Senin, 21 September 2026

MENDENGARKAN FIRMAN ALLAH DAN MELAKUKANNYA

 

Renungan Katolik

Selasa, 22 September 2026 — Hari Biasa, Pekan Biasa XXV

Bacaan Injil: Lukas 8:19-21

 

MENDENGARKAN FIRMAN ALLAH DAN MELAKUKANNYA


 


Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Hari ini Gereja memasuki Pekan Biasa ke-XXV, dan kita merenungkan sebuah perikop Injil yang singkat namun mengandung kedalaman makna yang luar biasa. Injil Lukas 8:19-21 mengisahkan ketika ibu dan saudara-saudara Yesus datang hendak menjumpai-Nya, tetapi mereka tidak dapat mendekati-Nya karena orang banyak yang berdesakan. Ketika Yesus diberitahu bahwa ibu dan saudara-saudara-Nya berada di luar, Ia memberikan jawaban yang mengejutkan: "Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya."

Sabda Tuhan ini bukanlah sebuah penolakan terhadap ikatan keluarga, melainkan sebuah pewahyuan tentang hakikat keluarga sejati dalam Kerajaan Allah. Marilah kita menyelami makna sabda ini agar hidup kita semakin berbuah dalam iman dan ketaatan kepada Allah.

 

Mendengar Firman Allah: Langkah Pertama Menjadi Keluarga Allah

Yesus menegaskan bahwa keluarga-Nya adalah mereka yang mendengarkan firman Allah. Mendengar, dalam bahasa Kitab Suci, bukan sekadar menangkap suara dengan telinga, melainkan membuka hati untuk menerima sabda Tuhan dengan penuh perhatian dan kerinduan. Dalam bacaan pertama hari ini dari Kitab Amsal, kita diingatkan bahwa "setiap jalan orang adalah lurus menurut pandangannya sendiri, tetapi TUHANlah yang menguji hati" (Ams 21:2). Hanya hati yang terbuka kepada Tuhan yang mampu mendengar dengan benar.

Di tengah dunia yang penuh dengan kebisingan, tawaran, dan godaan yang saling bersaing untuk mendapatkan perhatian kita, kemampuan untuk mendengarkan firman Allah menjadi semakin berharga. Paus Fransiskus pernah mengingatkan bahwa keluarga yang dibentuk oleh Yesus adalah keluarga yang "mendengarkan firman Allah dan melaksanakannya" — sebuah keluarga yang tidak hanya hadir secara fisik, tetapi benar-benar terikat dalam ketaatan kepada Allah.

Bagaimana kita mendengarkan firman Allah? Melalui Kitab Suci yang kita baca dan renungkan setiap hari, melalui ajaran Gereja yang kita terima dengan hati terbuka, melalui doa hening yang memungkinkan kita mendengar bisikan Roh Kudus, dan melalui sesama yang menjadi suara Tuhan bagi kita. Mendengarkan adalah tindakan iman yang mengubah hidup.

 

Melakukan Firman Allah: Bukti Iman yang Sejati

Yesus tidak berhenti pada mendengarkan. Ia menambahkan bahwa keluarga-Nya adalah mereka yang melakukan firman Allah. Mendengar tanpa melakukan adalah iman yang mandul. Santo Yakobus menegaskan bahwa iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati. Sebaliknya, iman yang hidup selalu berbuah dalam tindakan nyata.

Inilah yang membedakan pengikut Kristus yang sejati dari mereka yang hanya menyandang nama Kristen. Kekristenan bukanlah soal status, warisan keluarga, atau tradisi turun-temurun semata. Kita menjadi anggota keluarga Allah bukan karena kita dibaptis atau berasal dari keluarga Katolik, melainkan karena kita mendengarkan dan melakukan firman Tuhan.

Dalam bacaan pertama, Kitab Amsal juga mengajarkan bahwa "melakukan keadilan dan kebenaran lebih menyenangkan hati TUHAN dari pada korban sembelihan" (Ams 21:3). Firman yang kita dengar harus berbuah dalam tindakan kasih kepada sesama, terutama kepada mereka yang lemah dan menderita. Ketika kita menutup telinga terhadap jeritan orang miskin, firman Tuhan mengingatkan bahwa kita pun tidak akan didengar (Ams 21:13).

 

Santa Perawan Maria: Teladan Sempurna Keluarga Allah

Saudara-saudari yang terkasih, mungkin timbul pertanyaan dalam hati kita: bukankah Maria adalah ibu Yesus secara biologis? Mengapa Yesus seolah-olah mengabaikan kedekatan fisik itu?

Justru di sinilah kita melihat keindahan iman Maria. Maria bukan hanya ibu Yesus secara jasmani, tetapi ia adalah teladan sempurna dari orang yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya. Ketika Malaikat Gabriel menyampaikan kabar gembira, Maria mendengarkan dengan hati terbuka dan berkata: "Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu" (Luk 1:38). Maria tidak hanya mendengar, tetapi ia melakukannya — dengan taat ia menerima kehendak Allah, meskipun itu berarti kesulitan dan penderitaan.

Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa Maria adalah "teladan iman" yang sempurna, karena "ia dengan taat menerima firman Allah dan melaksanakannya". Dalam diri Maria, kita melihat bagaimana mendengarkan dan melakukan firman Allah melahirkan sebuah hubungan yang begitu intim dengan Kristus, sehingga ia benar-benar menjadi keluarga Allah yang paling sempurna.

Maka jawaban Yesus hari ini bukanlah penolakan terhadap Maria, melainkan pujian tertinggi bagi iman Maria. Yesus menunjukkan bahwa ikatan yang paling dalam dan paling kekal bukanlah ikatan darah, melainkan ikatan ketaatan kepada Allah. Dan Maria, dengan mendengarkan dan melakukan firman Allah, adalah ibu-Nya bukan hanya secara jasmani, tetapi juga secara rohani.

 

Menjadi Keluarga Allah dalam Hidup Sehari-hari

Saudara-saudari terkasih, sabda Tuhan hari ini menghadirkan sebuah panggilan yang mendesak bagi kita masing-masing. Apakah kita benar-benar menjadi anggota keluarga Allah? Apakah hidup kita mencerminkan ketaatan kepada firman-Nya?

Menjadi keluarga Allah berarti membangun ikatan rohani dengan Kristus, dan ikatan inilah yang menjadikan kita bagian dari keluarga Allah. Ikatan ini tidak tergantikan oleh status sosial, kekayaan, atau kedudukan dalam masyarakat. Yang menyatukan kita sebagai keluarga Kerajaan Allah adalah pengenalan akan Tuhan dan ketaatan kepada firman-Nya.

Panggilan untuk menjadi keluarga Allah memiliki konsekuensi praktis dalam hidup kita. Kita dipanggil untuk:

  1. Menghidupkan Sabda Tuhan setiap hari — dengan membaca, merenungkan, dan melaksanakan ajaran-Nya dalam setiap aspek kehidupan kita.
  2. Membangun kasih persaudaraan — seperti yang ditegaskan Yesus: "Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu" (Yoh 15:12). Kasih menjadi penyatu kita dengan Tuhan dan dengan sesama, tanpa membeda-bedakan suku, ras, agama, dan kepercayaan.
  3. Menjadi pelaku firman yang giat — tidak cukup hanya mendengar, tetapi kita harus menjadi "pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja" (Yak 1:22).
  4. Menghadirkan Kristus di tengah dunia — dengan menunjukkan wajah Kristus kepada semua orang yang kita jumpai, terutama mereka yang menderita dan tersingkir.

 

Penutup

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,

Sabda Yesus hari ini menantang kita untuk melampaui kenyamanan menjadi "orang Kristen KTP" — yang sekadar memiliki status Kristen tetapi tidak menghidupkan imannya. Kita dipanggil untuk menjadi keluarga Allah yang sejati, yang mendengarkan firman-Nya dengan hati terbuka dan melaksanakannya dengan setia.

Marilah kita meneladan Santa Perawan Maria, yang dengan rendah hati mendengarkan firman Allah dan melakukannya sepanjang hidupnya. Maria menunjukkan kepada kita bahwa menjadi keluarga Allah adalah anugerah sekaligus tanggung jawab — sebuah panggilan untuk hidup dalam ketaatan dan kasih kepada Tuhan.

Semoga Roh Kudus membuka telinga hati kita untuk mendengarkan firman Allah, dan memberikan kita keberanian serta kekuatan untuk melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kita benar-benar menjadi keluarga Allah, saudara-saudari Yesus Kristus, yang kelak akan bersama-sama dengan Dia dalam Kerajaan Surga.

Ya Tuhan, bukalah hati kami untuk mendengarkan firman-Mu dan berikanlah kami kekuatan untuk melaksanakannya, agar kami layak disebut sebagai keluarga-Mu. Amin.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar