan tinggal diam melihat saudara-saudari kita menjauh dari kasih Allah. Kita harus berani mencari, mengingatkan, dan membawa mereka kembali ke pangkuan Gereja. Bukan dengan menghakimi, melainkan dengan kasih yang sabar dan penuh harapan.

 


Penutup

Saudara-saudari yang dikasihi Kristus,

Hari ini, dalam Peringatan Wajib Santa Klara, kita merayakan seorang wanita yang menjawab panggilan Yesus untuk menjadi kecil dan mencintai tanpa syarat. Ia memahami bahwa Allah adalah Gembala yang setia, yang selalu mencari dan melindungi umat-Nya.

Marilah kita belajar dari teladan Santa Klara untuk merendahkan hati, percaya pada pemeliharaan Allah, dan berani mencari saudara-saudari kita yang tersesat. Ingatlah, Bapa di surga tidak menghendaki seorang pun dari kita hilang. Ia selalu mencari, selalu menunggu, dan selalu merayakan pertobatan kita.

Pada akhir hidupnya, Santa Klara berkata kepada para suster: "Pergilah dalam damai; engkau telah mengikuti jalan yang benar; pergilah dengan penuh keyakinan, sebab Pencipta-mu telah menguduskanmu, telah memeliharamu terus-menerus, dan telah mengasihimu dengan segala kelembutan bagaikan seorang ibu terhadap anaknya".

Semoga kata-kata ini juga menjadi penghiburan dan kekuatan bagi kita semua, pada hari ini dan selama-lamanya.

Amin.

 

Kamis, 06 Agustus 2026

HUKUM GANDUM: MATI UNTUK HIDUP

Renungan Harian Katolik

Senin, 10 Agustus 2026
Pesta Santo Laurensius, Diakon dan Martir
Bacaan Injil

Yohanes 12:24-26

 

HUKUM GANDUM: MATI UNTUK HIDUP

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi




Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Setiap tanggal 10 Agustus, Gereja memperingati Pesta Santo Laurensius, seorang diakon yang menjadi martir pada tahun 258 di bawah Kaisar Valerianus. Warna liturgi merah yang dikenakan hari ini mengingatkan kita pada darah kemartirannya sekaligus nyala cinta kasih yang membara dalam hatinya . Santo Laurensius adalah teladan sempurna dari sabda Yesus dalam Injil hari ini.

Yesus menyampaikan sebuah perumpamaan sederhana namun mengguncang: "Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah" (Yoh 12:24). Inilah yang disebut para Bapa Gereja sebagai "hukum gandum" — hukum Ilahi bahwa kematian adalah pintu menuju kehidupan yang berkelimpahan. 

Santo Laurensius memahami hukum ini dengan sangat mendalam. Ketika Paus Sixtus II ditangkap dan dihukum mati, Laurensius yang adalah diakonnya bertekad menemani gembalanya. Ia berkata, "Tak pantas seorang imam agung Kristus pergi tanpa didampingi diakonnya."  Namun Tuhan masih memberi dia waktu. Sebagai bendahara Gereja yang bertanggung jawab atas harta benda dan sedekah untuk orang miskin, Laurensius diberi waktu empat hari oleh penguasa Romawi untuk menyerahkan seluruh kekayaan Gereja .

Apa yang dilakukan Laurensius? Ia justru membagikan semua harta Gereja kepada orang-orang miskin, para janda, dan orang sakit. Ketika batas waktu tiba, ia menghadap penguasa Romawi bukan dengan emas dan perak, melainkan dengan membawa serta orang-orang miskin dan lemah. Dengan berani ia berkata: "Inilah harta kekayaan Gereja yang saya jaga, terimalah dan peliharalah dengan sebaik-baiknya." 

Laurensius telah memilih untuk "jatuh ke tanah dan mati" — melepaskan kekayaan duniawi, melepaskan keselamatan dirinya sendiri — demi menghasilkan buah yang melimpah bagi Kerajaan Allah. Ia dibunuh dengan cara dipanggang di atas terali besi. Bahkan dalam penderitaan itu, semangatnya tetap menyala; konon ia berkata kepada algojonya, "Balikkanlah aku, karena sisi ini sudah matang!"  Inilah buah dari iman yang kokoh: sukacita yang tidak dapat direnggut oleh siksaan apa pun.

Yesus melanjutkan sabda-Nya: "Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal" (Yoh 12:25). Membenci nyawa di sini bukanlah berarti membenci diri sendiri sebagai ciptaan Allah. Sebaliknya, ini adalah sikap yang menilai hal-hal surgawi lebih penting daripada segala sesuatu di dunia ini . Ini berarti kita tidak begitu terikat pada kesenangan duniawi sehingga kita bersedia mengorbankan semuanya demi Tuhan .

Kita mungkin tidak dipanggil untuk mati sebagai martir seperti Santo Laurensius. Namun setiap hari kita dipanggil untuk mengalami "kematian kecil" — mengorbankan egoisme kita, melepaskan keinginan kita sendiri, dan melayani sesama dengan sukacita . St. Agustinus mengingatkan bahwa Gereja adalah taman Tuhan yang berisi aneka bunga: bukan hanya mawar para martir, tetapi juga bakung para perawan, ivy orang-orang yang menikah, dan violet para janda . Kita semua dipanggil untuk memberikan hidup kita sesuai dengan panggilan masing-masing.

Yesus menutup sabda-Nya dengan janji yang indah: "Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa" (Yoh 12:26).  Inilah kabar gembira: ketika kita melayani Kristus dan mengikuti Dia di jalan pengorbanan, kita tidak pernah sendirian. Kita akan berada bersama Dia, dan Bapa sendiri akan menghormati kita. 

Santo Laurensius hidup dan mati dengan keyakinan ini. Bagaimana dengan kita? Apakah kita berani menjadi "biji gandum" yang jatuh ke tanah demi menghasilkan banyak buah? Mari kita mulai dari hal-hal kecil: kesetiaan dalam tugas sehari-hari, kepedulian kepada yang miskin dan sakit, pengorbanan waktu dan tenaga untuk keluarga dan sesama . Seperti Santo Laurensius, mari kita belajar memberi dengan sukacita, karena "Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita" (2Kor 9:7). 

Ya Tuhan, ajarlah kami untuk tidak takut kehilangan nyawa kami demi Engkau. Semoga teladan Santo Laurensius mengobarkan semangat pengorbanan kami, agar kami pun menghasilkan banyak buah bagi Kerajaan-Mu. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin. 

 

Santo Laurensius, Diakon dan Martir, doakanlah kami.