Minggu, 06 September 2026

ULURKANLAH TANGANMU!

Renungan Harian Katolik

Senin, 7 September 2026

Hari Biasa Pekan XXIII

Bacaan Injil: Lukas 6:6-11


ULURKANLAH TANGANMU!

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

________________________________________



Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Hari ini kita menyaksikan sebuah peristiwa yang sederhana namun sarat makna. Yesus memasuki rumah ibadat pada hari Sabat, sebuah hari yang dianggap suci dan dikuduskan bagi Allah. Di sana, Ia bertemu dengan seorang yang menderita—tangan kanannya mati, lumpuh, kering.

Bayangkanlah penderitaan orang ini. Di zaman Yesus, tangan kanan bukan sekadar anggota tubuh. Tangan kanan adalah simbol kemampuan untuk berkarya, untuk bekerja, untuk memberi, untuk merangkul, dan untuk memberkati. Kehilangan fungsi tangan kanan berarti kehilangan martabat, kehilangan penghidupan, bahkan dapat berarti dikucilkan dari masyarakat.

Di hadapan Yesus, ada orang yang menderita. Namun, para ahli Taurat dan orang Farisi tidak melihat penderitaan itu. Mereka hanya melihat peluang untuk menjerat Yesus. Mereka mengamat-amati, menunggu-nunggu, dan berharap Yesus melanggar aturan Sabat.

Bukankah kita sering kali bersikap seperti mereka? Kita sangat sibuk mempertahankan aturan, pendapat, gengsi, atau kenyamanan kita sendiri. Kita begitu terikat pada apa yang "boleh" dan "tidak boleh" dilakukan—di tempat ibadah, dalam keluarga, di tempat kerja—sehingga kita lupa melihat penderitaan sesama yang ada di hadapan kita. Kita mungkin akan bertanya, "Apakah ini waktunya untuk menolong? Apakah saya tidak akan dianggap sok suci? Apakah tindakan saya ini akan membuat orang lain tersinggung?"

Yesus mengajarkan kita sebuah kebenaran yang radikal. Hari Sabat—atau hari Minggu, hari Tuhan bagi kita—diberikan bukan untuk membelenggu manusia, melainkan untuk membebaskan manusia. Hari Tuhan adalah hari untuk beristirahat dan memuliakan Allah, tetapi juga hari untuk mewujudkan kasih Allah dalam tindakan nyata. Yesus bertanya, "Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat? Menyelamatkan orang atau membinasakannya?"

Pertanyaan ini mengundang kita untuk merenungkan inti dari iman kita. Hukum yang terutama adalah kasih. Kasih tidak pernah menunggu waktu yang tepat, karena kasih selalu tepat waktu. Kasih tidak pernah mencari alasan untuk tidak bertindak, karena kasih selalu mencari jalan untuk menolong.

Yesus lalu berkata kepada orang itu: "Ulurkanlah tanganmu!" Ini adalah sebuah perintah yang sekaligus sebuah undangan. Yesus meminta orang itu untuk melakukan sesuatu yang mustahil bagi dirinya sendiri—mengulurkan tangan yang mati. Namun, ketika orang itu menanggapi perintah Yesus dengan iman dan ketaatan, kuasa pemulihan Allah mengalir dan tangannya sembuh.

Saudara-saudari, perintah yang sama kini ditujukan kepada kita. Kita mungkin memiliki "tangan kanan yang mati" dalam hidup kita. Mungkin itu adalah luka masa lalu yang belum sembuh, sebuah kebiasaan dosa yang sulit kita lepaskan, sebuah relasi yang retak, atau rasa takut yang melumpuhkan kita untuk melangkah. Mungkin juga "tangan mati" kita adalah sikap hati yang kaku, dingin, dan tidak peka terhadap penderitaan sesama.

Yesus mengundang kita: "Ulurkanlah tanganmu!" Artinya, bukalah dirimu pada kuasa kasih-Nya yang memulihkan. Beranilah untuk melangkah keluar dari zona nyaman dan kepicikan kita. Beranilah untuk melakukan kebaikan, kapan pun dan di mana pun, tanpa terhalang oleh aturan-aturan buatan manusia yang justru menjauhkan kita dari esensi iman.

Mari kita bertanya pada diri sendiri: Apakah saya masih membiarkan tangan kanan saya mati dan lumpuh? Sudahkah saya mengulurkan tangan untuk menolong mereka yang menderita di sekitar saya, atau saya hanya menjadi pengamat yang sibuk menilai?

Semoga kita bukan menjadi pewaris kemarahan ahli-ahli Taurat dan orang Farisi, melainkan pewaris kasih Yesus yang selalu berbuat baik dan menyelamatkan. Marilah kita menjadikan setiap hari, dan terutama hari Tuhan, sebagai kesempatan untuk mengulurkan tangan kasih kita kepada sesama, karena di sanalah kita menemukan dan memulihkan martabat kita sebagai anak-anak Allah.

Tuhan memberkati kita semua. Amin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar