Minggu, 27 September 2026

MAKNA SEJATI DARI KEBESARAN DI HADAPAN ALLAH

 

Renungan Katolik
Senin, 28 September 2026
Pekan Biasa XXVI – Tahun II
Bacaan Injil: Lukas 9:46-50

 

MAKNA SEJATI DARI KEBESARAN DI HADAPAN ALLAH




Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Hari ini, Gereja memasuki Pekan Biasa ke-26. Kalender liturgi mencatat peringatan fakultatif Santo Wenseslaus, martir, serta Santo Laurensius Ruiz dan kawan-kawan, martir. Warna liturgi yang digunakan adalah hijau, menandakan masa pertumbuhan iman dalam perjalanan hidup sehari-hari. Melalui bacaan Injil Lukas 9:46-50, Yesus mengajak kita untuk merenungkan makna sejati dari kebesaran di hadapan Allah.

Renungan

1. Pertengkaran tentang Siapa yang Terbesar

Bacaan Injil hari ini menghadirkan sebuah kontras yang mencolok. Di tengah perjalanan Yesus menuju Yerusalem, saat Ia berbicara tentang penderitaan dan salib, para murid justru sibuk memperdebatkan siapa yang terbesar di antara mereka. Mereka terjebak dalam ambisi pribadi, dalam mentalitas "karierisme" yang ingin menempatkan diri di atas orang lain.

Saudara-saudari, bukankah kita sering kali terjebak dalam pola pikir yang sama? Dunia mengajarkan bahwa menjadi besar berarti memiliki kekuasaan, pengaruh, dan pengakuan. Kita cenderung mengukur keberhasilan dari jabatan, prestasi, atau seberapa banyak orang yang mengakui kita. Namun, Yesus mengetahui pikiran mereka—dan Dia juga mengetahui pikiran kita. Ia tidak membiarkan ambisi duniawi itu menguasai hati para murid-Nya.

2. Anak Kecil sebagai Teladan Kerendahan Hati

Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya. Dalam budaya pada masa itu, seorang anak tidak memiliki status sosial, tidak memiliki kuasa, dan sepenuhnya bergantung pada orang lain. Anak kecil adalah simbol dari mereka yang kecil, lemah, dan membutuhkan penerimaan.

Dengan tindakan itu, Yesus mengajarkan bahwa kebesaran sejati diukur bukan dari seberapa banyak kita dilayani, melainkan dari seberapa besar kita melayani. Paus Fransiskus dalam homilinya mengingatkan bahwa "yang terkecil di antara kita adalah yang terbesar" karena mereka mengajarkan kita untuk bergantung sepenuhnya kepada Allah, seperti seorang anak bergantung kepada orang tuanya. Kerendahan hati bukan berarti merendahkan diri secara palsu, melainkan hidup dalam kebenaran tentang siapa kita di hadapan Tuhan.

3. Menerima yang Kecil Berarti Menerima Kristus

Yesus berkata, "Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku." Kata-kata ini mengandung makna yang sangat mendalam. Menerima yang kecil, yang lemah, yang tersingkir, yang tidak dapat membalas kebaikan kita—itulah cara kita menerima Kristus sendiri.

Saudara-saudari, siapa "anak kecil" dalam hidup kita? Mereka bisa jadi orang miskin di sekitar kita, mereka yang kesepian, mereka yang tersisih karena kondisi mereka, atau bahkan mereka yang tidak dapat membalas apa pun yang kita berikan. Yesus mengundang kita untuk melihat wajah-Nya dalam diri mereka.

4. Jangan Cegah Mereka yang Berbuat Baik

Bagian terakhir dari bacaan Injil hari ini menampilkan Yohanes yang melaporkan bahwa mereka mencegah seseorang mengusir setan demi nama Yesus karena orang itu bukan bagian dari kelompok mereka. Yesus menegur sikap eksklusif ini: "Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu."

Ini adalah pengajaran penting tentang keterbukaan hati. Kerajaan Allah lebih luas dari batasan kelompok kita sendiri. Kita dipanggil untuk bersikap rendah hati dan terbuka, tidak merasa bahwa hanya kita yang benar, tidak merasa bahwa hanya kelompok kita yang dipakai oleh Tuhan. Kerendahan hati sejati mengakui bahwa Roh Kudus bekerja dengan cara-Nya sendiri, bahkan di luar batas-batas yang kita bayangkan.

Ajaran Gereja

Santo Benediktus XVI dalam bukunya Jesus of Nazareth menegaskan bahwa menjadi seperti anak kecil berarti masuk ke dalam hubungan yang penuh kepercayaan dengan Bapa. Anak kecil tidak mengklaim kemandirian mutlak; ia hidup dalam ketergantungan yang penuh kasih. Inilah paradoks Kerajaan Allah: semakin kita mengosongkan diri dan bergantung kepada Allah, semakin kita dipenuhi oleh-Nya. Semakin kita menjadi kecil, semakin kita menjadi besar di hadapan-Nya.

Ajaran Gereja Katolik secara konsisten menekankan bahwa kerendahan hati adalah fondasi dari semua kebajikan. Tanpa kerendahan hati, doa menjadi kosong, pelayanan menjadi pencarian pujian, dan iman menjadi sekadar formalitas. Kerendahan hati membuka hati kita bagi kasih Allah yang mengubah.

Penutup

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing: Apakah kita masih memperebutkan "kursi terbesar" dalam hidup ini? Apakah kita masih terjebak dalam mentalitas karierisme rohani, ingin diakui dan dipuji atas pelayanan kita? Ataukah kita telah belajar menjadi seperti anak kecil—rendah hati, terbuka, dan penuh kepercayaan kepada Bapa?

Hari ini, Yesus menempatkan seorang anak kecil di samping-Nya dan mengajak kita untuk melihat ke sana. Kebesaran sejati bukanlah tentang seberapa tinggi kita naik, melainkan tentang seberapa dalam kita merendahkan diri untuk melayani. Semoga Santo Wenseslaus dan Santo Laurensius Ruiz, yang kita peringati hari ini, menjadi teladan bagi kita dalam kesetiaan dan kerendahan hati, bahkan hingga martir.

Tuhan Yesus, ajarlah kami untuk menjadi kecil di hadapan-Mu, agar kami boleh menjadi besar dalam kasih-Mu. Amin.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar