Minggu, 13 September 2026

TANDA SALIB, PENGAKUAN IMAN YANG HIDUP AKAN KASIH ALLAH YANG MENYELAMATKAN

Renungan Harian

Pesta Pemuliaan Salib Suci
Senin, 14 September 2026
Bacaan Injil: Yohanes 3:13-17

 

TANDA SALIB, PENGAKUAN IMAN YANG HIDUP AKAN KASIH ALLAH YANG MENYELAMATKAN


 


Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Hari ini Gereja Universal merayakan Pesta Pemuliaan Salib Suci. Pesta ini bermula dari tradisi Yerusalem kuno, yang mengenang penemuan kembali Salib Suci oleh Santa Helena, ibu Kaisar Konstantinus, serta peristiwa pentahbisan Basilika Makam Suci pada tahun 335. Lebih dari sekadar mengenang sebuah peristiwa sejarah, hari raya ini mengundang kita untuk merenungkan misteri terdalam dari iman kita: bagaimana sebuah alat eksekusi yang keji dan memalukan, telah diubah oleh kasih Allah menjadi tanda kemenangan dan keselamatan bagi seluruh umat manusia.

Melalui bacaan Injil hari ini, Yesus berbicara kepada Nikodemus tentang sebuah rahasia besar yang akan digenapi-Nya di atas kayu salib.

 

Renungan

1. Dari Ular Tembaga ke Salib Kristus

Dalam perikop Injil Yohanes 3:13-17, Yesus mengutip sebuah peristiwa dari Perjanjian Lama, yaitu ketika Musa meninggikan ular tembaga di padang gurun (Bilangan 21:4-9). Waktu itu, bangsa Israel yang sedang dalam perjalanan menuju Tanah Terjanji mulai putus asa. Mereka mengeluh dan memberontak terhadap Allah serta Musa. Akibatnya, Allah mengizinkan ular-ular berbisa menyerang mereka, dan banyak orang mati karena gigitan ular tersebut.

Menarik untuk direnungkan, ketika bangsa Israel bertobat dan memohon kepada Musa untuk berdoa, Allah tidak serta-merta menghilangkan ular-ular berbisa itu. Ular-ular itu tetap ada, namun Allah memberikan sebuah penawar yang jauh lebih kuat daripada racun tersebut. Dia memerintahkan Musa untuk membuat ular tembaga dan meletakkannya di atas sebuah tiang. Siapa pun yang terlanjur digigit ular berbisa itu, jika ia memandang kepada ular tembaga tersebut, ia akan tetap hidup.

Yesus Kristus menggunakan gambaran ini untuk menjelaskan misi-Nya. Sama seperti ular tembaga ditinggikan di padang gurun, demikian pula "Anak Manusia harus ditinggikan" (Yoh 3:14). Kata "ditinggikan" di sini memiliki makna ganda: secara fisik, Yesus akan diangkat di atas kayu salib, dan secara spiritual, melalui salib itu, Dia akan dimuliakan. Salib, yang semula adalah simbol kutukan dan kematian, justru menjadi sarana kehidupan kekal bagi siapa saja yang memandangnya dengan iman.

2. Kasih yang Memberi, Bukan Menghakimi

Inti dari perikop Injil hari ini terletak pada ayat yang sangat kita kenal, Yohanes 3:16: "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."

Pesta Salib Suci bukanlah pesta yang merayakan penderitaan demi penderitaan itu sendiri. Kita tidak memuliakan salib karena kekejamannya, melainkan karena kasih yang terpancar dari salib itu. Allah Bapa tidak mengutus Putra-Nya ke dunia untuk menghakimi dan menghukum kita atas dosa-dosa kita, melainkan untuk menyelamatkan kita (Yoh 3:17). Salib adalah bukti paling nyata dari kasih yang tidak terbatas itu.

Paus Fransiskus pernah mengingatkan bahwa misteri salib adalah misteri kasih yang hanya dapat dipahami melalui kontemplasi. Di hadapan salib, kita belajar bahwa Allah tidak tinggal jauh di surga, melainkan turun kepada kita, merendahkan diri-Nya, bahkan taat sampai mati di kayu salib, demi menyelamatkan kita.

3. Memandang Salib dengan Iman

Dalam praktik hidup sehari-hari, kita sering kali diperhadapkan pada "racun" ular di padang gurun zaman ini: keputusasaan, kecemasan akan masa depan, penyakit, penderitaan, dan dosa. Kita mungkin tergoda untuk berpikir bahwa Allah tidak peduli, atau bahwa Ia telah meninggalkan kita.

Namun, hari ini Gereja mengundang kita untuk melakukan apa yang dilakukan bangsa Israel di padang gurun: memandang. Memandang salib bukan berarti kita menyangkal realitas penderitaan kita, melainkan kita menyatukannya dengan penderitaan Kristus. Salib mengajarkan kita bahwa penderitaan dan kematian tidak memiliki kata terakhir. Kematian Kristus di salib telah mematahkan sengat maut dan mengubah kutuk menjadi berkat.

Setiap kali kita membuat tanda salib, entah itu saat memulai doa atau aktivitas, kita diajak untuk menyadari kembali bahwa kita diselamatkan bukan karena kekuatan kita sendiri, melainkan karena kasih Kristus yang tercurah di kayu salib. Kita diajak untuk tidak membiarkan tanda salib itu menjadi gerakan yang mekanis tanpa makna, tetapi menjadi pengakuan iman yang hidup akan kasih Allah yang menyelamatkan. Amin

 

Sorang Tumanggor S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar