Renungan Katolik
Rabu, 16 September 2026
Pekan Biasa XXIV
Peringatan Wajib Santo Kornelius dan Santo Siprianus
Bacaan Injil: Lukas 7:31-35
KASIH SEJATI SELALU MEMBEBASKAN,
TIDAK PERNAH MEMAKSA
Saudara-saudari terkasih dalam
Kristus,
Hari ini Gereja memperingati dua
martir agung dari abad ketiga: Paus Santo Kornelius dan Uskup Santo Siprianus
dari Kartago. Keduanya bersaksi tentang kasih yang tidak mengenal kompromi di
tengah penganiayaan, namun justru dalam kesaksian itu, mereka menunjukkan bahwa
kasih sejati selalu membebaskan, tidak pernah memaksa.
Bacaan Injil hari ini
menghadirkan Yesus yang sedang bergulat dengan generasi yang sulit percaya. Ia
menggunakan perumpamaan yang tajam: anak-anak yang duduk di pasar, yang ketika
teman-temannya meniup seruling, tidak mau menari; dan ketika teman-temannya
menyanyikan lagu ratapan, tidak mau menangis. Gambaran ini bukan sekadar
tentang keras kepala, melainkan tentang hati yang menolak dibentuk oleh kasih.
Yesus berkata: “Kami meniup
seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari; kami menyanyikan kidung duka, tetapi
kamu tidak menangis.” Yohanes Pembaptis datang dengan asketisme yang keras, dan
mereka berkata: “Ia kerasukan setan.” Yesus datang dengan keakraban dan
keramahan, makan dan minum bersama orang berdosa, dan mereka berkata: “Ia
pelahap dan peminum.” Tidak ada cara yang cukup baik bagi mereka.
Tuhan Tidak Dapat Dikurung
dalam Ekspektasi Kita
Apa yang sebenarnya dikritik
Yesus di sini? Bukan sekadar ketidakpercayaan, melainkan penolakan
untuk membiarkan Tuhan menjadi Tuhan. Generasi itu telah menetapkan dalam
pikiran mereka bagaimana Mesias seharusnya datang, bagaimana ia harus
bertindak, bagaimana ia harus berbicara. Ketika Tuhan datang dengan cara yang
tidak sesuai dengan skema mereka, mereka menolak-Nya, bahkan mencari alasan
untuk membenarkan penolakan itu.
Ini adalah godaan yang sangat
manusiawi, dan sering kali juga menjadi godaan kita. Kita ingin Tuhan bertindak
sesuai dengan keinginan kita. Kita ingin Dia menyelesaikan masalah dengan cara
yang kita rasa paling tepat. Kita ingin Dia memberkati rencana-rencana yang
sudah kita susun, bukan mengubah arah hidup kita.
Namun, Santo Paulus dalam bacaan
pertama hari ini (1Kor 12:31-13:13) mengingatkan kita bahwa kasih adalah jalan
yang paling utama. Kasih “tidak mencari keuntungan diri sendiri” (1Kor 13:5).
Jika kasih Kristus ada di dalam kita, kita tidak akan memaksakan kehendak kita
kepada Tuhan, tetapi sebaliknya, kita membiarkan kehendak-Nya membentuk kita.
Kebijaksanaan yang Dibenarkan
oleh Perbuatan
Yesus mengakhiri perumpamaan itu
dengan kalimat yang penuh misteri: “Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh semua
orang yang menerimanya” (ay. 35). Dalam beberapa terjemahan: “Hikmat itu
dibenarkan oleh perbuatannya.” Apa artinya?
Artinya, kebijaksanaan sejati
tidak diukur dari seberapa banyak kita berbicara tentang Tuhan, atau seberapa
tepat kita mengutip aturan-aturan agama. Kebijaksanaan sejati diukur dari buah-buah
kasih yang nyata dalam hidup kita.
Santo Kornelius dan Santo
Siprianus adalah bukti hidup dari kebijaksanaan itu. Kornelius, seorang Paus
yang lembut dan penuh perhatian pada umatnya, dan Siprianus, seorang uskup yang
tegas namun penuh kasih dalam menghadapi perpecahan gereja. Keduanya akhirnya
menyerahkan nyawa mereka bukan karena mereka memaksakan iman mereka kepada
orang lain, tetapi karena mereka setia pada kasih Kristus yang telah mengubah
hidup mereka.
Pertanyaan untuk Kita
Saudara-saudari terkasih,
Ketika kita membaca Injil hari
ini, mungkin kita cenderung menghakimi orang Farisi dan ahli Taurat yang
menolak Yesus. Tetapi marilah kita dengan jujur bertanya kepada diri sendiri:
Apakah saya juga sering
“meniup seruling” kepada Tuhan, mengharapkan Dia menari sesuai irama yang saya
tentukan?
Apakah saya kecewa ketika
Tuhan tidak menjawab doa saya dengan cara yang saya inginkan?
Apakah saya menolak
orang-orang yang membawa pesan Tuhan hanya karena cara mereka berbeda dari
ekspektasi saya?
Dalam pekan biasa ini adalah
kesempatan bagi kita untuk melepaskan cengkeraman kita pada kendali.
Tuhan tidak perlu diatur oleh kita. Dia adalah Tuhan yang bebas, yang mengasihi
kita dengan kasih yang tidak pernah bisa kita kendalikan atau prediksi.
Santo Kornelius dan Santo
Siprianus, doakanlah kami.
Sorang Tumanggor, S.Ag
(Penyuluh
Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar