Minggu, 20 September 2026

AKU MENGHENDAKI BELAS KASIHAN, BUKAN PERSEMBAHAN

 

Renungan Katolik

Pesta Santo Matius, Rasul dan Penginjil

Senin, 21 September 2026
Bacaan Injil: Matius 9:9-13

 

AKU MENGHENDAKI BELAS KASIHAN, BUKAN PERSEMBAHAN

 


 


Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Hari ini Gereja merayakan Pesta Santo Matius, Rasul dan Penginjil. Pilihan Tuhan atas Matius bukanlah sebuah kebetulan, melainkan sebuah undangan untuk merenungkan inti terdalam dari Injil: belas kasihan Allah yang menjangkau mereka yang dianggap jauh dan tersisih.

Dipanggil dalam Keadaan Apa Adanya

Bayangkanlah suasana pasar atau pos cukai di Kapernaum pada abad pertama. Di sana duduk seorang pria bernama Matius, atau Levi, di meja cukainya. Sebagai pemungut cukai, ia bekerja untuk penjajah Romawi, menarik pajak dari bangsanya sendiri dan sering kali mengambil keuntungan pribadi. Dalam pandangan masyarakat Yahudi saat itu, ia adalah seorang pengkhianat dan pendosa publik . Tidak heran jika orang-orang Farisi memandangnya dengan jijik.

Namun justru di tempat itulah Yesus melihatnya. “Ikutlah Aku,” kata Yesus. Dua kata yang sederhana, tetapi mengandung kuasa yang mengubah hidup. Matius bangkit dan mengikut Yesus. Tidak ada syarat, tidak ada tuntutan untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Yesus memanggilnya tepat saat ia masih duduk di meja cukai—dalam keadaan apa adanya.

Perjamuan yang Mengguncang

Tindakan Matius berikutnya sangatlah luar biasa. Ia mengundang Yesus ke rumahnya dan mengadakan perjamuan besar. Yang hadir bukan hanya Yesus dan para murid, tetapi juga banyak pemungut cukai dan orang-orang yang dianggap “berdosa” . Mereka duduk semeja dengan Yesus.

Bagi orang Farisi, pemandangan ini sungguh memalukan. Mereka bertanya kepada murid-murid Yesus, “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”.

Pertanyaan ini mengungkapkan cara pandang mereka tentang kesalehan: menjauhkan diri dari yang najis, menjaga batas-batas kesucian. Namun Yesus membalikkan logika ini. Ia menjawab, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit”. Ia mengutip nabi Hosea, “Aku menghendaki belas kasihan, bukan persembahan”.

Belas Kasihan yang Mengubah

Apa yang Yesus ingin kita pahami hari ini?

Pertama, belas kasihan Allah mendahului pertobatan kita. Matius tidak bertobat lebih dahulu, lalu dipanggil. Ia dipanggil, lalu bertobat. Kasih Yesus-lah yang menyentuh hatinya terlebih dahulu. Paus Fransiskus, dalam salah satu homilinya, menggambarkan momen ini sebagai “pandangan Yesus” yang membangkitkan “sesuatu yang baru” dalam diri Matius—sesuatu yang belum pernah ia kenal sebelumnya . Pandangan itulah yang mengubah segalanya.

Kedua, perjamuan Matius adalah gambaran Gereja. Gereja bukanlah kumpulan orang yang sudah sempurna, melainkan komunitas orang-orang berdosa yang telah menerima belas kasihan. Di sekitar meja perjamuan itu, duduklah mereka yang dianggap tidak layak. Namun justru di sanalah Yesus hadir.

Ketiga, belas kasihan bukan berarti kompromi terhadap dosa. Yesus tidak mengatakan bahwa dosa itu baik. Ia mengatakan bahwa orang sakit membutuhkan dokter. Belas kasihan Allah tidak menghapus dosa—hanya pengampunan-Nya yang dapat melakukannya. Namun belas kasihan menjangkau lebih dalam, menyembuhkan luka yang menyebabkan dosa itu sendiri.

Panggilan bagi Kita

Saudara-saudari, Santo Matius mengingatkan kita bahwa tidak ada seorang pun yang berada di luar jangkauan kasih Allah. Jika Matius, seorang pemungut cukai yang dibenci, dapat dipanggil menjadi Rasul dan Penginjil, maka tidak ada alasan bagi kita untuk merasa terlalu jauh dari Tuhan.

Mungkin ada di antara kita yang merasa bahwa masa lalu kita terlalu kelam, dosa kita terlalu besar, atau kita terlalu sering jatuh. Injil hari ini mengatakan: justru bagi merekalah Yesus datang. “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa”.

Paus Fransiskus pernah berkata bahwa belas kasihan adalah “udara yang kita hirup”—tanpa itu kita tidak dapat hidup. Kita semua adalah orang-orang yang telah menerima belas kasihan. Karena itu, kita juga dipanggil untuk menjadi saluran belas kasihan bagi orang lain.

Marilah kita memohon rahmat untuk memiliki hati yang mampu merasa haru oleh penderitaan sesama, sebagaimana Yesus merasa haru oleh keadaan Matius. Semoga Santo Matius, yang telah merasakan kuasa belas kasihan Kristus, menjadi perantara bagi kita agar kita pun berani bangkit dan mengikuti Yesus, serta membuka pintu rumah kita bagi mereka yang membutuhkan kasih-Nya.

Santo Matius, Rasul dan Penginjil—doakanlah kami.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar