Renungan Katolik
Sabtu, 19 September 2026
Hari Biasa Pekan XXIV
Bacaan Injil: Lukas 8:4-15
TANAH YANG BAIK: MERAWAT SABDA DENGAN
HATI YANG TULUS
Saudara-saudari dalam Kristus,
Hari ini Gereja mengajak kita
merenungkan salah satu perumpamaan Yesus yang paling dikenal, yaitu perumpamaan
tentang seorang penabur. Melalui perumpamaan ini, Yesus tidak hanya ingin
mengajar kita tentang bagaimana Sabda Allah bekerja, tetapi juga mengundang
kita untuk memeriksa hati kita masing-masing.
Dalam tradisi Gereja Katolik,
perumpamaan ini sering disebut sebagai “perumpamaan tentang tanah” karena fokus
utamanya bukan pada penabur atau benih itu sendiri, melainkan pada respons
manusia terhadap Sabda Allah. Penaburnya tetap sama, benihnya tetap sama—yang
berbeda adalah tanah tempat benih itu jatuh.
Renungan
Penabur yang Murah Hati
Perhatikanlah bahwa dalam
perumpamaan ini, penabur itu menaburkan benihnya dengan sangat murah hati. Ia
tidak memilih-milih tanah. Benih itu jatuh di pinggir jalan, di tanah berbatu,
di tengah semak duri, dan di tanah yang baik. Santo Yohanes Krisostomus
mengingatkan kita bahwa kemurahan hati Sang Penabur menggambarkan kasih Allah
yang tidak pernah pilih kasih. Sabda-Nya ditawarkan kepada semua orang, tanpa
terkecuali.
Gereja Katolik mengajarkan bahwa
Sabda Allah memiliki daya kekuatan yang mengubah. Dalam Konstitusi
Dogmatis Dei Verbum, Konsili Vatikan II menegaskan bahwa “Sabda
Allah itu hidup dan kuat” (bdk. Ibr 4:12). Sabda itu bukan sekadar kata-kata,
melainkan kekuatan ilahi yang mampu mentransformasi hati manusia yang
menerimanya dengan terbuka.
Empat Jenis Tanah, Empat Sikap
Hati
Yesus sendiri menjelaskan arti
perumpamaan ini kepada murid-murid-Nya. Mari kita renungkan keempat jenis tanah
ini sebagai cermin bagi hidup rohani kita.
Pertama, benih yang jatuh di
pinggir jalan. Yesus mengatakan bahwa ini menggambarkan orang-orang
yang mendengar Sabda, tetapi kemudian Iblis datang dan mengambilnya dari hati
mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan. Dalam kehidupan
sehari-hari, ini bisa terjadi ketika kita mendengar Sabda Allah tetapi tidak
memberi ruang bagi-Nya untuk meresap. Kita mendengar khotbah, membaca Kitab
Suci, tetapi begitu keluar dari gereja, kita langsung tenggelam dalam kesibukan
dan melupakan apa yang baru saja kita dengar. Hati yang dangkal membuat Sabda
tidak sempat berakar.
Kedua, benih yang jatuh di
tanah berbatu. Ini menggambarkan mereka yang menerima Sabda dengan
sukacita, tetapi tidak berakar. Mereka percaya untuk sementara waktu, tetapi
ketika datang pencobaan, mereka murtad. Betapa banyak dari kita yang
bersemangat ketika baru mengenal Kristus, tetapi kemudian mundur ketika iman
menuntut pengorbanan. Iman yang tidak berakar dalam doa, dalam sakramen, dan
dalam komunitas akan mudah goyah ketika badai kehidupan datang.
Ketiga, benih yang jatuh di
tengah semak duri. Yesus menjelaskan bahwa ini adalah mereka yang
mendengar Sabda, tetapi kemudian terhimpit oleh kekuatiran, kekayaan, dan
kenikmatan hidup, sehingga tidak menghasilkan buah yang matang. Ini adalah
tantangan terbesar bagi kita yang hidup di zaman modern. Kekuatiran akan masa
depan, ambisi untuk sukses, dan godaan kenikmatan sering kali menjadi “duri”
yang mencekik pertumbuhan rohani kita. Kita sibuk mengurus banyak hal, tetapi
melupakan yang satu hal yang perlu (bdk. Luk 10:42).
Keempat, benih yang jatuh di
tanah yang baik. Yesus berkata bahwa ini adalah orang-orang yang
mendengar Sabda dengan hati yang tulus dan baik, menyimpannya, dan menghasilkan
buah dalam ketekunan. Perhatikan kata kuncinya: “hati yang tulus dan baik” dan
“ketekunan.”
Tanah yang baik bukanlah tanah
yang sempurna tanpa batu atau duri. Sebaliknya, tanah yang baik adalah tanah
yang dirawat. Dalam konteks kehidupan rohani, tanah yang baik menggambarkan
hati yang secara aktif membuka diri terhadap karya rahmat Allah. Hati yang
tulus adalah hati yang jujur di hadapan Tuhan, yang tidak menyembunyikan
dosa-dosanya, yang datang kepada Sakramen Tobat dengan kerendahan hati. Hati
yang baik adalah hati yang penuh kasih, yang tidak hanya mendengar Sabda tetapi
juga melaksanakannya.
Menjadi Tanah yang Baik:
Sebuah Panggilan untuk Bertumbuh
Paus Fransiskus dalam Angelus
tahun 2024 mengingatkan kita bahwa pertumbuhan rohani membutuhkan kesabaran dan
ketekunan. Di bawah tanah, mukjizat sudah berlangsung, tetapi tidak terlihat.
Demikian pula, Allah bekerja dalam hati kita bahkan ketika kita tidak melihat
hasilnya secara langsung.
Menjadi tanah yang baik adalah
sebuah proses. Tidak ada orang yang langsung menjadi tanah yang subur. Kita
semua memiliki batu-batu keras dalam hati kita—kebiasaan buruk, luka masa lalu,
atau kesombongan. Kita semua memiliki duri-duri yang perlu dicabut—keterikatan
pada harta, ambisi yang tidak teratur, atau kenikmatan yang berlebihan. Namun,
rahmat Allah cukup untuk mengubah tanah yang tandus menjadi tanah yang berbuah.
Gereja Katolik memberikan kepada
kita sarana-sarana rahmat untuk merawat tanah hati kita: Sabda Allah yang
kita baca dan renungkan setiap hari, Sakramen Ekaristi yang
menghidupkan kita dengan Tubuh dan Darah Kristus, Sakramen Tobat yang
menyembuhkan dan memulihkan, serta doa yang menjaga kita tetap
terhubung dengan Sumber kehidupan.
Buah dalam Ketekunan
Yesus berkata bahwa tanah yang
baik “menghasilkan buah dalam ketekunan.” Buah apa yang dimaksud? Santo Paulus
dalam suratnya kepada jemaat di Galatia menyebutkan buah-buah Roh: kasih,
sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan,
dan penguasaan diri (Gal 5:22-23). Inilah buah yang Allah rindukan dari hidup
kita.
Buah ini tidak dihasilkan dalam
sekejap. Dibutuhkan waktu, kesabaran, dan ketekunan. Ada musim kering, ada
hama, ada badai. Tetapi jika kita tetap setia, pada waktunya kita akan menuai.
Amin.
Sorang Tumanggor, S.Ag
Penyuluh Agama Katolik Kantor
Kementerian Agama Kabupaten Dairi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar