Renungan Harian Katolik
Sabtu, 12 September 2026 | Hari
Biasa Pekan Biasa XXIII
Bacaan Injil: Lukas 6:43-49
SETIAP POHON DIKENAL DARI BUAHNYA
Sorang
Tumanggor, S.Ag
Penyuluh
Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi
Saudara-saudari terkasih dalam
Kristus,
Hari ini, Gereja menyapa kita
dengan bacaan Injil yang sangat gamblang dan dekat dengan kehidupan
sehari-hari. Tuhan Yesus mengajar kita melalui dua gambaran sederhana: pohon
dan buahnya, serta rumah dan fondasinya. Kedua gambaran ini mengajak kita untuk
melakukan pemeriksaan batin yang jujur tentang kualitas iman kita.
Yesus bersabda: "Tidak ada
pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan tidak ada pohon
yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal
dari buahnya". Seorang petani tidak pernah mengharapkan buah ara dari
semak duri, atau buah anggur dari pohon berduri. Demikian pula, dari kehidupan
seseorang, kita dapat melihat apa yang sesungguhnya tersimpan di dalam hatinya.
Perkataan Yesus ini mengingatkan
kita akan sebuah kebenaran yang sangat mendasar. Kadang-kadang kita tergoda
untuk menilai seseorang dari penampilan luar, dari sebutan atau gelar yang
disandangnya. Namun Tuhan mengajar kita untuk melihat buahnya. Apakah perbuatan
kita sehari-hari mencerminkan iman yang kita nyatakan dengan bibir kita? Apakah
kata-kata yang keluar dari mulut kita menunjukkan kebaikan yang tersimpan dalam
hati?
St. Lukas menuliskan sabda Yesus
selanjutnya: "Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari
perbendaharaan hatinya yang baik, dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang
jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulut, meluap
dari hati". Hati adalah pusat dari seluruh kehidupan rohani kita. Dari
hatilah lahir segala tindakan dan perkataan. Jika hati kita dipenuhi dengan
kasih Tuhan, maka kasih itu akan mengalir keluar melalui perkataan dan
perbuatan kita.
Kemudian Yesus memberikan satu
peringatan keras: "Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal
kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?". Di sinilah letak tantangan
iman kita yang sesungguhnya. Mudah bagi kita untuk memanggil nama Tuhan,
melafalkan doa-doa yang indah, dan menghadiri perayaan Ekaristi. Namun Tuhan
tidak hanya meminta pengakuan dari bibir kita; Ia menghendaki ketaatan yang
lahir dari hati yang sungguh-sungguh mencintai-Nya.
Yesus lalu memberikan perumpamaan
tentang dua orang pembangun rumah. Orang pertama membangun rumahnya dengan
menggali dalam-dalam dan meletakkan fondasinya di atas batu. Ketika banjir dan
badai datang, rumah itu tetap berdiri kokoh. Orang kedua membangun rumahnya di
atas tanah tanpa fondasi. Ketika badai datang, rumah itu segera rubuh dan
hancur total.
Saudara-saudari, rumah yang
dibangun di atas batu adalah gambaran kehidupan yang dibangun di atas dasar
iman yang kokoh. Batu karang yang menjadi fondasi kita adalah Yesus Kristus
sendiri dan sabda-Nya yang kita dengar dan kita laksanakan. Saat ini, banyak
arus kehidupan yang mencoba mengguncang iman kita. Ada tantangan dari dunia,
godaan materi, kesulitan hidup, bahkan mungkin persoalan keluarga yang berat.
Namun jika kita memiliki fondasi yang kuat, yaitu ketaatan kita pada sabda
Tuhan, semua badai itu tidak akan mampu merobohkan kita.
Sebaliknya, membangun rumah di
atas tanah tanpa fondasi adalah gambaran kehidupan yang hanya mengandalkan
kekuatan sendiri, yang mendengarkan sabda Tuhan tetapi tidak melaksanakannya.
Iman seperti ini bersifat dangkal dan hanya bertahan selama situasi mendukung.
Ketika badai kehidupan menerpa, iman itu akan goyah dan hancur.
Pada hari Sabtu ini, kita juga
diingatkan akan devosi kepada Santa Perawan Maria. Secara liturgis, tanggal 12
September juga merupakan Peringatan Nama Santa Perawan Maria yang
Mahakudus . Bunda Maria adalah teladan sempurna bagi kita tentang
bagaimana mendengar sabda Tuhan dan melaksanakannya dengan setia. Maria
membangun hidupnya di atas fondasi yang kokoh, yaitu kepercayaan total pada
kehendak Allah. Mari kita mohon perantaraan Maria agar kita diberi rahmat untuk
tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga pelaku sabda Tuhan.
Refleksi untuk hari ini:
Mari sejenak kita merenungkan
pertanyaan-pertanyaan ini:
- Buah apa yang dihasilkan oleh kehidupan saya?
Apakah orang-orang di sekitar saya melihat kebaikan, kasih, dan kesabaran
dari perkataan dan perbuatan saya?
- Ketika saya berkata "Tuhan, Tuhan,"
apakah hidup saya sungguh mencerminkan ketaatan pada kehendak-Nya?
- Di atas fondasi apakah saya membangun kehidupan
saya? Apakah sabda Tuhan benar-benar menjadi dasar keputusan dan tindakan
saya?
Amin.
Sekali lagi, selamat
merenungkan sabda Tuhan. Semoga firman-Nya menjadi fondasi kokoh yang menopang
kehidupan kita. Tuhan memberkati.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar