Renungan Harian
Pesta Pemuliaan Salib Suci
Senin, 14 September 2026
Bacaan Injil: Yohanes 3:13-17
TANDA SALIB, PENGAKUAN IMAN YANG
HIDUP AKAN KASIH ALLAH YANG MENYELAMATKAN
Saudara-saudari terkasih dalam
Kristus,
Hari ini Gereja Universal
merayakan Pesta Pemuliaan Salib Suci. Pesta ini bermula dari tradisi Yerusalem
kuno, yang mengenang penemuan kembali Salib Suci oleh Santa Helena, ibu Kaisar
Konstantinus, serta peristiwa pentahbisan Basilika Makam Suci pada tahun 335.
Lebih dari sekadar mengenang sebuah peristiwa sejarah, hari raya ini mengundang
kita untuk merenungkan misteri terdalam dari iman kita: bagaimana sebuah alat
eksekusi yang keji dan memalukan, telah diubah oleh kasih Allah menjadi tanda
kemenangan dan keselamatan bagi seluruh umat manusia.
Melalui bacaan Injil hari ini,
Yesus berbicara kepada Nikodemus tentang sebuah rahasia besar yang akan
digenapi-Nya di atas kayu salib.
Renungan
1. Dari Ular Tembaga ke Salib
Kristus
Dalam perikop Injil Yohanes
3:13-17, Yesus mengutip sebuah peristiwa dari Perjanjian Lama, yaitu ketika
Musa meninggikan ular tembaga di padang gurun (Bilangan 21:4-9). Waktu itu,
bangsa Israel yang sedang dalam perjalanan menuju Tanah Terjanji mulai putus
asa. Mereka mengeluh dan memberontak terhadap Allah serta Musa. Akibatnya,
Allah mengizinkan ular-ular berbisa menyerang mereka, dan banyak orang mati
karena gigitan ular tersebut.
Menarik untuk direnungkan, ketika
bangsa Israel bertobat dan memohon kepada Musa untuk berdoa, Allah tidak
serta-merta menghilangkan ular-ular berbisa itu. Ular-ular itu tetap ada, namun
Allah memberikan sebuah penawar yang jauh lebih kuat daripada
racun tersebut. Dia memerintahkan Musa untuk membuat ular tembaga dan
meletakkannya di atas sebuah tiang. Siapa pun yang terlanjur digigit ular
berbisa itu, jika ia memandang kepada ular tembaga tersebut,
ia akan tetap hidup.
Yesus Kristus menggunakan
gambaran ini untuk menjelaskan misi-Nya. Sama seperti ular tembaga ditinggikan
di padang gurun, demikian pula "Anak Manusia harus ditinggikan" (Yoh
3:14). Kata "ditinggikan" di sini memiliki makna ganda: secara fisik,
Yesus akan diangkat di atas kayu salib, dan secara spiritual, melalui salib
itu, Dia akan dimuliakan. Salib, yang semula adalah simbol kutukan dan
kematian, justru menjadi sarana kehidupan kekal bagi siapa saja yang
memandangnya dengan iman.
2. Kasih yang Memberi, Bukan
Menghakimi
Inti dari perikop Injil hari ini
terletak pada ayat yang sangat kita kenal, Yohanes 3:16: "Karena begitu
besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang
tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan
beroleh hidup yang kekal."
Pesta Salib Suci bukanlah pesta
yang merayakan penderitaan demi penderitaan itu sendiri. Kita tidak memuliakan
salib karena kekejamannya, melainkan karena kasih yang
terpancar dari salib itu. Allah Bapa tidak mengutus Putra-Nya ke dunia untuk
menghakimi dan menghukum kita atas dosa-dosa kita, melainkan untuk
menyelamatkan kita (Yoh 3:17). Salib adalah bukti paling nyata dari kasih yang
tidak terbatas itu.
Paus Fransiskus pernah
mengingatkan bahwa misteri salib adalah misteri kasih yang hanya dapat dipahami
melalui kontemplasi. Di hadapan salib, kita belajar bahwa Allah tidak tinggal
jauh di surga, melainkan turun kepada kita, merendahkan diri-Nya, bahkan taat
sampai mati di kayu salib, demi menyelamatkan kita.
3. Memandang Salib dengan Iman
Dalam praktik hidup sehari-hari,
kita sering kali diperhadapkan pada "racun" ular di padang gurun
zaman ini: keputusasaan, kecemasan akan masa depan, penyakit, penderitaan, dan
dosa. Kita mungkin tergoda untuk berpikir bahwa Allah tidak peduli, atau bahwa
Ia telah meninggalkan kita.
Namun, hari ini Gereja mengundang
kita untuk melakukan apa yang dilakukan bangsa Israel di padang gurun: memandang.
Memandang salib bukan berarti kita menyangkal realitas penderitaan kita,
melainkan kita menyatukannya dengan penderitaan Kristus. Salib mengajarkan kita
bahwa penderitaan dan kematian tidak memiliki kata terakhir. Kematian Kristus
di salib telah mematahkan sengat maut dan mengubah kutuk menjadi berkat.
Setiap kali kita membuat tanda
salib, entah itu saat memulai doa atau aktivitas, kita diajak untuk menyadari
kembali bahwa kita diselamatkan bukan karena kekuatan kita sendiri, melainkan
karena kasih Kristus yang tercurah di kayu salib. Kita diajak untuk tidak
membiarkan tanda salib itu menjadi gerakan yang mekanis tanpa makna, tetapi
menjadi pengakuan iman yang hidup akan kasih Allah yang menyelamatkan. Amin
Sorang Tumanggor S.Ag
Penyuluh Agama Katolik
Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar