RENUNGAN HARIAN KATOLIK
Kamis, 10 September 2026
Hari Biasa Pekan XXIII
Bacaan Injil: Lukas 6:27-38
"MORAL SURGAWI" YANG
MENGGUGAT HATI
Sorang
Tumanggor, S.Ag
Penyuluh
Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi
Saudara-saudari terkasih dalam
Kristus,
Pada hari biasa ini, Gereja
menyajikan kepada kita sebuah bacaan Injil yang sangat menantang dari Santo
Lukas. Yesus berbicara dengan terus terang tentang kasih kepada musuh—sebuah
ajaran yang seolah-olah "tak masuk akal" dan "tak
realistis" di telinga manusia.
Siapa di antara kita yang belum
pernah merasakan sakit karena dikhianati, difitnah, atau disakiti oleh orang
lain? Dalam kenyataan hidup, kecenderungan alami kita adalah membalas dendam.
Pertentangan dalam keluarga, konflik dalam lingkungan kerja, bahkan perseteruan
antar sahabat—semua ini adalah rekaman yang terus berulang dalam sejarah hidup
manusia . Dunia mengajarkan kita untuk membalas setimpal: "mata ganti
mata, gigi ganti gigi." Namun Yesus datang membawa suatu tatanan baru,
suatu "moral surgawi" yang melampaui logika duniawi.
Yesus tidak sedang berbicara
tentang perasaan suka atau simpati terhadap musuh. Mengasihi musuh dalam
pengertian Injil berarti menunjukkan perhatian yang tulus akan kebaikan dan
keselamatan kekal mereka, serta membalas kejahatan dengan kebaikan untuk membawa
mereka kepada Kristus . Inilah kasih agape—kasih yang bukan sekadar emosi,
melainkan pilihan hati dan tindakan nyata yang dikehendaki oleh kehendak Allah.
Perhatikan bagaimana Yesus
merinci ajaran-Nya: "Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang
membenci kamu... Bersukacitalah pada hari itu dan bergembiralah" (Luk
6:22-23). Ucapan bahagia ini menjadi fondasi bagi perintah mengasihi musuh.
Kebahagiaan sejati tidak terletak pada pembalasan atau kemenangan atas lawan,
melainkan pada kesetiaan kepada Kristus—sekalipun harus menderita.
Yesus kemudian mengajukan
pertanyaan yang menggugat: "Jika kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu,
apakah jasamu? Sebab orang-orang berdosa pun mengasihi orang yang mengasihi
mereka" (Luk 6:32) . Pertanyaan ini mengundang kita untuk berefleksi:
apakah iman kita hanya berhenti pada moralitas yang umum, yang juga
dipraktikkan oleh orang yang tidak beriman? Ataukah kita dipanggil untuk suatu
kekhasan sebagai anak-anak Terang?
Saudara-saudari, inilah letak
keistimewaan kita sebagai pengikut Kristus: kita dipanggil untuk tidak
sekadar membalas kebaikan dengan kebaikan, melainkan membalas kejahatan dengan
kebaikan. Bukan karena kita kuat, melainkan karena kita mengandalkan
kekuatan kasih Allah. "Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu
adalah murah hati" (Luk 6:36). Ini bukanlah tugas yang bisa kita lakukan
dengan kekuatan sendiri. Di sinilah rahmat Allah memainkan peran-Nya. Kita
membutuhkan kekuatan-Nya untuk mampu mengampuni dan mencintai tanpa syarat.
Yesus menutup pengajaran-Nya
dengan peringatan tentang ukuran: "Ukuran yang kamu pakai untuk orang
lain, akan diukurkan kepadamu" (Luk 6:38) . Jika kita menghakimi
dengan keras, kita pun akan dihakimi. Namun jika kita memberi dengan murah
hati, kita akan menerima dengan kelimpahan—suatu ukuran yang baik, yang
dipadatkan, digoncang, dan melimpah.
Renungan Pribadi
Marilah kita bertanya kepada diri
sendiri:
- Kepada siapakah saya sulit mengampuni dan mengasihi
saat ini?
- Apakah saya masih terikat pada logika "balas
dendam" ataukah saya mulai belajar untuk membalas kejahatan dengan
kebaikan?
- Bagaimana saya dapat mempraktikkan "moral
surgawi" ini dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam hal-hal
kecil?
Amin.
"Karena
dengan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur orang lain, kamu akan diukur
juga." (Lukas 6:38)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar