Selasa, 01 September 2026

BERTOLAKLAH KE TEMPAT YANG DALAM

Renungan Harian Katolik

Kamis, 3 September 2026

Pekan Biasa XXII, Peringatan Santo Gregorius Agung, Paus dan Pujangga Gereja

Bacaan Injil: Lukas 5:1-11


BERTOLAKLAH KE TEMPAT YANG DALAM

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

________________________________________



Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Pernahkah kita merasakan lelah yang luar biasa setelah berusaha sekuat tenaga, namun hasil yang kita peroleh hampa? Rasa putus asa menyelimuti hati, pertanyaan-pertanyaan mulai bermunculan: "Untuk apa semua ini?" Pengalaman semacam ini bukanlah hal asing dalam kehidupan kita sehari-hari.

Injil hari ini mengisahkan pengalaman serupa yang dialami oleh Simon Petrus dan para nelayan lainnya. Sepanjang malam mereka telah bekerja keras, namun tidak seekor pun ikan yang mereka tangkap. Kekecewaan pasti menyelimuti hati mereka. Namun, di tengah kepenatan dan kekecewaan itulah Yesus datang.

Pertama: Ketaatan yang Melampaui Logika

Perintah Yesus kepada Simon terdengar tidak masuk akal: "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan" (Luk 5:4). Sebagai nelayan berpengalaman, Simon tahu bahwa waktu yang tepat untuk menangkap ikan adalah malam hari, bukan pagi hari. Secara logika dan pengalaman, usaha pada saat itu sia-sia belaka.

Namun, respon Simon sungguh mengagumkan: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau yang menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk 5:5). Di sinilah letak iman sejati—kesediaan untuk taat meskipun akal budi kita sulit menerimanya. Iman bukanlah sekadar pengetahuan tentang Allah, melainkan keberanian untuk melangkah dalam ketaatan kepada sabda-Nya, terutama saat situasi tampak mustahil.

Kedua: Pengakuan akan Ketidaklayakan

Ketika mukjizat terjadi dan jala mereka dipenuhi ikan hingga hampir koyak, reaksi Simon Petrus sungguh mengejutkan. Ia tersungkur di depan Yesus dan berkata: "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa" (Luk 5:8).

Di hadapan kekudusan dan kuasa Allah, Petrus menyadari kelemahan dan dosanya. Ia merasa tidak layak untuk berada di dekat Yesus. Namun justru kerendahan hati inilah yang menjadi syarat untuk dipanggil. Paus Fransiskus pernah mengingatkan bahwa langkah pertama dalam kehidupan rohani adalah mengakui diri kita sebagai orang berdosa—bukan sekadar ucapan bibir, melainkan pengakuan yang menyentuh hati . Dari pengakuan akan ketidaklayakan inilah lahir kerendahan hati yang sejati.

Ketiga: Panggilan untuk Menjala Manusia

Yesus tidak membiarkan Petrus larut dalam perasaan tidak layak. Ia mengangkatnya dengan sabda penghiburan: "Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia" (Luk 5:10). Mukjizat tangkapan ikan bukanlah tujuan akhir, melainkan tanda yang mengarah pada panggilan yang lebih besar.

Saudara-saudari, peristiwa ini mengajak kita untuk merenungkan beberapa hal penting dalam hidup beriman:

Pertama, kekecewaan dan kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Seperti Petrus, kita diajak untuk tetap percaya dan taat pada sabda Tuhan, meskipun akal budi kita sulit menerima. Kedua, kerendahan hati dan pengakuan akan kelemahan justru membuka ruang bagi Allah untuk berkarya. Dalam kelemahan kitalah kuasa Allah menjadi sempurna. Ketiga, setiap perjumpaan dengan Yesus selalu berujung pada panggilan untuk melayani sesama. Kita dipanggil untuk menjadi "penjala manusia"—menjadi saksi kasih Allah dalam keluarga, tempat kerja, dan lingkungan masyarakat.

Hari ini, Gereja juga memperingati Santo Gregorius Agung, Paus dan Pujangga Gereja. Beliau adalah teladan kerendahan hati dan ketaatan dalam pelayanan. Sebagai seorang Paus, ia justru menyebut dirinya "hamba para hamba Allah." Dari teladannya, kita belajar bahwa semakin besar panggilan yang Tuhan berikan, semakin dalam pula kita diundang untuk merendahkan hati di hadapan-Nya.

Marilah kita merenungkan: di mana Tuhan mengundang kita untuk "bertolak ke tempat yang dalam" saat ini? Mungkin dalam pelayanan yang tampaknya sia-sia? Dalam pekerjaan yang sepertinya tidak membuahkan hasil? Atau dalam hubungan yang sedang retak? Yesus mengundang kita untuk tidak hanya tinggal di tepian kekecewaan, tetapi berani melangkah lebih dalam bersama-Nya, sebab di sanalah mukjizat dan panggilan sejati kita temukan.

Amin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar