Selasa, 08 September 2026

SIAPAKAH KITA SEBENARNYA DI HADAPAN TUHAN DAN SESAMA?

Renungan Harian Katolik

Jumat, 11 September 2026

Pekan Biasa XXIII

Bacaan Injil Lukas 6:39-42

 

SIAPAKAH KITA SEBENARNYA DI HADAPAN TUHAN DAN SESAMA?

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi


 


Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Hari ini, Gereja menyapa kita di tengah hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari. Kita diajak untuk menyimak sabda Tuhan yang tertuang dalam Injil Lukas, tepatnya pada bagian akhir dari Khotbah di Tempat Datar. Yesus berbicara kepada murid-murid-Nya dengan sebuah perumpamaan sederhana namun penuh makna: "Mungkinkah seorang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang?" (Luk 6:39).

Sabda ini seakan membawa kita untuk bercermin: siapakah kita sebenarnya di hadapan Tuhan dan sesama? Mari kita renungkan bersama.

 

Ulasan Injil

Perikop hari ini dimulai dengan sebuah pertanyaan retoris yang sangat tajam. "Mungkinkah seorang buta menuntun orang buta?" Pertanyaan ini bukan hanya tentang pemandu yang cacat fisik, melainkan sebuah metafora tentang kepemimpinan dan bimbingan rohani. Seorang yang tidak melihat terang kebenaran tidak mungkin mampu menuntun orang lain menuju terang yang sama. Akibatnya, keduanya akan tersesat dan jatuh ke dalam jurang dosa dan kesalahan.

Yesus melanjutkan dengan sebuah prinsip penting: "Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi jika ia telah selesai seluruh pelajarannya, ia akan menjadi sama seperti gurunya" (Luk 6:40). Di sini, sang Guru Agung, Yesus Kristus, adalah satu-satunya teladan sempurna. Tujuan hidup setiap murid adalah menjadi serupa dengan Guru-Nya. Kita diajak untuk terus belajar dari-Nya, membiarkan diri dibentuk oleh sabda dan kasih-Nya, sehingga lambat laun kita bertumbuh menjadi serupa dengan citra-Nya.

Lalu, Yesus menyoroti sebuah kelemahan yang sangat manusiawi: kecenderungan untuk melihat kesalahan orang lain sambil membiarkan kesalahan besar dalam diri kita sendiri. "Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?" (Luk 6:41). Inilah akar dari sikap munafik. Kita sering kali sangat teliti dan keras dalam menghakimi kesalahan kecil orang lain, tetapi sangat longgar dan bahkan buta terhadap dosa-dosa besar dalam hidup kita sendiri. Balok di mata kita adalah kesombongan, penghakiman, dan pengabaian akan kebutuhan kita sendiri untuk bertobat.

Puncak dari ajaran ini adalah seruan Yesus: "Hai orang munafik, buanglah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar dari mata saudaramu" (Luk 6:42). Ini bukanlah larangan untuk menegur sesama. Justru, ini adalah petunjuk bagaimana menegur dengan benar. Teguran yang sesungguhnya lahir dari kerendahan hati dan kesadaran akan kelemahan diri sendiri. Hanya setelah kita mengalami belas kasih Tuhan dan bertobat dari dosa-dosa kita, barulah mata rohani kita jernih. Kita melihat bukan lagi untuk menghakimi, melainkan untuk menolong saudara kita dengan kasih dan kelembutan yang sama seperti Tuhan memperlakukan kita.

 

Aplikasi untuk Kehidupan

Saudara-saudari, pesan Injil hari ini sungguh relevan bagi kehidupan kita di dunia yang penuh dengan gosip, ujaran kebencian, dan saling menghakimi . Betapa sering kita terjebak dalam "budaya balok" dan "budaya selumbar." Kita dengan mudahnya mengkritik kekurangan pasangan, anak, rekan kerja, atau bahkan petugas gereja, sementara kita lupa bahwa ada banyak "balok" yang perlu kita singkirkan dari kehidupan pribadi kita.

Rasul Paulus dalam bacaan pertama hari ini (1 Kor 9:16-19, 22b-27) mengingatkan kita tentang disiplin diri. "Aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya". Ini adalah panggilan untuk mengendalikan diri, terutama lidah dan hati kita. Kita dipanggil untuk menjadi "segala-galanya bagi semua orang" demi keselamatan mereka, bukan dengan menghakimi, melainkan dengan menarik mereka kepada Kristus melalui teladan kasih dan kerendahan hati.

Paus Fransiskus mengingatkan kita bahwa koreksi persaudaraan adalah sebuah tindakan amal, tetapi harus dilakukan dengan kasih, kebenaran, dan kerendahan hati. Ia berkata, "Saya mengatakan ini kepadamu, kepadamu, apa yang telah kau lakukan. Itu benar. Itu bukan gosip yang kudengar". Hindari gosip! Gosip melukai hati dan merusak nama baik. Jika kita ingin menolong saudara, kita harus mendekatinya secara pribadi, dengan lembut, dan dengan hati yang sadar bahwa kita sendiri adalah orang berdosa yang membutuhkan pengampunan.

Tindakan Nyata:

Hari ini, marilah kita mengambil satu komitmen kecil:

  1. Setiap kali kita hendak mengkritik atau membicarakan kekurangan orang lain, tahanlah sebentar.
  2. Tanyakan pada diri sendiri: "Apakah aku sudah membersihkan 'balok' di mataku sendiri?"
  3. Jika ada teguran yang perlu disampaikan, lakukanlah dengan doa, secara pribadi, dan dengan penuh kasih. Jadikanlah tujuan kita bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk mengangkat saudara kita menuju kekudusan.

 

Semoga renungan ini menjadi berkat bagi kita semua. Tuhan memberkati.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar