RENUNGAN KATOLIK
Sabtu, 26 September 2026
Hari Biasa Pekan XXV – Peringatan Opsional Santo Kosmas dan Damianus, Martir
Bacaan Injil: Lukas 9:43b-45
APA SALIB DALAM HIDUP KITA
MASING-MASING?
Saudara-saudari terkasih dalam
Kristus,
Hari ini, Gereja Katolik
merayakan Hari Biasa Pekan XXV, dengan peringatan opsional Santo Kosmas dan
Damianus, dua martir suci yang memberikan kesaksian iman melalui pelayanan
medis dan pengorbanan hidup. Dalam kalender liturgi, Sabtu ini juga merupakan "Santa
Maria pada Hari Sabtu" – sebuah devosi yang mengingatkan kita akan peran
Bunda Maria sebagai teladan iman dan kesetiaan kepada Kristus.
Bacaan Injil yang kita renungkan
hari ini, Lukas 9:43b-45, menyajikan sebuah momen yang sangat kontras: di
tengah kekaguman orang banyak atas mukjizat-mukjizat Yesus, Ia justru
mengucapkan nubuat tentang penderitaan-Nya. Marilah kita membuka hati untuk merenungkan
sabda Tuhan dalam terang iman Katolik.
Renungan
1. Kontras antara Kekaguman
dan Salib
Saudara-saudari terkasih,
Injil hari ini menghadirkan
sebuah ketegangan yang mendalam. Di satu sisi, orang banyak sedang diliputi
kekaguman luar biasa atas segala yang diperbuat Yesus – penyembuhan,
pengajaran, dan mukjizat-mukjizat yang memukau. Namun, di tengah suasana penuh
pujian itu, Yesus mengucapkan sesuatu yang sama sekali tidak sesuai dengan
ekspektasi: "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan
manusia."
Paus Fransiskus, dalam
meditasinya atas perikop ini, mengingatkan bahwa Yesus sengaja menyampaikan
nubuat penderitaan-Nya justru pada saat orang banyak sedang bersukacita dan
mengagumi-Nya. Inilah saat di mana para murid mungkin merasa aman, merasa bahwa
misi Yesus berjalan sukses. Tetapi Yesus menegaskan bahwa kemuliaan sejati
tidak dapat dipisahkan dari salib.
2. Ketidakmengertian dan
Ketakutan Para Murid
Injil mencatat bahwa para murid
"tidak mengerti" dan "takut menanyakan hal itu kepada-Nya."
Mengapa mereka takut? Paus Fransiskus menjelaskan bahwa para murid sebenarnya
takut pada salib. Mereka lebih memilih untuk tidak berbicara tentang
penderitaan, lebih memilih untuk tetap berada dalam kenyamanan kekaguman yang
menyenangkan. "Mereka tidak menanyakan penjelasan," kata Paus,
"lebih baik tidak membicarakannya. Lebih baik tidak memahami
kebenaran".
Saudara-saudari, bukankah kita
sering kali bersikap seperti para murid ini? Kita senang merenungkan
berkat-berkat Tuhan, mukjizat-mukjizat-Nya dalam hidup kita, tetapi kita enggan
merenungkan salib – penderitaan, pengorbanan, dan tantangan yang harus kita
hadapi sebagai pengikut Kristus. Kita ingin mengikuti Yesus yang mulia, tetapi
kita takut pada Yesus yang menderita.
3. Salib sebagai Jalan
Keselamatan
Paus Fransiskus menegaskan bahwa
mengikuti Yesus berarti dengan tidak terhindarkan menerima salib yang ada di
hadapan setiap orang Kristen. Tidak ada penebusan tanpa pencurahan darah, dan
tidak ada karya kerasulan yang berbuah tanpa salib. Ini adalah hukum ilahi yang
tidak dapat kita hindari.
Namun, kita tidak boleh berkecil
hati. Yesus sendiri, dalam kemanusiaan-Nya, juga merasa takut akan salib. Namun
Ia tidak melarikan diri. Ia berdoa, "Ya Bapa, jikalau Engkau berkenan,
ambillah cawan ini dari hadapan-Ku; tetapi janganlah kehendak-Ku, melainkan
kehendak-Mulah yang terjadi" (Luk 22:42). Di sinilah letak perbedaan
antara mereka yang mengikuti Yesus dan mereka yang hanya mengagumi-Nya dari
jauh.
4. Santa Maria pada Hari
Sabtu: Teladan Menghadapi Salib
Pada hari Sabtu ini, Gereja
secara khusus menghormati Santa Maria. Bunda Maria adalah teladan sempurna bagi
kita dalam menghadapi salib. Ia berdiri di kaki salib Kristus, tidak melarikan
diri, tidak berpaling dari penderitaan Putranya. Paus Fransiskus mengajak kita
untuk memohon kepada Bunda Maria, yang mengetahui bagaimana caranya tetap
berada di dekat salib, rahmat untuk tidak melarikan diri dari salib kita
sendiri, meskipun kita merasa takut.
Marilah kita belajar dari Bunda
Maria: ia tidak selalu memahami semua yang terjadi pada Putranya, tetapi ia
tetap setia, tetap percaya, dan tetap berada di sana. Inilah iman yang sejati –
bukan iman yang hanya mencari mukjizat dan penghiburan, tetapi iman yang tetap
bertahan bahkan ketika jalan yang harus dilalui adalah jalan salib.
5. Santo Kosmas dan Damianus:
Kesaksian Iman melalui Pengorbanan
Hari ini kita juga mengenang
Santo Kosmas dan Damianus, dua martir yang memberikan hidup mereka sebagai
kesaksian iman. Mereka adalah tabib yang melayani orang sakit tanpa memungut
bayaran, dan akhirnya mengorbankan nyawa mereka karena iman kepada Kristus.
Kehidupan mereka menjadi contoh nyata bahwa kasih kepada Kristus harus
diwujudkan dalam tindakan kasih kepada sesama, bahkan sampai pada pengorbanan
tertinggi.
6. Merenungkan Salib dalam
Hidup Kita
Saudara-saudari, apa salib dalam
hidup kita masing-masing? Mungkin berupa penyakit yang berkepanjangan,
kesulitan ekonomi, konflik dalam keluarga, atau tantangan dalam pekerjaan.
Mungkin juga berupa panggilan untuk memaafkan seseorang yang telah menyakiti
kita, atau kerelaan untuk melepaskan sesuatu yang kita cintai demi kebaikan
yang lebih besar.
Yesus mengundang kita untuk
"mendengarkan baik-baik perkataan-Nya" dan tidak menutup mata
terhadap kenyataan salib. Ia tidak menjanjikan hidup yang bebas dari
penderitaan, tetapi Ia menjanjikan bahwa Ia akan menyertai kita di dalamnya.
Sebagaimana Ia sendiri bangkit dari kematian, demikian pula kita akan
dibangkitkan bersama-Nya jika kita setia sampai akhir.
Sorang Tumanggor, S.Ag
Penyuluh Agama Katolik
Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar