Kamis, 24 September 2026

APA SALIB DALAM HIDUP KITA MASING-MASING?

 

RENUNGAN KATOLIK
Sabtu, 26 September 2026
Hari Biasa Pekan XXV – Peringatan Opsional Santo Kosmas dan Damianus, Martir
Bacaan Injil: Lukas 9:43b-45

 

APA SALIB DALAM HIDUP KITA MASING-MASING?


 


Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Hari ini, Gereja Katolik merayakan Hari Biasa Pekan XXV, dengan peringatan opsional Santo Kosmas dan Damianus, dua martir suci yang memberikan kesaksian iman melalui pelayanan medis dan pengorbanan hidup. Dalam kalender liturgi, Sabtu ini juga merupakan "Santa Maria pada Hari Sabtu" – sebuah devosi yang mengingatkan kita akan peran Bunda Maria sebagai teladan iman dan kesetiaan kepada Kristus.

Bacaan Injil yang kita renungkan hari ini, Lukas 9:43b-45, menyajikan sebuah momen yang sangat kontras: di tengah kekaguman orang banyak atas mukjizat-mukjizat Yesus, Ia justru mengucapkan nubuat tentang penderitaan-Nya. Marilah kita membuka hati untuk merenungkan sabda Tuhan dalam terang iman Katolik.

 

Renungan

1. Kontras antara Kekaguman dan Salib

Saudara-saudari terkasih,

Injil hari ini menghadirkan sebuah ketegangan yang mendalam. Di satu sisi, orang banyak sedang diliputi kekaguman luar biasa atas segala yang diperbuat Yesus – penyembuhan, pengajaran, dan mukjizat-mukjizat yang memukau. Namun, di tengah suasana penuh pujian itu, Yesus mengucapkan sesuatu yang sama sekali tidak sesuai dengan ekspektasi: "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia."

Paus Fransiskus, dalam meditasinya atas perikop ini, mengingatkan bahwa Yesus sengaja menyampaikan nubuat penderitaan-Nya justru pada saat orang banyak sedang bersukacita dan mengagumi-Nya. Inilah saat di mana para murid mungkin merasa aman, merasa bahwa misi Yesus berjalan sukses. Tetapi Yesus menegaskan bahwa kemuliaan sejati tidak dapat dipisahkan dari salib.

2. Ketidakmengertian dan Ketakutan Para Murid

Injil mencatat bahwa para murid "tidak mengerti" dan "takut menanyakan hal itu kepada-Nya." Mengapa mereka takut? Paus Fransiskus menjelaskan bahwa para murid sebenarnya takut pada salib. Mereka lebih memilih untuk tidak berbicara tentang penderitaan, lebih memilih untuk tetap berada dalam kenyamanan kekaguman yang menyenangkan. "Mereka tidak menanyakan penjelasan," kata Paus, "lebih baik tidak membicarakannya. Lebih baik tidak memahami kebenaran".

Saudara-saudari, bukankah kita sering kali bersikap seperti para murid ini? Kita senang merenungkan berkat-berkat Tuhan, mukjizat-mukjizat-Nya dalam hidup kita, tetapi kita enggan merenungkan salib – penderitaan, pengorbanan, dan tantangan yang harus kita hadapi sebagai pengikut Kristus. Kita ingin mengikuti Yesus yang mulia, tetapi kita takut pada Yesus yang menderita.

3. Salib sebagai Jalan Keselamatan

Paus Fransiskus menegaskan bahwa mengikuti Yesus berarti dengan tidak terhindarkan menerima salib yang ada di hadapan setiap orang Kristen. Tidak ada penebusan tanpa pencurahan darah, dan tidak ada karya kerasulan yang berbuah tanpa salib. Ini adalah hukum ilahi yang tidak dapat kita hindari.

Namun, kita tidak boleh berkecil hati. Yesus sendiri, dalam kemanusiaan-Nya, juga merasa takut akan salib. Namun Ia tidak melarikan diri. Ia berdoa, "Ya Bapa, jikalau Engkau berkenan, ambillah cawan ini dari hadapan-Ku; tetapi janganlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi" (Luk 22:42). Di sinilah letak perbedaan antara mereka yang mengikuti Yesus dan mereka yang hanya mengagumi-Nya dari jauh.

4. Santa Maria pada Hari Sabtu: Teladan Menghadapi Salib

Pada hari Sabtu ini, Gereja secara khusus menghormati Santa Maria. Bunda Maria adalah teladan sempurna bagi kita dalam menghadapi salib. Ia berdiri di kaki salib Kristus, tidak melarikan diri, tidak berpaling dari penderitaan Putranya. Paus Fransiskus mengajak kita untuk memohon kepada Bunda Maria, yang mengetahui bagaimana caranya tetap berada di dekat salib, rahmat untuk tidak melarikan diri dari salib kita sendiri, meskipun kita merasa takut.

Marilah kita belajar dari Bunda Maria: ia tidak selalu memahami semua yang terjadi pada Putranya, tetapi ia tetap setia, tetap percaya, dan tetap berada di sana. Inilah iman yang sejati – bukan iman yang hanya mencari mukjizat dan penghiburan, tetapi iman yang tetap bertahan bahkan ketika jalan yang harus dilalui adalah jalan salib.

5. Santo Kosmas dan Damianus: Kesaksian Iman melalui Pengorbanan

Hari ini kita juga mengenang Santo Kosmas dan Damianus, dua martir yang memberikan hidup mereka sebagai kesaksian iman. Mereka adalah tabib yang melayani orang sakit tanpa memungut bayaran, dan akhirnya mengorbankan nyawa mereka karena iman kepada Kristus. Kehidupan mereka menjadi contoh nyata bahwa kasih kepada Kristus harus diwujudkan dalam tindakan kasih kepada sesama, bahkan sampai pada pengorbanan tertinggi.

6. Merenungkan Salib dalam Hidup Kita

Saudara-saudari, apa salib dalam hidup kita masing-masing? Mungkin berupa penyakit yang berkepanjangan, kesulitan ekonomi, konflik dalam keluarga, atau tantangan dalam pekerjaan. Mungkin juga berupa panggilan untuk memaafkan seseorang yang telah menyakiti kita, atau kerelaan untuk melepaskan sesuatu yang kita cintai demi kebaikan yang lebih besar.

Yesus mengundang kita untuk "mendengarkan baik-baik perkataan-Nya" dan tidak menutup mata terhadap kenyataan salib. Ia tidak menjanjikan hidup yang bebas dari penderitaan, tetapi Ia menjanjikan bahwa Ia akan menyertai kita di dalamnya. Sebagaimana Ia sendiri bangkit dari kematian, demikian pula kita akan dibangkitkan bersama-Nya jika kita setia sampai akhir.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar