Senin, 14 September 2026

BERDIRI DI KAKI SALIB: IMAN YANG TIDAK MELARIKAN DIRI

Renungan Harian

Pesta Santa Perawan Maria Berdukacita
Selasa, 15 September 2026
Bacaan Injil: Yohanes 19:25-27

 

BERDIRI DI KAKI SALIB: IMAN YANG TIDAK MELARIKAN DIRI


 


Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Hari ini Gereja Katolik merayakan Pesta Santa Perawan Maria Berdukacita. Perayaan ini bukanlah perayaan duka yang membawa keputusasaan, melainkan perayaan iman yang teguh di tengah penderitaan. Injil yang baru saja kita dengarkan menempatkan kita di bawah kaki salib Kristus, di mana Bunda Maria berdiri dengan setia, menemani Putranya hingga napas terakhir-Nya.

Renungan

1. Konteks Perayaan: Pedang yang Menembus Jiwa

Pesta Santa Perawan Maria Berdukacita mengingatkan kita pada nubuat Simeon di Bait Allah ketika Yesus masih bayi: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan — dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri — supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang" (Luk 2:34-35). Nubuat itu mulai digenapi sejak awal hidup Yesus, namun mencapai puncaknya di bawah salib di Golgota.

Tradisi Gereja mengenal tujuh dukacita Santa Perawan Maria, mulai dari nubuat Simeon, pengungsian ke Mesir, kehilangan Yesus di Bait Allah, perjumpaan di jalan salib, berdiri di kaki salib, memangku jenazah Yesus, hingga penguburan-Nya. Injil hari ini membawa kita pada salah satu dari dukacita terdalam itu.

2. Berdiri, Bukan Melarikan Diri

"Ini adalah bukti belas kasih yang sejati: tetap berdiri di bawah salib". Demikianlah kesaksian Maria. Ia tidak melarikan diri. Ia tidak mencari cara untuk meringankan kesedihannya. Ia berdiri. Di dalam bahasa Yunani, kata "berdiri" (εἱστήκεισαν) menggambarkan suatu posisi yang teguh, bukan sekadar kehadiran fisik.

Maria berdiri di kaki salib Putranya. Ia menyaksikan penderitaan yang paling mengerikan yang pernah dialami manusia. Ia tidak dapat berbuat apa-apa untuk menghentikan siksaan itu. Namun justru dalam ketidakberdayaan itu, ia memberikan kesaksian iman yang paling agung: kasih sejati tidak menghitung untung rugi. Kasih sejati tetap hadir bahkan ketika kehadiran itu tidak dapat mengubah apa pun.

Di sini kita belajar bahwa kesetiaan tidak diukur dari kemampuan kita untuk menyelesaikan masalah, melainkan dari kesediaan kita untuk tetap hadir di tengah kesulitan.

3. Sabda dari Salib: Sebuah Penyerahan yang Bersifat Ganda

Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di samping-Nya, Ia berkata kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!" Kemudian Ia berkata kepada murid itu: "Inilah ibumu!" (Yoh 19:26-27).

Sabda ini memiliki makna yang sangat dalam. Yesus, dalam penderitaan-Nya yang paling hebat, masih memperhatikan kebutuhan ibu-Nya secara manusiawi. Sebagai Anak yang taat, Ia tidak membiarkan ibu-Nya tanpa perlindungan. Pada saat yang sama, sabda ini melampaui hubungan keluarga biologis.

Bapa Gereja mengajarkan bahwa dalam murid yang dikasihi-Nya, Yesus menyerahkan seluruh umat beriman kepada Bunda Maria. Sejak saat itu, Maria bukan hanya ibu Yesus, tetapi ibu kita semua. Sabda "Inilah ibumu" bukan hanya ditujukan kepada Yohanes, tetapi kepada setiap murid Kristus sepanjang zaman.

Dan Yohanes, "sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya" (Yoh 19:27). Menerima Maria berarti membuka pintu hati dan hidup kita bagi kehadiran seorang ibu yang setia.

4. Maria, Teladan Gereja yang Berjalan dalam Iman

Dalam perayaan ini, Gereja mengundang kita untuk memandang Maria sebagai teladan iman yang sempurna. Ia yang menerima kabar gembira dari malaikat Gabriel dengan kata "Ya" yang penuh ketaatan, kini berdiri di kaki salib dengan kata "Ya" yang sama . Iman yang lahir di Nazaret itu terbukti tahan uji di Golgota.

Saudara-saudari, hidup kita pun seringkali dipenuhi salib-salib kecil dan besar: hubungan yang retak, kehilangan orang yang kita kasihi, ketakutan akan masa depan, penyakit, kesepian . Injil hari ini mengajak kita untuk belajar dari Maria: berdiri teguh, tidak melarikan diri, dan tetap setia kepada Tuhan bahkan ketika kita tidak memahami mengapa penderitaan itu harus terjadi.

Maria tidak menerima penjelasan atas penderitaannya. Ia hanya menerima kehadiran Putranya yang menderita. Itulah iman.

5. Duka yang Menjadi Berkat

Pesta Maria Berdukacita bukanlah pesta kesedihan tanpa harapan. Dukacita Maria tidak berakhir di kubur. Iman yang berdiri di kaki salib adalah iman yang menantikan kebangkitan. Duka yang dijalani bersama Kristus akan selalu berubah menjadi sukacita. Karena itu, marilah kita mendekati Bunda Maria, memohon agar ia mengajarkan kepada kita cara berdiri di kaki salib hidup kita masing-masing, dengan iman yang teguh, harapan yang hidup, dan kasih yang tidak goyah.

Santa Perawan Maria Berdukacita, doakanlah kami. Amin.

Sorang Tumanggor, S.Ag
Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar