Selasa, 22 September 2026

DIUTUS DENGAN KUASA-NYA, BUKAN DENGAN KEKUATAN SENDIRI

 

Renungan Katolik
Rabu, 23 September 2026
Perayaan Wajib St. Pius dari Pietrelcina, Imam (Padre Pio)
Bacaan Injil: Lukas 9:1-6

 

DIUTUS DENGAN KUASA-NYA, BUKAN DENGAN KEKUATAN SENDIRI


 


Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Hari ini Gereja memperingati Santo Pius dari Pietrelcina, yang lebih kita kenal sebagai Padre Pio. Beliau adalah seorang imam Kapusin yang hidupnya penuh dengan karya belas kasih, doa, dan pelayanan sakramen rekonsiliasi. Namun di balik semua itu, ada satu hal yang menjadi dasar seluruh hidupnya: kesatuannya yang mendalam dengan Kristus. Padre Pio tidak pernah mengandalkan kekuatan sendiri; ia mengandalkan kuasa Tuhan yang bekerja melalui dirinya.

Bacaan Injil hari ini, Lukas 9:1-6, mengisahkan Yesus yang memanggil kedua belas murid-Nya, memberi mereka kuasa dan wewenang atas segala setan dan untuk menyembuhkan penyakit, lalu mengutus mereka untuk mewartakan Kerajaan Allah dan menyembuhkan orang sakit. Perhatikanlah: sebelum mereka diutus, mereka dipanggil terlebih dahulu. Yesus tidak langsung menyuruh mereka pergi. Ia memanggil mereka, memberi mereka kuasa, baru kemudian mengutus mereka. Inilah pola perutusan Kristiani yang sejati — perutusan selalu lahir dari perjumpaan dengan Kristus.

Paus Fransiskus pernah mengingatkan bahwa "memberitakan Injil berarti menunjukkan Yesus melalui kesaksian hidup kita, bukan sekadar berbicara tentang Dia". Sebelum kita dapat diutus, kita dipanggil untuk tinggal bersama Kristus. Tanpa intimasi dengan Tuhan, perutusan kita akan menjadi sekadar aktivisme. Kita akan membawa diri kita sendiri, bukan Kristus. Padre Pio memahami ini dengan sangat baik. Ia menghabiskan berjam-jam di depan tabernakel sebelum melayani umat. Dari perjumpaan itu, ia diutus untuk menjadi saluran belas kasih Allah bagi banyak orang.

Yesus mengutus para murid dengan membawa pesan agar mereka tidak membawa apa-apa dalam perjalanan — tidak membawa tongkat, bekal, roti, maupun uang. Mengapa? Karena perjalanan iman tidak ditopang oleh hal-hal lahiriah. Hidup kekal tidak direbut dengan mengandalkan kekayaan atau perlengkapan manusiawi, melainkan dengan mengandalkan kuasa Allah dan hidup setia dalam perutusan. Yesus ingin agar para murid belajar bergantung sepenuhnya pada pemeliharaan Allah dan pada kebaikan sesama. Mereka tidak boleh mengandalkan penampilan luar supaya dihargai orang lain; mereka harus mengandalkan pemeliharaan Allah.

Saudara-saudari terkasih, kita semua yang telah dibaptis juga dipanggil dan diutus. Baptisan kita bukan hanya tanda keselamatan pribadi, tetapi juga panggilan untuk menjadi nabi dan pewarta Kabar Baik bagi sesama. Seperti para murid, kita diberi kekuatan untuk mengusir setan dan menyembuhkan segala macam penyakit — bukan dengan kekuatan kita sendiri, tetapi bersumber pada intimasi kita dengan Yesus. Intimasi kita dengan Tuhan akan terpancar dalam pribadi kita: dalam tutur kata yang lembut, dalam tindakan yang penuh kasih, dalam kesediaan untuk hadir bagi mereka yang menderita.

Hari ini, melalui perantaraan Santo Padre Pio, kita diingatkan akan dua hal: pertama, perutusan kita harus lahir dari perjumpaan yang mendalam dengan Kristus; kedua, kita diutus bukan dengan membawa kekuatan sendiri, melainkan dengan mengandalkan kuasa Allah. Padre Pio pernah berkata, "Berdoalah, berharap, dan jangan khawatir." Inilah semangat seorang murid yang diutus: berdoa untuk tetap dekat dengan Kristus, berharap akan pemeliharaan-Nya, dan tidak khawatir akan apa yang akan kita makan, pakai, atau bawa.

Marilah kita melepaskan keterikatan pada hal-hal duniawi agar hati kita bebas untuk melayani Tuhan. Marilah kita pergi, seperti para murid, memberitakan Kerajaan Allah dan membawa kesembuhan bagi mereka yang membutuhkan — melalui kata-kata yang membangun, perbuatan yang menolong, dan kehadiran yang menghibur. Amin

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar