Renungan Katolik
Kamis, 1 Oktober 2026
Pesta Santa Teresa dari Kanak-kanak Yesus
Bacaan Injil: Matius 18:1-5
MELAKUKAN HAL-HAL BIASA DENGAN CINTA
YANG LUAR BIASA
Hari ini Gereja Katolik merayakan
Pesta Santa Teresa dari Kanak-kanak Yesus, perawan dan pujangga Gereja. Ia
adalah seorang biarawati muda dari Lisieux, Prancis, yang meninggal pada usia
24 tahun, namun warisan rohaninya—yang dikenal sebagai "Jalan
Kecil" (La Petite Voie)—telah mengubah cara banyak orang
memahami kekudusan.
Bacaan Injil hari ini, Matius
18:1-5, sangat erat kaitannya dengan semangat hidup Santa Teresa. Yesus
mengajarkan kepada para murid-Nya sebuah kebenaran yang membalikkan logika
dunia: kebesaran di mata Allah tidak diukur dari prestasi, kekuasaan, atau pengakuan,
melainkan dari kerendahan hati dan kesederhanaan seorang anak kecil.
Konteks Bacaan
Dalam Injil Matius pasal 18, para
murid datang kepada Yesus dengan pertanyaan yang sangat manusiawi: "Siapakah
yang terbesar dalam Kerajaan Surga?" (ayat 1). Pertanyaan ini lahir
dari kerinduan manusiawi akan pengakuan dan kehormatan. Namun Yesus menjawab
dengan cara yang tak terduga—Ia memanggil seorang anak kecil, menempatkannya di
tengah-tengah mereka, dan berkata:
"Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu
tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Barangsiapa merendahkan diri dan
menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga."
(Mat 18:3-4)
Anak kecil dalam konteks
masyarakat Yahudi kuno bukanlah simbol kehormatan. Mereka tidak memiliki status
sosial, tidak memiliki kuasa, dan sepenuhnya bergantung pada orang dewasa.
Justru dalam ketidakberdayaan itulah Yesus menunjukkan teladan yang sempurna: ketergantungan
penuh pada Allah dan kerendahan hati yang tulus.
Makna "Menjadi Seperti
Anak Kecil"
Menjadi seperti anak kecil bukan
berarti menjadi kekanak-kanakan (childish), melainkan memiliki sifat-sifat
khas anak yang berkenan di hadapan Allah. Santa Teresa dari Kanak-kanak
Yesus memahami hal ini dengan sangat mendalam. Ia menulis dalam otobiografinya,
Story of a Soul, bahwa ia terlalu kecil untuk menaiki "tangga
kesempurnaan" yang tinggi, sehingga ia mencari jalan yang sederhana dan
langsung menuju Tuhan.
Beberapa ciri "menjadi
seperti anak kecil" yang dapat kita renungkan:
Pertama, kerendahan hati.
Anak kecil tidak menyombongkan diri; ia menyadari keterbatasannya dan
bergantung pada orang tuanya. Demikian pula, kita dipanggil untuk mengakui
bahwa tanpa Allah, kita tidak mampu berbuat apa-apa yang bernilai kekal.
Kedua, kepercayaan penuh.
Anak kecil percaya sepenuhnya kepada orang tuanya. Santa Teresa mengajarkan
"jalan kepercayaan dan penyerahan mutlak" kepada Kasih Allah. Ia
tidak takut untuk bermain-main dengan Yesus seperti seorang anak kecil bermain
dengan ayahnya.
Ketiga, kesederhanaan dan
ketulusan. Anak kecil tidak menyimpan kebencian atau kepura-puraan. Dalam
hidup sehari-hari, Santa Teresa melakukan hal-hal kecil—menyapu lantai,
tersenyum kepada sesama suster yang menjengkelkan, menahan keluhan—semuanya
dengan cinta yang besar. Ia berkata, "Hal-hal kecil yang dilakukan
dengan cinta yang besar".
Aplikasi dalam Kehidupan
Sehari-hari
Pesan Injil hari ini sangat
relevan dengan kehidupan kita saat ini. Kita hidup di tengah dunia yang sering
kali mengukur keberhasilan dari popularitas, jabatan, kekayaan, dan
pengakuan sosial. Media sosial mendorong kita untuk terus mencari validasi,
mengejar likes dan followers, dan membandingkan diri dengan orang
lain.
Namun Yesus mengingatkan bahwa kekudusan
sejati bukanlah pencapaian besar yang jauh dari jangkauan kita, melainkan
jalan sederhana yang dapat kita tempuh setiap hari. Santa Teresa menunjukkan
bahwa kita tidak perlu melakukan hal-hal luar biasa untuk menjadi kudus. Kita
hanya perlu melakukan hal-hal biasa dengan cinta yang luar biasa.
Beberapa langkah praktis yang
dapat kita hidupi hari ini:
- Mengakui keterbatasan kita di hadapan Allah
dan menyerahkan hidup kita kepada-Nya dengan penuh kepercayaan.
- Melakukan tugas-tugas kecil sehari-hari—pekerjaan
rumah, pelayanan, sapaan kepada sesama—dengan kasih yang tulus.
- Menjauhi godaan untuk mengejar pengakuan duniawi,
dan sebaliknya mencari pengakuan dari Allah yang melihat hati.
- Menjadi sederhana, jujur, dan apa adanya
dalam relasi dengan sesama, tanpa pencitraan atau kepura-puraan.
Santa Teresa dari Kanak-kanak
Yesus, pelindung misi-misi, doakanlah kami.
Sorang
Tumanggor, S.Ag
Penyuluh
Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar