Selasa, 08 September 2026

SETIAP POHON DIKENAL DARI BUAHNYA

Renungan Harian Katolik

Sabtu, 12 September 2026 | Hari Biasa Pekan Biasa XXIII

Bacaan Injil: Lukas 6:43-49

 

SETIAP POHON DIKENAL DARI BUAHNYA

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi


 


 

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Hari ini, Gereja menyapa kita dengan bacaan Injil yang sangat gamblang dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tuhan Yesus mengajar kita melalui dua gambaran sederhana: pohon dan buahnya, serta rumah dan fondasinya. Kedua gambaran ini mengajak kita untuk melakukan pemeriksaan batin yang jujur tentang kualitas iman kita.

Yesus bersabda: "Tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal dari buahnya". Seorang petani tidak pernah mengharapkan buah ara dari semak duri, atau buah anggur dari pohon berduri. Demikian pula, dari kehidupan seseorang, kita dapat melihat apa yang sesungguhnya tersimpan di dalam hatinya.

Perkataan Yesus ini mengingatkan kita akan sebuah kebenaran yang sangat mendasar. Kadang-kadang kita tergoda untuk menilai seseorang dari penampilan luar, dari sebutan atau gelar yang disandangnya. Namun Tuhan mengajar kita untuk melihat buahnya. Apakah perbuatan kita sehari-hari mencerminkan iman yang kita nyatakan dengan bibir kita? Apakah kata-kata yang keluar dari mulut kita menunjukkan kebaikan yang tersimpan dalam hati?

St. Lukas menuliskan sabda Yesus selanjutnya: "Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik, dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulut, meluap dari hati". Hati adalah pusat dari seluruh kehidupan rohani kita. Dari hatilah lahir segala tindakan dan perkataan. Jika hati kita dipenuhi dengan kasih Tuhan, maka kasih itu akan mengalir keluar melalui perkataan dan perbuatan kita.

Kemudian Yesus memberikan satu peringatan keras: "Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?". Di sinilah letak tantangan iman kita yang sesungguhnya. Mudah bagi kita untuk memanggil nama Tuhan, melafalkan doa-doa yang indah, dan menghadiri perayaan Ekaristi. Namun Tuhan tidak hanya meminta pengakuan dari bibir kita; Ia menghendaki ketaatan yang lahir dari hati yang sungguh-sungguh mencintai-Nya.

Yesus lalu memberikan perumpamaan tentang dua orang pembangun rumah. Orang pertama membangun rumahnya dengan menggali dalam-dalam dan meletakkan fondasinya di atas batu. Ketika banjir dan badai datang, rumah itu tetap berdiri kokoh. Orang kedua membangun rumahnya di atas tanah tanpa fondasi. Ketika badai datang, rumah itu segera rubuh dan hancur total.

Saudara-saudari, rumah yang dibangun di atas batu adalah gambaran kehidupan yang dibangun di atas dasar iman yang kokoh. Batu karang yang menjadi fondasi kita adalah Yesus Kristus sendiri dan sabda-Nya yang kita dengar dan kita laksanakan. Saat ini, banyak arus kehidupan yang mencoba mengguncang iman kita. Ada tantangan dari dunia, godaan materi, kesulitan hidup, bahkan mungkin persoalan keluarga yang berat. Namun jika kita memiliki fondasi yang kuat, yaitu ketaatan kita pada sabda Tuhan, semua badai itu tidak akan mampu merobohkan kita.

Sebaliknya, membangun rumah di atas tanah tanpa fondasi adalah gambaran kehidupan yang hanya mengandalkan kekuatan sendiri, yang mendengarkan sabda Tuhan tetapi tidak melaksanakannya. Iman seperti ini bersifat dangkal dan hanya bertahan selama situasi mendukung. Ketika badai kehidupan menerpa, iman itu akan goyah dan hancur.

Pada hari Sabtu ini, kita juga diingatkan akan devosi kepada Santa Perawan Maria. Secara liturgis, tanggal 12 September juga merupakan Peringatan Nama Santa Perawan Maria yang Mahakudus . Bunda Maria adalah teladan sempurna bagi kita tentang bagaimana mendengar sabda Tuhan dan melaksanakannya dengan setia. Maria membangun hidupnya di atas fondasi yang kokoh, yaitu kepercayaan total pada kehendak Allah. Mari kita mohon perantaraan Maria agar kita diberi rahmat untuk tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga pelaku sabda Tuhan.

Refleksi untuk hari ini:

Mari sejenak kita merenungkan pertanyaan-pertanyaan ini:

  1. Buah apa yang dihasilkan oleh kehidupan saya? Apakah orang-orang di sekitar saya melihat kebaikan, kasih, dan kesabaran dari perkataan dan perbuatan saya?
  2. Ketika saya berkata "Tuhan, Tuhan," apakah hidup saya sungguh mencerminkan ketaatan pada kehendak-Nya?
  3. Di atas fondasi apakah saya membangun kehidupan saya? Apakah sabda Tuhan benar-benar menjadi dasar keputusan dan tindakan saya?

Amin.

 

Sekali lagi, selamat merenungkan sabda Tuhan. Semoga firman-Nya menjadi fondasi kokoh yang menopang kehidupan kita. Tuhan memberkati.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar