Kamis, 17 September 2026

KARYA PEWARTAAN INJIL BUKANLAH PEKERJAAN SATU ORANG SAJA

Renungan Katolik

Jumat, 18 September 2026
Hari Biasa Pekan XXIV
Bacaan Injil: Lukas 8:1-3

 

KARYA PEWARTAAN INJIL BUKANLAH PEKERJAAN SATU ORANG SAJA


 


Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Injil hari ini, meskipun singkat, menghadirkan sebuah gambaran yang sangat indah tentang perjalanan Yesus dalam mewartakan Kerajaan Allah. Santo Lukas mencatat bahwa Yesus berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa, mewartakan Kabar Gembira. Namun, yang menarik perhatian kita bukan hanya apa yang Yesus lakukan, melainkan siapa-siapa yang menyertai Dia dalam perjalanan itu.

Ada dua kelompok yang disebutkan: Kedua belas murid, dan beberapa perempuan yang telah disembuhkan dari roh jahat dan berbagai penyakit. Maria Magdalena, Yohana, Susana, dan banyak perempuan lain yang tidak disebutkan namanya. Mereka menyertai Yesus, dan yang lebih menakjubkan, mereka melayani Dia dengan harta milik mereka sendiri.

Hari ini kita diajak untuk merenungkan sebuah kebenaran yang sering kita lupakan: bahwa karya pewartaan Injil bukanlah pekerjaan satu orang saja. Yesus, meskipun Dia adalah Tuhan, memilih untuk melibatkan manusia dalam karya keselamatan-Nya. Dia tidak membutuhkan bantuan kita, namun Dia berkenan menerima pelayanan kita.

 

Renungan

1. Yesus yang Melibatkan Semua Orang

Santo Lukas mencatat bahwa Yesus didampingi oleh Kedua belas murid-Nya. Mereka adalah orang-orang yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda: ada nelayan, ada pemungut cukai, ada yang sederhana dan ada yang terpelajar. Dalam Kristus, perbedaan-perbedaan itu tidak menjadi penghalang, melainkan justru menjadi kekayaan.

Namun yang lebih mengejutkan, Injil juga mencatat kehadiran beberapa perempuan. Pada zaman itu, perempuan sering kali dipandang sebagai warga kelas dua, tidak diperhitungkan dalam urusan publik, apalagi dalam urusan keagamaan. Namun Yesus justru mengangkat mereka, memberi mereka tempat dalam rombongan-Nya, dan menerima pelayanan mereka.

Ini adalah sebuah revolusi kasih. Yesus menunjukkan bahwa Kerajaan Allah terbuka bagi semua orang, tanpa memandang jenis kelamin, latar belakang, atau status sosial. Dia memanggil setiap orang untuk mengambil bagian dalam karya keselamatan, masing-masing sesuai dengan karunia dan kemampuan yang Tuhan berikan.

2. Perempuan-Perempuan yang Disembuhkan

Injil menyebutkan bahwa perempuan-perempuan itu adalah mereka yang telah disembuhkan dari roh jahat dan berbagai penyakit. Maria Magdalena, dari whom tujuh setan telah keluar. Yohana, istri Kuza, bendahara raja Herodes. Susana, dan banyak perempuan lainnya.

Ada sesuatu yang sangat menyentuh di sini. Mereka yang telah menerima belas kasihan Tuhan, kini memberikan diri mereka untuk melayani Tuhan. Mereka tidak melayani karena kewajiban, melainkan karena rasa syukur yang melimpah atas kesembuhan yang mereka terima.

Maria Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, menjadi salah satu perempuan paling setia yang mengikuti Yesus sampai ke kaki salib. Yohana, yang suaminya bekerja di istana Herodes, menunjukkan bahwa Injil juga mampu menembus lingkungan yang tampaknya paling jauh dari Tuhan. Susana, yang hanya disebutkan namanya satu kali dalam seluruh Kitab Suci, namun namanya tercatat dalam Injil yang akan diberitakan sampai akhir zaman.

Saudara-saudari, setiap dari kita juga telah menerima belas kasihan Tuhan. Mungkin tidak dalam bentuk penyembuhan fisik yang dramatis, tetapi dalam bentuk pengampunan dosa, dalam bentuk kasih yang tak layak kita terima, dalam bentuk penyertaan Tuhan di setiap langkah hidup kita. Pertanyaannya adalah: bagaimana kita menanggapi belas kasihan itu? Apakah kita, seperti perempuan-perempuan itu, memberikan diri kita untuk melayani Tuhan dengan apa yang kita miliki?

3. Melayani dengan Harta Milik Sendiri

Injil mencatat dengan sangat sederhana namun mendalam: "Mereka melayani Dia dengan harta milik mereka sendiri." Mereka tidak hanya menyertai Yesus dalam perjalanan-Nya, tetapi mereka juga menopang karya pewartaan Injil dengan sumber daya yang mereka miliki.

Ada sebuah renungan yang menyentuh tentang hal ini: Yesus, yang adalah Tuhan dan pencipta alam semesta, berkenan hidup dari pemberian orang-orang yang telah Dia sembuhkan. Dia yang memberi hidup kepada semua makhluk, menerima nafkah dari tangan perempuan-perempuan yang penuh syukur.

Ini adalah sebuah pelajaran bagi kita tentang kemurahan hati. Pelayanan bukan hanya soal menjadi imam, biarawan, atau katekis. Pelayanan juga mencakup mereka yang dengan diam-diam menopang karya Tuhan melalui doa, tenaga, waktu, dan harta benda mereka. Gereja tidak dapat menjalankan misinya tanpa dukungan dari umat beriman yang dengan sukarela mempersembahkan apa yang mereka miliki.

4. Panggilan Kita Hari Ini

Saudara-saudari terkasih, Injil hari ini mengajak kita untuk bertanya kepada diri sendiri: Dalam karya pewartaan Kerajaan Allah di zaman kita ini, di mana tempat saya? Apa peran yang Tuhan kehendaki untuk saya ambil?

Mungkin ada di antara kita yang dipanggil untuk menjadi "murid" dalam arti yang lebih penuh: melayani di paroki, terlibat dalam kegiatan kategorial, menjadi pengajar iman bagi anak-anak dan remaja. Mungkin ada yang dipanggil untuk melayani dalam bidang sosial, peduli pada yang miskin dan tersingkir.

Mungkin juga ada di antara kita yang perannya lebih seperti perempuan-perempuan dalam Injil hari ini: mereka yang tidak tampil di depan, tetapi dengan setia menopang karya pelayanan melalui doa, melalui persembahan, melalui dukungan moral bagi mereka yang bekerja di ladang Tuhan.

Apa pun peran kita, yang penting adalah kita terlibat. Kita tidak bisa hanya menjadi penonton. Kerajaan Allah sedang tumbuh, dan kita dipanggil untuk menjadi bagian dari pertumbuhan itu.

Penutup

Saudara-saudari terkasih, Injil hari ini mengingatkan kita bahwa setiap orang memiliki tempat dalam karya Tuhan. Yesus tidak memilih hanya orang-orang besar dan terkenal. Dia menerima pelayanan dari mereka yang telah merasakan kasih-Nya, dari mereka yang tidak disebut namanya, dari mereka yang memberikan dengan sukacita.

Semoga kita, seperti Maria Magdalena, Yohana, Susana, dan banyak perempuan lain yang setia, juga memiliki keberanian untuk menyertai Yesus dalam perjalanan-Nya. Semoga kita melayani Dia dengan sukacita, dengan apa pun yang kita miliki, karena kita telah lebih dahulu menerima kasih yang jauh lebih besar dari apa yang bisa kita berikan.

Tuhan memberkati kita semua. Amin.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar